Saat Putri ingin menjawab dengan membuka mulut, kali ini ia merasa kesal karena sambungan telepon sudah terputus secara sepihak.
"Astaga, dia bahkan sudah mengancamku," rengut Putri yang kini mendengar suara tangisan dari putranya semakin kencang dan membuatnya buru-buru segera pergi ke dalam kamar.
Saat ia dipusingkan oleh Arya, kini harus menenangkan putranya yang terlihat menangis tersedu-sedu di atas ranjang dengan memanggil-manggilnya.
"Sayang, ibu ada di sini. Tidak ke mana-mana," ucap Putri yang kini sudah menggendong putranya dan sibuk mengusap lembut punggung malaikat kecilnya itu. Berharap perbuatannya bisa membuat putranya tidak menangis lagi.
Sementara pikirannya saat ini sedang dipusingkan oleh perkataan dari Arya yang tadi mengancamnya dan masih terngiang di telinga.
'Besok atau tidak sama sekali. Astaga, sepertinya dia berpikir aku hanya main-main dengannya. Padahal aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu karena sangat serius padanya.'
'Jika besok aku pergi, putraku bagaimana? Aku benar-benar merasa sungkan pada Ani. Nanti, pasti dia berpikir aku memanfaatkannya,' gumam Putri yang kini yang memutar otak untuk mencari sebuah ide.
Selama beberapa menit ia berpikir dan menemukan sebuah ide di kepalanya.
"Kenapa harus susah-susah jika di zaman sekarang sangat mudah karena ada ponsel."
Putri kini membuat sebuah informasi mengenai mencari orang untuk menjaga putranya dari pagi hingga sore hari karena ia berpikir ingin bertemu dengan Arya sepuasnya. Kemudian mengirim postingannya pada media sosial info lowongan pekerjaan.
"Semoga ada yang tertarik dan aku besok bisa menemui Arya. Apalagi pria tidak berguna itu selalu pulang malam. Jadi, dia tidak akan tahu kalau aku seharian tidak berada di rumah."
Sudut bibir Putri melengkung ke atas begitu berpikir bisa sepuasnya bersama dengan Arya. Pria yang berhasil membuat perasaannya tak menentu dan seperti menjadi seperti seorang remaja jatuh cinta untuk pertama kalinya.
'Arya, aku ingin mendapatkannya bagaimana pun caranya. Jika berhasil, aku akan menggugat cerai pria tua itu dan menikah dengannya karena ia adalah seorang pria idaman yang sangat sempurna. Tampan, body oke, muda dan dia berasal dari keluarga kaya karena ibunya terlihat seperti wanita sosialita.'
Tekad Putri kini benar-benar sudah bulat untuk memilih berselingkuh dan menceraikan sang suami jika nanti Arya mau menerima keadaannya.
***
Keesokan harinya, Putri terlihat tengah bersiap untuk menyiapkan semua keperluan putranya. Ya, setelah kemarin ia mencari orang untuk menjaga putranya dari pagi hingga siang, ada orang yang menghubunginya dan mengatakan bersedia.
Setelah membahas masalah gaji, Putri meminta alamat wanita yang akan menjaga putranya karena tidak mungkin ia menyuruh datang ke kontrakan karena akan diketahui oleh para tetangga yang sering ghibah.
Apalagi ia selama ini tidak pernah mau berkumpul bersama para tetangga karena lebih suka menjaga putranya di dalam rumah. Tentu saja wanita itu sangat senang karena bisa menjaga putranya di rumah tanpa harus keluar uang untuk ongkos pulang pergi.
Setelah dirasa semuanya siap, kini Putri sudah menenteng tas dan menggendong putranya. Kemudian memesan ojek online karena malas berjalan ke tempat pangkalan.
Ia pun tidak ingin jika banyak orang yang melihatnya berjalan dengan putranya dan membawa tas karena berpikir akan banyak orang yang bertanya padanya mau pergi ke mana dan sangat malas untuk menjawabnya.
Sepuluh menit kemudian, Putri sudah melihat seorang pria dengan naik motor berhenti tepat di depan rumahnya dan seperti biasa langsung mengunci pintu. Namun, kali ini ia memilih untuk membawa kunci dan tidak menaruhnya di bawah rak sepatu karena berpikir akan pergi cukup lama hari ini.
