Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Keruntuhan rezim
Airyn berlari kencang menerjang lorong atas, mengejar Grance yang lari ketakutan menuju balkon utama yang berada tepat di samping tebing air terjun. Dari arah belakang, beberapa prajurit pengawal mencoba menyusul untuk membendung jalurnya.
Dengan sigap, Airyn merapatkan jemarinya ke udara. Aether di dalam dirinya memanggil air terjun di samping istana, memicu gelombang ombak yang menyapu bersih barisan prajurit tersebut, melontarkan mereka jatuh ke pelataran bawah.
Kini, tidak ada lagi pengawal yang menghalangi jalurnya.
Di ujung balkon, Grance mendapati jalan buntu. Pria tua itu terdesak ke tepi pagar pembatas batu tanpa kekuatan sihir untuk melawan. Napasnya memburu, matanya liar mencari celah sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memainkan trik kotor.
"Hah... hah... Sudah cukup kejar-kejarannya, bukan... Gadis Baik?" bisik Grance pelan seraya berpegangan tegang pada pembatas balkon.
"Menyerah lah!" bentak Airyn dengan napas tersengal, iris emasnya memancarkan amarah.
"Kau sudah merebut apa yang bukan hakmu dan memerintah dengan kekejaman! Hentikan semua kegilaan ini!"
Grance menurunkan tongkatnya perlahan, melepaskan cengkeramannya lalu mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, memberikan gestur menyerah agar Airyn mengendurkan pertahanannya.
"Baiklah... kemarilah. Ada satu hal yang ingin kuceritakan padamu sebelum kau membenciku sepenuhnya."
Airyn ragu sejenak. Namun, melihat Grance berdiri tanpa senjata dalam jarak aman, ia perlahan mengikis jarak hingga mereka berdua berdiri berdampingan di tepi balkon, menghadap langsung ke arah bentangan air terjun raksasa.
"Lihatlah ke bawah sana," gumam Grance pelan.
Airyn memalingkan pandangannya ke samping kanan. Gemuruh air terjun bergema memenuhi samudra di bawahnya. Tepat di balik tirai air yang meluncur deras, tampak sebentuk celah jalan batu kecil yang terputus oleh jurang curam.
Rasa sesak yang luar biasa mendadak menghantam dada Airyn. Tanpa sanggup ditahan, linangan air mata menetes membasahi pipinya saat menyadari bahwa di balik derasnya tirai air itulah kedua orang tua kandungnya mengembuskan napas terakhir.
"Di dasar air terjun itulah... makam dari kedua orang tuamu," bisik Grance, melangkah perlahan mengambil posisi di belakang Airyn.
"K-kau... kau yang telah membantai mereka..." ujar Airyn dengan suara bergetar menahan tangis.
"Ya. Aku tahu aku bersalah... maafkan aku..." sahut Grance seraya kembali meraih gagang tongkatnya yang tergeletak di lantai.
Airyn mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kau harus menebus semua dosamu..."
"Tentu saja..." geram Grance mendadak. Gagang tongkatnya digenggam erat, lalu diayunkan kencang menyasar belakang kepala Airyn! "...dengan kematianmu!"
Srettt!
Insting bertarung Airyn menyelamatkannya. Ia melompat ke samping secara refleks. Ujung keras tongkat itu hanya sempat menyerempet lengan bajunya tanpa menimbulkan luka serius.
Wajah Grance memerah murka, matanya melotot tajam saat rencananya gagal.
"Aku muak! Kenapa kalian orang-orang aneh tidak mati saja semuanya?!" jeritnya frustrasi.
Airyn menyapu sisa air mata di wajahnya, lalu memasang posisi kuda-kuda tempur.
"Kau yang membuat hidupku menderita selama delapan belas tahun ini... Kau yang seharusnya lenyap!"
Sementara itu, di dalam Aula Utama istana...
BYURRR!
Gemuruh air memadati seluruh balairung. Belasan prajurit pengawal terombang-ambing tak berdaya ditelan luapan air yang terus naik setinggi dada. Sang kapten pasukan berusaha menerjang maju dengan langkah berat menahan arus, mencoba menjangkau Kaelen yang mengapung tenang di atas permukaan air.
"Akan kuakhiri kekacauan ini sekarang," bisik Kaelen.
Pria itu memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu memusatkan seluruh sirkulasi Aether ke kedua telapak tangannya.
SWOOOSH!
Luapan air yang memenuhi aula mendadak menyusut cepat, memusat dan terangkat naik membentuk bola air raksasa bertekanan tinggi tepat di atas kepala Kaelen. Begitu matanya terbuka, kilau biru bersinar terang dari manik matanya.
Dengan satu hentakan tangan ke depan, Kaelen melepaskan pusaran ombak raksasa tersebut meluncur deras menyapu seisi aula!
BUMMM!
Gelombang air raksasa itu menghempaskan barisan prajurit dan sang kapten menerobos keluar pintu utama istana, memburu mereka hingga terdampar kocar-kacir jauh di luar benteng gerbang.
Kaelen menyapu rambut birunya yang basah, lalu mengedarkan pandangan. "Airyn?!" serunya cemas, buru-buru menyusul ke arah tangga balkon.
Di balkon atas, pertempuran memuncak.
Grance menekan tombol rahasia di tongkatnya, memunculkan belati beracun yang berkilat tajam di ujung tongkat.
"Matilah, Monster!" serunya seraya menerjang Airyn secara membabi buta.
Airyn mengelak lincah dari sabetan belati. Melalui pertahanan fisik yang ia latih setiap pagi, Airyn memanfaatkan air terjun di sampingnya untuk memanggil jalinan air tipis yang melilit pergelangan tangan Grance.
Brak!
Dengan hentakan kencang, Airyn menghempaskan bilah pisau itu hingga terlempar jatuh ke dasar jurang. Tak memberi jeda, Airyn mengumpulkan segumpal air padat di tangannya dan menghantamkannya tepat ke dada Grance, membuat pria tua itu tersungkur ke lantai batu balkon.
Airyn melangkah maju, lalu mencengkeram leher jubah Grance hingga pria itu kesulitan bernapas.
"Kau merenggut keluarga dari hidupku... Kau merampas masa kecilku!" desis Airyn penuh emosi.
Meski napasnya tersengal-sengal dan wajahnya memucat, Grance justru menyunggingkan seringai licik.
"B-bunuh aku, Gadis Kecil... dan kau... tak ada bedanya denganku... seorang pembunuh..."
Tangan Airyn gemetar hebat di atas leher Grance. Ia sangat ingin mematahkan leher tua bangka itu. Grance mulai kehilangan kesadarannya, bayangan panti asuhan, senyum Eli, kehangatan Paman Marco, hingga petuah sang paman berputar di benak Airyn.
Perlahan, Airyn melonggarkan cengkeramannya, melangkah mundur dan melepaskan pria tua itu. Grance terbatuk-batuk hebat, meraup udara serampangan di lantai.
"Aku bukan monster pembunuh seperti dirimu," tegas Airyn dingin, menatap jijik penguasa palsu tersebut.
"Kau akan membusuk di sel tahanan dan membayar seluruh kejahatanmu pada rakyat Tidebay."
"Airyn!"
Kaelen muncul menerobos pintu balkon, buru-buru mendekat dan meneliti tubuh keponakannya. "Kau tidak apa-apa?"
Airyn langsung berhambur memeluk pamannya erat-erat. "Aku baik-baik saja, Paman."
Kaelen menatap tajam ke arah Grance yang masih terkapar memegangi lehernya. "Grance, akui kekalahanmu. Takhta ini tak pernah menjadi milikmu sejak awal!"
Kaelen memaksa Grance bangkit, mengikat tangannya rapat-rapat, lalu menggiring penguasa palsu itu turun menuju penjara bawah tanah istana untuk mengurungnya bersama sisa-sisa prajurit pengkhianat. Airyn berjalan menyertai di samping pamannya, sesekali memutar bola air kecil di jemarinya membuat para tawanan prajurit menunduk takut tak berani berkutik.
Lorong bawah tanah yang dingin dan lembap menyambut langkah mereka. Barisan sel penjara besi berjejer di sepanjang dinding batu.
"Y-Yang Mulia? Pangeran Kaelen?!" Sebuah suara wanita yang gemetar memanggil dari balik salah satu jeruji besi di depan.
Kaelen menghentikan langkahnya, menatap lekat wanita paruh baya bertubuh kurus yang sedang terbelenggu rantai di sel tersebut.
"Bibi... Bibi Lin?" Bisik Kaelen tak percaya saat mengenali paras pengasuhnya semasa kecil.
"Ya Tuhan... ini benar-benar Anda, Pangeran!" Tangis Bibi Lin pecah seraya mengulurkan tangannya yang gemetar menembus sel penjaranya. Kaelen buru-buru maju, menggenggam hangat telapak tangan wanita tua itu.
Sementara itu, Airyn mendorong Grance untuk mendekat ke arah Kaelan berada.
"Ke mana sisa prajurit tadi, Airyn?" tanya Kaelen heran karena tak lagi melihat barisan prajurit yang sebelumnya mereka giring.
"Sudah kumasukkan semua ke sel-sel sebelah sana. Sisa si tua ini," jawab Airyn santai seraya menunjuk deretan sel yang kini terkunci rapat.
"Dari mana kau dapat kuncinya?" tanya Kaelen makin terheran-heran.
"Mereka menyerahkannya sendiri... tentu setelah sedikit kugertak dengan ini." Airyn memamerkan bola air di telapak tangannya sembari tersenyum nakal.
Kaelen menggelengkan kepala terkekeh, tak menyangka keponakannya bisa bertindak secerdik dan nakal.
"Ya Tuhan... kemampuan mengendalikan air itu..." bisik Bibi Lin dari balik selnya, matanya membelalak takjub menatap keajaiban di tangan Airyn.