Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Beritahu padaku! Siapa yang menyuruhmu?!"
Penculik itu hanya tersenyum menyeringai, ia enggan memberitahu atasannya.
"Untuk apa aku memberitahumu, tak ada untungnya buatku."
Federic kini membalas pria itu dengan sebuah tawaan. "Apa kau benar-benar tidak tahu siapa aku!?"
Penculik itu lagi dan lagi hanya menganggapnya remeh. "Untuk apa aku harus mengenalmu? Memangnya kau siapa? Apa kau penjabat?" Ucapan itu membuat Federic semakin tertawa.
"Baiklah, jika kau tidak ingin memberitahuku, maka pembebasan itu saya batalkan. Asal kau tahu, hari ini juga, saya bisa langsung membebaskanmu."
Mendengar hal itu, raut wajah penculik itu langsung berubah. Federic tak hanya tangan kosong, ia juga memberikan sebuah cek berisikan uang puluhan miliar.
"Asal kau mau bekerja sama, maka aku bisa memberikan uang ini kepadamu."
***
Beberapa saat kemudian, Federic keluar dari kantor polisi, raut wajahnya tampak sangat senang. Seperti ia telah memenangkan perang.
"Tuan, apa Anda yakin soal ini. Bagimana jika dia menipu kita?" Tanya Jonas, Asisten pribadinya.
"Tenang saja, jika sampai dia menipu, maka aku tak akan tinggal diam." Federic kini berbalik badan. Ia lalu mengarahkan kedua bodyguardnya untuk tetap berada di sana hari ini. Sampai penculik itu benar-benar keluar dari sel.
"Kalian tunggu dia di sini, setelah dia benar-benar keluar, kalian harus membawanya padaku!"
Para bodyguard itu pun mengangguk, "Baik Tuan Federic."
Kini Federic pergi dari sana, ia masuk ke dalam mobil bersama dengan Jonas. Jonas mulai menyalakan mesin mobil, menarik tuas mobil lalu pergi dari tempat itu.
"Federic, apa kau sudah dapat daftarnya?" Tanya Federic, lalu Jonas memberikan sebuah proposal.
"Ini Tuan, semua sudah lengkap, sesuai dengan permintaan Anda. Semua kandidat adalah calon terbaik untuk Nona Aurora, semua dari keluarga kelas atas. Lanjang, tampan, dan yang paling pasti, semua hanya berbeda beberapa tahun dari Nona muda." Darren sangat puas mendengar hal itu.
Ia kemudian membuka proposal itu, membuka setiap lembar halaman berisikan biodata beberapa orang. Semua yang ada di sana adalah orang berpengaruh, mulai dari pejabat, pembisnis.
Namun tak ada satupun yang di rasa cocok baginya, ia tahu bagaimana Aurora, gadis itu cukup pendiam untuk dapat berbincang dengan laki-laki yang baru saja ia kenal.
Sebagian dari data yang di terima Faderic, laki-laki itu kebanyakan suka bermain perempuan. Namun ada satu nama yang menurutnya sangat cocok untuk putrinya.
"Jordan Wiliam, mengapa aku tidak pernah terpikirkan olehku."
"Jonas, setelah ini, hubungi Tuan Will, aku ingin bertemu dengannya."
Jonas pun mengangguk, "Baik Tuan..."
Faderic tersenyum puas, "Akhirnya aku bisa benar-benar menyingkirkanmu dari sisi putriku Kris, benalu sepertimu memang harus di musnahkan." Ujar Federic dengan dalam hatinya.
***
Di Apartemen, Jordan kini tengah duduk di ruang tengah. Ia mengambil sebuah anak panah kecil lalu melemparkannya, lemparan itu tepat. Mengenai papan target.
Rumero kini kembali datang, ia menghampiri Jordan. Pria itu duduk begitu saja di sampingnya dan langsung mengambil cemilan ringan yang berada di atas meja.
Jordan yang melihat hal itu pun, langsung meliriknya tajam. "Apa? Aku hanya minta sedikit" Ucap Rumero setelah melihat Jordan yang menatapnya melotot.
"Bukan itu, mana laporan yang aku minta kemarin!" Rumero kini menoleh, ia menggenggam bahu Jordan.
"Entah apa yang kau pikirkan sampai, dan siapa gadis yang bisa memikatmu ini, namun dia tidak ada dalam daftar wali murid."
Jordan kini mengangguk paham, "Aku baru ingat, anak kecil itu kemarin adalah adiknya. Hah, sudahlah, lagian untuk apa juga aku mencarinya."
"Ayolah, aku senang kau akhirnya bisa lupa dengan sekretaris kecilmu itu." Ucapan Rumero itu serasa menggelikan di telinga Jordan.
"Sudahlah, jangan bahas itu."
"Rasanya seperti ada yang beda saat aku bersamanya, dia terasa seperti tak asing. Padahal pertemuan kami hanya baru beberapa kali, dan itu pertemuan yang singkat." Jordan berucap dalam hatinya.
"Drt... Drt... Drt..." Ponsel milik Jordan bergetar, dengan santai pria itu kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas meja yang berada di sampingnya.
