NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.

Suara itu terdengar sangat jelas di dalam warung nasi yang sepi tersebut. Wajah Bumi langsung berubah jadi merah padam karena menahan rasa malu yang amat sangat. Ia buru-buru memegangi perutnya.

Alya yang sedang mengoleskan obat langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap mata Bumi dengan pandangan menyelidik, lalu senyum tipis penuh pengertian muncul di wajahnya.

"Tuh, kan. Perutnya Mas Bumi emang gak bisa diajak bohong. Mas Bumi pasti belum makan malam ya habis kerja panggul tadi?" tanya Alya menebak dengan tepat.

"Anu... iya, Mbak Alya. Kebetulan emang belum sempat makan," jawab Bumi terbata-bata, menundukkan kepalanya karena malu.

Ibu Alya langsung menepuk pundak anaknya. "Al, ya sudah, kamu buruan ke belakang. Ambilkan nasi rames yang paling komplit pake lauk ayam goreng sama telur buat Nak Bumi. Kasihan dia pasti kelaparan banget dari sore."

"Siap, Bu. Sebentar ya, Mas Bumi," kata Alya langsung berbalik mau mengambil piring.

"Jangan! Mbak Alya, Ibu... tolong jangan buatin makanan buat saya! Gak usah, Mbak!" seru Bumi mendadak dengan nada suara yang agak panik, tangannya bergerak menahan gerakan Alya.

Alya menghentikan langkahnya, menoleh bingung. "Loh, kenapa, Mas? Mas Bumi kan lapar banget itu perutnya sampai bunyi kencang gitu. Kenapa ditolak?"

"Iya, Bumi. Kenapa ditolak? Gak usah sungkan sama Ibu, makan aja," timpal Ibu Alya ikut heran dengan penolakan Bumi yang mendadak itu.

Bumi menatap wajah Alya dan ibunya secara bergantian. Air matanya yang sejak tadi ditahannya di lorong sepi kini mulai mengambang di pelupuk matanya. Rasa sesak di dadanya sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Mbak Alya... Ibu... dengar saya dulu," ucap Bumi dengan suara yang mulai bergetar karena menahan tangis. "Bukannya saya gak mau menerima kebaikan kalian. Tapi... tapi saya bener-bener gak bisa makan di sini malam ini."

"Kenapa emangnya, Mas? Cerita aja, gak apa-apa," kata Alya lembut, kembali duduk di depan Bumi dengan raut wajah serius.

Bumi menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya. "Tadi sore... setelah saya selesai kerja panggul sawi di blok barat bersama Kang Bendot, saya niatnya mau langsung balik ke kosan. Tapi, pas saya lewat di lorong sepi dekat gudang tua yang jarang dilewati orang, saya dicegat sama tiga orang preman pasar, Mbak. Yang kepalanya botak tengah pakai tato ular di lehernya... namanya Garong kalau gak salah."

Ibu Alya langsung menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya tampak pucat. "Innalillahi... si Garong? Preman paling ganas di pasar ini? Kamu ketemu mereka, Le?"

"Iya, Bu," Bumi mengangguk, setetes air matanya jatuh melewati pipinya yang lebam. "Mereka malak saya, minta uang keamanan katanya. Saya udah coba ngelawan sekuat tenaga saya, Bu. Saya pukul anak buahnya, saya dorong sampai jatuh. Tapi si Garong itu licik, dia bawa balok kayu besar dan langsung hantam kaki saya sampai saya jatuh ke tanah. Terus tangan dan kaki saya dipegangin erat-erat sama anak buahnya..."

"Terus uang kamu... uang kamu diambil semua, Mas?" tanya Alya dengan suara yang mulai bergetar karena ikut merasakan kepedihan Bumi.

Bumi menunduk dalam-dalam, menatap lantai semen. "Iya, Mbak Alya. Semuanya diambil tanpa sisa sepeser pun. Uang borongan semalam dari Bang Badrun, uang kerja keras dari pagi sampai sore tadi bersama Kang Bendot... semuanya ludes dirampas mereka. Bahkan..." Bumi terisak pelan, suaranya makin parau. "Bahkan uang tabungan darurat pemberian Mak Sumi janda tua dari desa saya yang disimpan di sapu tangan kain... ikut diambil juga oleh mereka. Dompet kain saya dibuang kosong melompong begitu aja."

Bumi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap tulus ke arah Alya. "Sekarang saya bener-bener gak memiliki uang sepeser pun di kantong saya, Mbak. Nol kecil. Saya gak akan bisa bayar makanan yang Mbak Alya dan Ibu buatkan malam ini. Saya gak mau ngutang dan makin ngerepotin kalian setelah semua kebaikan kalian dari semalam. Makanya saya bilang jangan buatin makanan..."

