NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Tanda Tangan dan Kuasa

Minggu depan. Jangan berani tidak datang.

Sebelum undangan itu dipenuhi, ada dua tanda tangan yang harus diselesaikan.

Pada Senin pertama setelah libur Tahun Baru, Arya turun ke halaman Puri Adiwangsa pukul tujuh pagi. Bara, lelaki besar yang membawa ponsel pada malam kematian Nenek Ratna, sudah menunggu di samping sedan hitam.

"Akhirnya mau menyebut nama?" tanya Arya.

"Bara Santoso." Ia membuka pintu belakang. "Hari ini saya sopir, Den Arya."

"Kamu terlalu besar untuk terlihat seperti sopir."

"Kalau ada yang bertanya, saya makan banyak."

Arya hampir tersenyum. "Jemput Anindya."

Anindya keluar beberapa menit kemudian mengenakan setelan krem dan membawa map dokumen. Ia memandang Bara sekilas, lalu Arya.

"Orang baru?"

"Teman lama yang baru kamu lihat."

"Jawaban Anda selalu mencurigakan."

"Berarti instingmu bekerja."

Bara menutup pintu tanpa ikut campur. Sepanjang perjalanan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Anindya membaca ulang dokumen pranikah. Arya memperhatikan arus lalu lintas dan dua sepeda motor yang bertahan terlalu lama di belakang sebelum berbelok.

Proses pencatatan berlangsung formal dan ringkas. Petugas memeriksa identitas, bukti upacara, dokumen saksi, serta perjanjian pranikah yang telah dicatatkan. Setelah verifikasi selesai, Arya dan Anindya diminta menandatangani register.

"Silakan, Pak Arya. Bu Anindya."

Anindya memegang pena terlebih dahulu. Ujungnya berhenti sesaat di atas kertas.

Arya tidak mendesak.

Perempuan itu akhirnya menulis namanya. Arya menandatangani di sampingnya. Stempel ditekan, meninggalkan tinta ungu yang lebih berat daripada tepuk tangan di tepi danau.

Akta perkawinan mereka kini tercatat.

"Selamat," kata petugas.

"Terima kasih," jawab Anindya.

Saat mereka keluar menuju lorong, suara perempuan memanggil dari belakang.

"Arya?"

Bella berdiri di depan ruang tunggu bersama Reno. Ia mengenakan kacamata hitam, tetapi keterkejutan di wajahnya tak bisa ditutup. Reno membawa map serupa, lengkap dengan salinan identitas dan dokumen untuk rencana pencatatan.

Tatapan Bella jatuh pada cincin di tangan Arya, kemudian map akta di tangan Anindya.

"Kamu menikah?"

"Baru dicatat," jawab Arya.

Reno mendengus. "Cepat sekali cari tempat bergantung."

Anindya menoleh kepadanya. Tatapannya datar, tetapi udara di lorong seolah turun beberapa derajat.

"Masalah pencatatan perkawinan saya bukan urusan Anda, Mas Reno."

Reno mengenali Anindya. Kesombongan di wajahnya goyah sebelum segera ditutup senyum sosial. "Bu Anindya Prawira. Saya tidak menyangka Anda..."

"Menikah dengan pria yang baru Anda hina?"

Reno terdiam.

Bara berdiri dua langkah di belakang Arya. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya menatap tangan Reno setiap kali pria itu bergerak mendekat. Reno menangkap tatapan tersebut dan menjaga jarak.

Seorang petugas memanggil nama Bella dan Reno. Bella menggenggam map, tetapi kakinya tidak bergerak.

"Silakan masuk," ujar Reno.

Bella melihat Arya sekali lagi. Tanpa kacamata palsu, dengan pakaian rapi dan seorang perempuan seperti Anindya di sampingnya, mantan suaminya terlihat seperti orang asing.

"Aku belum siap," katanya tiba-tiba.

Wajah Reno berubah. "Apa?"

"Aku bilang belum siap."

Bella berbalik meninggalkan lorong. Reno mengejarnya sambil menahan suara agar tidak menarik perhatian. Arya tidak memanggil. Ia hanya melihat pintu kaca menutup di belakang mereka.

"Masih peduli?" tanya Anindya.

"Peduli tidak berarti ingin kembali."

"Jawaban yang dewasa. Mengejutkan."

"Jangan memuji terlalu cepat."

Bara membukakan pintu mobil. Ketika Anindya masuk, beberapa pegawai dan pengunjung menoleh. Setelan tajam, langkah terkendali, dan mobil dengan pengawal membuat kehadirannya sulit diabaikan. Bella yang berdiri di ujung trotoar juga melihat.

Untuk pertama kalinya, rasa kehilangan di wajahnya lebih jelas daripada rasa bersalah.

Siang menjelang ketika mobil memasuki kawasan bisnis Surabaya. Di lantai atas gedung Prawira Entertainment, dua belas kursi telah terisi. Para direktur menunggu di balik meja panjang, sebagian penasaran, sebagian menahan keberatan.

Wisnu berdiri di ujung ruangan dengan map biru yang sama dari Puri Adiwangsa.

"Kita mulai," katanya ketika Arya dan Anindya masuk.

Sekretaris legal membagikan salinan final. Klausul tambahan Arya tentang pemutusan kontrak pekerja dan penjualan aset inti sudah tercantum. Anindya membacanya, lalu membubuhkan paraf tanpa komentar.

Wisnu menandatangani sebagai pihak yang mengesahkan perwalian. Anindya menandatangani sebagai pemegang empat puluh sembilan persen. Terakhir, Arya menulis namanya sebagai wali atas lima puluh satu persen saham dengan hak suara operasional.

"Mulai hari ini," ujar Wisnu, "Pak Arya memegang kewenangan sesuai batas perjanjian tiga tahun. Saham tidak dapat dijual, dipindahtangankan, atau diagunkan. Direksi tetap bekerja. Tidak ada perebutan perusahaan."

Seorang direktur keuangan bernama Surya mengangkat tangan. "Tentu, Pak Wisnu. Kami hanya ingin memastikan wali saham memahami kondisi aktual PE."

Sebuah laporan diproyeksikan ke layar. Surya memaparkan pendapatan iklan, beban produksi, serta kewajiban kontrak. Penjelasannya licin, dipenuhi persentase dan istilah untuk membuat angka buruk tampak wajar.

Arya bersandar sambil memutar bolpoin. Dua direktur bertukar senyum. Pemuda yang diisukan sebagai putra liar itu tampak bosan bahkan sebelum laporan selesai.

"Jadi," kata Surya, "penurunan kas dua belas persen sepenuhnya berasal dari percepatan pembayaran produksi kuartal lalu. Tidak ada risiko struktural."

"Halaman dua puluh tiga," ujar Arya.

Surya berhenti. "Maaf?"

"Buka halaman dua puluh tiga."

Slide berganti. Arya menunjuk satu baris biaya lisensi digital.

"Pembayaran ini dicatat sebagai percepatan produksi, tetapi penerimanya vendor lisensi. Nilainya Rp8,4 miliar. Di lampiran, kontraknya baru efektif bulan depan. Mengapa uang keluar dua bulan sebelum hak tayang aktif?"

Ruangan sunyi.

Surya membalik lembar fisik dengan tangan lebih cepat. "Itu mungkin kesalahan klasifikasi."

"Kalau hanya klasifikasi, saldo utang usaha seharusnya turun dalam jumlah yang sama." Arya mengetuk baris berikutnya. "Tidak turun. Uang keluar, kewajiban tetap. Ada satu pembayaran, tetapi dua beban tercatat."

Anindya menatap layar, lalu Surya. Ia bekerja dengan laporan itu berhari-hari dan hampir melewatkan pola yang disembunyikan di dua lampiran terpisah.

"Tim audit internal akan mengunci dokumen vendor hari ini," katanya. "Pak Surya, jangan mengubah satu berkas pun."

Keringat muncul di pelipis direktur keuangan.

Arya menutup map. "Mungkin saya salah. Saya ini cuma menantu yang belum pernah duduk di meja direksi, kan?"

Tidak ada yang tertawa.

Wisnu menyembunyikan kepuasan dengan merapikan manset. "Rapat dilanjutkan di bawah pimpinan wali saham baru."

Ia meninggalkan kursi utama.

Arya berjalan ke sana tanpa terburu-buru. Para direktur yang pagi tadi mungkin masih menyebutnya anak di luar nikah kini meluruskan punggung.

"Baik," kata Arya sambil duduk. "Kita mulai lagi dari angka yang tidak berbohong."

Di luar ruang rapat, dua manajer yang melihat melalui dinding kaca saling berbisik.

"Katanya dia cuma pajangan."

Yang lain menatap Surya yang pucat di depan layar.

"Pak Arya itu," balasnya pelan, "sepertinya tidak sesederhana rumor."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!