Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Angga begitu terkejut tat kala suara istrinya yang semula selalu lembut kini berubah bahkan lebih tinggi dari suaranya, bahkan para pembantu rumah tangga di dapur dapat mendengar teriakannya. Satu-satunya orang yang merasa senang mendengar suara teriakan itu hanyalah sopir pribadi Angga, senyum bangga tergambar di raut wajahnya.
Raisa melangkah masuk kedalam kamarnya, kali ini ia membanting pintunya dengan kuat bahkan kali ini Laluna menelan ludahnya kasar.
"Akhirnya dia melawan juga!" Batin Steven menundukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Angga kini duduk termenung diatas kursi rodanya sambil menatap halaman rumahnya yang luas, Laluna menghampirinya sambil membawa secangkir teh ditangannya.
"Jangan memikirkan wanita licik itu, kamu masih bisa menikahi wanita yang lebih baik darinya"
"Mama bisa diam tidak? Tolong tinggalkan aku sendiri" ucap Angga pada ibu kandungnya itu.
Laluna kembali kedalam rumah dalam keadaan kesal, berulang kali ia memikirkan perkataan Raisa yang meminta untuk bercerai dengan Angga, di satu sisi ia senang jika anaknya bercerai dengan Raisa, namun di sisi lain ia juga sadar kalau sampai keduanya bercerai maka media dan orang-orang yang memiliki koneksi dengannya akan semakin membenci Angga. Citra anak laki-laki pertamanya itu telah buruk setelah kabar Angga yang temperamen terhadap Raisa tersebar luas.
"Gawat, jika sampai Raisa bener-bener ingin bercerai dengan Angga maka reputasi Angga akan semakin buruk, apa kata orang-orang nanti setelah mendengar alasan Raisa bercerai dengan Angga? Tidak bisa begini, aku harus membujuk Raisa agar menunda perceraian mereka, minimal sampai salah satu dari Angga dan Steven mempunyai anak. Lagipula aku tidak yakin kalau ada perempuan yang berani menikah dengan Angga" batinnya.
***
Indra memasukkan barang-barang bawaannya kedalam mobil, ia sibuk menatap arloji ditangannya memastikan kalau ia tidak akan terlambat sampai ke kota tempat ia bekerja.
"Nak, bawalah ini juga. Untuk kamu makan di perjalanan nantinya"
Indra tersenyum saat melihat pak Suparmin membawa sekotak besar udang dan kepiting yang telah dimasak untuk ia bawa pulang.
"Pak, ternyata Bapak tidur terlambat buat masakin aku ini?"
Pak Suparmin tersenyum pada anak semata wayangnya tersebut, tak dapat dipungkirinya kalau ia begitu bangga pada anak yang ia besarkan seorang diri itu.
"Bapak senang sekali saat kamu bilang mau berkunjung kesini, Bapak sudah sangat rindu sama kamu. Masa saat kamu pulang Bapak tidak membekali apa-apa?"
"Iya, tapi Bapak kan bisa ngasih bekal yang lain, ini pasti Bapak repot banget buat masakin aku. Heummm, mana baunya wangi banget" ucap Indra memuji masakan pak Suparmin.
"Bapak yakin tidak mau ikut ke kota? Aku kan sudah beli rumah untuk kita Pak. Lagian Bapak sudah lama disini, sendirian lagi. Lebih baik ikut denganku saja, yukkk!" Tawar Indra mengajak orangtua tunggalnya tersebut untuk ikut dengannya, sebelumnya ia memang sudah mengajak pak Suparmin untuk ikut dengannya tinggal dikota namun beliau selalu menolak dengan alasan sudah nyaman tinggal di desa.
"Mungkin tahun depan ya Nak, untuk saat ini kan Bapak masih sehat, masih bisa bekerja. Nanti kalau Bapak di kota yang ada Bapak hanya berdiam diri dirumah dan akhirnya hanya akan menambah berat badan Bapak saja"
"Hah? Hahahahah, Bapak bisa aja. Kan Bapak bisa olahraga, jalan-jalan pagi atau sore. Ngga akan gemuk berlebihan lah Pak" ucapnya namun pak Suparmin tetap menolak.
"Yasudah Pak, lain kali kalau ada libur biar Indra yang datang buat nemuin Bapak. Bapak kerjanya hati-hati ya, jangan terlalu capek. Sesekali Bapak harus beristirahat penuh di rumah atau keluar ke arah kecamatan bersama teman-teman Bapak. Indra pamit ya Pak"
"Iya Nak, hati-hati. Kabarin Bapak kalau kamu sudah sampai atau kalau ada apa-apa, yah Nak!"
"Pasti Pak!"
Indra lalu berpamitan pada pak Suparmin kemudian mobilnya melaju meninggalkan kota kelahirannya tersebut, sambil bersiul ia mengemudikan mobilnya dengan santai, sesekali ia tersenyum menatap foto yang ia masukkan kedalam gantungan kunci diatas cermin kecil diatas kepalanya, foto kebersamaannya dengan ayah kandungnya tersebut.
"Kira-kira aku sampai ke rumah jam berapa ya? Mudah-mudahan jalanan tidak macet, atau ngga aku bisa sampai dirumah larut malam" ucap Indra pada dirinya sendiri.
Ia memutar musik untuk menemani perjalanannya agar tak terasa membosankan, tiba-tiba ponselnya berdering, ia melirik layar benda pipih itu, ia menggulir layar ponselnya dan mendapati sebuah notifikasi tentang seorang wanita paruh baya yang berkarier sebagai pelatih modeling. Wanita yang melahirkannya juga meninggalkannya setelah mengetahui kalau pak Suparmin kehilangan sebagian besar harta kekayaannya lima belas tahun lalu. Sejak saat itu ia meninggalkan anak dan suaminya dan pada akhirnya Indra kehilangan sosoknya, beruntung pak Suparmin tetap mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai orang tua meskipun ia harus membawa Indra jauh dari pusat kota tempat mantan istrinya tersebut berkarier. Namun setelah Indra lulus dari bangku sekolah dan melanjutkan studinya ia memutuskan untuk kuliah di kota lalu bekerja disana untuk menyambung hidup yang lebih baik.
"Heummm, kenapa notifikasi seperti ini selalu muncul di sini. Aku benar-benar tidak mau melihatnya lagi" batin Indra yang kembali meletakkan ponselnya di kursi yang lainnya.
***
Steven pamit pada Laluna untuk menemui Arni kerumahnya, sekaligus dari sana ia akan langsung berangkat ke perasaan untuk melihat kinerja para karyawannya juga untuk menghadiri rapat kerja sama mereka dengan perusahaan lain juga para investor siang nanti.
"Ma, jangan lupa buat ingatkan Kak Angga buat menghadiri rapat siang nanti ya. Soalnya para investor akan hadir untuk membicarakan kelanjutan kerjasama kita dengan perusahaan lain" ucap Steven menitip pesan pada wanita paruh baya tersebut.
"Iya, kamu hati-hati ya. Titip salam untuk Arni dan calon mertuamu"
"Baik Ma, kalau gitu Steven berangkat ya, dahhh"
Laluna melambaikan tangannya memberangkatkan anak bungsunya pergi, saat ia berbalik ia melihat Raisa turun dari tangga bersamaan dengan Angga yang baru saja keluar dari lift, keduanya melihat satu sama lain tapi tetap cuek dengan urusan masing-masing.
"Ehhh, Laluna. Kamu mau pergi kemana berpakaian rapi begini?" Tanya Laluna menghentikan langkah kaki menantunya tersebut.
Raisa memang berpakaian rapi, lengkap dengan tas tangan satu-satunya yang ia miliki.
"Kenapa Ma? Apa aku harus melaporkan atau meminta izin pada Mama kemana aku mau pergi?" Tanya Raisa menatap datar wajah ibu mertuanya tersebut.
"Ahkk, bukan begitu. Maksud Mama kamu mau pergi kemana pagi-pagi begini? Kamu mau ikut dengan Angga ke perusahaan?" Tanyanya melembutkan nada suaranya.
Raisa memutar bola matanya malas menatap suaminya yang hanya diam menatap mereka serius.
"Aku mau beli ponsel baru, yang kemarin sudah RUSAK dan HILANG" jawabnya menekan kata rusak dan hilang sambil menatap suaminya lalu tersenyum.
"Uhukkk uhukkk uhukkk" Laluna menoleh saat tiba-tiba Angga batuk tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Eumm, gimana kalau Angga saja yang mengantarmu? Iya kan Angga?"
"Iya, boleh kalau dia mau, Ma" jawab Angga gugup sembari menunggu sopirnya menghampirinya untuk membawanya keluar.
Tapi sebelum sopir pribadi Angga bergerak membawanya pergi Raisa segera menggelengkan kepalanya.
"Makasih, tapi aku bisa sendiri" ucapnya melangkahkan kakinya kembali.
"Ehhh, tunggu Raisa"
Laluna meraih tangan Raisa membuat wanita itu harus menghentikan kembali langkah kakinya, ia juga menatap tangan Laluna yang masih menggenggam erat tangannya, wanita paruh baya itu segera menarik tangannya dari Raisa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aneh, kenapa tiba-tiba tatapannya Raisa seolah bisa berbicara?" batinnya.
"Ada apa lagi Ma? Aku buru-buru soalnya mobil usah nunggu aku di depan gerbang"
"Ohhh, iya itu. Apa, kamu, kamu punya uang?"
Raisa menaikkan juga mengerutkan keningnya dengan sempurna, tak ingin menjawab pertanyaan ibu mertuanya tersebut ia berlalu begitu saja membuat Laluna dan Angga saling menatap satu sama lain.
"Yahhh, dikacangin!"
"Tutup mulutmu!" Seru Angga menegur sopirmya tersebut.
"Kamu ini, suka sekali menggodai saya!"
"Habisnya seru!"
"KAMU INI!"