Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
Meninggalkan Pasar Antik Jiulong, Lin Chen berjalan menyusuri trotoar dengan langkah tenang. Modal awal sebesar 54 juta Yuan sudah ada di tangannya. Kini, prioritas utamanya adalah memulihkan fondasi kekuatannya secara utuh dan membangun pasukan.
"Meskipun Pil Pembersih Sumsum Dewa telah memulihkan meridianku ke Tahap Awal Tingkat Bumi, tubuh fisikku masih belum cukup kuat untuk menampung energi Qi yang besar," gumam Lin Chen. "Aku butuh ramuan obat tradisional dengan usia ratusan tahun untuk menstabilkannya."
Selain itu, ia juga ingat bahwa perusahaan istrinya, Grup Kosmetik Su, sedang berada di ambang kebangkrutan karena krisis bahan baku yang didalangi oleh Keluarga Zhao. Sebagai Tuan Muda yang pernah menguasai industri farmasi dan kecantikan di Ibukota, masalah ini hanyalah permainan anak-anak baginya.
Ia bisa meracik "Pil Awet Muda"—sebuah resep kuno dari Kitab Medis Sembilan Jarum Misterius—untuk menghancurkan pasar kosmetik modern dan menjadikan Su Ruoxue sebagai Ratu Bisnis di Jiangnan.
Tujuan Lin Chen saat ini adalah Baozhitang (Aula Ratusan Obat), apotek pengobatan tradisional Tiongkok terbesar dan paling bergengsi di Kota Donghai.
Dua puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Lin Chen berhenti di depan sebuah bangunan megah berarsitektur Tiongkok kuno. Aroma herbal yang pekat menguar dari dalam gedung.
Namun, saat Lin Chen hendak melangkah melewati ambang pintu, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada sebuah keributan di area pelataran toko.
Seorang pria tua berpakaian compang-camping tampak berlutut di lantai pualam. Rambutnya beruban dan acak-acakan. Lengan kiri bajunya kosong, melambai tertiup angin, sementara kaki kanannya tampak cacat. Pria tua itu sedang memohon pada seorang pelayan toko muda yang menatapnya dengan jijik.
"Tuan, saya mohon... jual sisa-sisa akar ginseng merah itu kepada saya. Saya hanya punya 500 Yuan, ini semua tabungan saya. Cucu angkat saya sedang sakit parah, dia butuh obat itu..." suara pria tua itu bergetar parau, batuk darah sesekali menyelingi kalimatnya.
Pelayan muda itu mendengus sinis. "500 Yuan? Kau pikir ini panti sosial?! Akar ginseng merah ini bernilai 5.000 Yuan! Pergi sana, pengemis tua! Kau membuat pelanggan VIP kami jijik dengan bau busukmu!"
Tanpa belas kasihan, pelayan itu mengangkat kakinya dan menendang dada pria tua itu dengan keras.
Brak!
Pria tua cacat itu terpental mundur dan berguling di lantai. Tabung bambu kecil berisi uang receh dan uang kertas lusuh miliknya jatuh berserakan di tanah.
Melihat pemandangan itu, tubuh Lin Chen membeku. Jantungnya seolah ditusuk oleh ribuan jarum. Matanya yang biasanya setenang air danau kini memerah, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa turun di bawah titik beku.
Pria tua itu... bekas luka sabetan pedang di pipi kanannya, postur tubuhnya, wajahnya...
Paman Bai!
Ingatan dari kehidupan masa lalu membanjiri benak Lin Chen bagai kaset rusak. Bai Feng, sang Pengawal Bayangan Keluarga Lin. Di malam pengkhianatan itu, ketika ibu tiri dan adik tirinya mengirim lima Grandmaster untuk membunuh Lin Chen, Paman Bai-lah yang berdiri di depan.
Pria tua ini membakar esensi darahnya, mengorbankan lengan kiri dan seluruh kultivasi bela dirinya hanya untuk membuka jalan darah agar Lin Chen bisa melarikan diri ke Kota Donghai.
