Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Perpustakaan dan Pertemuan Masa Lalu
Pagi itu, Wang Dahu sudah meninggalkan kamarnya sejak matahari belum sepenuhnya naik.
Tujuannya hanya satu: perpustakaan Sekte Awan Surgawi.
Setelah menerima tanda pengenal sebagai murid luar, ia segera mencari tempat yang menyimpan berbagai pengetahuan kultivasi. Baginya, kesempatan menjadi murid sekte bukan hanya tentang mendapatkan tempat tinggal dan sumber daya, tetapi juga kesempatan mempelajari hal-hal yang dahulu tidak pernah bisa ia jangkau.
Bangunan perpustakaan berdiri di sisi timur kawasan sekte. Bangunannya memiliki empat lantai, dengan susunan batu putih dan atap berwarna biru gelap.
Di depan pintu masuk, seorang pria tua berjubah abu-abu duduk sambil membaca gulungan.
Dahu menghampirinya dan memberi hormat.
“Salam, Senior. Saya ingin memasuki perpustakaan.”
Pria tua itu mengangkat kepala.
“Token identitasmu.”
Dahu menyerahkan tanda pengenal murid luar.
Pria tua itu memeriksanya, kemudian mengembalikannya.
“Murid luar hanya memiliki hak memasuki lantai satu dan dua. Jangan mencoba memasuki lantai tiga atau lantai empat. Ada batasan formasi di setiap lantai.”
“Baik, Senior.”
“Jaga buku-buku di dalam. Jika merusak atau menghilangkannya, kau harus membayar ganti rugi sesuai aturan sekte.”
Dahu mengangguk sebelum melangkah masuk.
Begitu melewati pintu, pandangannya langsung dipenuhi rak-rak buku yang menjulang tinggi.
Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan.
Ada buku mengenai dasar kultivasi, teknik pernapasan, seni bela diri, ilmu pedang, teknik telapak tangan, tanaman obat, pemurnian pil, formasi, monster buas, hingga sejarah berbagai wilayah.
Mata Dahu berbinar.
“Tempat ini benar-benar luar biasa.”
Suara iblis terdengar dari dalam pikirannya.
“Hanya kumpulan buku. Apa yang membuatmu begitu bersemangat?”
Dahu tidak menjawab. Ia sudah mengambil sebuah buku dari rak terdekat.
Dasar-Dasar Pengendalian Qi.
Ia membuka halaman pertama.
Hanya beberapa saat kemudian, matanya bergerak cepat mengikuti setiap baris tulisan.
Halaman demi halaman dibalik.
Satu buku selesai.
Kemudian buku kedua.
Lalu ketiga.
Kecepatannya semakin meningkat.
Dahu tidak membaca seperti orang biasa. Setiap kali matanya melewati sebuah halaman, seluruh isi tulisan, gambar, bahkan susunan diagramnya tersimpan dengan jelas dalam ingatannya.
Ia mampu mengingat setiap kalimat tanpa tertukar.
Bahkan jika menutup buku dan mencoba mengulang isinya, semuanya muncul kembali seolah buku tersebut masih terbuka di hadapannya.
Kemampuan itu membuatnya semakin bersemangat.
“Menarik...”
Ia mengambil buku berikutnya.
Kali ini tentang teknik dasar pertarungan tangan kosong.
Setelah selesai, ia beralih ke teknik langkah, ilmu pedang, teknik telapak, pengendalian Qi, dan berbagai metode pertahanan.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Menjelang siang, Dahu sudah membaca puluhan buku.
Penjaga perpustakaan yang sesekali memperhatikannya mulai mengernyit.
Pemuda itu terus mengambil buku, membuka halaman, lalu mengembalikannya beberapa saat kemudian.
Awalnya, pria tua itu mengira Dahu hanya membolak-balik buku untuk terlihat rajin.
Namun, ketika ia melihat pemuda tersebut membuka sebuah buku tebal tentang formasi dan menyelesaikannya dalam waktu singkat, rasa penasarannya mulai muncul.
Anak itu sedang membaca atau hanya melihat gambar?
Dahu tidak menyadari tatapan tersebut.
Ia sedang memikirkan sesuatu.
