Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Pulang ke Sarang Serigala
Milan, masa kini.
Yao Conti — atau lebih tepatnya, Yao Lindqvist, nama yang ia pakai selama tujuh belas tahun terakhir untuk mengubur identitas aslinya — turun dari taksi di depan sebuah klub malam bernama Ombra, tempat yang menurut informannya adalah wilayah kekuasaan keluarga Moretti di Milan.
Ia mengenakan gaun hitam yang dipilih bukan untuk terlihat cantik, melainkan untuk terlihat tidak berbahaya. Dunia mafia mengajarkan satu hal padanya sejak dini: yang paling mematikan selalu terlihat paling lembut.
Rambut hitamnya digulung rapi, matanya — perpaduan sipit ibunya dan hijau tajam ayahnya — dipoles dengan eyeliner yang membuatnya terlihat seperti kucing liar yang sedang berpura-pura jinak. Di dalam tas tangannya yang berkilau, tersembunyi pisau lipat yang sudah menemaninya sejak usia lima belas tahun, ketika Sofia — satu-satunya keluarga yang tersisa — mengajarinya cara bertahan hidup di jalanan Jenewa yang asing.
Selama tujuh belas tahun, Yao dan Sofia hidup berpindah-pindah, menyamar sebagai pengungsi, sebagai au pair, sebagai apa pun yang diperlukan untuk tetap tidak terlihat. Sofia yang membesarkannya dengan satu tujuan tunggal: kembali ke Italia, mencari tahu siapa yang benar-benar mendalangi pembantaian keluarga Conti, dan membalaskan dendam Ferdinand.
Malam ini, penyelidikan panjang mereka akhirnya membawanya ke sini — ke jantung kekuasaan keluarga Moretti, keluarga yang selama ini disalahkan atas kematian ayahnya.
Ia berhenti sejenak di depan pintu masuk klub, menatap pantulan dirinya di kaca gelap jendela — seorang wanita asing yang telah ia ciptakan selama bertahun-tahun latihan di depan cermin, seseorang yang tidak menyisakan jejak Yao Conti yang ketakutan tujuh belas tahun lalu. Di dalam saku tersembunyi gaunnya, jarinya menyentuh sepotong kain kecil yang sudah lusuh — sobekan dari boneka yang ia dekap malam pembantaian itu, satu-satunya benda fisik yang tersisa dari masa kecilnya, yang selalu ia bawa ke setiap misi seperti jimat sekaligus pengingat. Untukmu, Ayah, pikirnya, mengulang sumpah yang telah ia ucapkan ribuan kali dalam ribuan malam yang sunyi. Aku tidak akan berhenti sampai nama Conti dibersihkan dan darahmu dibalas.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali kata-kata Sofia yang selalu ia ulang setiap kali keraguan mulai menggerogotinya: Kamu bukan gadis kecil yang bersembunyi di balik tirai lagi, Yao. Kamu adalah badai yang mereka tidak akan pernah lihat datang. Tapi malam ini, entah kenapa, kata-kata itu terasa lebih seperti mantra yang ia paksakan pada diri sendiri daripada keyakinan yang benar-benar ia rasakan. Tujuh belas tahun adalah waktu yang panjang untuk membenci sesuatu tanpa pernah melihat wajahnya secara langsung — dan sebentar lagi, wajah itu akan punya nama, punya suara, punya sesuatu yang jauh lebih nyata daripada bayangan yang selama ini memenuhi mimpi buruknya.
Jalanan Milan malam itu dipenuhi lampu-lampu kota yang berkerlip di genangan air hujan yang baru saja reda, memantulkan warna-warna neon dari papan nama klub-klub malam yang berderet di sepanjang jalan. Ombra berdiri paling megah di antara semuanya, fasadnya yang minimalis namun elegan menyembunyikan kemewahan berlebihan di baliknya — sebuah metafora yang tidak luput dari perhatian Yao tentang seluruh dunia mafia yang akan segera ia masuki kembali.
"Target Anda ada di lantai atas, ruang VIP," bisik suara di earpiece tersembunyinya. Itu suara Marco, satu-satunya kontak yang tersisa dari jaringan lama ayahnya, seorang mantan tentara bayaran yang kini bekerja sebagai informan bayaran. "Gerald Moretti. Don muda. Hati-hati, Yao — orang-orang bilang dia lebih berbahaya dari ayahnya."
