NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mulai menjelang magrib, sedikit demi sedikit hujan rintik-rintik mulai turun mengguyur. Di desa, suasana berubah pekat tatkala langit mendung menurunkan tetesan air. Aroma tanah basah memenuhi udara, membawa rasa segar setelah cuaca panas seharian.

Para warga yang biasanya berkumpul di luar rumah kini memilih merapatkan selimut dan berlindung di dalam rumah semenjak munculnya teror Nina.

Suara petir sesekali menggema dari sudut langit, menambah kegelapan malam yang dibalut rintik hujan. Banyak warga berdoa agar malam ini berjalan aman tanpa gangguan mistis yang akhir-akhir ini melanda desa. Setiap deru angin yang lewat seolah membawa bisikan tak kasat mata.

Di dalam rumah, Rukmini duduk di kursi kayu ruang tamu. Tangannya memijat kakinya yang pegal setelah seharian mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sejak Ruhi di pindah ke rumah sakit jiwa, ia harus mengerjakan semua sendiri. Rukmini mengoleskan minyak hangat ke kakinya, menikmati sedikit rasa nyaman di tengah keheningan. Biasanya, menjelang malam seperti ini, ia akan duduk mengobrol berdua bersama Ruhi.

Tiba-tiba, di tengah ketenangan yang diiringi deru rintik hujan, telinga Rukmini menangkap sebuah suara yang yang sedikit mengusik.

Tuk... tuk... tuk... Jeglek....

Itu adalah suara mesin jahit sedang dioperasikan. Rukmini menajamkan pendengarannya.

Ia terkejut ketika ritme suara mesin jahit itu semakin terdengar jelas, berasal tepat dari ruang tengah rumah. Di luar, gerimis mendadak berubah menjadi hujan deras yang mengguyur lebat, menciptakan atmosfer yang amat mencekam.

Bulu kuduk Rukmini merinding hebat. Dengan rasa takut yang mulai menjalar, ia bangkit dan melangkah perlahan menuju ruang tengah. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat.

Sesampainya di batas ruang tengah, Rukmini tertegun kaku. Mesin jahit tua milik almarhum Nina yang di letakkan di sudut ruangan, tampak hidup. Jarumnya bergerak naik-turun cepat. Ruangan yang gelap itu seolah diterangi oleh pendar cahaya kelabu.

Di kursi mesin jahit, duduk sebuah sosok yang memunggungi Rukmini. Sosok itu tampak begitu sibuk menjahit dengan konsentrasi penuh.

Dalam kegelapan, siluet tubuhnya terasa teramat familiar bagi Rukmini. Jantung Rukmini berdebar kencang, napasnya tertahan. Ia ingin memanggil, namun tenggorokannya terasa tertutup.

Rukmini mencoba mengumpulkan keberanian, melangkah satu pijakan untuk mendekati.

BRAK!

Namun tak sengaja, siku Rukmini menyenggol kotak tisu di meja hingga jatuh terhempas ke lantai.

Suara mesin jahit itu seketika berhenti. Hening menyelimuti ruangan.

Perlahan-lahan, kepala sosok itu memutar seratus delapan puluh derajat ke belakang, tanpa memutarkan sedikit pun badannya! Dari balik kegelapan, wajah itu menyunggingkan seringai mengerikan yang memperlihatkan deretan gigi runcing berwarna hitam pekat.

"Ibuu... Kau mengganggu pekerjaanku," ucapnya dengan suara parau bergaung.

Deg!! "Ni-Nina...?" pekik Rukmini tercekat. Matanya membelalak tak percaya menatap sosok menantu yang dulu ia fitnah dan zalimi semasa hidupnya.

Sosok Nina bangkit dari duduknya. Tubuhnya perlahan terputar kaku menyesuaikan posisi kepalanya. Tubuh Rukmini gemetar hebat, kakinya serasa terkunci kaku di atas ubin yang dingin.

Nina melayang mendekat.

"Ibu... Aku sedang menjahitkan baju untuk Gendis, cucumu. Apa kau ingin melihatnya?" tanya Nina seraya menyodorkan sehelai kain kecil.

Rukmini menjerit pelan dalam hati ketika melihat baju anak kecil yang dipegang Nina. Baju berwarna cerah itu dipenuhi noda darah segar yang mengucur basah.

Nina menatap Rukmini. "Kau tahu, Bu... Sejak kau memfitnahku dan aku diasingkan warga, aku dan Gendis sangat menderita! Kami hanya makan ubi liar dan minum air sungai!" ucap Nina dengan raut sendu sembari melayang mengitari tubuh Rukmini yang mematung.

