Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4: Masih Kepikiran
Kini hari mulai pagi, sinar matahari mulai menembus celah-celah jendela Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat. Aktivitas para perawat kembali seperti biasa.
Namun berbeda dengan Nadira, ia terlihat beberapa kali melamun. Pikirannya masih dipenuhi berkas medis Adrian yang ia baca semalam.
"Kenapa kamu melamun?" ucap Siska tiba-tiba.
Ucapan Siska membuat Nadira tersentak. "Hah? Oh... tidak apa-apa."
Siska tersenyum kecil. "Kamu pasti kepikiran pasien baru itu, ya?"
Nadira hanya mengangguk pelan. "Aku merasa... ada sesuatu yang tidak beres."
Siska langsung menggeleng. "Sudah lah jangan terlalu dipikirkan. Semua keputusan pasien yang masuk ke rumah sakit ini sudah melalui pemeriksaan dokter spesialis."
"Iya kamu benar," jawab Nadira sambil mengangguk. Meski mengangguk, hati Nadira tetap tidak merasa tenang.
***
Di ruang observasi, kelopak mata Adrian bergerak pelan. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya. Pandangannya masih buram. Ia mencoba mengangkat tangan, tetapi tubuhnya terasa begitu lemas.
"Syukurlah... kamu sudah sadar." Suara lembut itu membuat Adrian menoleh.
Nadira sedang berdiri di samping ranjang sambil memeriksa infusnya. "Kamu sempat pingsan semalam. Aku sangat khawatir."
Adrian menatap wajah Nadira tanpa berkedip. Kini ia melihat kekhawatiran yang benar-benar tulus dari seseorang.
Nadira mengambil segelas air, lalu menyodorkannya pada Adrian. "Sebaiknya kamu minum dulu, sedikit saja."
Adrian berusaha mengambilnya dan Nadira membantunya duduk perlahan, lalu ia menyodorkan gelas ke bibir Adrian dan Adrian meminumnya beberapa teguk.
"Tubuhmu masih sangat lemah. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu boleh memberi tahu aku."
Bibir Adrian bergerak pelan, suara seraknya hampir tak terdengar. "Terima... kasih."
Nadira membeku, matanya membulat. "Hah... kamu, kamu bisa bicara?"
Adrian seolah baru menyadari apa yang ia lakukan.
Ia segera menundukkan kepala dan kembali diam.
Nadira justru tersenyum lebar. "Syukurlah... akhirnya kamu mau bicara juga."
Baginya, dua kata itu adalah tanda bahwa kondisi Adrian mulai membaik. Namun Adrian memiliki alasan lain. Ia hanya tidak ingin wanita itu terus merasa cemas.
Tak lama kemudian, Dokter Bima masuk ke ruang observasi. Melihat Adrian sudah sadar, wajahnya tampak lega.
"Bagaimana keadaanmu?"
Adrian tidak menjawab.
Dokter Bima kemudian memeriksa tekanan darah dan denyut nadinya. "Hasilnya mulai membaik."
Nadira yang berada di sampingnya ikut tersenyum. "Berarti dia sudah boleh kembali ke kamarnya, Dok?"
Dokter Bima mengangguk. "Boleh, tapi tetap dalam pengawasan."
Saat hendak pergi, tanpa sengaja map kecil milik Adrian terjatuh dari tangan Dokter Bima. Beberapa lembar hasil laboratorium berserakan di lantai.
Nadira membantu memungutnya. Saat itulah matanya menangkap selembar formulir yang berbeda. Di pojok kanan atas tertulis jelas... RAHASIA. Di bawahnya terdapat kalimat yang membuat jantung Nadira berdetak lebih cepat.
"Pasien tidak diperbolehkan menjalani evaluasi ulang tanpa persetujuan Direktur."
Nadira mengernyit. "Kenapa harus ada larangan evaluasi ulang?"
Belum sempat ia membaca lebih jauh, Dokter Bima dengan cepat merebut kembali berkas itu. "Itu dokumen internal. Suster Nadira, jangan dibaca."
"Maaf, Dok."
Meski mengangguk, rasa penasarannya justru semakin besar. Sepanjang lima tahun bekerja di rumah sakit itu, baru kali ini ia melihat aturan seperti itu.
***
Di sisi lain kota...
Miranda Mahendra sedang menikmati sarapan bersama putranya, Dimas. Seorang pria berjas hitam datang menghampiri meja makan.
"Nyonya. Tuan Adrian sudah sadar."
Sendok di tangan Miranda berhenti bergerak. "Sudah sadar." Wajah Miranda langsung berubah dingin. "Kalau begitu... kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Dimas mengangkat wajahnya. "Maksud Mama?"
Miranda tersenyum tipis, tetapi sorot matanya dipenuhi niat buruk. "Kalau Adrian terus membaik, cepat atau lambat akan ada orang yang mulai mempertanyakan kondisinya. Dan itu tidak boleh terjadi." Miranda menatap pria berjas itu. "Siapkan rencana kedua."
