" Katakan sekali lagi, apa yang kau ucapkan tadi?!" Dirga menatap dengan sorot mata menghunus ke arah wanita di hadapannya.
" A-aku ingin kita putus, a-aku merasa tertekan selama menjadi pacarmu, jadi aku mohon, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja," suara Kirania terdengar lirih.
" Baik ... baiklah, jika itu yang kau mau, mulai saat ini kita putus, aku tidak akan mengganggu. Dan aku menganggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!" tandas Dirga meninggalkan Kirania dengan langkah lebar.
Sejak saat itu Kirania memang tak pernah melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam situasi yang rumit.
Akan kah cinta lama mereka bersemi atau mereka sama-sama mempertahankan gengsi mereka masing-masing demi menghindari rasa sakit hati.
ig : rez_zha29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Siapa-Siapa
Kirania mencengkram erat behel jok belakang motor Dirga. Dia mengambil jarak sejauh-jauhnya dari posisi Dirga yang duduk di depannya. Bentuk motor sport Dirga dirasa sangat tidak nyaman oleh Kirania. Pada akhirnya Kirania memang terpaksa mengikuti kemauan Dirga untuk pulang mengantarnya, itu pun dengan syarat dia baru mau naik motor setelah berjalan sekitar seratus meter dari kampusnya. Sudah pasti tujuan Kirania adalah agar tidak diketahui oleh banyak mahasiswa di kampusnya.
" Pegangannya pinggang aku saja dong, jangan ke belakang situ. Dekat sini saja duduknya, jangan berjauhan kaya orang musuhan saja," goda Dirga menoleh ke arah Kirania yang saat ini sedang dia bonceng di belakangnya, hingga membuat Kirania berdecak sambil memalingkan wajahnya.
" Kita mau ke mana? Ini bukan arah jalan ke rumah budeku," protes Kirania saat melihat Dirga melajukan motornya berlawanan arah dengan jalan yang biasa dia lalui menuju rumah Pakde Danang.
" Kak Dirga, aku mau di bawa ke mana?" seru Kirania tapi Dirga terlihat bergeming, tak menggubris pertanyaan Kirania, sementara motor semakin menjauh dari arah rumah budenya.
" Kak Dirga ...!" Tangan Kirania menepuk bahu Dirga hingga membuat pria itu menoleh ke arahnya.
" Kita mau ke mana ini? Rumah budeku bukan arah sini." seru Kirania.
" Apa??"
" Salah jalan kita," teriak Kirania.
" Hahh?? Apa??"
" Kita salah jalan, bukan ke sini arahnya."
" Nggak kedengaran ..." Dirga menunjuk ke arah telinganya.
Akhirnya Kirania mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan ke dekat telinga Dirga.
" Kak Dirga, kita ...."
" Nah gitu, dong! Kalau dekatan gini 'kan enak kaya orang pacaran." Dirga menoleh ke arah wajah Kirania, saat Kirania sedang berbicara di telinga Dirga, hingga membuat jarak wajah mereka sangat dekat.
Kirania yang melihat wajah Dirga begitu dekat dengannya langsung menjauhkan tubuhnya. Apalagi saat dia melihat senyum nakal terulas di sudut bibir pria itu, sehingga membuatnya merasa kesal.
" Kamu tenang saja aku nggak akan bawa kabur kamu, kok. Kalau aku ada niat bawa kabur juga nggak akan jauh-jauh, paling bawa kamu kabur ke KUA, sudah baligh, kan? Sudah cukup umur." Dirga kerkekeh membuat Kirania memberengut.
***
Siang ini Dirga membawa Kirania makan siang di salah satu ke restoran ayam bakar favoritnya.
" Aku mau ke toilet dulu ...."
" Mau apa? Sembunyi lagi?"
" Mau buang air kecil ...."
" Tas kamu taruh di sini saja." Nada perintah terdengar dari ucapan Dirga.
" Tas ini bagian dari privasi."
" Tinggalkan handphone kamu kalau begitu."
Kirania berdecak. " Aku nggak akan kabur."
" Ya sudah aku antar kamu ke toilet." Dirga kemudian berdiri hendak mengikuti langkah Kirania.
" Oh astaga, aku ini bukan penjahat. Aku ini bukan tawanan, jadi nggak perlu kamu kawal-kawal segala." Kirania bersungut-sungut.
" Siapa bilang kamu bukan tawanan? Siapa bilang kamu bukan penjahat? Kamu ini tawanan aku. Kemarin 'kan aku sudah bilang kalau kamu itu sudah mencuri hati aku. Kamu tahu mencuri? Mencuri itu suatu tindak kejahatan."
Kirania mendengus kasar. " Dasar pria aneh!" umpatnya seraya melangkahkan kaki ke arah toilet. Pada akhirnya Dirga tidak sungguh mengikuti Kirania hingga toilet, dia hanya duduk menunggu pesanan makanan matang.
Selesai dari toilet Kirania menengok ke arah meja yang dipesan Dirga. Terlihat olehnya pria itu duduk dengan posisi membelakanginya.
" Mas, maaf ... di sini ada Musholah nggak, ya?" tanya Kirana pada seorang pelayan restoran yang melintas di depannya.
