Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Merobek Langit Sembilan Kegelapan
Ujung Rantai Pendakian Kuno akhirnya terlihat.
Namun, yang menunggu Mo Xie bukanlah jalan keluar, melainkan sebuah jaring cahaya keemasan yang terbentang di atas kepalanya dan menutupi seluruh mulut Jurang Sembilan Kegelapan.
Aksara-aksara kuno berputar pada setiap simpulnya, memancarkan tekanan Yang yang begitu kuat hingga Racun Yin lenyap seketika saat mendekatinya.
Itulah Segel Surgawi.
Segel yang ditinggalkan para Ketua Istana Dao Surgawi untuk mengurung segala sesuatu yang mereka anggap sebagai iblis di dasar jurang.
Mo Xie menatap segel itu dengan dingin.
Panas yang dipancarkannya membuat kulit wajahnya melepuh. Bahkan lengan kanannya yang masih fana mulai mengeluarkan asap tipis.
Xue Ling'er berdiri di belakangnya dan segera memperingatkan, "Jangan gegabah. Ini segel tingkat tinggi yang mampu mengunci ruang di sekitarnya. Begitu kau menyentuhnya, tubuhmu akan tercabik."
Mo Xie hanya menyeringai. "Aku sudah kehilangan segalanya."
Tatapannya semakin tajam saat ia menatap jaring cahaya di atas sana.
"Segel tua ini tidak akan menghentikanku."
Ia melangkah maju dan menginjak mata rantai terakhir.
Aksara kuno pada Tulang Kaki Jenderal Iblis seketika menyala. Tekanan berat yang biasanya digunakan untuk menghancurkan kini ia arahkan ke telapak kakinya. Tubuhnya menjadi ringan, tetapi setiap pijakannya tetap kokoh seperti gunung.
Mo Xie menarik napas dalam-dalam.
Tiga Tulang Rusuk di dadanya berdenyut. Qi Yang yang tersimpan di dalamnya mulai bereaksi terhadap cahaya keemasan Segel Surgawi.
Kemudian, sebuah celah kecil muncul di antara jaring cahaya itu.
Itu sudah cukup.
Mo Xie melompat.
Cakar obsidian di tangan kirinya menghantam simpul terbesar Segel Surgawi.
Boom!
Gelombang kekuatan langsung menyapu tubuhnya.
Krak!
Tulang lengan kanannya retak. Darah mengalir dari bahunya dan langsung menguap sebelum sempat jatuh.
Cakar obsidiannya bergetar hebat ketika berhadapan dengan kekuatan Segel Surgawi. Namun, Mo Xie tidak mundur. Ia justru mencengkeram jaring cahaya itu dengan lebih kuat.
Qi Yin dari Kerangka Besi Hitam Kegelapan bertabrakan dengan Qi Yang dari segel. Ledakan-ledakan kecil terus bermunculan di sekujur tubuhnya. Darah bahkan mulai mengalir dari sudut matanya.
Segel Surgawi perlahan melengkung.
Namun, segel itu masih belum hancur.
Sebaliknya, cahaya keemasan justru membelit lengan Mo Xie dan berusaha memotongnya.
Melihat keadaan itu, Xue Ling'er tahu Mo Xie tidak akan mampu bertahan lebih lama.
Dantian Mo Xie masih retak. Jika ia terus memaksakan diri, bukan hanya lengannya yang akan hancur. Nyawanya pun akan lenyap.
"Lagi-lagi kau memaksakan takdir!"
Ling'er menggigit bibirnya. Tanpa ragu, ia menusukkan jarinya ke dadanya sendiri hingga darah mengalir.
Kemudian, ia menarik keluar seutas benang darah merah yang jauh lebih tebal daripada benang darah biasa.
Itulah Esensi Darah Jantung.
Sumber kehidupan seorang Penenun Darah Yin Agung.
Wajah Xue Ling'er seketika memucat.
"Mo Xie!"
Ia menancapkan benang darah itu ke punggung Mo Xie.
Benang tersebut menembus tubuhnya dan langsung terhubung dengan Dantian yang retak.
Boom!
Qi Yin murni meledak di dalam tubuh Mo Xie.
Dantian yang retak bergetar hebat, lalu retakannya perlahan mulai menyatu.
Kekuatan darah Ling'er mengalir ke seluruh tubuh Mo Xie. Qi itu melewati Tulang Naga Bumi, turun menuju Tulang Kaki Jenderal Iblis, lalu berkumpul di lengan kirinya.
