NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 09

Hari classmeeting tiba dengan suasana sekoalh yang jauh lebih riuh dari hari hari biasanya.

Lapangan utama dipenuhi spanduk kecil buatan tiap kelas, musik dipuar dari pengeras suara dekat panggung, dan hampir semua murid mengenakan kaos kembaran kelas masing masing, kecuali beberapa anak yang lupa membelinya, termasuk Bram.

"Lo nggak beli kaos kelas?" Tanya Tika, melihat Bram masih mengenakan seragam biasa ditengah lautan kaos oranye kelas XI IPA 2.

"Nggak sempet." Jawab Bram singkat, meski sebenarnya alasan aslinya lebih karna ia tidak yakin akan benar benar dilibatkan dalam kegiatan kelas seperti ini.

"Nih pake punya gue aja." Kata Fajar tiba tiba melempar kaos cadangan dari tasnya. "Kebetulan gue beli dua, ukurannya kegedean buat gue."

Bram menatap kaos itu dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara terkejut dan tidak yakin harus bereaksi bagaimana.

Beberapa bulan lalu tidak ada satupun anak dikelas ini yang akan repot repot menawarkan sesuatu kepadanya tanpa alasan tersembunyi.

"Thanks." Ucapnya menerima kaos itu.

Karina yang mengamati dari kejauhan sambil merapikan atribut lomba cerdas cermat kelas tersenyum kecil melihat interaksi itu.

Perubahan kecil seperti ini yang mungkin tidak terlihat besar bagi orang lain, tapi terasa begitu berarti baginya, seperti melihat benih yang mulai tumbuh setelah disiram dengan sabar selama berminggu minggu.

...----------------...

Lomba pertama yang diikuti kelas XI IPA 2 adalah basket antarkelas dan diluar dugaan semua orang, Naura mengusulkan agar Bram ikut bermain menggantikan salah satu pemain yang mendadak sakit.

"Bram, kamu bisa main basket kan?" Tanya Naura penuh harapan.

"Udah lama nggk main." Jawabnya ragu.

"Nggak papa, kita butuh orang buat lengkapin tim." Sela Refan sambil menepuk pundak Bram dengan santai, gestur yang terasa asing bagi Bram, mengingat hubungan mereka yang sempat penuh ketegangan beberapa minggu sebelumnya. "Lagian dulu pas smp katanya lo jago basket kan?"

Bram menatap Refan dengan sedikit terkejut. "Darimana lo tau itu?"

"Denger dari anak anak." Jawab Refan sambil menyengir. "Ayolah, kita butuh lo nih."

Dengan ragu Bram akhirnya mengangguk, mengenakan kaos milik Fajar dan bergabung dengan tim basket kelasnya untuk pertandingan pertama melawaan kelas XI IPS 1.

Pertandingan itu berjalan sangit dan meski awalnya kaku, Bram perlahan menemikan kembali ritme permainannya.

Setiap tembakan yang masuk disambut sorakan riuh dari teman sekelasnya, hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang hidup sekolahnya.

Di detik detik terakhir pertandingan dengan skor seimbang, Bram berhasil mencetak tembakan tiga angka yang menentukan kemenangan kelas mereka.

Sorak sorai meledak dilapangan dan untuk pertama kalinya, Karina melihat teman teman sekelas berlarian mendekati Bram, menepuk punggungnya, mengangkat tangannya tinggi tinggi merayakan kemenangan bersama.

"Gila, Bram keren banget!!" Seru Fajar sambil merangkul pundaknya.

"Ternyata beneran jago." Tambah Tika sambil tersenyum lebar.

Bram berdiri ditengah kerumunan dengan ekspresi campur aduk, antara kaget, canggung, tapi jiga ada senyum tipis yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Ia melirik kearah Karina yang berdiri dipinggir lapangan, tersenyum bangga kearahnya dan untuk sesaat dunia disekitarnya terasa jauh lebih ringan dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

...----------------...

Lomba kedua yaitu cerdas cermat berjalan tidak kalah seru meski dengan suasana yang berbeda.

Karina, Naura dan seorang siswa bernama Andre mewakili kelas mereka, sementara Bram memilih duduk dibarisan penonton bersama Refan dan yang lainnya, memberikan dukungan dari kejauhan.

"Ayo Alya semangat!!" Teriak Bram spontan saat gilirannya menjawab pertanyaan sejarah, membuat beberapa anak menoleh terkejut mendengar teriakan seperti itu.

Karina yang mendengar suara itu ditengah ketegangan lomba, tanpa sadar tersenyum senelum menjawab pertanyaan dengan yakin, jawaban yang untungnya benar dan menambah poin bagi kelas mereka.

Kelas XI IPA 2 akhirnya berhasil meraih juara dua dalam cerdas cermat, disusul dengan keberhasilan tim vokal grup yang meski tidak menang, tetap mendapat sambutan meriah karna penampilan mereka yang penuh semangat, termasuk momen lucu ketika Fajar lupa lirik ditengah lagu dab harus diselamatkan oleh tika yang reflek menyanyikan bagian itu sendirian.

...----------------...

Menjelang sore saat acara classmeet hampir berakhir, seluruh siswa berkumpul dilapangan untuk sesi foto bersama.

Karina berdiri diantara teman teman sekelasnya dan tanpa disangka Bram berdiri tepat disampingnya, sedikit canggung tapi tidak lagi menjaga jarak seperti dulu.

"Hari ini seru banget." Ucap Karina tersenyum kearahnya sambil menunggu fotografer bersiap.

"Iya." Jawab Bram sambil mengangguk pelan. "Gue nggak nyangka bisa ngerasa seneng kayak gini disekolah."

"Kamu pantes dapetin ini semua, dari dulu." Kata Karina dengan tulus.

Bram menatapnya sesaat dengan ekspresinya yang melembut. "Thanks udah bikin gue percaya itu."

Fotografer memberikan aba aba dan seluruh kelas serentak berpose, tersenyum lebar kearah kamera.

Ditengah keramaian itu, Bram tersenyum lebar juga, senyum yang jujur tanpa beban, tanpa perlu menyembunyikan apapun dari orang orang disekitarnya.

...----------------...

Sepulang acara, saat Karina dan Bram berjalan pulang bersama seperti biasa, suasana di antara mereka terasa lebih ringan dari hari-hari sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menggantung sejak percakapan emosional mereka minggu lalu perlahan mencair.

"Bram." Karina memulai. "Aku seneng lihat kamu hari ini. Beneran."

"Gue juga" Jawab Bram sambil tersenyum kecil. "Udah lama gue enggak ngerasa jadi bagian dari sesuatu kayak gini. Selama ini gue selalu mikir gue cuma orang luar yang numpang lewat di kelas itu."

"Sekarang kamu bagian dari mereka." Ucap Karina. "Dan itu bukan karena kamu berubah jadi orang lain Bram. Tapi karna mereka akhirnya mau lihat kamu apa adanya."

Bram terdiam sejenak menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. "Gue masih mikirin soal kita Al." Katanya pelan, mengalihkan topik dengan hati hati. "Soal yang lo bilang waktu itu, kalo lo suatu saat harus pergi."

Karina merasa dadanya sedikit tegang mendengar topik itu kembali diangkat, tapi ia memilih untuk tetap jujur. "Aku belum bisa jelasin detailnya Bram. Tapi aku janji, aku bakal ada buat kamu selama aku masih di sini. Dan kalau saatnya beneran tiba, aku enggak akan ninggalin kamuu tanpa penjelasan."

"Gue percaya." Jawab Bram meski ada nada berat yang tersembunyi di baliknya. "Tapi kadang gue takut Al. Takut kalo semua ini cuma sementara, trus gue bakal balik jadi kayak dulu lagi, nggak punya siapa siapa."

Karina berhenti melangkah dan menatap Bram lekat lekat. “Nggak akan Bram. Nggak peduli apa pun yang terjadi nanti, kamu udah berubah.”

“Kamu udah nunjukin ke semua orang dan yang lebih penting, ke diri kamu sendiri kalo kamu bukan orang yang selama ini mereka pikirin. Itu enggak akan hilang, apa pun yang terjadi sama aku."

Bram menatapnya lama, lalu mengangguk pelan meski masih ada kekhawatiran samar yang tersimpan di matanya. Kekhawatiran yang entah kenapa terasa seperti firasat akan sesuatu yang lebih besar yang menanti di depan.

...----------------...

Malam harinya tiba tiba layar tembus pandang muncul lagi di kamar kos Karina.

[Pembaruan status.]

[Poin Kehidupan: 2.850 / 100.000.]

[Poin diberikan atas keberhasilan mengintegrasikan subjek kembali ke dalam lingkungan sosialnya secara alami dan diterima sepenuhnya oleh sesama.]

[Catatan: tingkat kebahagiaan subjek mencapai puncak tertinggi sejak pemantauan dimulai.]

[Peringatan: momen kebahagiaan puncak sering kali diikuti oleh guncangan besar dalam narasi dunia semacam ini. Disarankan tetap waspada.]

Karina membaca peringatan terakhir itu dengan alis berkerut, perasaan tidak enak mulai menjalar di dadanya. Sistem jarang sekali memberikan peringatan sejelas itu tanpa alasan yang jelas.

"Guncangan besar apa lagi yang bakal dateng?” Pikirnya sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya yang sempit.

Ia tidak tahu bahwa jawaban dari pertanyaan itu akan datang lebih cepat dari yang ia bayangkan, dalam bentuk yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!