Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ciuman tak jadi!
Memet terus saja memeluk lengan Bety dengan erat, ia tidak ingin melepaskan pelukannya itu sama sekali hingga membuat Bety jengkel melihat kelakuan lelaki itu.
“Bety,” kata Memet memanggil Bety, tetapi wanita itu diam saja.
“Kamu gak mau mengelus kepala aku gitu? Biar aku lebih tenang sedikit,” kata Memet sambil melirik wajah Bety.
“Gak!”
“Kamu tenang saja, rambut aku bersih kok sudah pakai shampo juga. Jadi nggak akan membuat tangan kamu bau,” kata Memet memaksa.
Bety yang tidak ingin berdebat dengan Memet, terpaksa ia mengangkat tangan dan mengelus kepala lelaki itu agar tidak banyak omong. Jujur saja ia sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan menonton film itu. Semua rencana awalnya hancur berantakan karena ulah sifat pelupa Memet.
Memet menatap wajah Bety serius, ia bisa melihat wajah itu sedang dalam mood yang tidak baik-baik saja.
“Bety, kamu sayang nggak sama aku?” kata Memet penasaran.
Bety mendengar ucapan itu. Ia sebenarnya malas jika Memet mengajukan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang menurutnya tidak penting untuk dijawab. Mengabaikan pertanyaan itu adalah hal baik untuknya, tetapi Memet terus saja memaksa untuk segera memberikan kepastian.
“Bety, jawab dong. Kamu sayang nggak sih sama aku?” kata Memet, namun Bety hanya diam saja.
“Bety? Kok diam aja?”
Bety merasa kesal dengan tingkah Memet yang menurutnya sangat ke kanak-kanakan. Agar Memet berhenti memaksa jawaban darinya, ia menghela napas berat.
“Sayang kok!”
“Sayang banget nggak?” tanya Memet penuh penekanan, lalu dibalas anggukan oleh Bety
“Makasih ya Bety,” kata Memet senang.
Memet menarik tubuhnya dari lengan Bety dan mengubah duduknya berhadap-hadapan dengan perempuan itu. Ia bisa menatap jelas wajah Bety, kemudian ia meraih wajah Bety yang masih terfokus pada layar tancap itu. Sekarang wajah mereka berdua sudah saling berhadapan.
“Apa?” kata Bety bingung sambil menaikkan alisnya.
Wajah mereka berdua sudah sangat dekat, berjarak satu jengkal saja dari posisi mereka duduk. Bahkan Bety bisa merasakan hembusan napas Memet yang sudah menggelitik ke permukaan wajahnya, membuat ia berdebar-debar dengan posisi duduk mereka saat ini.
Bety mengernyitkan dahinya sambil menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan heran. Kenapa Memet berinisiatif duluan menatapnya dengan tatapan intens. Jantung Bety sudah jumpalitan menahan serangan kegugupannya ditatap oleh Memet secara intens itu. Matanya membulat di saat Memet memajukan wajahnya. Darahnya berdesir karena saking kagetnya. Entah mengapa tatapan mata Memet begitu membuatnya terbawa suasana. Seluruh tubuhnya terasa kaku, napasnya terasa tercekat di kerongkongan.
Memet juga merasakan hal yang sama. Ia menikmati suasana memandangi wajah cantik Bety dengan sedikit penerangan cahaya layar tancap itu. Melihat samar-samar wajah Bety, ia berhasil mengabadikan kecantikan perempuan itu dalam memorinya saat ini. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, matanya yang bulat dengan alis mata bertemu, membuat Memet terpesona dengan wajah itu.
“Aku sayang banget sama kamu Bety,” kata Memet yang terlontar begitu saja dari bibirnya.
Tetapi Bety masih diam. Kelihatan sekali ia sedang mengatur rasa gugupnya karena ditatap sedekat itu. Ia tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya. Jujur saja ini kali pertama ia berada dalam suasana itu, bertatapan sangat dekat dengan laki-laki.
Mereka bertatapan dengan cukup lama, sebelum Memet mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Bety. Tanpa Bety sadari, ia juga mendekatkan wajahnya agar semakin mendekat kepada Memet. Napasnya sudah semakin tidak beraturan. Entah apa yang merasuki Bety hingga ia berani memajukan bibirnya yang sudah semakin dekat dengan bibir Memet, hampir bersentuhan.
