Beberapa saat yang lalu, Arya baru saja menghampiri para sahabatnya yang sedang duduk di barisan paling pojok sebelah kiri cafe yang sering didatangi oleh para anak muda dan sangat terkenal sebagai tempat nongkrong dengan menu lezat dan sangat bersahabat di kantong.
Saat menyapa para temannya yang mayoritas membawa pasangan, sementara ia sampai saat ini tidak memiliki seorang kekasih karena merasa sangat frustasi setelah ditolak oleh Early yang notabene hanya mengincar uangnya saja.
Ia memang dulu sering membelikan barang-barang yang diinginkan wanita itu dan berpikir bahwa Early juga mencintainya.
"Sepertinya minumanku belum ada," ucap Arya yang melihat ke arah meja.
"Panggil saja waiters datang ke sini. Kami sengaja belum memesan minuman karena kamu belum datang."
"Kami tidak tahu apa yang ingin kamu nikmati. Apalagi seleramu selalu berubah-ubah saat datang ke cafe," ucap Rendi yang saat ini mewakili yang lain untuk menjawab pernyataan dari sahabatnya tersebut.
Sementara itu, Arya yang mengedarkan pandangan ke sekeliling area cafe, tidak melihat ada satupun waiters, sehingga memilih untuk memesan sendiri.
"Aku ke sana dulu," ucap Arya yang bangkit berdiri dari kursi dan di saat bersamaan ia mendengar suara notifikasi dari ponsel.
Ia langsung meraih ponsel yang ada di saku celana dan melihat pesan masuk dengan menundukkan kepala sambil berjalan.
Hingga tanpa disadari, Arya tidak sengaja menabrak seorang wanita dari belakang dan membuatnya sangat terkejut. Bahkan ponsel yang berada di tangan jatuh ke lantai.
Ia yang langsung membungkuk untuk mengambil ponsel miliknya di lantai, kini sudah kembali berdiri dan berhadapan dengan sosok wanita dengan gaun selutut dan rambut panjang di bawah bahu yang sangat terkejut karena perbuatannya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Arya yang saat ini masih mengamati sosok wanita dengan wajah yang menurutnya sangat cantik tersebut, bisa mengerti ekspresi membulatkan mata, serta membungkam mulut dengan telapak tangan hingga membuatnya merasa sangat aneh.
'Wanita ini cantik juga, tapi kenapa dia terlihat seperti sedang melihat hantu saat melihatku?' gumam Arya yang saat ini tengah mengerutkan kening karena wanita di hadapannya belum juga membuka suara untuk berkomentar atas permohonan maaf.
"Nona?"
Sementara itu, Putri yang sama sekali tidak pernah menyangka akan bertabrakan dengan pria yang tadi dilihatnya di salon, merasa sangat terkejut dan kini mencoba untuk menormalkan perasaan karena berhadapan dengan pria dengan paras rupawan tersebut.
'Bahkan dilihat dari dekat seperti ini, ia semakin tampan. Apa ini yang namanya jodoh,' gumam Putri yang langsung menurunkan tangan karena dari tadi membungkam mulut saat terkejut begitu mendengar suara bariton dari pria yang sama sekali tidak diketahui namanya tersebut.
Ia menormalkan perasaannya dengan cara berdehem sejenak. "Aah ... iya. Tidak apa-apa. Sepertinya kamu tadi fokus pada ponselmu, sehingga tidak melihat ada aku di depanmu. Lagipula aku tidak sampai terjatuh dan masih baik-baik saja."
Entah mengapa, Putri saat ini benar-benar merasa sangat gugup ketika berbicara di hadapan pria yang tadi dipujinya memiliki paras rupawan, serta tubuh yang menurutnya sangat sempurna.
Tidak ingin terlihat sangat jelas kegugupannya, ia memilih untuk segera meninggalkan pria tersebut. Ia benar-benar tidak pernah menyangka bisa berinteraksi secara langsung dengan pria yang tadi dilihatnya di salon.
"Aku ke sana dulu," ucap Putri yang kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah meja kosong dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi tanpa melihat lagi ke arah pria yang ditinggalkannya tersebut.
'Baru kali ini aku merasa sangat gugup berhadapan dengan seorang pria. Jangan sampai dia mengetahuinya, sehingga mungkin akan berpikir macam-macam padaku,' gumam Putri yang kini tengah menundukkan kepala dan melihat ke arah daftar menu di atas meja.
Di sisi lain, Arya kini masih belum mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita yang tadi tidak sengaja ditabrak.
