NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Rumah Baru, Kamar Siapa

Koper Laras masuk ke rumah Arkan lebih dulu daripada dirinya.

Arkan mengangkat koper besar itu melewati pintu tanpa terlihat kesulitan, sementara Laras masih berdiri di teras dengan tas tangan dan satu kotak kecil berisi buku nikah.

“Mau tetap di luar?” tanyanya.

Laras menatap cincin di jarinya sebelum melangkah masuk. “Aku sedang membiasakan diri.”

Rumah dua lantai itu berada di kawasan Alam Sutera yang tenang, cukup dekat dengan jalur menuju bandara dan JATSC. Fasadnya modern dengan kaca tinggi, batu abu-abu, dan taman yang dirawat rapi. Begitu pintu tertutup, suara jalan seolah lenyap.

Ruang tengahnya luas, tetapi tidak terasa seperti ruang pamer. Ada sofa berwarna gelap, rak buku, model pesawat A330 di dalam kotak kaca, serta satu foto Arkan bersama Ratna dan Eyang Broto. Segalanya rapi sampai Laras takut meletakkan tas sembarangan.

“Sepatumu bisa di sana.” Arkan menunjuk lemari dekat pintu. “Kode pintu sudah kuganti. Enam angka terakhir nomor ponselmu.”

Laras menoleh. “Kenapa nomorku?”

“Biar kamu nggak lupa.”

Jawabannya praktis. Tetap saja, melihat nomor dirinya menjadi akses masuk ke rumah Arkan menimbulkan perasaan aneh di dada Laras.

Sebelum naik, Arkan menunjukkan dapur dan ruang kecil untuk salat di belakang ruang keluarga. Dua sajadah baru terlipat di rak, berdampingan dengan mushaf dan mukena yang masih terbungkus.

“Mama yang memilih?” tanya Laras.

“Mukena, iya. Sajadahnya aku.”

Laras menyentuh kain yang belum pernah digunakan. Salah satunya berwarna hijau gelap, hampir sama dengan gaun reuni yang dikenakannya saat Arkan kembali mengingat masa sekolah mereka.

Di dapur, kulkas yang biasanya hanya berisi air, kopi, dan makanan siap saji kini penuh buah, susu, telur, serta beberapa wadah makanan dari Kopi Wulan. Ada catatan kecil di salah satu wadah.

Untuk Laras. Jangan biarkan dia cuma minum kopi setelah shift malam.

Laras mengenali tulisan Wulan. “Mama membocorkan semua kebiasaanku.”

“Informasi penting.”

“Ada lagi yang dia bilang?”

“Kamu nggak suka terlalu manis, gampang kedinginan kalau kurang tidur, dan sering bilang sudah makan padahal belum.”

Laras memandangnya curiga. “Kamu menghafal?”

Arkan menutup pintu kulkas. “Aku cuma mendengar.”

Arkan membawa koper menuju tangga. “Aku tunjukkan kamarnya.”

Laras mengikuti sambil memperhatikan pencahayaan otomatis yang menyala satu per satu. Kamar utama berada di ujung lorong, menghadap taman belakang. Tempat tidurnya begitu lebar sehingga dua orang bisa tidur tanpa saling menyentuh.

Sebuah ruang kerja kecil di sebelahnya juga telah dikosongkan separuh. Arkan menunjukkan meja dekat jendela dan rak yang bisa dipakai Laras menyimpan materi prosedur atau berkas kerja. Di dalam lemari utama, satu sisi penuh seragam dan pakaian Arkan. Sisi lainnya kosong dengan gantungan baru yang tersusun sejajar.

Tempat itu belum terasa milik Laras, tetapi ruang untuk dirinya sudah disediakan sebelum ia datang.

Itu tidak membuat Laras lebih tenang.

Arkan meletakkan koper di dekat lemari. “Pilih.”

“Pilih apa?”

“Sisi tempat tidur.”

Laras yang sudah menyiapkan jawaban menunjuk pintu di seberang lorong. “Aku bisa pakai kamar tamu.”

“Aku tanya sisi tempat tidur, bukan kamar.”

“Kita sepakat aku boleh punya ruang sendiri.”

“Kamu punya.” Arkan membuka pintu ruang ganti di sisi kanan. “Ini sisi lemarimu. Ruang kerja tadi juga bisa kamu pakai kapan saja. Kamar tamu tetap tersedia.”

“Kalau begitu, kenapa harus tidur di sini?”