Pria itu mengangguk hormat. "Baik, Nyonya."
***
Setelah memastikan kondisi Adrian stabil, Dokter Bima mencabut infus dari punggung tangannya. "Tekanan darahmu sudah mulai normal."
Adrian hanya mengangguk pelan.
Dua orang petugas kemudian datang mendorong kursi roda. "Pasien akan dipindahkan kembali ke Bangsal Mawar."
Sebenarnya Adrian masih mampu berjalan. Namun sesuai prosedur rumah sakit, pasien yang baru sadar setelah pingsan harus menggunakan kursi roda.
Nadira berdiri di belakang kursi itu. "Biar aku saja yang mengantarnya."
Ia mendorong Adrian menyusuri lorong rumah sakit. Sepanjang perjalanan, tak satu kata pun keluar dari bibir mereka. Namun Nadira beberapa kali melirik wajah Adrian. Pria itu tampak jauh lebih pucat dibandingkan saat pertama kali datang.
"Apa kamu masih pusing?" tanyanya pelan.
Adrian menoleh sebentar, lalu mengangguk.
"Nanti kalau masih pusing... bilang padaku, ya."
Suara Nadira terdengar begitu tulus hingga membuat hati Adrian kembali menghangat. Sesampainya di kamar nomor tujuh, Nadira membantu Adrian duduk di tepi ranjang.
"Aku akan mengambil bubur dulu. Kamu belum makan sejak semalam."
Tak lama kemudian, Nadira kembali membawa semangkuk bubur hangat. Ia duduk di kursi seperti biasa.
"Ayo, makan."
Adrian menggeleng pelan.
"Kamu harus makan, tubuhmu butuh tenaga."
Melihat Adrian tetap diam, Nadira kembali mengambil sendok. "Kalau begitu, aku suapi."
Dengan sabar ia menyuapkan bubur sedikit demi sedikit. Adrian akhirnya menurut, sesekali tatapan mereka bertemu. Entah mengapa, setiap kali melihat senyum Nadira, Adrian merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Selesai makan, Nadira mengusap sudut bibir Adrian menggunakan tisu.
"Nah... sudah bersih."
Adrian terdiam, selama ini tidak ada yang memperlakukannya selembut itu. Tanpa sadar, bibir Adrian kembali bergerak.
"Terima kasih."
Nadira tersenyum lebar. "Sama-sama. Itu artinya kamu sudah mulai percaya padaku, kan?"
Adrian tidak menjawab, kali ini ia membalas senyum Nadira meski sangat tipis. Senyuman itu membuat Nadira ikut tersenyum bahagia.
***
Di saat yang sama, di sebuah gudang kosong di pinggir kota. Pria berjas hitam yang sebelumnya menemui Miranda sedang berbicara dengan tiga orang bertubuh kekar.
"Besok malam, kalian masuk ke rumah sakit."
Salah seorang pria mengernyit. "Untuk apa?"
Pria berjas itu mengeluarkan amplop tebal berisi uang. "Kalian hanya perlu membuat keributan."
"Lalu..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Pastikan Adrian Mahendra terluka. Kalau perlu... buat semua orang percaya bahwa dia mengamuk."
Ketiga pria itu saling berpandangan.
Salah satunya menyeringai. "Tenang, itu pekerjaan yang mudah."
Pria berjas itu menyerahkan amplop tersebut. "Ingat, tidak boleh ada yang tahu siapa yang menyuruh kalian."
***
Malam harinya, Nadira kembali berkeliling memeriksa kondisi seluruh pasien. Saat melewati kamar Adrian, ia melihat pria itu masih terjaga.
"Kamu belum tidur?" ucapnya pelan.
Adrian menggeleng pelan.
Nadira tersenyum lembut. "Aku punya sesuatu." Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul biru dan sebuah pulpen baru dari balik map yang dibawanya. "Aku lihat kemarin kamu suka menulis. Kalau kamu sedang tidak ingin berbicara... kamu boleh menuliskan apa pun di buku ini. Aku tidak akan membacanya tanpa izinmu."
Nadira meletakkan buku itu di atas meja kecil. "Anggap saja ini temanmu."
Adrian memandangi buku itu cukup lama. Saat Nadira hendak pergi, suara serak Adrian kembali terdengar.
"Kenapa..."
Nadira berhenti melangkah.
"Kenapa kamu baik... padaku?"
Pertanyaan itu membuat Nadira tersenyum hangat. "Karena kamu pasienku, dan selama kamu berada di sini, aku akan merawatmu sebaik mungkin. Aku tidak peduli siapa dirimu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nadira keluar dari kamar. Ia lalu menutup pintu perlahan. Adrian masih memandangi buku bersampul biru yang diberikan Nadira. Perlahan, ia menggenggam buku itu erat di dadanya.
Kali ini ia merasa masih ada seseorang yang percaya bahwa dirinya layak diperlakukan sebagai manusia. Namun Adrian tidak menyadari, di balik jendela kamarnya, sepasang mata sedang mengawasinya dari kejauhan.