Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Matahari pagi menyingsing, pendar cahayanya menembus dinding kaca penthouse, memantul di atas permukaan marmer hitam yang sunyi.
Sienna duduk kaku di tepi dipan kayu kecil dalam kamar penyimpanan linen di lantai bawah. Hawa dingin dari lantai beton meresap perlahan melalui kain gaun seragam abu-abunya yang kusam.
Setelah dua hari dikurung di kamar utama lantai atas di bawah pengawasan ketat Dokter Leo, Nico akhirnya memerintahkan Matteo untuk menyeret Sienna kembali ke tempat asalnya, sebuah lorong sempit tanpa jendela di sudut koridor servis.
Bagi Nico, pemulihan fisik Sienna yang amat singkat itu sudah cukup. Tidak ada lagi ruang untuk berbaring di atas kasur empuk. Siksaan dan tugas-tugas fisik harus segera dilanjutkan.
Sienna menatap kedua tangannya yang terbalut perban tipis. Rasa perih akibat infeksi detergen memang sudah berkurang berkat suntikan obat dari Dokter Leo, namun luka di rusuk kirinya masih berdenyut nyeri setiap kali ia menarik napas terlalu dalam.
Pintu kamar penyimpanan linen mendadak terdorong terbuka.
Seorang wanita paruh baya bertubuh agak gempal dengan seragam pelayan berwarna biru gelap melangkah masuk tanpa mengetuk. Rambutnya disanggul ketat ke belakang, dan matanya yang kecil berkilat ketus. Di tangannya, terikat sebuah apron pelayan dan sekeranjang perlengkapan pembersih yang berat.
Nama wanita itu adalah Arleen. Ia baru saja dikirim kemarin dari agensi pelayan mewah atas rekomendasi Claudia Ophelia, dengan alasan untuk membantu mengurus kebutuhan rumah tangga penthouse Nico yang luas.
Arleen melemparkan keranjang pembersih itu ke lantai dekat kaki Sienna hingga menimbulkan suara dentangan keras.
"Bangun," perintah Arleen dengan suara ketus, sama sekali tidak menunjukkan rasa ramah. "Tuan Nicolas sudah berangkat ke kantor pusat sejak pukul enam pagi. Dan Tuan Matteo memberiku daftar pekerjaan yang harus kau selesaikan sebelum siang."
Sienna perlahan berdiri dari dipan, menundukkan kepalanya. "Baik, Bi... Saya akan memulainya sekarang."
Arleen memicingkan matanya, memperhatikan wajah pucat Sienna dengan tatapan tidak suka.
"Dengar ya," desis Arleen seraya melangkah mendekati Sienna, mengangkat telunjuknya tepat di depan hidung Sienna. "Jangan berpikir karena kau sempat berada di kamar utama Tuan Nicolas kemarin, kau bisa bersantai di sini. Tuan Nicolas sangat membencimu, dan aku tidak akan segan-segan melaporkan setiap kesalahan kecilmu pada Tuan Matteo."
"Saya paham, Bi," jawab Sienna pelan, suaranya datar dan pasrah. Ia sudah terlalu terbiasa dengan nada bicara seperti ini. Kata-kata kasar tidak lagi sanggup melukai hatinya yang telah hancur. "Apa yang harus saya kerjakan pertama kali?"
Arleen menunjuk ke arah koridor utama. "Lantai ruang kerja pribadi Tuan Nicolas di lantai bawah harus dipoles ulang. Setelah itu, kau harus mencuci seluruh pakaian kotor Tuan Nicolas dengan tangan di ruang cuci belakang. Ingat, tidak boleh memakai mesin!"
Sienna mengangguk tipis. "Baik, Bi. Saya mengerti."
Sienna menyambar keranjang pembersih yang berat itu dengan kedua tangannya yang masih dibalut perban. Rusuk kirinya langsung berdenyut nyeri saat menahan beban, namun Sienna menahan ringisannya, melangkah keluar dari kamar sempit itu menuju ruang kerja Nico.