Jika aku bisa mengingat semua pengetahuan ini, satu minggu sebelum pelatihan dimulai tidak boleh disia-siakan.
Ia kemudian menetapkan target.
Dalam tujuh hari, ia akan berusaha membaca seluruh buku yang tersedia di lantai satu.
Ia tidak hanya ingin mempelajari teknik bertarung, tetapi juga pengetahuan tanaman obat, pemurnian pil, formasi, monster, dan berbagai informasi mengenai dunia kultivasi.
Sang iblis tiba-tiba tertawa kecil.
“Jangan terlalu percaya diri. Mengingat isi buku tidak berarti kau bisa menguasainya.”
“Aku tahu.”
Dahu mengambil buku lain.
“Karena itulah aku akan mempraktikkannya.”
Iblis terdiam sejenak.
Sore hari, ketika Dahu sedang mengembalikan sebuah buku tentang teknik pedang, ia mendengar keramaian dari arah pintu masuk.
Beberapa murid perempuan berjalan memasuki perpustakaan.
Mereka mengenakan seragam murid dalam dengan lambang awan berwarna perak.

Di tengah kelompok itu terdapat seorang wanita muda berparas cantik. Rambut hitamnya terurai rapi, kulitnya bersih, dan sikapnya anggun.
Kehadirannya segera menarik perhatian para murid lain.
“Itu Liu Ruyan!”
“Dia benar-benar datang ke perpustakaan hari ini.”
“Dia bukan hanya cantik, bakat kultivasinya juga luar biasa. Kudengar dia sudah menjadi murid dalam pada usia semuda itu.”
“Dia memang salah satu primadona Sekte Awan Surgawi.”
Bisikan-bisikan terdengar dari berbagai arah.
Dahu yang sedang meletakkan buku berhenti sejenak.
Liu Ruyan.
Nama itu masih dikenalnya dengan jelas.
Wanita yang dahulu pernah menjadi alasan dirinya menyimpan harapan, sekaligus salah satu penyebab dirinya akhirnya menyadari betapa menyedihkan kehidupannya.
Namun, Dahu hanya melirik sebentar sebelum kembali mengambil buku.
Ia tidak berniat menghindar ataupun mendekat.
Sayangnya, saat hendak melewati lorong rak, Liu Ruyan tanpa sengaja melihatnya.
Langkah wanita itu sedikit melambat.
Tatapannya tertahan pada pemuda berjubah murid luar tersebut.
Entah mengapa, wajah itu terasa familier.
Ia pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Sepertinya ketika perjalanan menuju sekte.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dari penampilan dan sikapnya. Ia tidak terlihat seperti pemuda biasa yang berusaha menarik perhatian orang lain.
Liu Ruyan akhirnya bertanya.
“Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Dahu menoleh.
Ia tersenyum ramah.
“Mungkin kita pernah berpapasan, Senior. Saya Wang Dahu, murid luar yang baru diterima.”
Liu Ruyan memperhatikan wajahnya beberapa saat.
“Wang Dahu...”
Ia mengulang nama itu dalam hati, tetapi tidak menemukan ingatan yang cocok.
Dahu kembali berkata dengan sopan.
“Jika tidak ada urusan lain, saya ingin melanjutkan membaca.”
“Oh, tentu.”
Liu Ruyan mengangguk.
Dahu membungkuk ringan, lalu pergi membawa buku di tangannya.
Sikapnya begitu biasa.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada kegugupan.
Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa ia pernah mengenal wanita tersebut secara dekat.
Liu Ruyan masih memandang punggungnya.
“Kenapa aku merasa pernah mengenalnya?”
Salah seorang teman di sampingnya tersenyum.
“Ruyan, apa kau tertarik pada murid luar itu?”
Liu Ruyan menggeleng pelan.
“Bukan begitu. Hanya saja, wajahnya terasa tidak asing.”
Ia kembali melangkah, tetapi rasa penasaran itu masih tertinggal di pikirannya.
Ketika malam tiba, Dahu akhirnya kembali ke kamarnya.
Ia membawa kembali ingatan dari begitu banyak buku yang dibacanya sepanjang hari.