Tetapi di saat bibir mereka akan saling bertabrakan, tiba-tiba saja lampu bioskop menyala, menandakan film telah usai. Bety sangat terkejut, ia langsung menarik tubuhnya menjauh dari Memet. Ia membenarkan duduknya menghadap ke depan layar.
Bety tampak sekali salah tingkah. Ia memejamkan matanya merutuki dirinya sendir,i karena sudah terbawa suasana. Ia merasa sangat bodoh atas apa yang akan dilakukannya tadi, jika lampu tidak segera menyala.
Berbeda dengan Memet, ia malah senang. Itu terlihat jelas dari wajah tampannya yang senyum-senyum sendiri penuh keceriaan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian ia melirik Bety yang mengepak-ngepakkan bajunya seperti kegerahan berada di ruangan itu.
“Kok panas, ya?” kata Bety menatap Memet.
“Panas? Nggak ah, ini malah dingin,” jawab Memet menatap Bety heran.
Memet tersenyum sendiri melihat Bety yang salah tingkah di sampingnya. Itulah yang membuatnya senyum-senyum sendiri setelah ciuman tidak jadi mereka. Padahal suhu di ruangan itu cukup dingin. Namun, Bety justru terlihat kepanasan dengan keringat yang muncul di keningnya.
“Ayo, sampai kapan kita akan berada di sini?” kata Memet saat melihat sekeliling mereka yang sudah sepi.
“Oh iya. Ayo,” kata Bety menutupi kegugupanya dan segera berdiri.
“Hmm… Memet!” kata Bety gugup, membuat Memet menatapnya bingung.
“Itu. ayo …. Ayo kita keluar.”
Memet juga ikut berdiri, “ iya. Kan kita memang mau keluar. Siapa bilang mau duduk-duduk di sini?” kata Memet meledek dan berjalan mendahului Bety yang masih terdiam gugup.
‘sialan! Gara-gara tadi hampir mencium Memet, sekarang aku salah tingkah. Pasti Memet akan berpikir yang aneh-aneh!’ kata Bety merutuki dirinya sendiri.
“Ayo Bety, jangan melamun lagi!” kata Memet memecah lamunan Bety yang masih berdiri tegak.
“Eh. Iya-iya!”
Sepanjang perjalanan keluar dari bioskop, Memet hanya diam tak bergeming sama sekali. Ia tidak seperti biasanya yang sering berisik dan bawel. Bety yang berjalan di sampingnya sesekali melirik kebingungan.
‘ini anak kenapa tiba-tiba berubah jadi diam begini’ pikir Bety kebingungan dengan ekspresi Memet
Sambil terus berjalan, Bety masih tetap melirik Memet dengan rasa penasaran. Ia berpikir kenapa lelaki itu tidak berbicara banyak seperti biasanya. Apa karena kejadian di dalam bioskop tadi, pikirnya menebak.
“Memet?” kata Bety, lalu buru-buru Memet menoleh.
“Kamu marah sama aku?” tanya Bety tetapi malah dibalas gelengan kepala oleh Memet.
Mereka menuju tangga eskalator untuk menuju lantai 3. Bety yang masih penasaran lalu bertanya lagi.
“Kamu kenapa sih? Kok diam saja,” tanya Bety melirik Memet.
“Aku merasa kamu itu terpaksa jalan sama aku.”
“Terpaksa bagaimana?” kata Bety heran.
“Dari tadi wajah kamu tidak bersemangat sekali duduk di samping aku. Apa kamu benar-benar mau sama aku, Bety?” kata Memet mengungkapkan isi hatinya.
Bety terdiam. Ucapan Memet memang benar, ia sama sekali tidak ada semangat dengan acara kencan pertama mereka saat ini. Moodnya sudah hilang karena dari pagi menunggu, ditambah lagi melihat situasi Memet yang sangat penakut dan manja dalam bioskop. Rasanya ia seperti menjaga anak kecil. Yang ia harapkan adalah sosok laki-laki yang tegas, berani, dan kuat. Bukan seperti Memetn, yang tidak mempunyai nyali seperti lelaki yang siap menjaganya jika sudah menikah.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai