'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Keluarga Alena
...~•Happy Reading•~...
Menjelang malam Alena tiba di tempat kost, dia meletakan ransel dan laptop begitu saja di atas meja. Kemudian dia melepaskan celana jeans ketat yang dipakai, karena pahanya mulai terasa gatal oleh keringat yang mengering.
Ketika hendak mengambil handuk untuk mandi, ponselnya bergetar. Alisnya berkerut saat melihat nama Mamanya di layar ponsel. Dia menyadari Mamanya telpon pada waktu yang tidak biasa.
Dia berpikir sejenak dan tidak langsung menerima telpon, agar memberi kesan sedang sibuk pada Mamanya. "Kau ada di mana?" Tanya Mamanya saat Alena merespon.
"Di tempat kost. Ada apa, Ma?" Alena terkejut mendengar nada suara Mamanya yang tidak enak didengar.
"Mengapa kau belum transfer uang buat kakak-kakakmu?" Mamanya langsung bertanya, tanpa menanyakan kabarnya. Alena berpikir cepat untuk mengloloskan diri, sebab dia tahu, Mamanya sedang marah.
"Belum sempat, Ma." Suaranya pelan dan dibuat manis. "Aku lagi banyak kuliah. Nanti aku transfer." Alena melanjutkan, agar Mamanya tidak makin emosi.
"Banyak kuliah?" Nada suara Mamanya naik level. "Tapi kau sudah ambil gaji Papamu. Mengapa tidak langsung transfer ke mereka? Apa kau sendiri yang kuliah?" Mamanya bertanya dengan nada makin tinggi, membuat Alena meletakan ponsel jauh dari telinganya.
"Iya, Ma. Waktu itu buru-buru mau kuliah, jadi tidak keburu transfer ke mereka." Alena memberikan alasan yang berhubungan dengan kuliah. Dia berharap Mamanya bisa terima.
"Ini sudah lebih dari seminggu kau ambil gaji Papamu. Apa hari minggu juga kau pergi kuliah?" Pertanyaan Mamanya membuat Alena gelagapan.
"Kalau tidak bisa transfer, saat ambil uang buat bayar kost, kau bisa berikan tunai pada kakakmu di kampus." Mamanya sedang emosi tapi bisa berpikir baik dan tidak terima alasan Alena.
Alena memutar otak untuk bisa melunakan hati Mamanya, karena dia telah menggunakan uang yang diperuntukan buat kakak-kakaknya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
Alena jadi khawatir masa depan dompetnya akan menipis dan kena pangkas. Oleh sebab itu, dia memutar otak untuk bisa melunakan hati Mamanya yang sedang emosi. Agar tidak bicara dengan Papanya.
"Aku tidak bertemu mereka di kampus, Ma. Kan kami berbeda fakultas. Nanti setelah ini aku transfer." Alena berkata cepat, sebelum basah oleh semprotan Mamanya.
"Kau tidak bisa temui mereka di tempat Tantemu? Sekalian bisa kunjungi Tante dan Ommu." Mamanya masih berusaha menyisipkan rasa persaudaraan yang mulai terkikis dari anak bungsunya.
"Ini Mama persoalkan uang mereka atau mau kunjungi saudara Mama?" Alena menyadari Mamanya mulai melebar dan pergunakan kesempatan untuk menasehatinya.
"Apa salahnya mengingatkanmu soal persaudaraan? Buktinya kau tidak peduli kesusahan saudara." Mamanya kembali emosi.
"Kembali ke soal uang, Mama ingatkan. Walau kau bungsu, Papa berikan gajinya kau ambil, karna percaya kau bisa atur buat kebutuhan kalian di kota. Tapi jangan ngelunjak terhadap kakak-kakakmu."
"Siapa yang ngelunjak, Ma. Ini cuma sedikit telat karna aku sibuk mau siapkan penelitian." Alena memberikan alasan dengan nada mulai naik.
"Cuma belum sempat transfer, malah Mama merusak moodku. Apa tadi gak dengar, aku bilang mau transfer?" Alena balik memarahi Mamanya untuk menutupi kesalahannya dan tidak membiarkan Mamanya terus memarahinya.
"Sekarang transfer ke kakak-kakakmu. Mama tunggu !" Mamanya jadi marah, karena Alena berkata ketus dan melawannya. Alena mematikan telpon dengan kesal.
