Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah nenek
Pak Andik memanggilku dari arah dapur. Aku segera berlari ke sana dan mengambil pesanan nenek yang sudah siap. Nenek itu tersenyum bahagia saat melihat sepuluh burger itu ada di tanganku.
"Terima kasih ya, Nak. Bolehkah Nenek meminta tolong sekali lagi?" tanyanya pelan.
"Apa Nek?"
"Bisa kamu mengantar Nenek pulang?"
Aku sedikit terkejut mendengar permintaan itu. Sekarang adalah jam kerjaku, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja? Namun sebelum aku sempat menjawab, Bagus berbisik pelan di sampingku.
"Sudah tenang saja, El. Antarkan saja Nenek pulang. Takutnya terjadi sesuatu di jalan, beliau sudah tua juga."
"Tetapi nanti bagaimana di sini?" tanyaku ragu.
"Sudah aman. Biar aku dan Vina yang mengurus semuanya," ucap Bagus meyakinkan.
"Benarkah?"
"Iya, sudah sana antarkan Nenek," tambah Vina sambil tersenyum dan mengangguk mantap.
Aku pun berbalik menghadap nenek itu. "Baik, Nenek. Ayo, saya antar pulang."
Aku menggandeng tangan nenek itu perlahan, lalu berjalan menuju vespa milikku yang terparkir di depan kafe. Dengan hati-hati aku membantu beliau naik ke atas kendaraan, lalu memastikan beliau duduk dengan nyaman dan aman sebelum akhirnya aku menyalakan mesin dan berangkat.
Nenek itu duduk di belakangku sambil mengarahkan jalan. "Belok sini, Nak... terus lurus... nanti belok kanan di pertigaan itu." Setelah melewati beberapa jalan raya dan jalan perumahan yang biasa saja, nenek itu tiba-tiba menyuruhku masuk ke dalam sebuah kompleks yang berisi gedung-gedung besar dan rumah-rumah mewah yang sangat megah. Mataku terbelalak kagum melihat deretan bangunan yang begitu indah dan bersih, jauh berbeda dari tempat tinggalku.
"Rumah Nenek sebelah mana ya?" tanyaku penasaran.
"Sebentar lagi sampai, Nak," jawab nenek itu dengan nada lembut namun penuh kehangatan.
Aku semakin bingung sekaligus takjub. Bagaimana mungkin nenek yang tadi terlihat sederhana dan kesulitan uang ternyata tinggal di kawasan yang begitu mewah dan eksklusif ini? Namun aku tetap diam dan mengikuti arahan beliau, memacu vespa itu perlahan di sepanjang jalan yang luas dan rapi itu.
Nenek itu menyuruhku berhenti di depan sebuah rumah yang berdiri megah di ujung jalan. Mataku seketika terbelalak tak percaya. Rumah itu jauh lebih besar dan lebih megah dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Namun yang membuatku benar-benar tertegun bukanlah ukurannya, melainkan warnanya — rumah itu berwarna hitam berpadu merah maroon, sama persis dengan warna kafe XX2 tempat aku, Vina, dan Bagus kemaren kesana.
Hatiku berdebar kencang. Bagaimana bisa ada kesamaan yang begitu mencolok? Apakah ini sekadar kebetulan, atau ada hubungan di antara semuanya itu? Aku mematikan mesin vespa dan turun perlahan, menatap bangunan itu dengan perasaan bercampur bingung dan takjub.
"Masuklah sebentar dulu, Nak," pinta nenek itu lembut namun tak bisa ditolak.
"Tidak usah, Nek. Saya langsung kembali saja," jawabku sopan.
"Ayolah masuk sebentar saja," ajaknya lagi sambil menggandeng tanganku erat.
Aku pun tak bisa menolak ajakan nenek itu. Beliau sudah menggandengku dan berjalan masuk bersamaku. Seorang pria berbadan tegap keluar dari dalam rumah, membukakan pagar untuk kami. Penampilannya rapi dan tegak, sepertinya beliau adalah seorang pengawal pribadi. Aku sedikit ragu melangkah masuk ke rumah ini. Halaman rumahnya saja sudah sangat luas, tertata rapi, dan suasananya terasa sejuk namun dingin.
"Ini rumah Nenek ya?" tanyaku pelan.
"Ini rumah cucu Nenek, Nduk. Suami Nenek sudah tiada, anak Nenek juga sudah tiada. Jadi Nenek tinggal bersama cucu Nenek," jelas nenek itu sambil tetap menggandeng tanganku berjalan masuk.
"Maaf, Nek... jika boleh tahu, mengapa anak Nenek tiada?" tanyaku hati-hati.
"Saat itu mereka hendak berlibur ke Thailand bersama suaminya, namun pesawat yang mereka tumpangi jatuh ke laut. Mereka berdua tiada. Jadi Nenek-lah yang merawat anak mereka hingga kini sudah dewasa," cerita nenek itu pelan.
"Maaf, Nek... saya turut berduka cita ya," ucapku tulus.
Nenek itu hanya tersenyum tipis. "Iya, Nduk. Terima kasih ya."
Saat kami hendak melangkah masuk ke dalam rumah, di depan pintu utama sudah berdiri sesosok pria bertubuh tinggi dan kekar. Wajahnya... aku mengenalnya dengan sangat baik.
"What?" seruku keras karena kaget, tak mampu menahan keterkejutanku.
"Mengapa, Nduk?" tanya nenek itu bingung.
"Eeeehh... tidak apa-apa, Nenek..." jawabku gugup berusaha menutupi keterkejutanku.
Ya Tuhan... itu kan dia! Pria yang dulu itu! Bos mafia itu! Aduh, celaka aku! Harusnya tadi aku langsung pulang saja! gumamku panik dalam hati.
Pria itu mengerutkan dahinya menatapku tajam, seolah ia juga mengenalku.
"Jadi kau yang membawa Nenekku pergi?" tanyanya suara berat dan rendah.
"Kok gue...?" jawabku terbata-bata bingung.
"Bukan begitu, Lucas. Tadi itu..." nenek itu lalu menceritakan semuanya kepadanya. Ternyata namanya Lucas, batinku mencatat.
"Membeli burger sebanyak ini?" tanya Lucas datar.
"Nenek hanya ingin makan," jawab nenek itu lembut.
"Makan satu saja," pinta Lucas tegas. Lalu ia mengambil sembilan burger dari tangan neneknya dan menyerahkannya kepada pelayan yang berdiri di sampingnya. Nenek itu hanya pasrah.
"Masuklah," ajak nenek itu sambil kembali menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Lucas berdiri diam di tempat, matanya terus mengawasi setiap gerak-gerikku sejak aku melangkah masuk hingga kami berada di ruang tengah. Tatapannya begitu tajam dan penuh selidik, seolah ingin membaca setiap pikiran yang ada di kepalaku. Aku merasakan pandangannya terus mengikutiku, membuatku merasa sangat canggung dan gugup. Aku berusaha tetap tenang, namun setiap langkah terasa berat di bawah pengawasannya yang tak kunjung teralihkan.
Sesampainya di ruang tengah, aku terpukau melihat isi rumah itu. Ruangannya begitu luas, perabotannya terlihat sangat mewah dan berkelas, dengan nuansa warna hitam dan merah maroon yang sama persis dengan bagian luar rumah. Semuanya terlihat sempurna, namun suasananya tetap terasa dingin dan kaku, seolah tak ada kehangatan yang tersisa di rumah yang begitu megah ini. Nenek itu menyuruhku duduk di sofa yang empuk dan lebar, sementara Lucas tetap berdiri di dekat pintu, tidak beranjak sedikit pun, matanya masih terus tertuju kepadaku.
Seorang pembantu rumah tangga berjalan mendekat dan membawakan segelas minuman untukku. Nenek itu tersenyum lembut sambil menunjuk gelas tersebut.
"Minumlah, Nduk. Jangan sungkan."
Aku pun mengucapkan terima kasih dan meminumnya perlahan. Minuman itu berwarna bening, namun rasanya begitu unik, segar, manis, dan sedikit beraroma rempah yang lembut, sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Rasanya begitu menenangkan, seakan segala rasa cemas dan gugup yang kurasakan tadi perlahan berkurang sedikit demi sedikit. Aku menatap gelas itu dengan takjub, merasa penasaran dengan apa yang baru saja kuminum.
Lucas yang melihat hal itu hanya diam di tempat, namun tatapannya sedikit berubah, bukan lagi sekadar dingin dan curiga, melainkan ada sesuatu yang lain di sana, seolah ia sedang memperhatikan reaksiku dengan saksama.
Nenek pergi berpamitan ke kamar mandi. Saat beliau pergi, aku segera memberanikan diri untuk berbicara, karena tadi selama nenek ada aku menahan diri. Dengan keberanian yang kukumpulkan, aku menatapnya lurus.
"Mengapa sih terus melihatku seperti itu?" tanyaku tegas.
Lucas mengangkat alisnya, menatapku dengan tatapan yang semakin tajam.
"Kau ingin memanfaatkan Nenekku?" tanyanya dingin dan penuh tuduhan.
Aku langsung merasa darahku mendidih. "Apa maksudnya? Kau ini seharusnya berterima kasih kepadaku! Aku yang mengantar Nenekmu pulang! Aku yang membantunya saat jatuh! Dan sekarang, setelah aku membantu Nenekmu saja, aku malah dituduh ingin memanfaatkannya?" jawabku dengan nada kesal namun tetap berusaha menjaga kesopanan.
Pria itu hanya diam mendengar jawabanku. Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Hanya diam, menatapku lekat-lekat, seakan sedang menimbang-nimbang apakah perkataanku itu benar atau tidak. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa berat, namun kali ini aku tidak menunduk. Aku tetap menatapnya, menunjukkan bahwa aku tidak takut dan aku tidak salah apa-apa.
"Bisa nggak tidak terus-menerus mengawasiku?" tanyaku dengan nada tegas namun tetap sopan.
Lucas menatapku sekilas, lalu menjawab dengan nada datar dan sedikit meremehkan.
"Terlalu percaya diri ya jadi perempuan."