Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Calon Papa Mertua
Lusi dan Gio masih jalan - jalan di kota seoul, mereka juga ada foti menggunakan baju khas orang korea. Setelah itu jam makan siang Papinya mengajak Gio dan kekasihnya bertemu di kamar hotelnya untuk makan siang bersama.
"Sayang, aku takut."
"Papi ngak berani nakuti kamu di depan aku."
Kesan pertama bertemu dengan konglomerat Samuel Abraham pengusaha sukses nomor dua di Asia dan nomor satu di Indonesia ini, ternyata tidak menakutkan. Orangnya periang, meskipun ada tegas - tegasnya sedikit.
Namun ditengah pertemuan Gio dan Lusi bersama papinya Gio hadir seorang wanita muda, berdarah Tiongkok namun sangat fasih berbahasa Indonesia. Lalu Gio berbisik nanti aku jelaskan.
"Besok jam enam kita sudah terbang ke Jakarta ya. Nanti supir papi jemput kalian berdua, subuh jam lima subuh, bisa kan?"
"Iya om, bisa."
"Belanjaan kalian, biar disini saja. Nanti papi yang bawa ke pesawat."
"Oke pi. Siap."
Gio langsung mengandeng tangan kekasihnya dan mereka meninggalkan kamar hotel papi Samuel Abraham.
"Sayang itu siapa??"
"Itu Cicilia Tan. Dia itu sekretaris sekalian wanita simpanan papi."
"Maksudnya pelakor atau istri kedua."
"Mereka belum menikah, karena aku dan kakak ngak perna setuju."
"Orangtuamu sudah berpisah."
"Mereka tidak bercerai, papi ngak mau ceraikan mami, tetapi mereka tidak tinggal serumah. Papi memilih keluar dari rumah dan tinggal di apartemen. Terpaksa Kaka dan suaminya yang menemani mami. Sebenarnya kakak Rahel mau tinggal di rumah suaminya, namun kak Ronald yang tidak mau meninggalkan mami sendiri. Karena tahu aku kan sibuk dengan kerjaanku dan aku lebih memilih tinggal di asrama di kesatuanku atau di apartemenku sendiri."
Lusi terdiam, ternyata nasib keluarga Gio, sama dengan keluarganya. Bedanya strata ekonomi mereka.
"Sayang, hai kenapa melamun."
"Papaku juga sama seperti papamu, aku sendiri yang meminta mama pisah dari papa. Sampai sekarang aku benci perbuatan papaku juga pribadi papa."
"Kamu terluka sayang dengan masalah orangtuamu."
"Sangat, sampai sekarang aku belum memaafkan papaku."
Jam lima subuh, Lusi dan Gio sudah siap. Gio ke Korea tidak membawa barang yang banyak. Hanya baju ganti di tas ransel dan tas berisi data diri Gio Abraham. Namun pulang, Gio membeli satu koper karena dia membeli banyak barang buat kekasihnya.
"Sayang, pesawat jet pribadi."
"Iya. Ini yang papa beli. Semua aset ini atas nama perusahaan. Kak Rahel yang mengelolanya."
"Mari Lus, duduk yang nyaman kita akan berangkat."
"Terima kasih om."
Terlihat Cicilia Tan sekretaris papi Samuel Abraham tidak nyaman. Namun dia tidak bisa berbuat apa - apa, karena ada Gio didalam pesawat.
"Lia, kamu harus kenal ini dokter Lusia Irene spesialis onkologi pacaranya Gio."
"Hai, Lus nice to know you."
"Terima kasih mba Lia."
Lusi melihat bahwa Gio begitu cuek dengan Cecilia. seolah - olah hanya ada dia, Lusi dan papinya. Semua anak - anak papi Samuel tidak menyetujui kehadiran Lia ini dalam kehidupan rumah tangga orangtuanya. Perempuan yang Rahel tolong, karena kasihan dia mencari pekerjaan. Akhirnya Rahel memperkerjakannya, namun dia bermain gila bersama papinya. Sampai sekarang pun Rahel tidak perna akrab dengan Lia temannya itu.
Perjalanan lima jam pun berakhir mereka sudah mendarat di bandara Halim Perdanakusuma tempat parkir pesawat jet pribadi milik keluarga Abraham. Mobilnya Gio yang lain sudah ada di parkiran hanggar pesawat. Gio pamit kepada papinya, namun tidak pada Lia. Namun terlihat papi Samuel tidak marah.
"Papi kamu masih ke rumah?"
"Masih, dia kalau pulang perjalanan dinas akan membeli banyak ole - ole buat Kallen cucunya."
"Oooo iya anaknya kak Rahel. Nanti kamu pulang aku titip pesanan kak Rahel dan ole - ole buat Kellen."
"Oke."