NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Entah mengapa, Samudra terlihat sangat terburu-buru ingin berbicara denganku. Perubahan jadwal yang mendadak ini membuat instingku berteriak bahaya.

Aku menatap Ibu dengan tatapan memohon, meski dalam hati aku tahu ini satu-satunya jalan keluar agar Ibu tidak ikut terseret dalam kemarahan atau kecurigaan Samudra.

"Ibu lanjutkan saja salonnya," kataku pelan, mencoba tersenyum tipis untuk menenangkannya. "Biar El pulang sendirian saja. Tidak papa kok."

Ibu tampak ragu, matanya menyiratkan kekhawatiran mendalam. Tapi dia tahu, membantah perintah Samudra, bahkan secara tidak langsung bukanlah pilihan bijak.

"Iya, Nduk. Hati-hati ya," bisik Ibu akhirnya, sambil meremas tanganku sebentar sebagai tanda kasih sayang dan peringatan sekaligus. "Jangan buat Bapak marah."

Aku mengangguk, lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruang VIP salon itu. Pak Hendra sudah menunggu di mobil. Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada biasanya, mungkin karena kecemasan yang mencekam dadaku.

Sesampainya di rumah, aku bersyukur melihat garasi masih kosong. Mobil Samudra belum ada. Artinya, dia belum datang. Ini memberiku waktu beberapa menit untuk menyiapkan mental.

Aku tidak langsung naik ke kamar. Sebaliknya, aku duduk di salah satu sofa di ruang tamu, punggung tegak, tangan diletakkan rapi di atas pangkuan. Aku ingin terlihat patuh. Aku ingin terlihat siap. Jika dia mencari alasan untuk marah, aku tidak akan memberikannya dengan sikap yang kurang ajar.

Hening. Hanya suara jam dinding besar yang berdetak pelan. Tik. Tik. Tik. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju vonis.

Lima belas menit kemudian, terdengar suara mesin mobil berat di halaman depan. Pintu gerbang terbuka. Dan tak lama setelah itu, pintu utama dibuka dengan agak kasar.

Dug. Dug. Dug.

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah ringan, tapi langkah berat orang bertubuh besar yang menyeret kakinya sedikit karena beban tubuhnya.

Jantungku berdegup kencang, tapi aku memaksakan diri untuk tetap diam di tempat duduk.

Sosok itu muncul di ambang ruang tamu. Samudra.

Kali ini, dia tidak mengenakan jas kantornya. Dia hanya memakai kemeja putih yang terlihat sesak di bagian perutnya. Kancing-kancingnya seolah berjuang menahan timbunan lemak di perut buncitnya yang menonjol jelas. Lengan kemejanya digulung asal-asalan, memperlihatkan lengan yang besar, berdaging, dan berurat, tapi bukan otot atletis—melainkan lengan pria paruh baya yang jarang olahraga tapi memiliki kekuatan kasar. Wajahnya bulat, berkeringat sedikit, dengan jenggot tipis yang mulai memutih.

Dia berjalan mendekat, napasnya sedikit berat karena baru saja turun dari mobil dan berjalan masuk. Matanya yang kecil namun tajam menatapku dari balik kacamata bacanya yang tergantung di leher.

"Sudah di sini ya?" suaranya berat, serak, dan terdengar lelah namun penuh otoritas.

Aku menunduk hormat. "Iya, Pak. El menunggu Bapak."

Samudra berhenti tepat di depanku. Dia tersenyum, senyum lebar yang membuat lipatan-lipatan di pipinya terlihat jelas. Senyum yang tidak mencapai matanya yang dingin.

"Anak pintar," ucapnya sambil tertawa kecil, suara yang terdengar basah.

Tiba-tiba, tangannya terulur. Tangannya yang besar, gemuk, dan berkeringat menyentuh puncak kepalaku, lalu membelai rambutku dengan gerakan lambat dan lengket. Sentuhan itu terasa menjijikkan. Ada bau keringat bercampur parfum mahal yang menyengat dari tubuhnya. Bulu kudukku merinding bukan karena takut pada kekerasan fisik, tapi karena rasa jijik yang mendalam terhadap sentuhan pria tua yang seharusnya menjadi ayah tiriku ini.

Aku menahan diri untuk tidak menghindar, meski setiap serat ototku ingin lari menjauh dan mandi sepuas-puasnya. Aku hanya bisa mematung, menatap lantai marmer di bawah kakiku, sementara jari-jari tebal Samudra terus bermain-main dengan helai rambutku.

"Kamu tahu kenapa Ayah memanggilmu pulang cepat hari ini, Angela?" tanyanya tiba-tiba, suaranya berubah menjadi lebih rendah dan berbahaya. Napasnya yang berbau kopi dan rokok menghembus ke arah wajahku.

Aku menggeleng pelan, tenggorokanku terlalu kering untuk berbicara.

Samudra tertawa lagi, kali ini lebih keras. Dia menarik tangannya, lalu mengusap keringat di dahinya dengan lengan kemejanya. Dia berjalan mengelilingi sofa dengan langkah seperti orang mabuk, lalu ambruk duduk di kursi tunggal di seberangku. Kursi itu berderit protes menampung bobot tubuhnya yang besar.

"Duduklah yang nyaman, Nak. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan. Tentang masa depanmu... dan tentang siapa sebenarnya dirimu di mata dunia."

Matanya menatapku lekat-lekat, seolah sedang menimbang harga jual seekor ternak.

Samudra menggeser posisinya di kursi empuk itu. Pegas kursi berderit nyaring, menampung bobot tubuhnya yang besar. Dia menyandarkan punggungnya, lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

Dia melempar amplop itu ke atas meja kopi di antara kami. Thud.

"Buka," perintahnya singkat. Suaranya berat, serak, dan terdengar lelah namun penuh otoritas.

Tanganku gemetar saat meraih amplop itu. Kertasnya terasa kasar dan dingin. Dengan jari-jari yang kaku, aku membuka segelnya dan mengeluarkan isinya.

Bukan uang. Bukan surat cinta.

Itu foto-foto.

Foto-foto aku.

Ada foto saat aku sedang berdiri di balik counter coffee shop, wajahku terlihat lelah tapi cantik dalam kesederhanaan. Ada foto saat aku berjalan pulang melewati lorong-lorong sempit di dekat Pasar Baru, membawa tas belanjaan plastik. Ada foto saat aku duduk di bangku kayu tua di pinggir pasar, makan nasi bungkus sendirian sambil menunggu ojek online. Dan yang paling membuat darahku membeku... ada foto close-up wajahku saat aku sedang tertawa lepas bersama teman-teman kerjaku di cafe.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Udara di paru-paruku terasa habis.

"Dari mana..." suaraku tercekat, hampir tak terdengar.

Samudra tertawa. Suara tawanya berat, bergema di dada buncitnya yang naik turun karena napasnya yang pendek. Dia mengambil gelas air di sampingnya, meneguknya habis, lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan yang gemuk dan berkeringat.

"Kamu pikir kamu tidak terlihat, Angela?" ucapnya pelan, matanya yang kecil namun tajam menatapku dari balik kacamata bacanya. "Ayah memperhatikan setiap langkahmu. Sejak pertama kali ibumu memperkenalkan kamu padaku... Ayah sudah tahu."

"Ayah... tahu apa?" tanyaku, suaraku bergetar hebat.

Samudra tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya, tapi penuh dengan kelaparan yang tersembunyi. Dia berdiri, langkah kakinya gontal mendekatiku. Kursi di belakangnya dibiarkan kosong. Dia berdiri tepat di depan sofa tempatku duduk, bayangan tubuhnya yang besar menutupi cahayaku.

"Ayah tahu bahwa kamu terlalu berharga untuk hidup di pasar yang kotor itu," bisiknya. Napasnya yang berbau kopi dan rokok menghembus ke arah wajahku. "Terlalu berharga untuk menjadi pelayan cafe. Kamu... kamu seharusnya berada di sini. Di rumah ini. Di sisiku."

Aku mundur, punggungku menabrak sandaran sofa. "Pak... El adalah putri Ibu. Bapak adalah ayah tiri El."

Samudra tertawa lagi, kali ini lebih rendah dan berbahaya. Dia membungkuk, kedua tangannya yang besar dan gemuk mencengkeram sandaran sofa di sisi kiri dan kanan kepalaku, mengurungku. Wajahnya yang bulat dan berkeringat sangat dekat hingga aku bisa melihat pori-pori kulitnya yang kasar.

"Ayah tiri..." gumamnya, seolah mengecap kata itu dengan rasa jijik. "Hanya sebuah label, Angela. Sebuah formalitas agar Ayah bisa memiliki alasan hukum untuk membawamu keluar dari kemiskinan itu. Agar Ayah bisa menyentuhmu... tanpa dicurigai orang."

Tangannya yang satu terlepas dari sandaran sofa, lalu dengan lambat, jari-jarinya yang tebal dan hangat mengusap pipiku. Sentuhan itu lengket karena keringatnya, menjijikkan, tapi aku terpaku karena ketakutan.

"Ibumu... dia wanita baik. Tapi dia bosan. Dia hanya menginginkan kenyamanan finansial," lanjut Samudra, suaranya semakin serak. "Sedangkan kamu... kamu muda. Kamu segar. Kamu punya api di matamu yang Ayah ingin padamkan... atau mungkin, Ayah ingin menyalakannya dengan cara Ayah sendiri."

Air mata mengalir deras di pipiku. "Jangan... Pak, tolong..."

"Sstt..." Samudra meletakkan jari telunjuknya yang gemuk di bibirku, membungkam protesku. "Jangan menangis. Air matamu membuatmu semakin cantik. Tapi jangan coba-coba lari ke pria lain. Seperti Lucas Blackwood itu."

Mata Samudra menyipit berbahaya saat menyebut nama Lucas.

"Ayah tahu kamu bertemu dengannya," katanya dingin. "Dan Ayah tidak suka. Sangat tidak suka. Pria seperti dia... dia tidak pantas menyentuh harta milik Ayah."

Harta milik Ayah.

Kalimat itu menusuk hatiku lebih sakit daripada pukulan fisik. Baginya, aku bukan manusia. Aku adalah objek. Koleksi.

"Mulai hari ini," lanjut Samudra, menarik jarinya dari bibirku dan membelai daguku dengan kasar, "kamu berhenti bekerja di cafe itu. Ayah akan memberimu uang saku bulanan yang cukup untuk membeli seluruh cafe itu jika kamu mau. Tapi syaratnya..."

Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi, hingga hidung kami hampir bersentuhan. Bau badannya yang asam dan manis sekaligus membuatku mual.

"Kamu harus tinggal di rumah ini. Selalu. Di bawah pengawasan Ayah. Tidak ada lagi pertemuan rahasia. Tidak ada lagi laki-laki lain. Hanya Ayah yang boleh melihat kecantikanmu. Hanya Ayah yang boleh memilikimu."

Dia menarik diri perlahan, menatapku dengan puas melihat kehancuran di mataku.

"Pikirkan baik-baik, Angela. Menolak berarti menyakiti perasaan Ayah. Dan kamu tahu... Ayah tidak suka disakiti. Ibumu juga akan menderita jika kamu membuat Ayah marah."

Tanpa menunggu jawaban, Samudra berbalik badan, berjalan gontal menuju tangga dengan napas yang masih berat. Di anak tangga terakhir, dia berhenti dan menoleh sekilas.

"Malam ini, makan malam di kamar Ayah. Jangan terlambat."

Dia menghilang ke lantai atas, meninggalkan aku yang terduduk lemas di sofa, menggenggam erat foto-foto bukti pengintaian itu, sementara dunia di sekelilingku terasa semakin sempit, gelap, dan menyeramkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!