Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 10
"Kalai begitu aku pulang dulu ya, Cat. Pria itu, bagus juga untuk jadi suami mu."
Emi pergi dari rumah Cattleya sambil berlari kecil. Dia tahu kalau Cattleya pasti akan berteriak ke arahnya.
"Maafkan saya Tuan Cien, Emi memang gemar sekali bercanda," ucap Cattleya dengan kepala yang menunduk.
"Tidak masalah. Sekarang kamu bisa istirahat berarti," ucap Lucien.
"Oh nanti, Tuan Cien. Sekarang saya harus ke pasar lebih dulu untuk membeli bahan kue. Kalau kesiangan saya takut kesorean."
Mata Lucien membelalak. Ia pikir sekarang waktunya Cattleya untuk istirahat setelah bekutat seharian dengan pekerjaan. Tapi ternyata wanita itu harus pergi ke pasar. Dia tidak menyangka bahwa gadis bangsawan itu bisa bekerja sekeras ini.
Ada satu hal yang Lucien herankan, kenapa keluarga Cattleya tidak mencari anak perempuannya yang tak pulang. Biasanya yang namanya keluarga bangsawan tidak akan pernah membiarkan anak perempuannya kabur seperti ini. Terlebih mereka gemar menjadikan anak perempuan mereka sebagai alat politik.
"Begitu ya. Baiklah aku akan ikut dengan mu," ucap Lucien. Dia langsung berdiri dari duduknya.
"Eh tapi kan Anda sedang terluka. Lihatlah pakaian Anda juga terkena darah yang ... banyak."
Cattelya mengusap wajahnya. Dia seharusnya memberi pria ini pakaian ganti. Entahlah, ada rasa peduli yang cukup besar dalam hati Cattleya, padahal pria ini adalah pria asing yang baru ditemuinya.
"Sebentar, tunggu di sini Tuan Cien," ucap Cattleya lagi sambil berlari keluar rumah.
Lucien mengerutkan alisnya, dia lalu memandang ke arah Leoric.
"Apa Ibu mu selalu sibuk seperti itu? Lalu kapan dia istirahatnya?"
"Ya Ibu cibuk. Ibu tidul talau malam."
Lucien menghela nafasnya panjang, baru sebentar melihat kehidupan Cattleya, dia merasa sudah merasa begitu melelahkan.
Bagi seorang kaisar, tentu hal itu tidak lah berarti. Kesibukan dirinya luar biasa. Tapi seorang wanita bangsawan, tentu harusnya hidup dengan nyaman.
Pikiran Lucien sungguh bekecamuk tidak karuan. Sebenarnya siapa wanita ini? ucapnya dalam hati.
" Tuan, gantilah pakaianmu dengan ini. Yah tidak terlalu bagus, tapi setidaknya cukup untuk mengganti baju yang berlumuran darah itu."
Cattleya mengulurkan lipatan pakaian yang dibawanya entah dari mana. Lucien tanpa ragu mengambilnya.
"Aku akan memakainya, terimakasih."
Lucien menanyakan kamar mandi, dia mengganti pakaian itu di sana. Meski memang kainnya terasa kasar, tapi ukurannya pas.
Ketika Lucien keluar dari kamar mandi, mata Cattleya terbuka dengan begitu lebarnya.
"Pria tampan tetaplah tampan meski menggunakan pakaian yang buruk sekalipun,"ucapnya lirih.
Meski perkataan Cattleya begitu lirih, tapi pendengaran Lucien yang sangat tajam, bisa mendengarkan apa yang Cattleya ucapkan itu.
"Setidaknya dia terlihat menyukai wajahku," ucap Lucien dalam hati.
"Jadi apa aku boleh ikut perg?" ucapnya.
"Apa Anda sudah baik-baik saja? Maksud saya luka Anda sangat parah, jadi~"
"Aku sudah tidak apa-apa. Entahlah tiba-tiba rasa sakitnya hilang begitu saja," ucap Lucien asal.
Cattleya menatap dengan tatapan aneh. Dan dia tak ada alasan lagi untuk melarang Lucien ikut karena wajah pria itu menunjukkan keinginannya untuk ikut.
"Baiklah kalau begitu," ucap Cattleya pada akhirnya. Ia yang hendak menggendong Leoric, dihalang oleh Lucien dan pria itu berkata akan menggendong Leoric agar lebih cepat ke pasarnya.
Keduanya berjalan beriringan dengan Leoric yang ada di gendongan Lucien. Beberapa orang melihat mereka. Terlebih yang akrab dengan Cattleya. Semuanya sepakat berkata bahwa itu suami Cattleya.
Cattleya dengan tegas berkata tidak, dia sungguh sibuk menjelakan tentang siapa Lucien. Tapi berbeda dengan Lucien, dia hanya diam dan bahkan tersenyum tipis. Lucien seolah menyetujui anggapan dari orang-orang.
