Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. KOLAM BALON
Setelah bermandi peluh dan mengerahkan seluruh tenaga layaknya sedang bertarung melawan musuh di medan perang, Leo akhirnya berhasil memompa kolam karet raksasa itu. Napasnya terengah-engah, namun ada kilat kepuasan di matanya. Ia kemudian menarik selang dari taman, lalu mulai mengisi kolam berwarna-warni itu dengan air yang mengalir deras.
Vellora, yang tadinya hanya duduk manis di lantai kayu sambil memangku dagu dengan wajah bosan, seketika melompat kegirangan. Matanya yang bulat membelalak takjub melihat mahakarya di depannya.
"Wahhhh! Besar sekaliii! Dan lihat, ada perosotannya juga!" pekik Vellora dengan suara melengking. Ia berlari memutari kolam itu seolah sedang mengelilingi keajaiban dunia ke delapan.
Leo mendengus geli melihat tingkah bocah itu. "Ya sudah, jangan cuma dilihat. Sana ganti bajumu dengan baju renang. Kakak sudah membelikannya untukmu, ada di dalam paket kecil yang tadi," ujar Leo seraya menunjuk sebuah kotak berbungkus kertas kado di atas meja.
"Wah, benarkah?!" Mata Vellora semakin bersinar terang. Dengan cekatan, ia memanjat sofa dan merobek bungkus paket tersebut. Sebuah baju renang mungil bermotif kelinci menyapa pandangannya. "Bagus sekali! Terima kasih, Kakak! Aku ganti dulu, yah!" seru Vellora bersemangat, lalu berlari lari kecil menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari area dapur untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian, gadis kecil itu sudah kembali dengan baju renang barunya yang kebesaran sedikit, lengkap dengan ban pelampung bebek di pinggangnya. Dengan langkah riang, Vellora mulai memasukkan satu kaki mungilnya ke dalam kolam karet yang baru terisi air setengah bagian itu.
"Uhhhh... dingin sekaliiii airnya!" gumam Vellora bergidik, memeluk lengannya sendiri dengan dramatis, meski sedetik kemudian ia malah menceburkan diri sepenuhnya sambil tertawa lepas.
Di tengah suasana ceria itu, terdengar langkah kaki berat yang diseret-seret. "Wahhh... kalian membuat kolam renang?!"
Sebuah suara berat memecah suasana. Itu Bara. Pemuda itu muncul dengan seragam SMA yang dikeluarkan, dasi longgar, dan jaket kulit hitam yang tersampir asal di bahunya—penampilan yang lebih mirip preman pasar ketimbang pelajar.
Matanya berbinar menatap kolam balon itu layaknya anak kecil melihat permen. "Boleh aku ikut masuk, tidak?" tanya Bara dengan wajah memelas yang sama sekali tidak cocok dengan otot bisepnya.
"Tidak."
Jawaban itu meluncur singkat, padat, dan kejam dari mulut Leo. Tuan Muda Theodore itu kini sedang duduk bersantai di kursi lipat di dekat kolam. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaus kutang putih polos. Pakaian minim itu secara otomatis mengekspos rahasia gelapnya. Di dada bidangnya, tergambar jelas tato sayap malaikat hitam yang membentang gagah. Sementara di balik punggung dan lengannya yang berotot, melingkar tato bunga mawar kematian yang tampak begitu hidup dan menyeramkan. Kontras yang luar biasa sangat aneh; seorang pemuda dengan tato mematikan, duduk santai mengawasi bocah lima tahun bermain pelampung bebek.
"Pelit banget sih, Tuan Muda ini..." gumam Bara merengut, bersiap membuka seragamnya untuk nekat melompat.
Namun, sebelum niat buruk itu terlaksana, sebuah tangan tua namun sekokoh baja tiba-tiba menjepit telinga Bara dari belakang.
"AWWW! AMPUN!"
Itu Liam. Pria tua itu memuntar telinga Bara tanpa ampun. "Mau ke mana kamu, hah?! Pergi ke sekolah sana! Sudah berapa minggu kamu bolos dengan alasan misi rahasia, padahal kamu cuma tidur di kolong meja?!" omel Liam dengan urat leher menonjol, tak memedulikan rengekan cucu angkatnya itu.
"Iya, Kakek! Aku berangkat, aku berangkat! Tolong lepaskan telingaku, rasanya hampir copot dari kepalaku!" jerit Bara meronta-ronta dramatis, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman maut sang kakek.
Setelah Liam mengendurkan jepitannya, Bara mengusap-usap telinganya yang kini memerah seperti kepiting rebus. Ia menatap Vellora dengan tatapan nelangsa. "Ya sudahlah, aku pergi sekolah dulu, menderita menuntut ilmu. Nanti kalau aku sudah pulang, aku pinjam kolamnya yah, Vellora kecil?" pekik Bara mencari sekutu.
"Iyaa, Kak Baraaa! Nanti kita main bola sama-sama!" senyum Vellora manis sambil melempar-lempar bola plastik berwarna-warni ke udara.
Mendengar itu, mata Leo langsung menajam. "Tidak boleh. Siapa yang mengizinkanmu? Kolam ini aku yang beli pakai uangku, kau tidak boleh menyentuhnya," tukas Leo dingin, menatap Bara dengan tatapan malas.
Bara mencibir, menggerutu pelan di sela giginya. "Pelit banget sih jadi manusia... dasar Leo jahanam..." umpatnya berbisik sangat pelan, memastikan hanya angin yang mendengarnya.
PLAK!
Sebuah jitakan keras nan akurat mendarat tepat di puncak kepala Bara.
"Sana berangkat! Masih saja mengobrol! Mau kuhukum lari mengelilingi rumah ini hah?!" bentak Liam, mengayunkan tongkatnya mengusir Bara layaknya mengusir lalat raksasa. Bara pun terbirit-birit berlari keluar rumah menuju sekolahnya dengan wajah cemberut.
Melihat adegan penyiksaan singkat di pagi hari itu, sudut bibir Leo perlahan tertarik ke atas. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka terjadi.
Vellora yang sedari tadi asyik bermain air, menghentikan cipratannya. Ia menatap kakeknya yang masih berdiri mengatur napas sehabis memarahi Bara. "Kakek Liam! Apa Kakek mau ikut mandi di sini juga? Airnya sudah tidak terlalu dingin, lho!" tawar Vellora polos, menggeser pelampung bebeknya seakan memberi ruang untuk Liam.
Membayangkan dirinya yang sudah tua renta berendam di kolam karet, Liam buru-buru berdeham. "Ehem... tidak, Sayang. Kakek ingin pergi keluar sebentar, ada urusan bisnis dengan kolega. Kalian berdua bersenang-senanglah di rumah, ya?" ujar Liam lembut, aura menyeramkannya seketika luntur tak berbekas saat berbicara dengan Vellora.
"Baiklah, Kakek! Hati-hati di jalan, ya!" sahut Vellora sambil melambaikan tangan mungilnya yang basah.
"Iya, Tuan Putri," Liam tersenyum hangat, mengangguk pada Leo, lalu berbalik pergi meninggalkan rumah besar itu.
Kini, hanya tersisa Leo dan Vellora di area itu. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, suara tawa riang Vellora yang sedang meluncur dari perosotan mini dan cipratan air menjadi satu-satunya melodi. Leo, sang pembunuh berdarah dingin dengan tato mawar kematian, duduk di sana dengan damai, menjaga sang gadis kecil dengan tatapan yang lebih hangat dari sebelumnya.