Begitu pintu tertutup, ia langsung meletakkan barang-barangnya dan berdiri di tengah ruangan.
Iblis bertanya.
“Kau tidak mau beristirahat?”
“Tidak. Aku ingin mencoba sesuatu.”
Dahu menutup mata.
Dalam pikirannya, muncul dengan jelas berbagai gerakan yang telah dibacanya. Posisi kaki, sudut serangan, cara mengatur tenaga, serta aliran Qi ketika melakukan setiap gerakan.
Ia mengambil posisi kuda-kuda.
Kemudian bergerak.
Satu langkah maju, tubuh berputar, telapak tangan mendorong ke depan.
Gerakannya mengikuti teknik dasar yang baru saja ia baca.
Ia berhenti, memperbaiki posisi kaki, lalu mengulanginya.
Kali ini lebih cepat.
Setelah itu, ia mempraktikkan teknik langkah, pukulan, tangkisan, dan beberapa gerakan pedang menggunakan tongkat kayu sederhana yang ada di kamarnya.
Setiap kali melakukan kesalahan, ingatannya segera membandingkan gerakan yang baru dilakukan dengan penjelasan dalam buku.
Ia memperbaikinya dan mencoba lagi.
Tidak berhenti di situ, Dahu mulai mengedarkan Qi mengikuti metode yang telah dipelajarinya. Energi spiritual bergerak melalui tubuhnya, menyatu dengan gerakan tangan dan kaki.
Dalam waktu singkat, ia telah mempraktikkan berbagai teknik dasar yang baru dibacanya.
Di dalam ruang kesadaran, iblis berdiri membeku.
“Apa...?”
Ia melihat Dahu mengulang gerakan teknik telapak tangan dengan susunan yang tepat.
Kemudian teknik langkah.
Lalu metode pengendalian Qi.
Bahkan beberapa gerakan yang memiliki penjelasan rumit mampu dilakukan Dahu setelah mencoba beberapa kali.
“Mustahil!”
Iblis menggeram.
“Berhenti sebentar! Kau baru membaca semua itu hari ini!”
Dahu menghentikan gerakannya.
“Memangnya kenapa?”
“Bagaimana kau bisa mengingat seluruh susunan teknik itu dengan begitu jelas?”
Dahu mengangkat bahu.
“Aku hanya mengingat apa yang kubaca.”
“Hanya mengingat?!”
Iblis hampir kehilangan kesabarannya.
“Teknik bela diri bukan sekadar gambar yang bisa kau salin! Ada pemahaman, pengalaman, dan penguasaan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun!”
Dahu tersenyum.
“Karena itulah aku sedang berlatih.”
Iblis terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal bahwa Dahu masih memiliki banyak kekurangan. Gerakannya belum sempurna dan beberapa teknik masih terasa kaku.
Namun, kemampuan menyerap pengetahuan dan menerapkannya setelah membaca sekali benar-benar di luar kewajaran.
“Monster...”
Iblis menggumam pelan.
“Manusia macam apa sebenarnya dirimu?”
Dahu kembali mengambil posisi kuda-kuda.
“Aku Wang Dahu.”
“AKU TAHU NAMAMU!”
Dahu tertawa kecil.
Malam itu, ia terus berlatih hingga tubuhnya terasa lelah. Setelah memastikan gerakan-gerakan dasar tertanam dalam ingatannya, barulah ia kembali ke tempat tidur.
Ia berbaring nyaman, lalu mulai bermeditasi sambil mengedarkan Qi secara perlahan.
Satu minggu.
Itulah waktu yang akan ia gunakan untuk memaksimalkan pengetahuannya sebelum pelatihan pertama dimulai.
Sementara itu, di balik gerbang hitam dalam ruang kesadarannya, iblis masih menatap pemuda tersebut dengan ekspresi sulit dipercaya.
“Awalnya aku mengira dia hanya memiliki tubuh yang aneh...”
Ia menghela napas panjang.
“Ternyata ingatannya juga tidak masuk akal.”
Untuk pertama kalinya, iblis merasa bahwa tinggal di dalam tubuh manusia ini mungkin akan membuat kewarasannya benar-benar habis.