Di balik punggung Sienna, Arleen memperhatikan langkah terseret gadis itu dengan tatapan dingin, lalu kembali menyusuri koridor servis.
...****************...
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Vance Group Tower yang megah, atmosfer di dalam ruang rapat direksi terasa sangat mencekam.
Nico duduk di kursi utama di ujung meja konferensi yang panjang. Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap, penampilannya tampak sempurna dan tak tersentuh. Sepasang mata kelabunya menatap dingin ke arah lembaran dokumen laporan keuangan kuartal kedua yang terpampang di layar proyektor.
Di sebelah kirinya, Liam Vance anak kandung Claudia sekaligus saudara tiri Nico, duduk dengan gaya bersandar yang terkesan santai namun menyembunyikan ambisi besar. Wajah Liam yang tampan dipenuhi senyum tipis yang meremehkan.
"Berdasarkan data yang ada, akuisisi saham anak perusahaan di sektor logistik mengalami penundaan selama tiga minggu," ujar Liam seraya mengetuk-ngetukkan pulpen mewahnya ke atas meja. "Ada beberapa investor asing yang merasa ragu dengan kepemimpinan tunggal Nicolas, terutama setelah beberapa rumor menyebutkan bahwa kesehatan Tuan Besar Sebastian mulai menurun."
Nico tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya. Suaranya terdengar datar namun menembus hingga ke sudut ruangan. "Investor tidak meragukan kepemimpinanku, Liam. Mereka hanya terganggu oleh bisikan-bisikan tidak berguna yang disebarkan oleh orang-orang di internal perusahaan ini yang tidak sabar ingin merebut kursi direksi."
Liam tertawa kecil, walau matanya berkilat dingin. "Aku hanya menyampaikan kekhawatiran para pemegang saham, Saudaraku. Bagaimanapun juga, Ibu sangat cemas melihatmu terlalu fokus pada urusan pribadi di penthouse sampai-sampai beberapa keputusan rapat tertunda."
Nico perlahan mendongak, menetapkan tatapan matanya yang tajam dan menusuk lurus ke arah Liam.
"Urusan pribadiku bukan konsumsi rapat direksi," desis Nico dengan nada intimidasi yang kental.
"Dan katakan pada ibumu, dia tidak perlu bersusah payah mencemaskan penthouse-ku. Fokus saja pada pemulihan Ayah jika dia memang peduli pada keluarga ini."
Para jajaran direksi lain yang duduk di sekitar meja konferensi mendadak menundukkan kepala, tidak ada yang berani menyela atau mencampuri ketegangan antara dua pewaris Vance tersebut.
Liam menyunggingkan senyum kaku, mengepalkan tangannya di bawah meja. "Tentu, Nicolas. Kita lihat saja sampai kapan kau bisa mengontrol segalanya sendiri."
Nico menutup map dokumennya dengan ketukan keras yang bergema di seluruh ruangan. "Rapat selesai. Matteo, siapkan mobil. Kita kembali ke penthouse."
...****************...
Di penthouse, waktu menunjukkan pukul satu siang.
Sienna baru saja selesai membersihkan lantai ruang kerja Nico. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Tangannya yang terluka terasa makin perih akibat gesekan kain lap dan air pembersih, sementara kakinya gemetar menahan rasa lelah yang luar biasa.
Sienna berjalan perlahan menuju area dapur utama untuk mengambil segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
Di area dapur, Arleen sedang merapikan peralatan minum kopi. Di atas meja granit hitam, tergeletak sebuah cangkir keramik antik berwarna putih dengan ukiran emas, cangkir porselen langka peninggalan mendiang ibu Nico, Christina Vance, yang sangat dijaga dan hanya boleh disentuh oleh Nico sendiri.
Mata Arleen memperhatikan Sienna yang melangkah masuk ke dapur dengan tubuh yang lesu dan tidak fokus.
"Sienna!" panggil Arleen dengan suara keras, berpura-pura kewalahan seraya memegang sebuah teko air panas. "Cepat bantu aku. Ambilkan cangkir antik Tuan Nicolas itu dan letakkan di atas nampan. Tuan Nicolas sebentar lagi pulang."
Sienna tersentak dari lamunannya. "I-iya, Bi..."
Sienna melangkah mendekati meja granit, mengulurkan tangannya yang terbalut perban untuk meraih gagang cangkir porselen mahal tersebut.
Namun, tepat saat jemari Sienna menyentuh porselen licin itu, Arleen yang berdiri di sampingnya dengan sengaja menyenggol siku kanan Sienna dengan ayunan tangannya yang kuat!
PRANG!
Suara pecahan keramik yang sangat keras bergema memecah kesunyian dapur.
Cangkir antik berukiran emas peninggalan Christina Vance itu terlempar dari meja, menghantam lantai marmer hitam, dan hancur berkeping-keping menjadi belasan pecahan tajam di dekat kaki Sienna.
Sienna membeku total. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhnya meluncur turun, membuat wajahnya berubah pucat pasi bagaikan kertas.
"Astaga Sienna!" jerit Arleen dengan suara melengking yang sangat kencang, meremas tangannya dengan raut wajah gusar. "Apa yang kau lakukan? Itu cangkir kesayangan mendiang Nyonya Christina, kau menghancurkannya!"
"T-tidak Bi..." suara Sienna bergetar hebat, air mata ketakutan langsung memenuhi pelupuk matanya. "B-bukan saya... Tadi Bi Arleen menyenggol siku saya-"
"Bicara apa kau?!" bentak Arleen dengan nada marah, menunjuk pecahan keramik di lantai. "Kau sendiri yang teledor karena tanganmu gemetar. Kau dengan sengaja merusaknya karena dendam pada Tuan Nicolas, kan?"
"Saya tidak sengaja... Demi Tuhan, Bi, saya tidak-"
Secara bersamaan pintu lift pribadi berdenting dan terbuka. Nico melangkah keluar dari kabin lift dengan raut wajah yang sangat gelap akibat tekanan rapat di kantor. Di belakangnya, Matteo dan James berjalan kaku membawa tas kerja Nico.
Langkah Nico terhenti seketika di area foyer tatkala mendengar suara jeritan Arleen dan bunyi pecahan keramik dari arah dapur.
Nico melangkah lebar menuju dapur, mata kelabunya menyipit tajam. "Ada apa ini?"
Arleen langsung berjalan terburu-buru menghampiri Nico, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Nico.
"T-Tuan Nicolas... maafkan saya Tuan,"kata Arleen dengan nada panik. "Saya sudah melarangnya, saya sudah menyuruhnya jangan menyentuh cangkir porselen peninggalan mendiang Nyonya Christina. Tapi Sienna... Sienna tetap nekat mengambilnya dan menjatuhkannya ke lantai sampai hancur!"
Mata Nico perlahan bergeser dari Arleen menuju lantai dapur.
Di sana, di atas marmer hitam yang dingin, pecahan porselen putih berukiran emas peninggalan ibunya tergeletak hancur. Dan di depan pecahan itu, Sienna berdiri gemetar hebat dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.
Atmosfer di dalam dapur itu seketika berubah menjadi mencekan. Aura membunuh yang sangat pekat meluap dari tubuh Nico.
Cangkir itu adalah salah satu dari sedikit peninggalan fisik ibunya yang tersisa di dunia ini, sebuah benda yang paling dijaga oleh Nico dengan seluruh jiwanya. Dan kini, peninggalan itu hancur di tangan wanita yang membunuh ibunya.
Nico melangkah mendekat. Setiap ketukan langkah kakinya yang berat di atas marmer terasa seperti detak jarum jam menuju vonis eksekusi.
"T-Tuan Vance..." bisik Sienna serak, dadanya naik-turun cepat oleh rasa takut yang luar biasa. "Dengarkan saya... Saya mohon, dengarkan saya dulu. B-bukan saya yang menjatuhkannya."
"Bohong, Tuan!" potong Arleen terburu-buru. "Saya melihatnya sendiri. Dia sengaja menjatuhkannya karena dia marah Tuan menyuruhnya bekerja keras hari ini."
Nico tidak mendengarkan Arleen. Matanya yang berwarna kelabu kini membara oleh amarah yang dingin dan mematikan. Pandangannya memaku lurus pada Sienna. Bagi Nico, penjelasan apa pun dari bibir seorang Sinclair adalah racun kebohongan.
Nico berhenti tepat di depan Sienna.
"Kau..." desis Nico, suaranya begitu rendah dan bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kau menghancurkan barang milik ibuku?"
"Bukan saya, Tuan Vance!" jerit Sienna, air matanya membasahi pipinya yang pucat. Ia berlutut secara refleks di atas lantai, menatap Nico dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Saya bersumpah demi nyawa saya... Bi Arleen yang menyenggol tangan saya. Saya tidak pernah berniat merusaknya."
Nico membungkuk secara mendadak. Tangannya yang kekar mencengkeram leher pakaian seragam Sienna, mengangkat tubuh kurus gadis itu secara kasar hingga Sienna dipaksa berdiri tegak di atas kakinya yang gemetar.
"Cukup dengan kebohonganmu gadis hina!" bentak Nico tepat di depan wajah Sienna. Suaranya bergema memenuhi seluruh ruangan penthouse, membuat Arleen, Matteo, dan James membeku kaku di tempatnya. "Kau dan ayahmu merebut nyawa ibuku, dan sekarang kau menghancurkan kenangan terakhir yang ku simpan darinya!"
"Maaf Tuan." Sienna tercekik, jemarinya mencoba menggapai lengan jas Nico yang mencengkeramnya tanpa celah. "Saya... tidak... melakukan... itu..."
"Kau memang makhluk beracun yang tidak tahu diri!" desis Nico, mata kelabunya dipenuhi kegelapan yang tak tertembus.
Nico menghempaskan tubuh Sienna secara kasar ke arah lantai dekat pecahan keramik.
Brak!
Sienna tersungkur jatuh. Lututnya menghantam pecahan porselen tajam di lantai. Pecahan keramik yang runcing menusuk menembus kain seragamnya, menggores kulit lutut dan telapak tangannya hingga darah segar berwarna merah pekat merembes keluar, membasahi lantai marmer hitam.
"Aaggh...!" Sienna meringis kesakitan, memeluk dadanya yang bergetar hebat. Darah menetes tipis dari luka baru di tangannya.
Arleen berdiri di sudut ruangan, menundukkan kepalanya kaku tanpa mengucap sepatah kata pun.
Nico berdiri menjulang di atas Sienna yang terkapar berdarah-darah, menatap gadis itu tanpa sedikit pun celah ampun atau rasa iba.
"Matteo! James!" perintah Nico dingin, suaranya kembali membeku bagaikan es.
"Siap, Tuan!" jawab Matteo dan James serempak, melangkah maju dengan wajah kaku.
"Seret perempuan ini kembali ke kamar penyimpanan linen di bawah!" perintahkan Nico seraya membelakangi Sienna. "Kunci pintunya dari luar dan jangan beri dia makanan atau air sampai esok malam!"
"Baik, Tuan Nicolas!"
Matteo dan James melangkah mendekat, memegangi kedua lengan Sienna yang terluka dan memaksanya berdiri. Sienna tidak lagi memiliki tenaga untuk memohon atau membela diri. Air matanya mengalir membasahi pipinya saat tubuhnya diseret keluar dari dapur, meninggalkan jejak tetesan darah tipis di atas marmer hitam.
Nico berdiri sendirian di tengah dapur yang sunyi. Tangannya yang mengepal keras bergetar pelan. Ia membungkuk, memungut salah satu pecahan kecil porselen peninggalan ibunya yang ternoda oleh tetesan darah Sienna.
Nico memejamkan matanya rapat-rapat, menekan pecahan tajam itu ke dalam genggamannya hingga kulit telapak tangannya sendiri tergores perih. Namun rasa perih di tangannya sama sekali tidak sanggup memadamkan api kebencian dalam dirinya.
...Bersambung......