Yao melangkah melewati bouncer yang memandanginya dengan tatapan menilai, lalu naik tangga spiral menuju lantai VIP. Musik jazz yang melankolis mengalun pelan, berpadu dengan denting gelas kristal dan tawa rendah para tamu berjas mahal.
Dan di sanalah ia melihatnya untuk pertama kali.
Gerald Moretti duduk di sofa kulit hitam, satu lengan terentang di sandaran, dasi yang sedikit longgar, seolah dunia ini terlalu membosankan untuk ia perhatikan sepenuhnya. Wajahnya adalah kombinasi kekejaman dan keindahan yang tidak adil — rahang tegas, mata kelabu yang dingin seperti baja musim dingin, dan bekas luka tipis di atas alis kanan yang entah bagaimana membuatnya terlihat lebih berbahaya, bukan lebih buruk.
Ruangan VIP itu sendiri terasa seperti dunia yang terpisah dari kebisingan lantai dansa di bawahnya — pencahayaan temaram berwarna keemasan, sofa-sofa kulit yang mengelilingi meja-meja rendah dari kayu hitam mengkilap, dan aroma cerutu Kuba yang bercampur dengan parfum mahal para tamu yang berbisik-bisik dalam bahasa Italia, Prancis, dan Rusia. Setiap wajah di ruangan itu tampak familiar dengan kekuasaan, terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan hanya dengan mengangkat jari.
Ia sedang berbicara dengan salah satu anak buahnya, suaranya rendah dan terkendali, aksennya terdidik namun dingin, tanpa emosi berlebihan — nada seorang pria yang tidak pernah perlu meninggikan suara untuk didengar. Di depannya, di atas meja kayu hitam, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah jam tangan emas yang jelas bukan miliknya.
"Aku tidak peduli berapa pun yang ditawarkan orang-orang Rusia itu," katanya, tanpa menoleh dari gelasnya. "Wilayah kita tidak dijual. Sampaikan penolakan itu satu kali saja. Jika mereka menawar lagi setelah itu, mereka akan mengerti sendiri kenapa tidak ada yang berani mempermainkan keluarga Moretti dua kali."
Anak buahnya mengangguk, tapi tidak segera pergi. "Bagaimana dengan Ferraro, Signore? Dia masih menunggu jawaban soal utangnya."
Sesuatu berubah di wajah Gerald — bukan kemarahan, sesuatu yang jauh lebih dingin dari itu. "Ferraro punya waktu sampai akhir bulan," katanya, mendorong amplop dan jam tangan itu sedikit ke arah anak buahnya tanpa benar-benar melihatnya. "Kembalikan jam ini padanya. Katakan itu pengingat bahwa aku masih ingat siapa yang mengambilnya dari ayahnya sendiri sebagai jaminan utang judi bertahun-tahun lalu — dan bahwa aku tahu persis di mana anak-anaknya bersekolah sekarang." Ia mengangkat gelasnya, meneguknya sekali, nadanya tidak berubah sedikit pun, seolah baru saja membicarakan cuaca. "Aku tidak perlu mengancam orang dua kali, Matteo. Kau tahu itu."
Anak buahnya mengangguk gugup dan mundur, wajahnya sedikit pucat. Gerald mengangkat gelas whiskey-nya, dan saat itulah matanya bertemu dengan mata Yao dari seberang ruangan.
Sesuatu terjadi — sesuatu yang Yao tidak bisa jelaskan bahkan pada dirinya sendiri. Bukan cinta pada pandangan pertama, karena Yao tidak percaya pada omong kosong semacam itu. Tapi semacam pengenalan primitif, seolah tubuhnya tahu sesuatu yang otaknya belum mengerti: pria ini berbahaya, dan pria ini akan mengubah segalanya.
Gerald bangkit dari sofanya, berjalan menghampirinya dengan langkah yang santai tapi penuh perhitungan, seperti predator yang tidak perlu terburu-buru karena mangsanya sudah terpojok tanpa disadari.