Setelah Lin Chen dibuang, Paman Bai menyusulnya dalam diam, hidup di daerah kumuh Donghai sambil memungut sampah hanya untuk diam-diam mengirimkan makanan dan obat-obatan ke kediaman Keluarga Su agar Lin Chen tidak mati kelaparan. Di kehidupan sebelumnya, Paman Bai meninggal kedinginan di jalanan, sebuah fakta yang baru Lin Chen ketahui saat ia diseret kembali ke Ibukota untuk dieksekusi.
"Hei anjing tua, kubilang cepat menyingkir!" Pelayan toko itu tidak puas. Ia melangkah maju, mengangkat tongkat kayu untuk memukul kepala Paman Bai.
Namun, sebelum tongkat itu turun, sebuah tangan seperti cakar naga mencengkeram leher pelayan itu dari belakang.
"Kau... berani menyentuhnya?"
Suara itu terdengar seperti bisikan iblis dari neraka tingkat kedelapan belas.
Pelayan itu meronta, matanya melotot saat tubuhnya diangkat ke udara hanya dengan satu tangan. Lin Chen mencengkeram lehernya dengan erat.
BAM!
Lin Chen membanting pelayan itu ke rak etalase kaca dengan tenaga brutal. Kaca pecah berhamburan. Pelayan itu menjerit histeris, darah mengucur dari dahi dan hidungnya, tulang rusuknya patah beberapa buah, dan ia langsung pingsan di tempat.
Keributan itu membuat seluruh pengunjung Baozhitang menjerit ketakutan.
Bai Feng, yang masih terkapar di lantai, mendongak dengan pandangan kabur. Ketika matanya yang rabun menangkap sosok pemuda tegap yang berdiri di depannya, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"T-Tuan Muda...?" suara Bai Feng bergetar, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya yang keriput. Dengan panik, ia menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan lengannya yang buntung dan pakaiannya yang kumal, tidak ingin Tuan Mudanya melihat keadaannya yang menyedihkan.
"Maafkan hamba, Tuan Muda... Hamba tidak pantas... Hamba gagal melindungi Anda..." bisik Bai Feng sambil tersedu.
Lin Chen merasa hidungnya asam. Ia, Sang Penguasa yang tidak pernah meneteskan air mata bahkan saat dibunuh, kini menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki di depan pria tua itu.
Ia tidak peduli lantai itu kotor, ia tidak peduli tatapan aneh orang-orang. Lin Chen menggenggam tangan kanan Paman Bai yang kasar dan penuh luka dengan erat.
"Paman Bai... aku yang salah. Aku datang terlambat," ucap Lin Chen dengan suara serak, namun penuh dengan ketegasan yang tak tertembus. "Mulai hari ini, aku bersumpah kepada surga. Siapa pun yang berani membuatmu menundukkan kepala, aku akan memenggal kepalanya. Siapa pun yang berani melukaimu, aku akan menghancurkan seluruh garis keturunannya!"
Tiba-tiba, suara marah menggelegar dari lantai dua.
"Siapa yang berani membuat kerusuhan di Baozhitang milikku?!"
Seorang pria paruh baya berkumis tebal turun dari tangga dengan wajah murka, diikuti oleh belasan penjaga keamanan berbadan kekar yang membawa tongkat listrik. Dia adalah Manajer Sun, pengelola cabang Baozhitang di Donghai.
Manajer Sun melihat etalase yang hancur dan pelayannya yang berlumuran darah. Ia menunjuk Lin Chen dengan marah. "Bocah, kau cari mati! Patahkan kedua kaki dan tangannya, lalu buang dia ke kantor polisi!"
Belasan satpam itu langsung merangsek maju mengepung Lin Chen.
Lin Chen perlahan berdiri. Ia memapah Paman Bai ke kursi di dekatnya, lalu berbalik menatap Manajer Sun. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Lin Chen merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah kartu berwarna hitam keemasan tepat ke wajah Manajer Sun.
Plak!
Kartu itu mengenai dada Manajer Sun dan jatuh ke tangannya. Sang Manajer hendak mengumpat, namun saat matanya melihat lambang Naga Emas Keluarga Tang dan ukiran 'VIP' di kartu tersebut, seluruh darah di tubuhnya seolah terkuras habis.
"K-K-Kartu Hitam Emas Keluarga Tang?!" Manajer Sun memekik ngeri, suaranya melengking seperti babi yang dicekik.
Baozhitang memang apotek besar, tetapi di Kota Donghai, Keluarga Tang adalah penguasa mutlak! Memegang kartu ini berarti pemuda di depannya dianggap sebagai tamu agung setara dengan Kepala Keluarga Tang sendiri! Jika Keluarga Tang tahu ia menyinggung pemegang kartu ini, toko Baozhitang akan diratakan dengan tanah besok pagi!
"Berhenti! Semuanya berhenti! Mundur, dasar idiot!" teriak Manajer Sun panik, menampar wajah kapten satpamnya sendiri agar mereka mundur.
Manajer Sun langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri Lin Chen, punggungnya membungkuk hingga 90 derajat. Keringat dingin membasahi dahinya.
"T-Tuan... maafkan mata buta anjing ini! Saya tidak mengenali Gunung Tai di hadapan saya! Pegawai bodoh itu memang pantas dihukum, saya akan memecatnya sekarang juga!" Manajer Sun gemetar ketakutan.
Lin Chen menatapnya dengan dingin. "Paman Bai adalah keluargaku. Pegawaimu menendangnya. Apa kau pikir memecatnya saja cukup?"
"T-Tentu saja tidak!" Manajer Sun segera mengambil tongkat dari satpam, berjalan ke arah pelayan yang pingsan, lalu dengan kejam memukul kedua kaki pelayan itu hingga terdengar suara tulang retak. Pelayan itu terbangun sesaat karena rasa sakit yang luar biasa sebelum akhirnya pingsan kembali.
"Tuan, apakah ini cukup untuk meredakan kemarahan Anda?" tanya Manajer Sun sambil tersenyum menjilat.
"Bawakan aku semua Ginseng Liar berusia di atas 50 tahun, Teratai Salju Tianshan, Lingzhi Darah, dan satu set Jarum Perak murni. Kualitas terbaik," perintah Lin Chen datar. "Jangan pikir aku akan mengambilnya gratis. Gesek dari kartuku."
"B-Baik, Tuan! Tolong tunggu sebentar, saya akan mengambilkan stok rahasia kami!"
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Manajer Sun kembali dengan beberapa kotak kayu cendana yang memancarkan energi spiritual herbal yang sangat pekat. Total harganya mencapai 3 juta Yuan, namun Lin Chen membayarnya tanpa mengedipkan mata.
Lin Chen mengambil kotak-kotak itu, lalu memapah Paman Bai keluar dari Baozhitang.
"T-Tuan Muda... uang dari mana Anda mendapatkan semua ini? Anda tidak melakukan hal ilegal, kan?" tanya Bai Feng cemas saat mereka berada di dalam taksi.
Lin Chen tersenyum hangat, sesuatu yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang yang benar-benar ia pedulikan.
"Paman Bai, tenang saja. Langit telah memberiku kesempatan kedua. Kali ini, tidak ada yang bisa menginjak-injak kita lagi." Lin Chen menatap ke luar jendela taksi, menatap gedung-gedung tinggi Kota Donghai.
"Tujuan kita sekarang adalah Hotel Bintang Lima Grand Donghai. Aku akan menyembuhkan meridian Paman yang hancur, dan kemudian... kita akan pulang ke Keluarga Su. Ada seorang 'istri' yang harus kuselamatkan perusahaannya, dan ada seekor lalat bernama Keluarga Zhao yang harus kuhancurkan."
[Ding!]
[Misi Sampingan Terpicu: Selamatkan Ratu Es!]
[Deskripsi: Grup Kosmetik Su sedang disabotase. Gunakan pengetahuan medis Anda untuk meracik 'Pil Awet Muda' dan bantu Su Ruoxue menghancurkan monopoli Keluarga Zhao.]
[Hadiah Misi: 5.000 Poin Sistem & Pembukaan Toko Sistem (System Shop).]
Mata Lin Chen menyipit tajam. Keluarga Zhao... bersiaplah untuk kehilangan segalanya.