Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bintang Lapangan, Diskusi Panas, dan Sepiring Somay
Suasana koridor lantai dua gedung FISIP terasa jauh lebih lengang dibandingkan dua hari lalu. Masa Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Nusa Bangsa (UNB) telah resmi berakhir, menyisakan deretan spanduk ucapan selamat datang bagi mahasiswa baru yang bergoyang pelan ditiup angin sore. Namun bagi Aleena. gadis yang akrab disapa Alee ritme kehidupannya di lingkungan kampus justru baru saja berpindah ke gigi yang lebih tinggi.
Di tangan kanannya, Alee menggenggam selembar formulir pendaftaran magang BEM FISIP bernuansa biru tua formulir rekomendasi langsung dari Arlan Bachtiar yang kemarin sore diserahkan padanya di ruangan sekretariat. Alee menyusuri tangga semen menuju lantai dasar dengan gaya petantang-petentengnya yang khas, memutar-mutar pena hitam di sela jari-jemarinya sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Gila ya lu, Lee! Baru dua hari jadi maba udah dapet jalur cepat magang BEM!" cerceh Dania yang berjalan di sebelah Alee sambil membawa kantong plastik berisi es teh manis. "Gue perhatiin Kak Arlan itu tipikal senior dingin yang enggak gampang ngasih perhatian ke orang. Tapi sama lu... beda banget aura tatapannya!"
Alee melirik Dania dengan cengiran renyahnya yang tanpa beban. "Beda gimana, Dan? Gue rasa dia cuma liat gue sebagai maba yang enggak gampang ciut pas digertak. Lagian, jalur khusus ini juga belum tentu bikin gue langsung diterima. Masih ada wawancara sore ini."
"Alasan lu! Tapi tetep aja, se-fakultas juga tau siapa Arlan Bachtiar," sahut Dania heboh, menggebu-gebu. "Selain Ketua BEM, dia itu juga kapten tim basket FISIP yang punya reputasi perfeksionis banget. Kalau lu bisa bikin dia terkesan, berarti lu emang punya kelas, Lee."
Alee hanya terkekeh pelan menyikapi kehebohan sahabat barunya itu. Namun di dalam hati, Alee mengakui ucapan Dania ada benarnya. Arlan Bachtiar memang memiliki pesona yang sangat kuat tegas, dominan, rasional, dan penuh percaya diri. Sebuah aura kepemimpinan yang amat kontras jika dibandingkan dengan ketenangan, kelembutan, dan tutur kata halus khas Ramaditya Pratama di masa SMA dulu. Jika Rama adalah telaga yang tenang dan penuh nada harmoni, maka Arlan adalah gelombang laut yang menantang Aleena untuk melompat lebih tinggi dan berenang lebih jauh.
Langkah kaki kedua gadis itu mendadak terhenti saat melintasi area lapangan olahraga terbuka di samping auditorium utama. Suara decitan sepatu karet yang bergesekan keras dengan lantai semen dan pantulan bola basket yang berirama nyaring memenuhi udara sore yang hangat.
Di tengah lapangan, tim basket utama FISIP sedang melakukan sesi latihan rutin. Di antara barisan pemain bertubuh tinggi tegap, sosok Arlan Bachtiar tampil begitu menonjol. Pria itu mengenakan kaos jersei basket tanpa lengan berwarna hitam pekat, memperlihatkan garis otot lengannya yang kokoh. Rambut hitamnya sedikit basah oleh peluh, sementara sorot matanya terfokus penuh mengawasi setiap pergerakan bola di tangan lawan.
Swoosh!
Dengan gerakan yang amat lincah dan terhitung presisi, Arlan melakukan dribble cepat melewati dua pemain bertahan, melompat tinggi di dekat garis tiga poin, dan melepas tembakan mulus yang masuk sempurna tanpa menyentuh besi ring.
"Tuh kan! Liat, Lee! Keren banget njir!" celetuk Dania refleks sambil menyenggol siku Alee cukup keras.
Alee mematung sejenak di tepi lapangan. Manik matanya memperhatikan bagaimana Arlan memimpin timnya di atas lapangan ia memberi instruksi dengan nada suara baritone yang mantap, tidak berteriak panik, namun setiap perintah singkat yang keluar dari mulutnya langsung dipatuhi oleh seluruh rekan timnya. Ada karisma kepemimpinan alami yang memancar begitu kuat dari setiap gestur pria itu.
Saat permainan dihentikan sementara dan Arlan berjalan ke pinggir lapangan untuk menyapu keringat di wajahnya menggunakan handuk kecil, pandangan matanya tak sengaja menangkap sosok Aleena yang berdiri menyilangkan tangan di tepi pagar pembatas. Arlan menghentikan usapannya. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman hangat yang seketika mencairkan raut wajah tegasnya yang dingin.
Arlan memberikan isyarat tangan pada pelatih di bangku cadangan, lalu melangkah santai menghampiri Alee di pinggir lapangan.
"Udah selesai ngisi formulirnya, Aleena?" tanya Arlan pelan saat berdiri tegak di hadapan Alee, menyampirkan handuknya di bahu. Aroma kesegaran dan sisa wangi maskulin khas kayu cedarwood beradu tipis di udara.
Alee menyunggingkan senyum menantangnya yang tak pernah luntur, menepuk-nepuk formulir biru tua di tangannya. "Udah dong, Pak Ketua. Katanya sore ini ada wawancara langsung? Gue udah siap diuji."
Arlan tertawa pelan sebuah tawa bernuansa berat yang renyah dan dalam. Ia menatap Alee dari atas ke bawah, terkesan dengan ketangguhan mental gadis maba yang tak pernah menunjukkan rasa canggung atau segan berlebihan ini.
"Semangat banget lu," ujar Arlan, matanya berbinar hangat. "Latihan tim tinggal sepuluh menit lagi. Lu tunggu di kantin belakang, sekalian kita makan somay. Nanti sesi wawancaranya kita bikin santai aja di sana."
"Siap, Kapten. Jangan lama-lama ya, ntar somaynya keburu dingin," balas Alee santai dengan cengiran renyahnya.
Dania yang berdiri tepat di belakang Alee hanya bisa melotot tak percaya melihat betapa santai dan akrabnya Alee berkomunikasi dengan sosok Ketua BEM yang paling disegani di seluruh fakultas tersebut.
Lima belas menit kemudian, Alee duduk santai di bangku kayu kantin belakang FISIP yang rindang oleh naungan pohon ketapang. Sepiring somay hangat berkuah kacang kental dan dua gelas es jeruk segar sudah tersaji rapi di atas meja. Tak lama berselang, Arlan datang melangkah mendekat. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan kemeja santai berwarna abu-abu terang, membawa sebuah map berisi berkas catatan.
"Oke, Aleena," ujar Arlan sambil menarik kursi di hadapan Alee dan membukakan map berkasnya. "Gua bakal tanya beberapa hal mendasar tentang motivasi lu masuk Divisi Humas BEM. Tapi gua enggak mau denger jawaban formal atau hafalan teks standar dari internet. Gua mau jawaban jujur dari pemikiran lu sendiri."
Alee menyesap es jeruknya sejenak melalui sedotan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi dengan tatapan mata yang jernih, tajam, dan mantap.
"Gue mau masuk Humas karena gue suka dinamika komunikasi, Kak," tutur Alee jujur dan bernas. "Bagi gue, Humas itu bukan sekadar tukang bikin poster atau penyambung lidah acara, tapi jembatan emosional antara mahasiswa sama BEM. Gue pengen bikin narasi yang bisa bikin mahasiswa ngerasa BEM itu ada buat ngerangkul dan mendengar mereka, bukan cuma lembaga senior yang tinggi hati."
Arlan mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Aleena tanpa memotong sedikit pun. Pria itu menyandarkan dagunya di atas jemari tangan yang tersusun rapat, menatap penuh kedalaman pada iris mata Alee. Keberanian, ketegasan pemikiran, dan kejujuran Alee memberikan kesegaran baru yang amat langka di mata sang Ketua BEM.
"Pendapat yang tajam," puji Arlan tulus dengan suara pelan. "Sebagian besar orang cuma liat BEM sebagai panggung gengsi organisasi. Tapi lu liat itu sebagai tanggung jawab narasi."
Arlan meraih penanya dari saku kemeja, lalu tanpa ragu membubuhkan tanda tangan dengan tulisan tegas: DITERIMA - MAGANG BEM HUMAS di pojok atas formulir Alee.
"Selamat bergabung di tim gua, Aleena Putri," tutur Arlan pelan sambil mengulurkan tangan tegapnya di atas meja.
Alee menatap uluran tangan itu, lalu menyambutnya dengan genggaman yang mantap dan hangat. Binar percaya diri terpancar jernih dari mata Alee.
"Makasih, Kak Arlan. Gue jamin lu enggak bakal nyesel udah milih gue," sahut Alee mantap.
Matahari sore perlahan menyusut di balik pepohonan kampus. Di meja kantin yang sederhana itu, sebuah babak baru dalam perjalanan perkuliahan Aleena resmi dimulai bukan lagi sebagai mahasiswi baru yang polos, melainkan sebagai bagian penting dari tim BEM FISIP di bawah kepemimpinan Arlan Bachtiar.