NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Rasa Penasaran

Sejak pertengkaran mengenai rumah, Arman tidak langsung mengambil keputusan.

Ia justru memilih diam.

Bukan karena takut kepada Claudia, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa harus benar-benar memikirkan kehidupan yang akan mereka jalani setelah menikah.

Selama ini Arman selalu berpikir bahwa menikahi Claudia akan membuat hidupnya lebih mudah.

Keluarga Claudia memiliki bisnis besar. Hubungan mereka bisa membantu mengembangkan usahanya. Bahkan orang tuanya pun sangat mendukung pernikahan tersebut.

Namun sekarang Arman mulai menyadari bahwa menikah dengan seseorang dari keluarga berada juga berarti ada standar hidup yang harus ia pertanggungjawabkan.

Dan ia tidak ingin memulai rumah tangga dengan memaksakan diri.

Keesokan harinya, Arman menemui Claudia.

Perempuan itu masih terlihat kesal.

“Aku sudah memikirkan soal rumah,” kata Arman.

Claudia menyilangkan tangan di depan dada.

“Lalu?”

“Aku tidak akan membatalkan rumah yang sudah kubayar tanda jadinya.”

Wajah Claudia langsung berubah.

“Jadi kamu tetap memilih rumah itu?”

“Iya.”

Claudia hendak membantah, tetapi Arman lebih dulu melanjutkan.

“Tapi aku juga tidak menutup kemungkinan untuk pindah suatu hari nanti.”

Claudia terdiam.

“Aku ingin kita tinggal di rumah itu dulu.”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah menghitung semuanya.”

Arman mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari dalam tasnya.

“Kalau aku memaksakan apartemen yang kamu inginkan sekarang, pengeluaran bulanannya jauh lebih besar. Belum lagi biaya perabot, cicilan mobil, kebutuhan rumah tangga, dan persiapan pernikahan.”

Claudia melihat dokumen tersebut.

“Aku bisa membantu.”

“Aku tahu.”

“Lalu masalahnya apa?”

“Aku tidak ingin rumah tangga kita dimulai dengan aku bergantung pada keluargamu.”

Claudia terdiam.

Arman menatapnya serius.

“Aku menikah denganmu karena aku memilihmu. Bukan karena ingin menjadi orang yang hidup dari uang keluargamu.”

Kalimat itu membuat Claudia sedikit terkejut.

Selama ini ia memang tahu Arman menikahinya karena ada kepentingan bisnis.

Namun mendengar Arman mengatakan hal tersebut secara langsung membuat pandangannya sedikit berubah.

“Aku tetap ingin memberikan kehidupan yang baik untukmu,” lanjut Arman. “Tapi aku juga ingin hidup sesuai kemampuanku.”

Claudia menghela napas.

“Jadi kamu benar-benar tidak mau pindah?”

“Untuk sekarang, tidak.”

“Untuk sekarang?”

“Iya.”

Arman menatapnya.

“Kalau bisnis berjalan lebih baik dan kondisi keuangan kita memungkinkan, kita bisa mencari tempat yang lebih sesuai dengan keinginanmu.”

Claudia diam cukup lama.

Ia sebenarnya masih tidak menyukai rumah itu.

Sama sekali.

Namun, ia juga tidak ingin membatalkan pernikahan hanya karena masalah tempat tinggal.

Apalagi rencana pernikahan sudah diketahui banyak orang.

Akhirnya Claudia menghela napas.

“Baik.”

Arman sedikit terkejut.

“Baik?”

“Aku akan mencoba tinggal di sana.”

Claudia menunjuk Arman.

“Tapi cuma sementara.”

Arman mengangguk.

“Tidak masalah.”

“Dan setelah bisnis kamu membaik, kita cari tempat lain.”

“Kita bicarakan lagi nanti.”

Claudia mengangguk.

Namun dalam hati, ia sudah memiliki keputusan sendiri.

Ia akan mengalah untuk sementara.

Bukan berarti ia berubah pikiran.

Ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah.

“Aku mau pernikahan kita tetap berjalan,” kata Claudia akhirnya.

Arman menghela napas lega.

“Terima kasih sayang.”

Claudia menatapnya.

“Tapi jangan salah mengerti.”

“Apa?”

“Aku mengalah karena aku ingin pernikahan ini tetap berjalan. Bukan karena aku sudah menyukai rumah itu.”

Arman tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

“Dan satu lagi.”

“Apa lagi?”

“Jangan berharap aku akan berubah menjadi seperti Retna hanya karena aku setuju tinggal di rumah itu.”

Senyum Arman perlahan menghilang.

Nama itu kembali muncul.

Retna.

