NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ego yang Tersenggol

Aroma tajam antiseptik dan karbol menyengat indra penciumanku saat kesadaranku perlahan berangsur kembali. Kelopak mataku terasa amat berat untuk dibuka, seolah ada beban tak kasatmata yang menahannya.

Ketika aku memaksa mata ini terbuka sedikit demi sedikit, cahaya putih lampu ruangan membiaskan pandanganku sejenak. Hal pertama yang kutangkap adalah langit-langit berwarna putih bersih dan tiang infusan yang berdiri tegap di samping tempat tidur.

Rasa nyeri yang menusuk mendadak menjalar di leherku saat aku mencoba menelan ludah. Kering, perih, dan kaku.

“Lo udah sadar, Gi?”

Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari samping ranjang. Aku menoleh perlahan, menahan rasa ketat di kulit leherku. Di sana, Stefanie duduk di atas kursi besi dengan wajah cemas dan mata yang sedikit sembab.

“Kita... ada di mana, Sa?” tanyaku dengan suara yang keluar amat parau, hampir menyerupai bisikan.

Sasa menghela napas lega, memajukan tubuhnya dan menggenggam jemariku yang dingin. “Kita lagi di rumah sakit, Gi. Lo dirawat di sini sejak kemarin sore.”

“Rumah sakit?” Dahiku seketika berkerut, ingatan terakhirku berlarian memutar kejadian di area parkiran kampus. Bayangan cengkeraman jemari kekar Varro yang mencekik leherku hingga pandanganku menggelap mendadak berputar cepat. “Hah? Jadi gue pingsan?”

Sasa mengangguk pelan, raut wajahnya menyiratkan penyesalan mendalam. “Iya, Gi. Lo pingsan tepat setelah Kak Varro ngelepasin leher lo. Gue panik banget waktu liat wajah lo mendadak pucat dan memar kebiruan di leher lo makin kelihatan.”

Mata membelalak kaget. Kalau ini sudah hari berikutnya, berarti...

“Tunggu, Sa! Terus shift kerja gue di kafe gimana? Jam berapa sekarang? Gue gak datang kerja kemarin sore?!” tanyaku panik setengah mati.

Tubuhku refleks mencoba duduk, namun rasa pening mendadak menghantam kepalaku hingga aku kembali menyandarkan punggung.

“Tenang dulu, Gi! Jangan mendadak bangun begitu!” Sasa menahan bahuku lembut, lalu mengusap-usap punggungku untuk meredakan kepanikanku. “Soal kafe, lo tenang aja. Begitu sampai di rumah sakit kemarin, gue langsung telepon bos lo. Gue jelasin kalau lo mendadak sakit dan butuh istirahat sampai kondisi lo benar-benar pulih.”

Aku menghembuskan napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan detak jantungku yang berpacu cepat. “Oh... begitu. Makasih banyak ya, Sa.”

“Sama-sama, Gi. Udah tugas gue jaga sahabat gue sendiri,” balas Sasa seraya mengulas senyum hangat.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Pikiranku yang realistis mendadak teringat pada hal substansial lainnya: biaya perawatan. Rumah sakit swasta dengan fasilitas serba bersih seperti ini pasti memasang tarif yang sangat mahal.

Keluargaku, seorang ayah yang mengandalkan setoran taksi dan pekerjaan ibu yang hanya seorang guru honorer tidak akan pernah sanggup membayar lembaran tagihan ini.

“Tapi, Sa... kenapa lo malah bawa gue ke rumah sakit mahal kayak gini? Harusnya lo bawa gue pulang ke rumah aja,” protesku seraya memegangi keningku yang berdenyut. “Lo tahu sendiri kan, gue gak punya uang buat bayar biaya kamar dan dokter di sini?”

Sasa menatapku ragu sebelum akhirnya menjawab, “Sebenarnya... yang nyuruh bawa lo ke rumah sakit itu Kak Varro sendiri, Gi.”

“Varro?” Aku mendengus sinis, meski tenggorokanku terasa sakit saat melakukannya. “Pria iblis itu cuma takut kena masalah hukum kalau gue sampai mati di tangan dia. Tapi tetap aja, Sa, gue gak sanggup bayar tagihannya.”

Sasa memegang kedua tanganku erat-erat, mencoba menyalurkan ketenangan. “Kalau soal biaya, lo tenang aja, Gi. Gue udah cerita ke Papa kemarin malam. Papa yang bakal tanggung semua biaya rumah sakit lo sampai tuntas. Lo gak usah pikirin uang sepeser pun.”

“Mana bisa gitu, Sa?” gelengku cepat. “Ini terlalu banyak. Nanti... nanti gue ganti biayanya pelan-pelan ke Papamu, ya? Gue bisa sisihin dari gaji kafe.”

Sasa mendesah gemas mendengarnya. “Gak usah diganti, Gisella! Dengar ya, justru gue yang harusnya berterima kasih banyak sama lo. Karena keberanian lo bentak dan lawan Kak Varro kemarin, geng Starlit cuma merusak kaca mobil gue aja. Mesin, ban, dan interiornya sama sekali gak disentuh. Kalau lo gak pasang badan buat gue, mungkin mobil gue udah jadi rongsokan hancur sekarang.”

Aku menatap Sasa dengan dahi berkerut, merasa heran. “Lo serius, Sa? Dia beneran ngelepasin mobil lo gitu aja? Lo gak dipersulit atau diancam lagi sama gengnya?”

“Sama sekali enggak, Gi. Kelihatan banget Kak Varro panik sewaktu lo mendadak lemas dan pingsan di depan mata dia. Setelah dia serahin tubuh lo ke gue dan nyuruh bawa ke rumah sakit, dia langsung pergi gitu aja bareng gengnya.”

Aku menghela napas panjang, membiarkan tubuhku rileks kembali di atas kasur. Setidaknya, sahabatku aman dari teror geng motor brutal itu. “Baguslah kalau gitu...” gumamku pelan. “Berarti gue udah bisa keluar dan masuk shift kerja sore ini, kan?”

Sasa membelalakkan matanya, menatapku tak percaya. “Gisel! Badan lo itu masih lemas, leher lo masih lebam! Mending lo istirahat dulu di rumah, masuk kerjanya besok aja.”

“Gak bisa, Sa,” potongku mantap. “Gue harus tetap kerja. Uang tip dan gaji mingguan dari kafe itu sangat berarti buat bantu beli perlengkapan sekolah adik kembar gue. Gue anak pertama, Sa. Gue gak boleh lembek cuma karena lebam begini.”

Melihat keseriusan di mataku, Sasa akhirnya pasrah. Dia menghembuskan napas kalah. “Yaudah deh, kalau itu memang mau lo. Tapi ada satu syarat: nanti sore gue yang bakal antar lo ke kafe, dan malamnya gue yang jemput lo pulang ke rumah. Gak ada bantahan!”

Aku tersenyum tipis melihat tingkahnya yang sangat protektif. “Gak usah repot-repot, Sa. Gue bisa naik bus kota kok.”

“Gisel! Badan lo itu baru sembuh dari pingsan! Udah deh, ikuti aja apa kata gue kali ini, oke?” desak Sasa sambil melipat kedua tangannya di dada.

Aku menatapnya menyerah, lalu mengangguk pelan. “Oke, siap, Mama Sasa.”

“Nah, anak baik!” kekeh Sasa riang seraya mengacak-acak rambut pendekku gemas.

Di saat yang sama, ponsel pintar milik Sasa yang tergeletak di atas meja nakas berdering nyaring, menampilkan nama 'Jason' di layarnya. Wajah Sasa seketika berbinar cerah.

“Ada telepon dari Jason, gue angkat sebentar ya, Gi,” izin Sasa yang langsung kuangguki.

Sasa menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Beb?”

Dari speaker ponsel yang sedikit bocor, suara kekasihnya terdengar dari seberang sana. “Halo, Beb. Kamu lagi sibuk gak? Ketemuan di taman biasa mau gak?”

“Mau banget dong, Beb!” sahut Sasa tanpa ragu sedikit pun.

Aku yang menyaksikan ekspresi kasmaran sahabatku itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Rasa cinta memang selalu berhasil mengubah seseorang dalam sekejap.

“Yaudah kalau gitu, aku jemput kamu sekarang ya. Kamu posisi lagi di mana?” tanya Jason.

“Aku lagi di Rumah Sakit XXX, Beb. Lagi nemenin Gisel,” jawab Sasa.

“Oke, kamu siap-siap turun aja. Nanti kalau aku udah dekat area pintu utama, aku kabarin lagi ya.”

“Siap, Beb. See you!” ucap Sasa sebelum mematikan sambungan teleponnya dengan raut wajah bergelora. Tak berapa lama kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya, menandakan mobil Jason sudah mendekati area lobi.

Sasa mengemas tas kecilnya terburu-buru. “Gi, gue jalan dulu ya! Lo istirahat atau tidur dulu aja sebentar. Nanti sore jam empat tepat, gue balik ke sini buat jemput dan antar lo ke kafe, oke?”

“Oke, bye Sasa. Hati-hati di jalan,” panggilku seraya melambaikan tangan.

“Bye, Gi!” balasnya riang sebelum melangkah cepat keluar dari kamar rawat.

Sementara itu, di sebuah kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan, sore hari menyelimuti megahnya kediaman keluarga Wijaya.

Di dalam ruang tamu yang sangat luas dengan arsitektur modern minimalis, tiga sosok pria tinggi besar sedang berkumpul. Namun, suasana di dalam ruangan itu terasa sangat canggung dan hening.

Varro duduk menyandar di sofa kulit hitam. Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan kini terlihat sedikit pucat, dengan bayangan hitam tipis terukir di bawah matanya.

Brandon dan Marcel yang duduk di sofa berseberangan saling melempar pandangan penuh tanda tanya. Mereka bisa merasakan ada atmosfer berbeda yang melingkupi ketua mereka sejak kemarin malam.

“Al,” panggil Brandon memecah keheningan. Di antara anggota geng Starlit, hanya Brandon dan Marcel yang memiliki hak istimewa memanggil Varro dengan sebutan Al, singkatan dari Aldrian.

Varro tidak menyahut.

Tangannya sibuk mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, matanya menatap lurus ke arah cangkir kopi dingin di meja tanpa gairah. “Apa?”

“Gue mau tanya,” tutur Brandon dengan nada penuh rasa selidik. “Semalam lo ngapain aja sendirian di rumah? Kenapa pas gue sama Marcel mau datang main ke sini, lo malah melarang dan nyuruh kita gak usah datang?”

“Berenang,” jawab Varro singkat dan datar.

Memang benar, Varro sangat menyukai olahraga renang untuk melepas stres. Namun biasanya, ia akan selalu mengajak Brandon dan Marcel untuk bertanding. Dan yang lebih aneh, semalam Varro menghabiskan waktu berjam-jam menyelami dinginnya air kolam hingga subuh tiba, membiarkan otaknya kelelahan secara fisik hanya demi satu tujuan: menghapus bayangan mata seorang gadis yang dicekiknya kemarin sore.

Gadis berambut pendek bernama Gisella itu. Bayangan wajahnya yang pucat, bibirnya yang gemetar menahan sakit, namun matanya yang menatap Varro tanpa rasa takut sedikit pun, bahkan sempat melemparkan senyum ejekan sebelum pingsan, terus berputar memadati pikiran Varro tanpa henti. Tidak ada satu pun wanita yang pernah menatap Varro seperti itu.

Marcel memajukan tubuhnya, menatap Varro curiga. “Loh? Berenang kok sendirian? Ayo ngaku, lo semalam habis ngapain aja sebenarnya sampai muka lo sepucat ini?”

Varro mendelik dingin pada Marcel. “Lo berdua berisik banget.”

“Lo yang aneh duluan, Al,” sahut Marcel tak mau kalah. “Biasanya kalau lo ada masalah atau lagi emosi, lo bakal pelampiasan bareng kita. Tapi sekarang lo malah nutupin sesuatu. Ada apa, sih?”

Varro menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, memejamkan mata sejenak. “Kalau gue gak cerita, berarti masalahnya gak penting buat lo berdua tahu.”

Brandon membetulkan kacamata tipisnya, menatap Varro tajam. “Kalau gak penting, kenapa lo gak serahin aja ke anak-anak Starlit buat bereskan? Kenapa harus lo pusingin sendiri?”

Varro menghembuskan napas berat, lalu membuka matanya dan menatap kedua sahabatnya secara bergantian. “Kali ini masalahnya beda. Emang lo berdua bisa bantu selesaiin? Bukannya tiap malam kerjaan lo berdua cuma nongkrong di bar, minum-minum sama cewek-cewek?”

Marcel tergelak pelan mendengar sindiran itu, lalu berpindah duduk tepat di samping kanan Varro. “Wah... mulut lo pedas juga ya sore ini. Bentar... lo ngomongin soal cewek begini, apa jangan-jangan ketua Starlit yang dingin ini udah mulai tertarik sama cewek, Bro?”

TAK!

Varro refleks menjitak kening Marcel dengan cukup keras. “Otak lo geser, ya?! Gue cuma ngingetin kelakuan lo berdua yang makin gak jelas!”

“Aish! Sakit, Al!” ringis Marcel seraya mengelus keningnya yang memerah.

Brandon ikut berdiri dan berpindah duduk di samping kiri Varro, mengepung ketua mereka dari kedua sisi. “Oke, becandanya tahan dulu. Sekarang cerita, Al. Lo gak bakal bisa sembunyiin apa pun dari gue dan Marcel. Soal cewek yang kemarin di parkiran itu, kan?”

Varro terdiam sejenak. Jemari tangannya saling bertaut di atas paha. Semalam, setelah kembali dari parkiran dalam keadaan kacau, Varro memerintahkan salah satu anak buahnya untuk melacak seluruh latar belakang informasi mengenai Gisella Vanessa Setiawan. Dan hasil laporan yang diterimanya tadi pagi sungguh membuat ego tingginya terusik hebat.

Gisella hanyalah putri dari seorang sopir taksi dan guru SD. Hidup dalam keterbatasan ekonomi, tinggal di pemukiman padat, dan bergantung sepenuhnya pada beasiswa untuk bisa berkuliah.

Secara status sosial, Gisella berada jauh di bawah telapak kakinya. Pria itu bisa menancapkan kekuasaan dan menghancurkan hidup gadis itu dalam satu kedipan mata.

Namun, kenyataan itu justru melahirkan sebuah tanda tanya besar yang meracuni pikiran Varro sepanjang hari.

Varro menoleh pelan menatap Brandon, lalu beralih ke Marcel dengan tatapan dalam dan penuh kebingungan yang nyata.

“Menurut lo berdua...” suara Varro terdengar berat dan pelan, “kenapa ada orang yang gak punya apa-apa... orang miskin yang gak punya kekuasaan sama sekali... tapi punya keberanian buat menantang dan melawan orang yang punya segalanya?”

Brandon dan Marcel seketika bungkam, terpaku menatap keseriusan di mata Varro yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!