Suasana di dalam warung nasi itu mendadak hening sejenak, hanya menyisakan suara isak tangis pelan dari Bumi yang meratapi nasib malangnya di kota perantauan.

Alya menatap Bumi dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, hatinya benar-benar tersentuh dan teriris melihat cobaan bertubi-tubi yang menimpa pemuda polos ini. Ibu Alya yang berdiri di sampingnya juga tampak menyeka sudut matanya dengan ujung celemek masaknya. Wanita tua itu melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Bumi dengan sangat lembut, layaknya seorang ibu kandung.

"Ya Allah, Nak Bumi... keterlaluan banget si Garong itu, tega-teganya merampas hak orang kecil yang cari duit halal," kata Ibu Alya dengan nada suara penuh emosi terhadap preman tersebut, namun segera melunakkannya saat menatap Bumi. "Bumi, dengerin Ibu, Le. Masalah makanan ini, kamu gak usah mikirin soal bayar atau uang sepeser pun. Kita di sini gak pernah nyari untung dari orang yang lagi kena musibah kayak kamu."

Alya langsung berdiri dan menggenggam tangan Bumi yang kasar. "Betul kata ibu, Mas Bumi! Masalah uang itu sama sekali gak penting buat kita sekarang. Yang penting itu kesehatan kamu dan perut kamu harus keisi dulu biar badan kamu ada tenaga buat sembuh dari luka-luka ini. Uang bisa dicari lagi besok-besok, Mas, yang penting nyawa kamu selamat dari preman-preman itu!"

"Tapi, Mbak Alya, Bu... saya bener-bener merasa gak enak hati. Dari semalam dikasih kasur, bantal, dikasih diskon makan, sekarang malah mau dikasih makan gratis lagi..." protes Bumi masih merasa sungkan yang luar biasa karena harga dirinya sebagai pekerja keras.

Alya langsung cemberut, pura-pura marah untuk memaksa Bumi. "Siapa yang bilang ini hutang? Siapa juga yang minta bayaran? Ini namanya rezeki dari gusti Allah lewat warung saya, Mas Bumi! Udah, jangan banyak bantah, jangan keras kepala lagi kalau lagi susah. Duduk diam di sini, saya ambilkan makanannya sekarang!"

Alya langsung bergegas jalan ke belakang etalase kaca tanpa memberikan kesempatan bagi Bumi untuk menolak lagi. Tak sampai dua menit, Alya kembali dengan membawa sepiring penuh nasi hangat dengan porsi ganda, lengkap dengan lauk ayam goreng besar, telur dadar, tempe orek, dan siraman kuah sayur yang melimpah.

"Nih, makan! Harus dihabisin sampai bersih, gak boleh tersisa sebutir nasi pun!" kata Alya sambil meletakkan piring itu dengan agak menghentak di depan Bumi, namun matanya memancarkan perhatian yang sangat tulus.

Ibu Alya ikut tersenyum hangat dari dekat meja. "Makan gih, Bumi. Anggap saja ini masakan dari ibumu sendiri di desa. Jangan dipikirin soal uang lagi ya."

Bumi menatap piring nasi hangat yang mengepulkan uap di depannya. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena rasa sedih atau sakit fisik, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa dalam hatinya. Di tengah kejamnya ibu kota yang baru saja merampas seluruh harta bendanya, ternyata Tuhan langsung mengirimkan dua malaikat baik hati yang tulus menolongnya tanpa pamrih.

"Terima kasih banyak... Terima kasih banyak, Ibu, Mbak Alya... Kalian baik banget sama saya yang cuma kuli terlantar ini. Kebaikan kalian gak bakal saya lupain seumur hidup," ucap Bumi dengan suara bergetar penuh ketulusan.

"Iya, Mas Bumi, sama-sama. Udah, buruan dimakan nasinya, keburu dingin nanti gak enak," sahut Alya lembut, senyum manisnya kembali terkembang menghiasi wajahnya.

Bumi mengambil sendok dengan tangannya yang masih agak gemetar akibat lebam. Ia mulai menyuapkan nasi hangat itu ke dalam mulutnya. Rasa lapar yang tertahan dan kehangatan dari ketulusan Alya serta ibunya membuat hidangan sederhana malam itu terasa seperti makanan paling nikmat di seluruh dunia bagi Bumi. Di dalam warung nasi yang remang-remang itu, Bumi makan dengan lahap di bawah tatapan penuh perhatian dan kehangatan dari Alya, memberinya sisa-sisa harapan baru bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, orang baik akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!