Entah kenapa, setiap kali Claudia menyebut nama tersebut, ada rasa tidak nyaman yang muncul di dada Arman.

Ia hanya mengangguk.

“Aku tidak meminta kamu menjadi seperti siapa pun.”

Claudia tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia mengambil tasnya.

“Aku mau memilih sendiri perabot rumah itu nanti.”

Arman mengangguk.

“Tentu.”

Claudia berjalan pergi.

Arman memperhatikannya.

Ia merasa sudah membuat keputusan yang tepat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya mengikuti keinginan orang lain.

Ia ingin berdiri dengan kemampuannya sendiri.

Namun, jauh di dalam pikirannya, bayangan Retna kembali muncul.

Perempuan itu dulu tidak pernah membuatnya berpikir serumit ini.

Bahkan ketika Arman tidak mampu memberikan banyak hal, Retna tetap menerima.

Dulu ia menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Sekarang justru terasa begitu berharga.

Sementara itu, Bali mulai memasuki sore.

Nathan akhirnya benar-benar pulih.

Wajahnya sudah tidak sepucat beberapa hari sebelumnya. Ia bahkan sudah kembali bekerja sebentar di ruang kerjanya.

Retna yang melihatnya hanya bisa mengingatkan.

“Jangan terlalu lama mas Nathan.”

Nathan mengangkat wajah dari laptop.

“Sudah hampir selesai.”

“Setengah jam.”

Nathan melihat jam.

“Baik.”

Retna tersenyum.

“Kalau sudah selesai, istirahat.”

Nathan mengangguk.

“Siap.”

Menjelang malam, Nathan keluar dari ruang kerja.

Ia sudah mengenakan kemeja santai dan celana panjang.

Retna sedang membereskan dapur ketika Nathan berdiri di ambang pintu.

“Retna.”

“Iya?”

“Masih ingat janji saya?”

Retna berpikir sejenak.

“Janji apa?”

Nathan tersenyum.

“Saya traktir kamu makan kalau saya sudah sembuh.”

Retna langsung tersenyum.

“Oh.”

“Jadi?”

Retna menatap dirinya sendiri.

“Tapi saya masih pakai baju rumah.”

“Tidak masalah.”

“Saya harus ganti dulu.”

Nathan tertawa.

“Baik. Saya tunggu.”

Retna masuk ke kamarnya.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian sederhana yang lebih rapi.

Nathan menatapnya sejenak.

Retna yang merasa diperhatikan langsung bertanya,

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Mas lihat apa?”

Nathan tersenyum.

“Saya baru sadar kamu ternyata bisa terlihat cantik kalau sedang tidak memakai pakaian kerja.”

Wajah Retna langsung memerah.

“Mas Nathan!”

Nathan tertawa.

“Saya cuma bilang fakta.”

“Jangan menggoda.”

“Baik.”

Nathan membuka pintu.

“Kalau begitu, ayo.”

Mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Tempatnya sederhana tetapi nyaman.

Tidak terlalu ramai.

Retna sempat melihat menu dengan ragu.

“Harganya...”

Nathan langsung memotong.

“Jangan lihat harga.”

“Tapi—”

“Ini traktiran.”

Retna akhirnya menurut.

Mereka makan sambil berbincang ringan.

Nathan beberapa kali membuat Retna tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Bali, Retna merasa benar-benar menikmati malam tanpa memikirkan perceraian, orang tuanya, atau Arman.

Setelah selesai makan, Nathan tidak langsung mengajaknya pulang.

“Kita jalan sebentar?”

“Ke mana?”

“Pantai.”

Retna sedikit terkejut.

“Sekarang?”

“Masih belum terlalu malam.”

Retna akhirnya mengangguk.

Mereka berjalan menuju pantai yang tidak jauh dari restoran.

Suara ombak terdengar semakin jelas ketika mereka mendekat.

Angin malam berembus pelan.

Retna menarik napas dalam-dalam.

“Segar sekali.”

Nathan tersenyum.

“Makanya saya suka datang ke sini.”

Mereka berjalan berdampingan.

Tidak terlalu dekat.

Tetapi juga tidak berjauhan.

Sesekali kaki mereka hampir bersentuhan.

Retna memperhatikan laut yang gelap di hadapannya.

“Mas sering ke pantai?”

“Dulu sering.”

“Sekarang?”

“Jarang.”

“Kenapa?”

Nathan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Karena pekerjaan.”

Retna menoleh.

“Mas memang sesibuk itu?”

“Lumayan.”

“Sejak kapan bekerja sebagai arsitek?”

Nathan tersenyum.

“Sudah cukup lama.”

“Berarti dari dulu tinggal di Bali?”

Nathan menggeleng.

“Tidak.”

Retna menatapnya dengan rasa penasaran.