"Halo Pa, ada apa?" Rupanya panggilan telepon itu masuk dari ayahnya.
Dari tempat yang berbeda, di los angles. Tuan Will tengah duduk di kursi kekuasaannya. Membuka proposal penting pekerjaannya. Sebari menelepon putra satu-satunya yang sangat ia sayang.
"Jordan, Papa punya satu kenalan perempuan untuk kamu, dia cantik, terpelajar. Dan pastinya, sejajar dengan keluarga kita."
Jordan yang sudah tahu arah pembicaraan ini akan kemana pun memilih untuk memutuskan panggilan itu, secara sepihak.
"Jordan sibuk pa, ada peluncuran ponsel terbaru yang masih harus di kembangkan, Jordan tidak punya waktu untuk ini." Jordan menutup telepon itu.
"Yak, Jordan, dengarkan dulu Papamu ini berbicara! Kau sudah setua ini, apa kau bahkan ingin melihat aku mati tanpa menggendong cucu? Jordan..."
"Tut... Tut... Tut..." Suara panggilan itu terputus. Namun pria tua itu tak tinggal diam. Ia memberikan foto gadis cantik, dengan gaun sabrina yang anggun, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aurora.
"Calon menantuku ini sangat cantik, tidak mungkin Jordan menolaknya." Ucap Tuan Will tersenyum menyeringai. Ia kemudian memberikan ponsel miliknya kepada asistennya.
"O iya, tolong beritahu Federic, kapan dan di mana pertemuan dua keluarga kita akan di mulai, saya sudah tidak sabar ingin mengenalkan Jordan kepada Aurora."
Asistennya mengangguk, ia dengan langsung menghubungi Tuan Federic. "Baik Tuan Will, saya akan segera menyampaikan pesan Anda padanya."
***
"Ting..."
Pesan muncul dari ponsel milik Jordan, pria membuka pesan ayahnya. Dan benar saja, pria itu mengirimkannya sebuah foto wanita.
"Apa lagi mau pria tua ini, sudah ku bilang aku ini sibuk." Itu ucapnya, sebelum akhirnya matanya membulat terkejut saat ia melihat bahwa yang ada di foto itu adalah wanita yang tengah ia cari.
"Dia..."
"Mengapa aku harus susah-susah mencarinya, karena dia akan datang dengan sendirinya."
Rumero yang sedari tadi hanya makan camilan, kini tampak kebingungan melihat Jordan.
"Hai, ada apa? Beritahu juga padaku!"
***
Di rumah kediaman Darren, seorang pelayan mengejar Aurora yang hendak pergi.
"Nona, Anda mau kemana? Anda baru saja siuman dari pingsan." Pelayan itu terus mengikutinya hingga keluar rumah.
Aurora kini berbalik badan, "Aku sedang banyak urusan, ada banyak hal yang harus aku urus. Tolong jangan ganggu aku! Aku mohon!" Mendengar itu, kini pelayan itupun berhenti.
Aurora kini masuk ke dalam mobil, membawa mobil itu pergi dari Kediaman Darren. Pak Tono kali ini benar-benar kecolongan.
"NONA, NONA AURORA, ANDA MAU KEMANA?" Teriak Pak Tono, dari pos satpam. Pria tua itu lari, mencoba mengejar Aurora, namun jelas itu percuma.
"Haduh, jika Tuan Federic tahu, saya pasti kena marah." Pak Tono terlihat panik kalang kabut.
Tak lama kemudian, pria itu menerima panggilan telepon, saat ia melihat nama kontak panggilan itu, sontak matanya langsung berbinar.
"Halo Nona, Nona tolong kembalilah... Saya mohon!" Rupanya panggilan itu berasal dari Aurora.
"Tenang saja pak, saya akan sembunyikan semua ini dari papa. Asal kau diam, maka kita aman. Tenang saja, aku sudah transfer uangnya, pergilah beli kopi atau makan. Jangan cemaskan aku, karena aku sangat handal menyetir mobil." Ucap Aurora, dan hal itu membuat Pak Tono langsung lega.
Panggilan itu akhirnya di tutup, namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran pria tua itu.
"Tunggu, bukannya Nona Aurora tidak pandai menyetir mobil, haduh, bisa mampus saya jika terjadi apa-apa dengannya." Tidak tahu saja pria itu, Aurora yang sekarang sudah bukan Aurora yang dulu lagi.
"Jadi seperti ini rasanya menaiki mobil ferrari. Sangat nyaman, bagaimana jika aku menambah kecepatan mobil, ini pasti akan sangat seru." Aurora menambah kecepatan mobil itu, gila, namun wanita itu benar-benar sangat terhibur.
***
Aurora kini telah sampai pada tujuannya, wanita itu kini turun dari mobil, menurunkan kacamata hitamnya.
"Akhirnya aku sampai juga, baiklah, coba lihat bagaimana keadaan dia sekarang" Ucapnya, sambil berjalan pergi meninggalkan mobilnya di area parkiran.
BERSAMBUNG