NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Hari Biasa

Felipa

Alarm berbunyi di samping kepalaku, menyeretku keluar dari tidur.

Kuulurkan tangan dan mematikannya sebelum sempat berbunyi untuk kedua kalinya.

Di sebelahku, Enzo menggerutu dan meringkuk makin dalam di balik selimut.

Aku tersenyum.

"Bangun, tukang tidur."

Kugelitik dia, menarik selimutnya pelan-pelan dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari.

Enzo membuka mata perlahan dan menatapku dengan wajah mengantuknya.

"Kak Fe lama banget semalam."

Senyumku memudar sedikit.

"Lama?"

Dia mengangguk, suaranya masih berat oleh kantuk.

"Ayah semalam marah banget."

Dadaku mengencang.

Kuusap wajahnya pelan, menyingkirkan sehelai rambut dari dahinya.

"Kakak tahu, sayang. Tapi hari ini kita nggak akan bertengkar, ya?"

Enzo mengamatiku beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

Kukecup keningnya dan bangkit.

"Ayo. Kita harus bangun, nanti terlambat."

Sementara Enzo mandi, aku menyiapkan tasnya. Kuperiksa buku-bukunya, kumasukkan kotak pensil, lalu bergegas ke dapur menyiapkan sarapan kami.

Kulirik jam.

Dilihat dari waktunya, Ayah pasti sudah berangkat kerja.

Mungkin lebih baik begitu.

Akhir-akhir ini hubungan kami makin memburuk setiap hari. Obrolan apa pun berubah jadi pertengkaran, komentar apa pun jadi alasan untuk bertengkar. Dan aku sudah tak tahu lagi bagaimana bicara dengannya tanpa merasa sedang berjalan di atas seutas tali tipis, menunggu saat semuanya runtuh lagi.

Aku tak boleh membiarkan ini memengaruhi Enzo.

Dia sudah merindukan Mama.

Dan dia sudah menangkap terlalu banyak hal untuk anak sekecil itu.

Aku kembali ke kamar.

Saat pintu kamar mandi terbuka, aku berbalik.

"Ayo, Enzo. Sudah hampir waktunya."

Dia muncul dengan rambut basah dan senyum mengantuk.

"Kak Fe?"

"Ya?"

"Hari ini Kakak yang antar aku?"

Aku tersenyum dan mengulurkan tangan.

"Iya. Tentu. Nanti Ayah yang jemput."

Enzo menggenggam tanganku.

Dan untuk beberapa detik, semuanya terasa sedikit lebih mudah.

Aku mandi kilat dan berpakaian secepat mungkin. Saat keluar kamar, Enzo sudah siap dan menungguku.

Kami ke dapur bersama.

Sarapan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam urusan sendiri. Setelah itu kuambil tasku dan tasnya, memeriksa sekali lagi tak ada yang tertinggal, lalu kami berangkat.

Kami berjalan tiga blok sampai ke sekolah Enzo.

Begitu tiba, aku berjongkok di depannya dan membetulkan tasnya di bahu.

"Jangan nakal, ya."

Dia memutar bola mata, seakan aku sudah mengucapkan pesan itu seratus kali.

"Iya, Kak Fe."

Aku tersenyum dan mengecup keningnya.

"Belajar yang rajin."

"Dadah, Kak Fe."

Aku berdiri diam melihatnya masuk lewat gerbang.

Sebelum hilang dari pandangan, Enzo menoleh dan melambai padaku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hatiku mencelos.

Dia selalu begitu.

Tiga lambaian.

Begitulah dulu dia berpamitan pada Mama.

Sesaat aku seakan melihat bocah lima tahun yang masih mencari ibunya lewat gerak-gerik kecil, bahkan setelah dua tahun berlalu.

Mama meninggal dua tahun lalu.

Dan meski waktu sudah lewat, beberapa kenangan masih sesakit hari pertama.

Kutelan ganjalan di tenggorokan dan melambai balik pada Enzo.