"Haaah, kenapa Anda diam saja?"
Ketika perjalanan pulang, Cattleya protes terhadap sikap Lucien.
"Aku harus apa? Lagi pula itu kan cuma bercandanya mereka. Jangan dipikirkan," balas Lucien.
Cattleya menghela nafasnya. Memang benar itu hanya candaan, akan tetapi seharusnya Lucien tidak senang dengan hal itu. Bagaimanapun mereka hanyalah orang asing. Cattelya takut jika keluarga Lucien yang sebenarnya muncul. Sungguh ia tak ingin ada skandal. Cattleya hanya ingin hidup tenang seperti ini.
Drap!
Cattleya langsung menghentikan langkahnya saat ada satu orang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Seorang pria dengan pakaian serba hitam. Namun pada ikat kepala yang dikenakan terdapat sebuah lambang mawar merah dengan duri hitam.
Tanpa dijelaskan Cattleya sudah tahu atas suruhan siapa orang itu datang.
"Mau apa kamu," ucap Cattelya sambil menyilangkan tangannya di depan tubuh Lucien. Dia juga mendorong sedikit tubuh Lucien ke belakang.
"Tolong gendong Leoric," ucap Cattleya lagi.
Dia menyerahkan Leoric kepada Lucien. Lucien pun memeluk Leoric dengan erat. Lucien juga mengamati pria yang ada di depan mereka. Simb mawar merah berduri itu tampak tidak asing. Namun Lucien sedikit lupa, milik keluarga bangsawan mana.
"Saya hanya diminta untuk membawa Nona pulang."
"Aku bukan lagi nona mu. Jadi enyah dari sini!"
Cattelya waspada, dia juga segera mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik roknya.
Mata Lucien membulat sempurna. "Apa yang akan dilakukan wanita ini," tanyanya dalam hati. Lucien seolah selalu mendapat kejutan dari wanita yang ada di depannya. Kuda-kuda yang dilakukan oleh Cattelya, menunjukkan bahwa ia bisa bertarung.
"Apa ada putri bangsawan yang bisa bela diri?"
Sungguh sibuk sekali isi kepala Lucien. Untuk mengetahui hal itu, Lucien hanya tinggal melihat saja. Akan tetapi tangannya sangat gatal jika demikian. Namun kalau dia turun tangan sekarang, maka penyamarannya akan terbuka.
"A-apa semua akan baik-baik saja?" tanya Lucien dengan nada takut. Aaah sangat sempurna sekali aktingnya.
"Anda tenang saja Tuan Cien. Jika hanya seperti ini, bukan sesuatu yang besar," jawab Cattleya sambil melihat ke arah Lucien namun posisi kuda-kudanya tetap kokoh.
Sebuah penilaian kembali muncul dari kepala Lucien tentang wanita ini.
"Kalau Anda menolak, maka saya harus memaksa Nona."
"Terserah, lakukan saja sebisamu."
Sreeet
Bugh
Pertarungan antara Cattleya dan pria berpakaian hitam itu berlangsung. Lucien memundurkan kakinya beberapa langkah. Dia mengamati gerak Cattleya, semuanya tampak sesuai. Seolah memang Cattleya adalah seorang yang tak hanya sekedar bisa ilmu bela diri. Tapi dia juga paham. Meski gerakan yang dilakukan sedikit berberda dari ilmu bela diri kekaisaran.
Bugh!
Bruk!
Sebuah tendangan akhir tepat mengenai dada pria itu. Darah dimuntahkan dari mulutnya.
"Bilang sama mereka, bahwa aku tak akan pulang! Anggap aku sudah mati seperti yang sudah meraka lakukan selama ini."
Uhuk uhuk
Pria itu terus saja terbatuk. Darah yang keluar juga luamayan banyak.
"Ayo kita pulang, Tuan Cien. Ah ya, apa Leo tidak bangun?"
Lucien menggelengkan kepalanya cepat lalu tersenyum. Sebenarnya Leoric tadi terbangun sejenak. Tapi dengan kekuatan sihir Lucien, anak itu kembali tertidur sehingga tidak mengetahui apa yang tengah terjadi.
"Maaf, Catty. Apa hal seperti ini sering datang ke kamu? Ah maaf, aku tak berniat ikut campur."
"Ehm tidak. Sudah setengah tahun ini mereka tidak muncul. Entahlah tiba-tiba. Mungkin mereka membutuhkan saya hahaha. Sudahlah Tuan Cien, Anda tak perlu memusingkan hal itu."
Lucien hanya mengangguk, tapi jelas rasa penasarannya sangat besar sekarang ini terhadap kehidupan Cattleya.
TBC