Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Alya menatap Raka, mencoba mencerna kalimat yang baru saja terucap. "Besok pagi? Kenapa dimajuin?"
Raka menggeleng, masih menatap layar ponselnya seolah berharap pesan itu berubah jika ia menatapnya cukup lama. "Ayahku cuma bilang, ayah Sarah tiba-tiba mau selesaikan semuanya secepatnya. Katanya ada urusan bisnis lain yang butuh kepastian soal ini dulu sebelum mereka bisa lanjut ke kesepakatan investasi yang lebih besar."
"Jadi ini emang soal bisnis dari awal sampai akhir," kata Alya pahit, tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dalam suaranya. "Bukan soal kita sama sekali."
"Buat mereka, mungkin iya," jawab Raka, menatap Alya dengan sungguh-sungguh. "Tapi buat aku, ini soal kita. Dan aku nggak akan biarin mereka maksa aku ambil keputusan yang salah cuma karena tenggat waktu yang mereka buat sendiri."
Alya menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu kencang. "Jadi apa yang bakal kamu lakuin besok?"
"Aku bakal bilang persis apa yang aku bilang ke kamu barusan," jawab Raka mantap. "Bahwa aku nggak akan milih Sarah, bukan karena dia kurang, tapi karena hati aku udah lama milih orang lain. Dan aku nggak akan biarin siapa pun—termasuk ayahku sendiri—maksa aku buat pura-pura merasa sesuatu yang nggak aku rasain."
"Raka," kata Alya pelan, "kalau kamu bilang itu besok, orang tua kamu bisa marah besar. Bisnis kalian—"
"Aku tau risikonya," potong Raka, suaranya tegas namun tidak keras. "Tapi aku udah cukup lama korbanin kebahagiaan aku sendiri demi 'menyelamatkan' bisnis keluarga. Delapan tahun aku hidup dengan penyesalan karena ninggalin kamu buat alasan itu. Aku nggak mau nambah delapan tahun lagi penyesalan yang sama."
Alya menatap Raka lama, melihat keteguhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya di wajah lelaki itu—bukan lagi keteguhan yang dipaksakan demi menjaga citra profesional di kantor, tapi keteguhan yang lahir dari keputusan yang benar-benar ia yakini.
"Aku mau ikut," kata Alya tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri sama seperti mengejutkan Raka.
"Apa?"
"Besok pagi," lanjut Alya, "aku mau ikut ke pertemuan itu. Kalau ini soal aku juga—soal perjanjian yang menyangkut hidup aku—aku nggak mau cuma jadi topik pembicaraan yang diputuskan orang lain tanpa aku ada di ruangan."
Raka menatap Alya, campuran antara terkejut dan kagum jelas terlihat di matanya. "Kamu yakin?"
"Nggak sepenuhnya," jawab Alya jujur, senyum kecil yang getir muncul di wajahnya. "Tapi aku udah capek jadi orang yang cuma dengar cerita dari orang lain soal hidup aku sendiri. Kali ini aku mau ada di sana, dengar semuanya langsung, dan kalau perlu, ngomong sendiri apa yang aku mau."
Raka mengangguk, ada kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Oke. Besok pagi jam sembilan, di kantor ayahku. Aku jemput kamu jam delapan?"
"Jam delapan," Alya mengangguk.
Mereka berdua duduk sebentar lagi di taman itu, tidak banyak bicara, hanya menikmati keheningan yang untuk pertama kalinya tidak terasa canggung atau penuh beban—melainkan keheningan dua orang yang sama-sama siap menghadapi apa pun yang akan terjadi besok, bersama-sama.
---
Malam itu, Alya tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia mampir ke rumah orang tuanya, mendapati ayahnya masih terjaga di ruang kerja, membaca dokumen di bawah lampu meja yang temaram.
"Pa," panggil Alya, berdiri di ambang pintu.
Ayahnya mendongak, sedikit terkejut melihat putrinya datang tanpa pemberitahuan. "Alya? Ada apa, malam-malam gini?"