"Dan kau... KAU dengan kenyangnya makan makanan enak tanpa peduli nasib kami. Kau tertawa bersama fitnah kejam yang membuatku menderita.!" sentak Nina kemudian. Suaranya menggelegar dahsyat memecah kesunyian malam.

Rukmini berguncang hebat, hawa dingin yang menusuk tulang membuatnya menggigil ketakutan.

"M-maafkan aku, Nina. Maafkan ibu. Ibu sangatlah menyesal." akhirnya kata penyesalan itu terucap dari bibir Rukmini yang selama ini keras kepala.

Nina terdiam sejenak, lalu tawa melengkingnya meledak. “Hihihihi! Apa katamu, Bu? Maaf?! Setelah aku dan Gendis merasakan penderitaan yang begitu panjang?!” cecarnya dengan seringai yang kian melebar.

Air mata Rukmini menetes deras.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu ibu..! Hihihihi!"

Dalam sekejap mata, Nina berpindah posisi kembali ke dekat mesin jahit. Tangannya meraih gunting besi tajam yang berada di atas meja. Tanpa ampun, Nina mengibaskan tangannya, melemparkan gunting itu hingga melayang cepat dan tancap tepat menembus mata Rukmini!

"AAAAKKKHHH!"

Jeritan histeris Rukmini memecah lebatnya suara hujan. Ia jatuh berlutut, memegangi matanya yang mengucurkan darah segar secara hebat.

Nina mendekati Rukmini yang terduduk di lantai. "Dengan kehilangan matamu, kau tidak akan bisa lagi menilai orang hanya dari apa yang tampak di mata saja! Aku akan membalas kalian semua yang terlibat dalam penderitaanku! Hihihihi!"

Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, sosok Nina menghilang lenyap diterpa hembusan angin malam yang menerobos jendela.

Jeritan melengking Rukmini membuat penghuni rumah terbangun kaget. Hana yang merasa terganggu langsung mengguncang tubuh suaminya. "Mas! Bangun, Mas!"

Roni mengerjapkan mata dengan raut serak. "Ada apa, Han?"

"Itu seperti suara Ibu menjerit di ruang tengah!"

Roni langsung bangun dan bergegas berlari keluar kamar. Jantungnya berdebar kencang. Begitu sampai di ruang tengah, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Rukmini, mengerang kesakitan di lantai dengan tangan menutupi matanya yang bercucuran darah segar hingga membasahi ubin.

"Ibuuu!" teriak Roni histeris. Ia berlutut menahan tubuh ibunya.

"Astaga." Ucap Hana melihat banyak darah.

"Hana tolong keluarkan mobil. Kita bawa ibu ke rumah sakit sekarang juga."

Hana mengangguk dan langsung ke garasi mengeluarkan mobilnya.

Mereka pergi ke rumah sakit dengan di iringi hujan deras. Perjalanan mereka sedikit terganggu karen ajalan desa yang masih tanah dan bebatuan.

Saat ini yang menyetir adalah Hana. Karena wanita itu tak mau memegangi Rukmini yang penuh darah.

Setelah perjalanan yang menengangkan, akhirnya mereka sampai.

Rukmini langsung di bawah ke IGD. Suasana IGD terasa sangat tegang. Roni berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit dengan wajah pucat pasi.

Setelah beberapa jam penanganan darurat yang mencekam, dokter akhirnya keluar dari ruangan. Roni dan Hana langsung menyakan keadaan snag ibu..

"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Roni bergetar.

Dokter menatap Roni dengan raut prihatin. "Kondisi Ibu Rukmini cukup kritis. Matanya mengalami kerusakan permanen yang sangat parah akibat tusukan benda tajam. Kami sudah berusaha melakukan tindakan terbaik, namun kemungkinan beliau untuk dapat melihat kembali sangat kecil."

Kata-kata dokter itu bagaikan petir yang menghantam Roni. Dunianya serasa runtuh seketika. Ia berdiri membisu, lidahnya kaku tak mampu mengucap sepatah kata pun.

Setelah situasi stabil, Rukmini dipindahkan ke ruang rawat inap. Roni duduk membisu di samping pembaringan ibunya, memandangi perban tebal yang menutup wajah Rukmini. Pikiran Roni kacau balau.

1
UmakAy
ayo baca ...ceritanya seru
Nur Baiti
up thorrrrrrr
UmakAy: siap kak...
total 1 replies
UmakAy
kasih rate dong kakak² yg baca biar aku makin semangat
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!