Aura hitam pekat meledak.
Segel Surgawi bergetar hebat.
Mo Xie mengangkat kepalanya.
"Hancur!"
Ia mencengkeram jaring cahaya itu dengan kedua tangan, lalu menariknya sekuat tenaga.
Prang!
Segel Surgawi akhirnya pecah.
Cahaya keemasan memenuhi langit sebelum berubah menjadi hujan cahaya yang jatuh ke seluruh Jurang Sembilan Kegelapan.
Hukum yang selama ribuan tahun mengunci jurang itu akhirnya runtuh.
Kabut Yin yang memenuhi mulut jurang tersapu keluar.
Mo Xie dan Xue Ling'er terlempar oleh ledakan tersebut.
Mo Xie segera memutar tubuhnya di udara. Ia mengendalikan kekuatan pada kedua kakinya, lalu mendarat di tepi tebing.
Brak!
Batu di bawah telapak kakinya retak.
Mo Xie perlahan berdiri, lalu ia terdiam.
Sesuatu menyentuh wajahnya, bukan Racun Yin, bukan pula hawa kematian, melainkan cahaya.
Mo Xie mengangkat kepalanya.
Untuk pertama kalinya setelah hidup dikegelapan, sinar matahari menyentuh wajahnya.
Ia memicingkan matanya.
Tubuhnya yang telah dipenuhi Qi Yin terasa perih di bawah cahaya itu. Namun, Mo Xie tidak menghindar. Ia justru menengadah dan membiarkan sinar matahari membakar sisa-sisa Racun Yin yang masih melekat di tubuhnya.
Senyum perlahan muncul di wajahnya. Ia telah kembali ke dunia manusia.
Dan kali ini, ia kembali bukan sebagai korban. Ia kembali sebagai penagih hutang darah.
Di belakangnya, Xue Ling'er jatuh berlutut.
Wajahnya pucat. Pengorbanan Esensi Darah Jantung telah menguras sebagian besar kekuatannya.
Mo Xie segera berbalik dan berdiri di hadapan Ling'er, menggunakan tubuhnya untuk menghalangi cahaya matahari.
"Kau mengorbankan sebagian besar kekuatanmu demi membantuku."
Xue Ling'er tersenyum lemah. "Aku hanya berharap pengorbananku tidak sia-sia."
Mo Xie menatapnya sejenak. "Aku tidak akan mengecewakanmu."
Setelah itu, ia menoleh ke depan.
Dari tepi tebing, dunia luas terbentang di hadapannya.
Hutan hijau memenuhi daratan. Pegunungan menjulang di kejauhan, sementara di antara lembah-lembah berdiri sebuah kota besar dengan tembok marmer putih dan menara yang berkilauan di bawah sinar matahari.
Bendera bergambar awan emas berkibar di atas tembok.
Kota Awan Jatuh.
Salah satu kota besar yang berada di bawah pengaruh sekte-sekte yang berafiliasi dengan Istana Dao Surgawi.
Penduduk kota masih menjalani kehidupan seperti biasa. Tidak seorang pun tahu bahwa Segel Surgawi baru saja hancur. Tidak seorang pun tahu bahwa seseorang yang seharusnya telah mati kini berdiri di tepi Jurang Sembilan Kegelapan.
Mo Xie menatap kota itu dengan tenang.
Dantian-nya memang belum pulih sepenuhnya. Xue Ling'er juga membutuhkan waktu untuk memulihkan esensi darahnya.
Mereka membutuhkan tempat untuk beristirahat. Dan mereka membutuhkan sumber daya.
Mo Xie mengangkat cakar obsidiannya.
"Kota itu cukup besar." Xue Ling'er menatapnya. "Jangan bilang kau sudah memikirkan sesuatu."
"Benar." Tatapan Mo Xie berubah dingin. "Kita membutuhkan sumber daya untuk memulihkan Dantianmu dan tubuhku."
Ia kembali menatap Kota Awan Jatuh.
"Kalau kota itu berada di bawah Istana Dao Surgawi..." Senyumnya perlahan melebar. "Berarti kita sudah menemukan tempat pertama untuk menagih hutang."
Angin bertiup dari arah kota.
Di belakangnya terbentang Jurang Sembilan Kegelapan.
Di hadapannya terbentang dunia yang pernah mengkhianatinya.
Dan kali ini, Mo Xie tidak datang untuk meminta belas kasihan.
Ia datang untuk merebut kembali semuanya.