"Besok pagi ada pertemuan sama keluarga Pradana dan keluarga Sarah," kata Alya, melangkah masuk dan duduk di kursi seberang meja kerja ayahnya. "Aku mau ikut."
Ayahnya menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Alya dengan seksama. "Kamu udah putusin sesuatu?"
"Belum sepenuhnya," jawab Alya jujur. "Tapi aku tau satu hal, Pa. Aku nggak mau lagi jadi orang yang cuma nerima keputusan yang dibuat orang lain buat hidup aku. Delapan tahun lalu, aku kehilangan Raka tanpa pernah dikasih kesempatan buat ngomong, buat milih, buat ikut nentuin apa yang terjadi sama hubungan kami. Aku nggak mau itu kejadian lagi."
Ayahnya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, ada rasa bangga yang samar terlihat di matanya. "Papa dukung kamu, Alya. Apa pun keputusan yang kamu ambil besok."
"Makasih, Pa," kata Alya, tersenyum kecil. "Tapi ada satu hal lagi yang aku mau tanya."
"Apa?"
"Kalau besok aku bilang aku mau coba lagi sama Raka—bukan karena perjanjian, tapi karena aku emang masih sayang sama dia—Papa bakal keberatan?"
Ayahnya menghela napas panjang, matanya menerawang jauh seolah mengingat sesuatu dari masa lalu. "Papa cuma pengen kamu bahagia, Nak. Delapan tahun lalu, Papa mungkin salah karena nggak cerita semuanya ke kamu dari awal, biarin kamu mikir yang nggak-nggak soal kenapa Raka pergi. Tapi soal masa sekarang, kalau memang hati kamu masih di sana, Papa nggak akan halangin. Asal kamu yakin ini pilihan kamu sendiri, bukan karena dipaksa siapa pun—termasuk Papa."
Alya tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. "Makasih, Pa."
---
Keesokan paginya, tepat jam delapan, mobil Raka sudah menunggu di depan apartemen Alya. Ia turun untuk membukakan pintu, sesuatu yang selalu ia lakukan sejak dulu, kebiasaan kecil yang tidak pernah berubah meski delapan tahun berlalu.
"Siap?" tanya Raka begitu Alya duduk di kursi penumpang.
"Siap," jawab Alya, meski tangannya sedikit gemetar di pangkuannya.
Perjalanan menuju kantor keluarga Pradana terasa lebih singkat dari yang Alya harapkan, seolah waktu sengaja mempercepat langkahnya menuju momen yang akan menentukan arah hidup mereka berdua. Di sepanjang jalan, mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali Raka meraih tangan Alya yang gemetar di kursi tengah, menggenggamnya erat sebagai pengingat bahwa apa pun yang terjadi nanti, mereka akan menghadapinya bersama.
Ketika mereka tiba di ruang rapat besar di lantai atas gedung perusahaan Pradana, Alya bisa melihat kedua orang tua Raka sudah duduk di sana, bersama dengan seorang pria yang belum pernah ia temui sebelumnya—pasti ayah Sarah—dan di sampingnya, Sarah sendiri, duduk dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Semua mata di ruangan itu berpaling ke arah pintu ketika Alya dan Raka melangkah masuk bersama, tangan mereka masih saling menggenggam erat.
Pak Hendra mengangkat alis, terkejut melihat kehadiran Alya yang tidak diundang secara resmi ke pertemuan itu. "Alya? Kamu—"
"Saya ikut," kata Alya, suaranya lebih tegas dari yang ia kira bisa ia keluarkan. "Karena ini menyangkut hidup saya juga. Dan saya rasa, sudah waktunya saya ikut bicara langsung, bukan cuma jadi topik yang diputuskan orang lain."
Ruangan itu hening sejenak, sebelum akhirnya ayah Sarah—seorang pria berwibawa dengan rambut memutih di pelipisnya—tersenyum tipis dan menggeser kursinya, memberi ruang. "Silakan duduk," katanya. "Saya rasa memang sudah waktunya kita semua bicara jujur, tanpa terkecuali."