" Ada di samping, Mbak. Terpisah dari bangunan ini." Pelayan itu menunjukkan arah Musholah.
" Terima kasih ya, Mas." Kirania kemudian berjalan menuju ke arah Musholah yang dituju. Dia melirik arloji di tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam setengah dua. Untungnya dia selalu membawa mukena traveling di tasnya, jadi jika sewaktu-waktu telat sampai ke rumah dia tak harus melewatkan ibadahnya.
Sekitar lima belas menit berselang ...
Kirania sudah menyelesaikan ibadahnya. Dia kemudian melangkahkan kakinya keluar Musholah.
" Sudah sholatnya?" tanya Dirga yang sedang bersandar di dekat pintu Musholah.
" Astaghfirullahal adzim, kamu senang banget bikin kaget orang, ya!" Tangan Kirania spontan memukul bahu Dirga. " Bisa-bisa aku mati mendadak kalau kelamaan sama kamu. " Kirania mencebik
" Jangan mati mendadak, dong! Masa aku harus jadi duda sebelum menikah." Dirga tertawa tergelak membuat Kirania semakin memberengut.
Setelah mereka kembali ke meja, mereka menyantap makanan yang telah terhidang. Dirga memang menyuruh seorang pelayan untuk menjaga mejanya saat dia menyusul Kirania, dia memberi tip pada pelayan tersebut.
" Kamu kenapa dari tadi diam saja?" Setelah mereka selesai makan, Dirga bertanya kepada Kirania karena sejak tadi gadis itu diajak bicara tapi mengacuhkannya.
" Aku sedang makan, Kak. Orang tua aku melarang berbicara saat sedang makan," Kirania menyahuti.
" Oh ... maaf," ucap Dirga serius.
" It's Oke ... Hmmm, aku boleh bertanya, Kak?" Ragu-ragu Kirania memberanikan diri untuk bertanya.
" Silahkan, mau tanya apa? Mau tanya kapan aku melamar kamu?" Satu sudut bibir Dirga tertarik ke atas, menghasilkan senyuman nakal tertangkap di mata Kirania.
Kirania berdecak. " Aku serius, Kak."
" Kamu pikir aku sendiri main-main?" Dirga menyandarkan punggungnya ke punggung kursi.
" Kak ...."
" Hemmm ...."
" Ck ...."
Dirga terkekeh melihat Kirania merajuk. " Oke, oke ... kamu mau tanya apa?"
" Hmmm ... sebenarnya Kak Dirga ada perlu apa sih sama aku? Urusan hutang piutang kita 'kan sudah beres. Lalu kenapa Kak Dirga masih saja ikutin aku terus?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut Kirania.
Dirga menatap wajah Kirania yang sama sekali tak menghadap ke arahnya. Gadis itu lebih memilih menunduk dengan tangan memilin tali tas-nya.
" Urusan hutang piutang memang sudah selesai, tapi urusan hati masih menggantung."
Kirania mendongakkan wajahnya mendapati wajah Dirga yang sedang menatap lekat arahnya. Kirania sampai menelan salivanya, sungguh dia berusaha menepis semua godaan yang terang-terangan dilancarkan pria di hadapannya itu.
" Ma-maksud Kak Dirga?" Kirania memalingkan wajahnya memutus pandangan.
" Maksud aku? Aku ingin jadi pacar kamu ...."
Deg...
Saat ini jiwa Kirania serasa tertarik lepas dari raganya demi mendengar ucapan yang dilontarkan Dirga kepadanya. Jantungnya pun berdetak lebih kencang berkali-kali lipat dari biasanya. Oksigen yang biasanya dengan mudah dia hirup seolah tersumbat di tenggorokan.
" Hmmm, maaf ...."
" Kamu nggak perlu minta maaf. Cukup kamu terima saja." Dirga memotong ucapan Kirania.
" T-tapi aku nggak bisa."
" Kamu menolakku?"
" Maaf sebelumnya, tapi aku ini bukan siapa-siapa. Mungkin dibandingkan teman-teman wanitamu, aku nggak ada apa-apanya. Banyak wanita yang ingin menjadi pacar Kak Dirga, kenapa kamu nggak memilih salah satu dari mereka saja?"
" Dan kenapa kamu bukan bagian dari mereka, yang menginginkan aku menjadi kekasihnya?" tanya Dirga dengan nada ketus. Kirania sampai harus menarik nafas dalam-dalam.
" Aku datang ke Jakarta, kuliah dan mendapat beasiswa ini untuk mencari ilmu, bukan yang lainnya. Kalaupun ada hal lain yang ingin aku capai selain kuliah adalah pekerjaan bukan pacaran. Jadi aku mohon pada Kak Dirga, mulai sekarang berhenti mencoba mengikuti aku. Berhenti membuat aku merasa tak nyaman, apalagi dari pandangan anak-anak di kampus. Karena jujur saja hidup aku terasa lebih tenang sebelum Kak Dirga datang mengusik kenyamananku." Entah dari mana datangnya keberanian Kirania sehingga dengan lancarnya bisa mengucapkan kalimat-kalimat itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading😘