'Sikapnya sangat aneh, seperti takut padaku. Apa wajahku ini terlihat sangat menakutkan?' gumam Arya yang kini berjalan ke arah pria yang berdiri di depan mesin minuman, sambil sesekali melihat ke arah wanita yang terlihat tengah asyik menundukkan kepala.
Tingkah wanita itu seperti tidak ingin melihatnya dan malah membuatnya merasa sangat penasaran.
"Aku pesan latte dan juga beef bulgogi rice," ucap Arya yang saat ini berbicara pada pria di hadapannya dan ia menoleh sekilas ke arah sosok wanita yang terlihat sedang berbicara dengan waiters, menandakan sedang memesan sesuatu
Mendadak memikirkan mengenai permohonan maaf dengan cara membayar makanan yang dipesan oleh wanita tersebut. Begitu melihat pegawai waiters yang berjalan ke arahnya dan memberikan pesanan dari wanita itu, Arya kini mengeluarkan dompet dan mengambil uang.
"Berapa total pesanan wanita yang tadi berbicara denganmu? Aku ingin membayarnya sekalian."
Waiters yang baru saja berbicara mengenai pesanan pelanggan, refleks menoleh dan melihat sosok pria tampan di sebelahnya.
"Aah ... mengenai pesanan wanita itu, Tuan. Dia memesan kopi susu dengan alpukat dan Pecking Duck." Menunjukkan daftar harga pada pria yang sudah mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah tersebut.
Mengerti dengan total makanan dan minuman wanita itu, Arya refleks memberikan uang pada kasir. Kemudian menunjuk ke arah meja luas yang banyak temannya sedang duduk di sana.
"Oh ya, bawa pesananku ke meja itu!"
"Baik, Tuan," sahut pegawai wanita berseragam hitam yang kini hanya diam melihat pria tampan tersebut berjalan meninggalkannya.
'Memangnya apa hubungan pria itu dengan wanita yang duduk di sebelah sana? Kenapa ia mau membayar pesanan wanita itu?' gumam waiters dengan kulit sawo matang tersebut dan sesekali memperhatikan wanita yang memakai gaun berwarna hitam tersebut.
Saat ini, Putri yang masih menunggu pesanannya dan sudah terlihat lebih tenang, tidak segugup saat berada di hadapan pria dengan paras rupawan tersebut.
Diam-diam ia melihat kerumunan para anak muda yang saat ini terlihat sedang bercanda tawa di sudut kanan depan cafe. Ia bahkan bisa melihat mereka terlihat membawa pasangan masing-masing karena duduk bersebelahan.
Namun, saat ia melihat ke arah sosok pria yang memakai kemeja berwarna putih dan sangat dihafalnya adalah pria yang tadi menabraknya, terlihat tidak duduk bersama seorang wanita dan membuatnya mengerutkan kening, serta berpikir.
'Di antara sekian temannya, hanya pria itu yang tidak duduk bersama dengan seorang wanita. Apa kekasihnya belum datang?' gumam Putri yang saat ini masih menatap intens pria yang memunggunginya.
Hingga beberapa saat kemudian, makanannya telah siap dan diantarkan oleh waiters. Ia yang sudah tidak sabar untuk menikmati makanan pesanannya yang menurutnya sangat menggugah selera serta minuman yang belum pernah ia coba.
Ia tadi sempat bertanya mengenai minuman yang sedang menjadi tren dan direkomendasikan menu Es Kopi Pokat dari Kopi Janji Jiwa yang termasuk salah satu minuman es kopi susu dan alpukat yang sedang hits.
Apalagi tadi waiters dengan baik hati menerangkan bahwa Kopi Janji Jiwa adalah es kopi susu dengan alpukat yang dibuat dengan cara mengkombinasikan espresso dengan alpukat, lalu ditambah es krim cokelat juga yang bikin segar.
Espresso di cafe itu biji kopinya dipanggang sendiri oleh Kopi Janji Jiwa dan diseduh secara manual. Alpukatnya juga kental dan ada kejutan tekstur crunchy dari meses di bagian bawah kopi dan penjelasan itu berhasil membuatnya menelan saliva berkali-kali.
Akhirnya pilihannya tepat pada es kopi susu dengan alpukat dan dipadukan dengan Pecking duck yang belum pernah dicobanya.
"Silakan menikmati, Nona. Oh ya, ini resit pembayarannya. Tadi pesanan Anda sudah dibayar oleh pria itu." Menunjuk ke arah sosok pria yang terlihat melambaikan tangan padanya dan buru-buru ia menganggukkan kepala.
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments