NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Baru

Edris langsung memberikan tatapan tajamnya pada Esmera ketika gadis itu mengancam akan bunuh diri jika dirinya dibawa ke istana.

Mendengar kalimat itu rasanya ingin sekali dia membungkam mulut gadis itu karena telah berani melontarkan ancaman padanya, namun Edris menahannya.

Untuk beberapa saat, suasana di dalam kereta berubah menjadi sangat tegang.

Esmera yang masih berada di samping Edris dapat merasakan tatapan pria itu begitu menusuk. Tidak ada sedikit pun kelembutan di sana. Tatapan Edris seolah memperingatkannya agar tidak mengucapkan ancaman serupa untuk kedua kalinya.

Namun Esmera tetap berusaha mempertahankan wajah kerasnya."Aku serius," ucapnya lagi, meskipun suaranya kini terdengar lebih pelan."Aku benar-benar akan melakukannya jika Anda memaksaku kembali ke istana."

Rahang Edris mengeras. Tiba-tiba pria itu menoleh ke arah depan kereta.

"BERHENTI!"

Suara Edris yang menggelegar membuat Esmera sontak terdiam. Bahkan para ksatria yang mendengar teriakan Raja Edris ikut menegang. Karena sangat jarang mereka melihat rajanya hilang kendali.

Kusir di luar segera menarik tali kekang. Kereta yang semula melaju menuju istana pun perlahan berhenti.

"Putar balik."

Esmera mengerutkan kening.

"M-menuju ke mana, Yang Mulia?" tanya kusir dari luar, dia agak gugup.

"Kastil Stone."

Mata Esmera langsung membesar.

Kastil Stone.

Dia mengenal tempat itu.

Kastil itu kan, kastil pribadi milik Edris? Tempat yang dilarang dikunjungi oleh orang lain. Kenapa dia membawaku ke sana?

Esmera menelan ludah.

Meskipun bukan istana, Kastil Stone tetap membuatnya sedikit tidak tenang. Terlebih lagi, dia tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan Edris.

Kereta kembali bergerak setelah berputar arah. Sepanjang perjalanan, Edris tidak mengatakan apa-apa. Namun matanya terus tertuju pada Esmera.

Tatapan itu justru membuat Esmera semakin gelisah.

Biasanya Edris adalah pria yang sulit ditebak. Tenang, dingin, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi berlebihan. Bahkan ketika menghadapi musuh sekalipun, pria itu selalu mampu mempertahankan ketenangannya.

Tetapi hari ini berbeda. Esmera sudah melihat Edris marah. Melihatnya berteriak. Bahkan sekarang, pria itu terus melotot padanya.

Akhirnya Edris bersuara."Sudah puas?"

Esmera mengangkat wajahnya.

Edris menatapnya tajam."Jadi sekarang duduk dengan tenang, dan diam. Atau kesabaranku benar-benar habis, Esmera."

Esmera terdiam, walaupun hatinya terus mengoceh.

Iya baiklah, aku akan diam, tapi berhentilah melototiku.

Untuk pertama kalinya, Esmera merasa sedikit takut pada pria yang dahulu begitu dia kenal sebagai seseorang yang selalu tenang.

Dahulu, jangankan melihat Edris berteriak kepadanya, membayangkan pria itu kehilangan kendali saja terasa mustahil.

Edris Ruan selalu dikenal sebagai pria yang mampu mengendalikan emosinya.

Tetapi hari ini, Esmera melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Esmera pun perlahan mengalihkan pandangannya ke jendela.

Yang penting saat ini aku tidak dibawa ke istana. Ayo pikirkan lagi untuk langkah selanjutnya, Esmera, kau luar biasa, karena sudah menjadi gadis yang pemberani.

Lagi-lagi Esmera merasa bangga pada dirinya sendiri, dia berhasil menyampaikan keinginan dengan lantang.

Istana layaknya ruang luka yang tidak akan pernah Esmera lupakan. Membayangkan bangunan istana yang menjulang tinggi itu saja sudah membuat dada Esmera kembali terasa sesak.

Lukanya belum sembuh. Luka yang selama ini berusaha dia tutupi dengan melarikan diri, menyamar, dan memulai kehidupan baru. Jika dia kembali ke sana, Esmera takut semua yang selama ini berusaha dia kubur akan muncul kembali.

Kenangan tentang kematian.

Tentang Lyra.

Tentang dirinya yang pernah kehilangan segalanya.

Dan tentang keegoisan Edris.

Esmera mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

Tidak. Aku tidak mau kembali ke sana.

Mungkin Kastil Stone bukanlah tempat yang aman baginya, tetapi setidaknya tempat itu bukan istana. Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Esmera menyandarkan tubuhnya pada kursi kereta, lalu memejamkan mata sejenak. Dia hanya perlu mencari cara berikutnya untuk melarikan diri.

Namun tanpa Esmera sadari, Edris masih terus memperhatikannya, menatapnya bagaikan seekor hewan yang sedang menatap buruannya.

***

Setelah sampai di kastil, Edris masih menggenggam tangan Esmera. Jemarinya mengunci pergelangan tangan gadis itu, seolah khawatir jika sedikit saja lengah, Esmera akan kembali mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Beberapa saat yang lalu, Edris bahkan menjadi sangat emosional. Tatapannya berubah tajam, suaranya meninggi, dan kemarahannya terasa begitu nyata ketika Esmera mengancam akan melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri jika dibawa ke istana.

Namun kini, semuanya telah kembali seperti semula.

Wajah Edris kembali datar. Tenang. Dingin. Seolah pria yang beberapa saat lalu hampir kehilangan kendali itu bukan dirinya.

Edris berhenti di salah satu ruangan dan melepaskan tangan Esmera."Bantu dia membersihkan diri," perintahnya kepada para pelayan yang sudah menunggu.

Para pelayan segera membungkuk."Baik, Yang Mulia."

"Setelah itu, siapkan makanan. Bawa dia ke meja makan."

"Akan segera kami lakukan, Yang Mulia."

Esmera hanya diam.

Dia memperhatikan Edris yang kembali memasang wajah tanpa ekspresi, dengan tatapan penuh curiga. Pria ini benar-benar sulit dipahami.

Dia aneh sekali, tadi marah tidak jelas, sekarang datar lagi, seolah tidak terjadi apa-apa. Dasar pria sinting.

Esmera bahkan tidak tahu mana yang lebih berbahaya, Edris ketika marah atau Edris ketika terlalu tenang seperti ini.

Tatapan Edris kemudian beralih kepadanya. Pria itu menatapnya cukup lama.

Esmera spontan menegang.

Apa lagi sekarang? Marah? Berteriak? Kali ini aku sudah tidak takut padamu.

Edris tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapnya.

Rencana apalagi yang sedang dirancang oleh otak kecilnya itu? Edris membantin, ketika melihat raut wajah Esmera yang sepertinya sibuk dengan isi kepalanya.

Esmera buru-buru pergi, saat melihat tatapan menyelidik dari Edris.

Sesampainya di salah satu kamar, salah seorang pelayan mendekat, hendak membantunya, tetapi Esmera langsung menggeleng."Tidak perlu. Tunggu saja di luar. Aku akan melakukannya sendiri."

Pelayan itu sempat saling melirik, namun akhirnya mereka mengalah.

Esmera segera masuk ke ruangan tempat sebuah kolam kecil telah disiapkan untuknya. Begitu pintu tertutup, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun.

Akhirnya dia sendirian.

Esmera mendekati kolam tersebut, kemudian perlahan masuk ke dalam air. Hangatnya air yang menyentuh tubuh membuat seluruh ketegangan yang sejak tadi memenuhi pikirannya sedikit demi sedikit mereda.

Dia menyandarkan tubuhnya. Untuk beberapa saat, Esmera hanya menikmati ketenangan itu. Seharian ini terlalu banyak hal yang terjadi.

Dia melarikan diri.

Menyamar.

Dikejar.

Ditangkap.

Kemudian dipaksa masuk ke dalam kereta bersama pria yang paling ingin dia hindari. Dan sekarang dia justru berada di kastil pribadi Edris Ruan.

Sungguh hari yang melelahkan.

Esmera kemudian perlahan membenamkan kepalanya ke dalam air.

Ah... Nyaman sekali.

Esmera kembali mengangkat kepalanya dan menghela napas panjang."Aku tidak boleh terlena, aku harus cepat memikirkan jalan keluar."

Esmera memejamkan mata, lalu kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya."Edris sudah berjanji akan menyelidiki Gareth Bale. Itu berarti masih ada harapan."

"Jika Edris benar-benar menemukan bukti bahwa Gareth adalah seorang pemberontak, maka Edris akan mulai mempercayaiku. Dan saat itu. Aku akan lebih mudah bergerak. Aku hanya perlu menunggu."

Esmera tidak bisa melawan pria itu secara terang-terangan, bagaimana pun juga Edris jauh lebih pintar, dan berkuasa. Melarikan diri pun terbukti gagal.

Esmera mengembuskan napas. Dia harus berani. Dia harus terbiasa berbicara dengan Edris. Bahkan jika itu berarti harus berada dekat dengan pria tersebut. Selama Edris tidak membawanya ke istana, semuanya masih aman.

"Menunggu di sini tidak masalah..." gumamnya pelan. Esmera mengusap wajahnya yang masih basah."Yang penting aku tidak dibawa ke istana." Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri."Tidak apa-apa berada di dekat Edris."

Esmera terdiam sejenak. Kemudian mengangguk kecil."Pelan-pelan saja Esmera, kita akan mencari jalan keluarnya."

1
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!