Baru setelah itu aku berbalik dan berjalan menuju halte bus.

Aku terlambat ke kampus.

Terlambat sekali.

Tapi aku tetap berangkat.

Aku tak boleh absen.

Sebentar lagi aku lulus, dan setelah bertahun-tahun membagi waktu antara kuliah, kerja, dan semua yang terjadi di rumah, aku tak akan menyerah sekarang.

Aku butuh ijazahku.

Aku butuh kesempatan ini.

Aku harus membangun hidup yang berbeda untukku dan Enzo.

Karena aku percaya, ketika akhirnya berhasil mengubah kenyataanku, yang kuubah bukan hanya hidupku.

Aku juga akan mengubah hidupnya.

Dan mungkin hanya itu yang membuatku bertahan saat semuanya terasa terlalu berat.

Begitu sampai di kampus, akhirnya aku bisa bernapas.

Kunaiki tangga hampir sambil berlari, mencengkeram tali tas di bahu sambil melewati koridor. Jantungku masih berpacu saat berhenti di depan pintu kelas. Aku menarik napas dalam sebelum masuk, dan begitu membuka pintu, sebisa mungkin tak menarik perhatian.

Untungnya, Bu Mia membelakangi kelas, sibuk menjelaskan materi di papan tulis. Sepertinya tak ada yang menyadari kedatanganku.

Kuembuskan napas yang tadi kutahan dan berjalan berjingkat ke bangkuku, berusaha agar sepatuku tak berisik.

Alice sudah duduk di tempat biasa. Begitu melihatku, dia menggeleng pelan, jelas menunjukkan bahwa dia sama sekali tak setuju dengan keterlambatanku.

Aku meringis jenaka sebelum duduk di sebelahnya.

Aku baru saja menaruh tas dan membuka buku catatan ketika dia mencondongkan badan ke arahku.

"Kamu mau kehilangan beasiswamu, Felipa?"

Aku membelalak dan menahan tawa.

"Selamat pagi juga, Tuan Putri."

Alice memutar bola mata, tapi sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

"Kamu sudah bukan mahasiswi kesayangan Bu Mia lagi. Dan masih berani datang telat begitu?"

Aku melirik sekilas ke arah dosen itu, seolah beliau mungkin mendengar obrolan kami, lalu kembali pada Alice.

"Aku akan lebih tertib."

"Semoga saja, soalnya kalau begini terus, sebentar lagi kamu diusir dari kelas."

Kuambil pena dan mulai menyalin tulisan di papan. Alice kembali menyimak pelajaran, tapi tak lama kemudian dia mendekat lagi.

"Terima tawaran Arthur, sobat."

Tanganku berhenti di atas buku.

Kuangkat mataku padanya.

"Kamu capek. Aku lihat itu tiap hari. Dengan uang yang mereka tawarkan, kamu bisa kurangi jam kerjamu, belajar lebih tenang, bahkan sewa apartemen yang lebih dekat kampus."

Aku tertawa pelan, meski tak ada yang lucu.

"Kamu ngomongnya seolah gampang."

"Buatku, gampang."

Keningku berkerut dan kuputar badanku sedikit ke arahnya.

"Kalau gitu kenapa kamu sendiri nggak ambil?"

Alice menatapku beberapa detik, seakan menimbang apakah dia benar-benar perlu menjelaskan.

"Karena aku punya hubungan dengan Arthur."

"Terus?"

Dia memiringkan kepala sedikit.

"Terus, tawaran ini harus untuk mahasiswi yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan keluarga Lombardi."

Alice menunjuk diam-diam ke arahku dengan penanya.

"Kamu sempurna untuk itu."

Kata-kata itu terus bergaung di kepalaku, lama setelah dia kembali menatap papan tulis.