“Mas dari mana?”

Nathan menoleh.

“Kenapa tiba-tiba penasaran?”

Retna langsung salah tingkah.

“Tidak apa-apa.”

Nathan tersenyum.

“Tidak masalah.”

Ia kembali memandang laut.

“Saya lahir di luar negeri.”

Retna mengangguk.

“Sudah saya duga.”

“Tapi saya cukup lama tinggal di Indonesia.”

“Di mana?”

“Beberapa kota.”

Retna semakin penasaran.

“Kenapa akhirnya memilih Bali?”

Nathan terdiam sejenak.

Pertanyaan sederhana itu ternyata membuat ekspresinya berubah.

Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Seolah-olah ia sedang mengingat masa lalu.

“Saya suka tempat yang tenang.”

“Hanya itu?”

Nathan tersenyum kecil.

“Tidak juga.”

Retna menunggu.

Namun Nathan tidak langsung menjawab.

“Dulu saya tinggal bersama keluarga.”

Retna menoleh.

“Keluarga Mas ada di Bali?”

“Tidak.”

“Di luar negeri?”

Nathan mengangguk.

“Sebagian.”

Retna semakin penasaran.

“Orang tua Mas?”

Nathan menghela napas pelan.

“Ayah saya sudah tidak ada.”

Retna langsung merasa tidak enak.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau Ibu?”

Nathan tersenyum tipis.

“Ibu masih ada.”

“Mas sering bertemu?”

“Tidak sesering yang seharusnya.”

Retna terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Nathan yang berbeda.

Selama ini pria itu selalu santai, suka bercanda, dan mudah membuat suasana menjadi ringan.

Namun malam itu, ada kesedihan samar di balik tatapannya.

“Mas tidak dekat dengan keluarga?”

Nathan menggeleng pelan.

“Bukan tidak dekat.”

Ia berhenti berjalan.

“Kadang-kadang, semakin dewasa, kita punya kehidupan masing-masing.”

Retna mengangguk perlahan.

Ia memahami perasaan itu.

Bukankah dirinya juga sedang mencoba membangun kehidupan sendiri?

“Mas punya saudara?”

Nathan tersenyum.

“Punya.”

“Banyak?”

“Dua.”

“Adik?”

“Adik laki-laki dan perempuan.”

Retna tersenyum.

“Berarti ramai.”

“Dulu.”

Jawaban singkat itu membuat Retna kembali penasaran.

Namun kali ini ia tidak bertanya lebih jauh.

Ia merasa mungkin ada cerita yang belum ingin Nathan bagikan.

Mereka kembali berjalan.

Beberapa saat kemudian, Nathan justru bertanya,

“Sekarang giliran saya.”

Retna menoleh.

“Giliran apa?”

“Saya sudah menjawab banyak pertanyaan kamu.”

Retna langsung gugup.

“Memangnya saya bertanya banyak?”

“Lumayan.”

Nathan tersenyum.

“Sekarang saya boleh bertanya?”

Retna mengangguk.

“Boleh.”

“Kenapa kamu memilih Bali?”

Langkah Retna melambat.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun jawabannya tidak.

Ia menatap laut.

Ada masa lalu yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.

Arman.

Perceraian.

Rumah orang tua.

Perasaan menjadi beban.

Dan keputusan untuk pergi diam-diam.

Retna menarik napas.

“Saya cuma ingin memulai hidup baru.”

Nathan tidak langsung bertanya lagi.

Ia hanya berjalan di samping Retna.

Kemudian berkata pelan,

“Kalau suatu hari kamu ingin menceritakannya, saya akan mendengarkan.”

Retna menoleh.

Tatapan Nathan terlihat tulus.

“Mas tidak penasaran?”

“Tentu.”

“Lalu kenapa tidak bertanya?”

Nathan tersenyum.

“Karena saya tidak ingin memaksa.”

Retna terdiam.

Entah mengapa, jawaban sederhana itu justru membuat hatinya terasa hangat.

Mereka kembali memandang laut.

Malam semakin larut.

Namun tidak satu pun dari mereka merasa terburu-buru untuk pulang.

Bagi Retna, malam itu bukan hanya tentang makan malam gratis dari majikannya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sedang mengenal seseorang tanpa rasa takut.

Dan tanpa sadar, rasa penasaran terhadap kehidupan Nathan mulai tumbuh di dalam hatinya.

Ia ingin tahu lebih banyak tentang pria itu.

Tentang keluarganya.

Tentang masa lalunya.

Tentang alasan sebenarnya mengapa seorang arsitek asing memilih tinggal sendirian di Bali.

Dan mungkin, tentang alasan mengapa perhatian kecil Nathan akhir-akhir ini selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!