Dia tidak jadi masuk kamar mandi. Apa yang dia alami sepanjang hari membuat emosinya cepat tersulut. Dia memakai celana pendek lalu duduk di lantai dengan emosi yang tidak terkendali.
Dia segera mencari nomor telpon kakaknya. "Hana, apa yang kau bilang sama Mama?" Alena langsung menyebut nama kakaknya tanpa embel-embel sebagai kakak adik.
Dia yakin Hana yang jadi biang pemicu amarah Mamanya. Dia tidak menyangka kakaknya bisa mengaduh, hingga tidak ada lagi sopan santun dan etika persaudaraan.
Namun pertanyaan Alena menarik keluar amarah yang sudah menumpuk di hati kakaknya. "Lapor apa?" Tanya Hana singkat dengan nada keras, sebab sudah menunggu telpon dari Alena
"Kalau kau gak lapor, mengapa Mama bisa tahu aku belum transfer uang kalian?" Alena bertanya tanpa berpikir. Kesalahan dan emosi telah menutup kejernihan pikirannya, hingga bertanya yang tidak perlu.
"Itu yang kau bilang lapor? Aku telpon minta uang sama Mama itu kau bilang, lapor? Buka otakmu!"
Alena terkejut mendengar suara Hana yang tajam menusuk. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh kakaknya yang terkenal lemah lembut. Namun Alena tidak mau kalah. "Kalau butuh uang, mengapa gak telpon aku?"
"Telpon kau kalau butuh uang? Apa itu uangmu? Kau diminta atur uang, tapi bukan mengatur kami. Seharusnya kau sudah berikan tanpa perlu kami minta. Hal sederhana itu, kau tidak paham?" Bentak Hana, tidak kalah keras.
"Kau lupa kalau gaji Papa aku pegang untuk keperluan kita di sini?" Alena balik membentak. Tapi tanpa sadar, dia menunjukan ketidakmengertiannya.
"Kau bilang kami lupa? Kau yang lupa !!" Bentak Hana tanpa menurunkan nada suara.
"Papa memberimu surat kuasa untuk mengambil gajinya, tapi dibagi bertiga sesuai presentasi yang sudah diatur."
"Kau dapat lebih besar dari kami berdua, tapi kau mau menyunat bagian kami juga?" Nada suara Hana makin tinggi, cendrung berteriak.
"Bukan salahku, kalau Papa kasih lebih besar, karna harus bayar kost. Kalian berdua kan, tidak." Alena mengatakan sesuatu yang tidak menunjukan kalau dia pintar.
"Oh, karna kami makan tidur gratis di rumah Tante, jadi tidak perlu kau kasih bagian kami? Apa kami pergi kuliah ngesot? Apa kau kira, Tante akan kasih uang transport, setelah memberi kami makan minum dan tempat tidur gratis?" Hana menumpahkan amarah yang sudah ditahan menghadapi adiknya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Padahal mereka bertiga kakak adik ada kuliah di kota yang sama. Hana memilih tinggal dengan keluarga Mamanya, karena menyadari orang tua mereka yang bekerja sebagai ASN harus menguliahkan 3 orang anak sekaligus.
Orang tua mereka telah mengatur agar gaji Papanya untuk kebutuhan hari-hari mereka di kota, termasuk transport pergi kuliah. Sedangkan Alena mendapat lebih banyak untuk bayar kost.
"Kau ingin kami memohon, mohon uang transport darimu? Kalau kau tidak transfer saat ini juga, kami akan telpon Papa. Supaya mereka tahu kelakuanmu yang tidak peduli dengan kebutuhan kami."
"Sudah berapa bulan kami diamkan, malah ngelunjak. Kak Sander masih menahan diri tidak bicara dengan Papa. Tapi kalau dia mulai emosi, kami yang akan ambil gaji Papa. Supaya ada keadilan walau tidak adil pembagiannya."
"Coba kasih tahu Papa. Aku mau lihat, siapa yang dipercaya Papa." Alena balik menantang.
Alena yakin, kakaknya tidak akan berani, karena Papanya lebih percaya dan sayang padanya. Papanya selalu membanggakan prestasinya yang cemerlang kepada banyak orang. Sangat berbeda dengan kedua kakaknya yang berprestasi biasa-biasa saja.
Oleh sebab itu, dia merasa lebih disayang dari kedua kakaknya dan apa yang dia butuhkan selalu didahulukan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...