Begitu naik ke atas motor dengan memangku putranya, supir ojek online tersebut langsung mengemudikan motor menuju ke arah tempat tujuan yang sudah diketahui dari aplikasi.
Setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Putri yang saat ini melihat ke arah rumah berukuran kecil di hadapannya, memberikan uang pada sang supir dan disaat bersamaan mendengar suara dari seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah.
"Nyonya Putri?" tanya seorang wanita berbadan gemuk yang saat ini memakai baju ala rumahan.
Putri yang baru saja menyuruh pria tersebut untuk menunggu sebentar, kini beralih menatap ke arah wanita yang ditebaknya adalah menghubunginya kemarin.
"Iya, saya Putri." Mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Oh ya, panggil saja aku Putri tanpa embel-embel nyonya."
Ia sama sekali tidak menyukai dipanggil nyonya karena merasa belum terlalu tua dan tidak menyukai panggilan tersebut.
"Iya, memang Anda tidak pantas dipanggil nyonya karena masih terlihat sangat muda dan memiliki tubuh yang seksi seperti seorang gadis perawan. Tidak seperti saya yang seperti ini." Menunjukkan tubuhnya yang penuh dengan lemak karena memang mengalami obesitas.
Sementara itu, Putri yang saat ini melihat ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri, merasa waktunya sudah cukup tersita dan tidak ingin terlambat datang ke cafe untuk menemui Arya.
"Sebenarnya, hal yang paling penting sekarang adalah Anda sehat. Oh ya, saya benar-benar terburu-buru dan harus segera berangkat sekarang. Jadi, tolong jaga putra saya dengan baik sampai nanti sore."
Wanita berbadan gemuk tersebut langsung mengangguk perlahan dan mengarahkan tangannya ke arah bocah laki-laki berusia 3 tahun tersebut. Namun, ia melihat ekspresi yang seperti tidak ingin ikut dengannya.
Putri yang melihat ulah dari putranya saat menolak untuk ikut bersama wanita gemuk tersebut, kini merasa kebingungan dan berpikir akan terlambat jika harus mendiamkan putranya terlebih dahulu.
"Apa ibu punya mainan? Saya tadi lupa membawa mainan karena fokus dengan jajan dan makanan untuk putra saya. Biasanya dia akan diam jika melihat mainan."
Kini, wanita itu mengerti dan berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa mainan milik putranya. Kemudian kembali dengan membawa mainan berupa robot dan mobil-mobilan.
"Nah, ini mainannya. Ayo, kita main di dalam, Sayang."
Putri mengikuti wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah dan melihat putranya sudah tertarik untuk turun dan bermain, sehingga membuatnya merasa sangat senang. Kemudian ia menurunkan di lantai dan terlihat putranya sudah mengambil mobil-mobilan, lalu memainkannya.
"Saya pergi dulu, Nyonya," ucap Putri yang saat ini tengah mencium rambut belakang putranya.
"Baik, Putri. Percayakan putramu padaku. Aku akan menjaganya dengan baik."
Kini, Putri yang bangkit dari posisinya, mengulas senyuman, berjalan keluar dan kembali mengatakan pada sopir ojek online agar segera mengantarkannya pergi ke cafe.
Selama dalam perjalanan, ia melihat ke arah ponsel dan sama sekali tidak ada pesan dari Arya untuk bertanya apakah akan datang ke cafe atau tidak.
'Arya benar-benar menuruti perkataanku karena sama sekali tidak menghubungi dari kemarin. Atau jangan-jangan ia marah padaku. Sepertinya aku baru memastikannya sendiri nanti saat bertemu dengannya. Arya adalah tipe pria yang pemaksa karena mengancam kemarin.'
'Sialnya, aku sangat kebingungan jika sampai apa yang dikatakannya benar-benar terjadi. Aku sangat menginginkannya. Arya adalah tipe pria idamanku dan apapun yang terjadi, aku harus mendapatkannya.'
Masih berkutat dengan banyaknya pertanyaan di pikirannya saat motor melaju menuju ke arah cafe dengan membelah kemacetan kota Jakarta.
Putri tadi sengaja mengatakan pada sang supir agar berhenti tidak di depan cafe karena ia tidak ingin Arya melihatnya turun dari ojek online.
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments