NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.

Memilih Teman Dari Hati

Rara hanya melirik sekilas lalu segera memalingkan wajah kembali ke bukunya seolah tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Laras. Ia memilih diam dan tidak menjawab sepatah kata pun karena sudah terlalu sering dijahati dan kecewa. Dalam hatinya Rara menyadari kalau teman baru di kelas ini ternyata memang tidak bisa dikasih hati yang baik dan selalu salah mengartikan kebaikan sebagai kelemahan. Ia berjanji pada diri sendiri untuk mulai menjaga jarak dan tidak lagi mudah percaya pada orang yang belum tentu tulus bersahabat dengannya.

Laras terdiam bingung menatap punggung Rara yang kaku dan tidak mau menoleh sedikit pun. Ia menyadari kalau kata maaf barusan seolah melayang begitu saja tanpa ditangkap sama sekali. Rasa menyesal tadi perlahan berganti dengan rasa canggung namun Laras tidak berani memanggil Rara lagi karena takut semakin ditolak kasar. Ia akhirnya kembali ke bangkunya dengan perasaan campur aduk menyadari bahwa memperbaiki hubungan yang sudah rusak ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkan kata maaf.

Langkah yang Berbeda

Rara mengangguk pelan seolah mengerti maksud ucapan Laras tadi, namun matanya tetap menatap lurus ke depan tanpa ada senyum sedikit pun di wajahnya. Ia sengaja tidak menjawab panjang lebar atau menunjukkan kemarahan yang berlebihan. Dalam hatinya Rara berpikir ia tak mau Dimas atau siapa pun di kelas ini menganggapnya sebagai perempuan yang kasar atau suka membalas kejahatan dengan kejahatan lain. Lebih baik diam dan menjaga sikap daripada menambah masalah baru yang justru membuat dirinya terlihat buruk di mata orang lain. Meski hatinya masih terasa perih dan kecewa berat, ia memilih menelan semua rasa itu sendirian.

Laras yang menunggu jawaban hanya diam terpaku melihat sikap Rara yang begitu dingin dan tertutup. Ia berharap setidaknya ada satu kata balasan yang menunjukkan kalau Rara sudah tidak marah lagi, tapi kenyataannya Rara seolah menutup rapat pintu hatinya dan tidak ingin berurusan lagi dengannya. Akhirnya Laras pun memutuskan untuk kembali duduk di bangkunya sendiri dengan perasaan yang makin bingung dan tidak tenang.

Bel istirahat pertama berbunyi nyaring dan membuat suasana kelas yang tadinya hening berubah menjadi riuh kembali. Beberapa siswa langsung berlarian menuju kantin, sementara yang lain berkerumun di depan papan pengumuman di sudut lorong sekolah. Rara dan Aisyah berjalan beriringan menuju tempat itu karena mendengar ada pengumuman penting yang baru saja ditempel.

"Ada apa ya yang baru ditempel?" tanya Aisyah sambil berusaha menyelinap di antara kerumunan siswa.

"Katanya soal pentas seni sekolah bulan depan," jawab salah satu teman sekelas yang kebetulan lewat.

Sesampainya di depan papan mading, Rara membaca tulisan besar yang tertulis di kertas pengumuman itu. Ternyata benar sekolah akan mengadakan pentas seni besar sebagai puncak peringatan hari ulang tahun sekolah. Ada berbagai jenis lomba mulai dari menyanyi, menari, drama, hingga pembacaan puisi. Dan yang paling menyenangkan tertulis jelas di bagian bawah bahwa siswa diperbolehkan membentuk kelompok sendiri sesuai keinginan tanpa ditentukan oleh guru.

"Alhamdulillah bisa pilih teman sendiri," ucap Rara lega sambil menatap Aisyah. "Kalau begitu kita bisa satu kelompok berdua saja atau cari teman lain yang nyaman dan mau bekerja sama dengan baik."

Aisyah tersenyum setuju. "Iya seneng banget. Aku juga sudah berpikir begitu. Kita cari yang sama-sama mau serius mengerjakan dan tidak suka bikin drama tidak perlu."

Mereka berdua segera berjalan menjauh dari kerumunan dengan perasaan lega. Rara merasa beban di dadanya sedikit berkurang karena setidaknya untuk kegiatan ini ia tidak perlu dipaksa satu kelompok dengan orang yang membuatnya tidak nyaman. Ia berjanji pada diri sendiri akan memilih teman yang tulus dan bisa dipercaya.

Berita tentang pembentukan kelompok bebas itu pun cepat menyebar ke seluruh penjuru kelas. Beberapa siswa langsung sibuk mengajak teman dekatnya. Dimas, Arga, dan Bima segera berdiskusi di sudut kelas dengan wajah bersemangat.

"Kita ikut lomba pertunjukan musik atau baca puisi aja ya?" tanya Arga sambil menepuk pundak Dimas.

"Gimana kalau drama pendek? Kita pernah latihan bareng waktu SMP kan lumayan bisa," usul Bima.

Dimas mengangguk setuju. "Boleh juga. Tapi kalau drama butuh anggota lain juga kan? Kita bertiga saja belum cukup."

Sementara itu Laras dan Citra yang juga baru saja membaca pengumuman itu langsung berbicara dengan antusias.

"Asyik bebas pilih teman! Berarti kita berdua pasti satu kelompok kan?" tanya Citra sambil merangkul lengan Laras.

"Tentu saja sayang. Lagian siapa lagi yang cocok sama kita selain kita berdua," jawab Laras percaya diri. Namun matanya tak sengaja melirik ke arah Dimas dan teman-temannya. Hatinya kembali bergejolak ingin sekali bergabung dengan mereka tapi ia tahu itu tidak mungkin terjadi sekarang. Apalagi setelah kejadian kemarin di perpustakaan dan sikap Rara yang dingin, ia tidak berani melangkah lebih jauh.

Siang harinya saat jam istirahat kedua Rara dan Aisyah duduk tenang di meja pojok kantin sambil menyusun rencana. Mereka memutuskan untuk mengikuti lomba baca puisi berdua atau mencari satu teman lagi yang pandai berbicara di depan umum. Beberapa teman lain sempat mendekat dan mengajak bergabung namun Rara tetap memilih berhati-hati sebelum memutuskan.

Tak lama kemudian terlihat Laras berjalan sendirian menuju meja mereka. Langkahnya ragu-ragu seolah takut ditolak lagi. Ia berhenti tepat di depan meja itu dan menarik napas panjang sebelum berbicara pelan.

"Ra Aisyah boleh nanya sebentar nggak?" tanyanya pelan.

Rara hanya menatap sekilas lalu kembali menunduk melihat makanannya tanpa menjawab. Aisyah yang melihat kebingungan itu akhirnya menjawab mewakili. "Ada apa Lar?"

"Kalian sudah punya kelompok untuk pentas seni belum? Kalau belum boleh nggak aku ikut? Aku janji bakal bantu sebaik mungkin dan nggak akan bikin masalah lagi," ucap Laras dengan wajah memelas.

Rara menggeleng pelan. "Maaf Lar kita sudah sepakat cari teman yang sama-sama kita kenal dan nyaman. Lagian kamu kan sudah sama Citra kan? Lebih baik kamu sama dia saja."

"Tapi Citra mau ikut lomba menari dan aku nggak bisa menari. Aku bingung mau masuk ke mana lagi," jelas Laras dengan suara hampir berbisik. Ia berharap sekali Rara mau mengizinkannya bergabung karena ia sadar di kelas ini hanya Rara dan Aisyah yang memiliki ketenangan hati yang ia butuhkan saat ini. Namun Rara tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak mau memaksakan diri untuk berbaikan begitu saja luka di hatinya belum sembuh sama sekali.

"Kita nggak bisa memutuskan sekarang Lar. Pikirkan saja pelan-pelan dan cari teman lain yang lebih cocok. Semoga kamu dapat kelompok yang terbaik ya," ucap Rara singkat lalu kembali melanjutkan makannya.

Laras tersenyum kecut lalu berjalan pergi dengan langkah gontai. Ia menyadari bahwa memperbaiki kesalahan tidak semudah membalikkan telapak tangan dan kebaikan yang datang terlambat sering kali sudah tidak dihargai lagi. Namun ia tidak menyalahkan Rara. Ia tahu sepenuhnya itu adalah akibat dari sikapnya sendiri yang dulu terlalu keras dan suka menyakiti hati orang lain.

Di sudut lain kelas Bu Ratna berkeliling melihat perkembangan pembentukan kelompok. Ia tersenyum melihat antusiasme siswa namun juga menyadari ada yang masih tampak bingung dan kesepian. Ia mendekati Laras yang duduk sendirian.

"Belum dapat kelompok Nak?" tanyanya lembut.

Laras mengangguk malu. "Belum Bu. Teman-teman sudah pada memilih dan saya takut salah pilih."

"Jangan takut untuk mencoba berubah dan mendekat dengan sikap yang tulus. Waktu akan menjawab siapa yang pantas menjadi temanmu. Tetap semangat ya," nasihat Bu Ratna sambil menepuk bahu Laras pelan.

Sore itu saat pulang sekolah Rara berjalan bersama Aisyah dengan perasaan tenang. Ia tidak merasa bersalah menolak ajakan Laras karena ia tahu batas kesabaran juga ada batasnya. Ia berharap Laras bisa mengerti dan belajar untuk lebih menghargai orang lain di masa depan. Untuk saat ini Rara hanya ingin fokus pada persiapan pentas seni dan menjaga hati serta pikirannya agar tetap damai tanpa harus memikirkan orang yang belum tentu tulus kepadanya.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!