Seharusnya aku lega. Bagaimanapun, kesempatan ini datang tepat ketika aku paling membutuhkannya. Hidupku terbagi antara kuliah, kerja, tagihan, dan tanggung jawab membantu di rumah. Ada hari-hari ketika aku pulang begitu lelah sampai harus mengumpulkan seluruh tenagaku hanya untuk membuka buku.

Tawaran Arthur bisa mengubah itu.

Mungkin aku bisa bekerja lebih sedikit. Mungkin aku punya lebih banyak waktu untuk belajar. Mungkin aku bisa mengumpulkan cukup uang untuk pindah dan menemukan tempat kecil yang jadi milikku sendiri, dekat kampus. Untuk pertama kalinya, membangun hidup yang selalu kuimpikan terasa tak sejauh itu.

Tapi lalu aku teringat siapa yang ada di balik kesempatan itu.

Keluarga Lombardi.

Kualihkan mataku ke Bu Mia, yang masih menulis di papan sambil menerangkan. Aku mencoba mengikuti, tapi perhatianku sudah tak di sana.

Damon Bradfort.

Mahkamah Agung.

Uang.

Enzo.

Rumah kami.

Kuliahku.

Semuanya bercampur di kepalaku, seperti setiap pikiran menarik pikiran lain.

Tawaran itu bukan sekadar pekerjaan. Ada sesuatu dalam cerita ini yang belum bisa sepenuhnya kupahami.

Arthur bilang aku tak perlu mengkhawatirkan keluarga Lombardi. Dia membicarakan mereka dengan nada wajar yang nyaris membuatku percaya bahwa semua cerita yang kudengar bertahun-tahun itu dilebih-lebihkan.

Tapi aku tumbuh dengan mendengar bahwa keluarga Lombardi itu berbahaya.

Dan sekarang mereka menawarkan uang pada mahasiswi seperti aku.

Kutopang dagu dengan tangan dan terus menatap papan tulis, meski sudah tak bisa menyerap sepatah kata pun dari penjelasan dosen.

Mungkin Alice benar.

Mungkin aku membiarkan rasa takut yang memutuskan untukku.

Atau mungkin rasa takut itu sedang mencoba memperingatkanku tentang sesuatu yang belum bisa kulihat.

Aku sadar, di hadapanku ada kesempatan yang bisa mengubah hidupku sepenuhnya, tapi aku tak bisa memutuskan apakah harus meraihnya atau lari darinya.

Dan mungkin justru itulah yang paling menakutkanku.

Perasaan bahwa, apa pun pilihanku, setelahnya tak ada yang akan sama seperti dulu.

Beberapa jam kemudian, aku turun dari bus dan kaget mendapati Ayah menungguku.

"Sudah malam, Felipa."

Aku mengangguk.

"Aku tahu, Yah."

Kami berjalan pelan menuju rumah. Beberapa menit tak ada yang bicara, sampai dia memecah keheningan.

"Nggak perlu begini, Nak. Ayah selalu bekerja supaya kalian tidak kekurangan apa pun."

Kupandang dia.

"Aku tahu, Yah."

Dia memotongku sebelum aku sempat melanjutkan.

"Henry itu pria pekerja keras, Felipa. Kamu seharusnya memberi dia kesempatan lagi. Menikah, membangun keluarga..."

Aku menggeleng.

"Nggak, Yah. Aku mau lebih."

Dia menatapku tak mengerti.

"Lebih?"

"Aku mau kuliah, bekerja, meraih hal-hal yang jadi milikku. Aku mau hidup yang aku miliki sendiri."

Aku menarik napas dalam sebelum menyelesaikan:

"Aku nggak mau hanya jadi ibu rumah tangga."

Ayah diam, dan kami terus berjalan berdampingan sampai rumah.

Keheningan Ayah menggema di antara kami. Seberapa pun seringnya kami bicara, dia tetap memandang hidup dengan cara yang sama. Pikirannya terlalu tertutup untuk memahami bahwa aku menginginkan sesuatu yang lain.

Dan mungkin, dia tak akan pernah paham.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!