"Aku tidak mengenalmu," katanya, berhenti tepat di hadapan Yao, cukup dekat untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari yang ia inginkan. Matanya menyapu wajah Yao sekali, cepat, seperti seseorang yang terbiasa menilai nilai sesuatu hanya dengan sekali lihat. "Dan aku mengenal semua orang yang diizinkan masuk ke ruangan ini."
"Mungkin saya bukan orang yang butuh izin," jawab Yao dalam bahasa Italia yang fasih, mencoba menyembunyikan aksen yang sudah bercampur dari bertahun-tahun hidup nomaden.
Gerald tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia memiringkan kepala sedikit, seolah baru saja menemukan sesuatu yang lebih menarik dari seluruh isi ruangan itu. "Berani," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Yao. "Aku suka keberanian. Tapi orang-orang berani yang datang ke klubku biasanya punya alasan untuk berani. Apa alasanmu?"
Yao balas tersenyum, senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun di depan cermin — senyum yang menyembunyikan pisau di baliknya. "Mungkin saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di sarang serigala yang paling ditakuti di Milan."
Gerald tidak menjawab segera. Ia hanya menatapnya lebih lama dari yang sopan, membiarkan keheningan itu sendiri menjadi pertanyaan. Akhirnya ia berkata, pelan, "Dan sekarang kau sudah berdiri di dalamnya."
"Saya belum memutuskan apakah saya harus takut," jawabnya, "atau justru serigalanya yang harus takut."
Untuk pertama kalinya malam itu, tawa Gerald terdengar tulus — pendek, rendah, tapi nyata. Ia tidak langsung menjawab; ia mengulurkan tangannya ke arah sofa kosong di sampingnya, sebuah gestur yang lebih banyak bicara daripada kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan.
Mereka duduk berdampingan di sofa kulit hitam yang empuk, dan seorang pelayan segera muncul membawakan sebotol champagne tanpa diminta — tanda jelas bahwa duduk di samping Gerald Moretti berarti mendapatkan perlakuan yang berbeda dari siapa pun di ruangan itu.
Gerald menuangkan champagne ke dua gelas dengan gerakan yang anggun namun santai, tidak terburu-buru, seolah waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. "Katakan satu hal yang benar tentang dirimu," katanya akhirnya. "Hanya satu. Aku akan tahu jika kau berbohong."
Yao merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, menyadari bahwa permainan yang baru saja dimulai ini jauh lebih berbahaya dari yang ia perkirakan. "Saya benci hujan," katanya akhirnya, memilih kebenaran kecil yang tidak akan membahayakan penyamarannya. "Meski saya tumbuh di tempat yang selalu hujan."
Gerald menatapnya lama, seolah mencoba membaca lebih dalam dari kalimat sederhana itu, jarinya mengetuk pelan pinggiran gelasnya. "Menarik," katanya pelan, tidak menjelaskan lebih jauh, membiarkan Yao sendiri yang menebak apa maksudnya — sebuah kebiasaan kecil yang, Yao akan segera pelajari, adalah caranya membuat orang lain merasa telanjang tanpa harus mengatakan apa pun secara langsung.
Yao tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sambil menyesap champagne-nya, menyadari bahwa pria di hadapannya jauh lebih tajam dari yang ia duga — sebuah kenyataan yang seharusnya membuatnya waspada, tapi justru membuat darahnya berdesir dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Mereka mengikuti langkah menuju sofa VIP, tidak menyadari bahwa di ujung ruangan, seorang pria tua berjas kelabu — pria dengan bekas luka melintang di rahangnya — mengamati mereka berdua dengan mata yang menyipit tajam.
Enzo Bastiani, penasihat tepercaya keluarga Moretti selama tujuh belas tahun terakhir, meneguk wine-nya perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasakan sesuatu yang mirip ketakutan.
Ia telah menghabiskan tujuh belas tahun membangun kehidupan barunya di atas fondasi kebohongan yang ia yakini telah terkubur sempurna bersama jasad-jasad yang tidak pernah ditemukan. Melihat wajah itu — wajah yang begitu familiar meski ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya kebetulan — membuat sesuatu yang dingin merayap di sepanjang tulang punggungnya, sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan sejak malam ia menarik pelatuk di ruang kerja Ferdinand Conti.
Gadis itu memiliki mata Ferdinand Conti.