NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Rendra

*Sial, Satria, masa harus Bianca, bangsat. Lo kehabisan orang buat bantuin gue di kerjaan sialan ini? Kirim gue sendirian aja, anjir.* Itu yang pengin kuteriakkan, tapi sayangnya tidak bisa. Bianca adik Satria dan aku harus menerima bantuannya. Lagi pula, aku tahu dia hanya mengirim kami berdua untuk kiriman ini karena kami satu-satunya orang yang benar-benar dia percaya.

Aku naik motor menjemput Bianca, dan begitu aku tiba matanya langsung tertuju padaku. Cewek ini bakal jadi kehancuranku, aku sadar sepenuhnya, tapi tak ada cara menghindar. Aku tak bisa bilang ke Satria bahwa aku tidak tahan berada di dekat iblis adiknya karena dia dosa yang menjelma manusia. Pengkhianatan dan kehancuranku, menatapku dari jarak dekat.

Dia memakai helm yang kuberikan dan naik ke boncengan. Kami tidak bertukar sepatah kata pun, bahkan tak saling menyapa, dan menurutku itu lebih baik. Aku melaju ke pelabuhan untuk mengecek bongkar muat kontainer kami. Kontainer itu akan diturunkan dari kapal dan ditimbun seharian, baru diangkut dini hari. Kami harus berjaga di dua kontainer itu dan memastikan tak ada yang mendekat. Kami sudah memastikan pemindai tidak menangkap hal aneh, hanya muatan karung kacang merah, tak ada yang lain yang akan mereka lihat. Mereka dibayar sangat mahal untuk pura-pura buta.

Sudah beberapa menit aku mengemudi ketika kurasakan lengan Bianca menyelusup ke balik bajuku, menyentuh kulitku yang panas dengan tangannya yang dingin. Dia meremas dan mencakar pelan-pelan.

Aku memejamkan mata sedetik, mencoba bernapas, tapi si iblis ini tak akan membiarkanku tenang, aku yakin itu. Begitu tahu dia yang akan menemaniku di misi ini, aku sudah tahu apa yang menungguku.

Tangannya turun, dan turun lagi, sampai menjangkau kontolku dari luar celana. Dia mengelus panjangnya yang sudah menegang gara-gara godaan perempuan terkutuk ini.

Aku menghentikan motor mendadak di depan bangunan terbengkalai.

"Kok berhenti?" tanyanya sambil menarik tangan dari tubuhku.

Aku mengatur napas pelan-pelan, baru kemudian bicara pada iblis di boncenganku.

"Turun."

"Apa?"

"Turun, Bianca." Suaraku kering, tanpa emosi.

Dengan enggan dia turun, sambil melepas helm dan meletakkannya di motor.

"Maksud lo apa? Mau ninggalin gue di sini? Kakak gue bakal seneng banget denger adiknya ditinggal sendirian di antah berantah." Dia terkekeh sinis, dan itu cuma menambah kesalku.

"Maksud gue apa? Maksud LO apa, Bianca? Dan tahu nggak, itu memang yang seharusnya gue lakuin, ninggalin lo sendirian di tempat ini, tapi sayangnya nggak bisa." Aku turun dari motor sambil menarik napas dalam. "Bianca, udah, berhenti. Gue minta lo berhenti, sialan."

"Sejak gue bilang gue jatuh cinta sama lo, lo ngejauhin gue kayak setan ngejauhin salib."

"Kenapa lo ngehindarin gue, Rendra? Kenapa lo nggak ngebiarin gue nyentuh lo?" Dia mendekat terlalu cepat, menyentuh dadaku, berdiri sangat, sangat dekat.

"Lo sadar nggak apa yang lo omongin? Lo sadar akibat dari yang lo lakuin? Bianca, sial." Aku berkata putus asa sambil menjauh darinya. "Gue nggak bakal nukar semua yang gue punya demi sebuah memek. Satria, orang tuanya, mereka keluarga gue, bangsat."

"Jadi itu gue buat lo, Rendra? Sebuah memek?" Aku tak menjawab, karena aku tahu bukan begitu, tapi aku tak akan mengakuinya padanya. Dia mendekat lagi. "Mungkin gue memang cuma memek, Rendra, tapi gue memek yang lo pengin banget."

Cepat sekali, tahu-tahu dia sudah menarik tengkukku dan menciumku. Sial, aku tidak boleh, tidak boleh. Hanya itu yang kucoba pegang, tapi ciuman sialan itu, tubuh itu menempel di tubuhku, aku menyerah. Tubuhku menyerah, dan aku membalas ciuman terkutuk itu, menarik dan memutarnya, menempelkannya ke dinding dalam ciuman putus asa. Itu lebih dari dua mulut yang beradu, itu membara, itu gila. Sampai dia menggigit bibir bawahku dan mengerang, dan suara itu membuat tubuhku bergetar dan menginginkan lebih, jauh lebih. Tapi fokusku, bahwa aku tidak boleh melakukan kebodohan ini, akhirnya bersuara lebih keras, dan aku melepasnya sambil mundur.

Aku berjalan pergi tanpa menoleh, naik ke motor dan memakai helm tanpa melihatnya sedikit pun.

*Sial, Rendra, lo nggak boleh, anjing. Kalau lo terus begini, lo nyerahin kepala lo di nampan perak ke sahabat lo, ke bapaknya, dan ke Dewan mafia terkutuk itu.*

Dia naik ke boncengan, tapi tak menyentuhku, tak bicara sepatah kata pun. Syukurlah dia membiarkanku tenang, setidaknya sampai kami tiba di tempat tujuan.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!