Arkan menatapnya seolah pertanyaan itu jauh lebih rumit bagi Laras daripada baginya.

“Kita suami istri. Ngapain pisah kamar?”

Panas langsung naik ke wajah Laras.

“Karena kita baru mulai.”

“Tidur satu ranjang bukan berarti aku akan melewati batasmu.” Nada Arkan tetap tenang. “Tempat tidurnya cukup besar. Kamu pilih sisi, aku ambil sisanya.”

Ia menarik dua bantal tambahan dari lemari dan meletakkannya di tengah kasur sebagai garis pemisah.

“Kalau aku melewati ini, bangunkan.”

Laras menatap benteng bantal itu. “Kalau aku yang melewati?”

Arkan mengangkat alis. “Aku pertimbangkan dulu mau membangunkan atau nggak.”

“Arkan!”

Untuk sesaat, tawa rendah terdengar dari tenggorokannya. Sangat singkat, tetapi cukup untuk membuat Laras menatap tak percaya.

“Kiri atau kanan, Ras?”

Nama panggilan itu menghentikan protesnya.

“Apa?”

“Sisi tempat tidur.”

“Kamu memanggilku Ras.”

“Terlalu cepat?”

Laras menggeleng sebelum sempat menjaga gengsi. “Nggak.”

“Kalau begitu, pilih, Ras.”

Jantungnya tidak akan bertahan jika Arkan terus mengulangnya.

Laras memilih sisi kanan, paling dekat dengan jendela dan meja kecil. Arkan mengangguk seolah keputusan penting baru selesai dibuat, lalu meninggalkannya untuk membongkar barang.

Begitu pintu tertutup, Laras membuka koper.

Di antara pakaian dan perlengkapan kerja, buku harian bersampul biru terselip dalam kantong kain. Wulan memasukkannya tanpa bertanya. Laras memegang buku itu sambil memandang sisi tempat tidur Arkan.

Sepuluh tahun nama suaminya berada di dalam buku tersebut.

Kini rahasia itu tinggal satu lengan dari tempat Arkan tidur.

Laras membuka laci meja samping tempat tidurnya, menaruh buku di bagian paling belakang, lalu menutupinya dengan syal dan kotak obat. Ia menutup laci perlahan, memastikan tak ada ujung sampul terlihat.

Ponselnya berdering.

“Sudah sampai?” tanya Wulan begitu panggilan diterima.

“Sudah, Ma.”

“Kamarnya nyaman?”

Laras melirik benteng bantal. “Nyaman.”

“Arkan di mana?”

“Di bawah.”

“Jangan berbisik seperti sedang menyembunyikan barang.”

Tangan Laras refleks menutup laci. “Aku nggak menyembunyikan apa-apa.”

“Mama nggak tanya soal apa-apa.”

Laras bisa membayangkan senyum ibunya. “Mama istirahat saja.”

“Kamu juga. Jangan terlalu memikirkan cara menjadi istri dalam satu malam. Besok bangun saja sebagai Laras.”

Setelah telepon berakhir, dada Laras terasa lebih ringan.

Arkan kembali membawa segelas air dan kartu akses cadangan. “Taruh di tas kerja. Kalau sistem pintu bermasalah, pakai ini.”

“Terima kasih.”

“Besok kamu masuk?”

“Lusa malam. Besok masih cuti.”

“Aku report siang, pulang kemungkinan lewat tengah malam.”

Itu adalah percakapan pertama mereka sebagai pasangan yang membahas siapa pergi dan siapa pulang. Sederhana, tetapi mendadak membuat rumah ini terasa sedikit lebih nyata.

Malam semakin larut setelah mereka mandi dan berganti pakaian. Arkan keluar dari ruang ganti mengenakan kaus hitam dan celana panjang, penampilan paling santai yang pernah Laras lihat.

Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu redup di sisi Laras.

“Aku biasa tidur gelap,” katanya. “Tapi kamu boleh matikan kalau sudah nyaman.”

“Kamu tahu aku belum nyaman?”

Arkan berbaring di sisi kiri. “Kamu sudah merapikan selimut tiga kali.”

Laras segera melepaskan kain yang masih dipegangnya.

“Selamat malam, Ras.”

“Selamat malam, Arkan.”

Beberapa menit kemudian, napas laki-laki itu berubah teratur. Benteng bantal tetap utuh di tengah kasur.

Laras berbaring kaku di sisi kanan, mendengarkan napas suaminya dalam gelap.

Di dalam laci hanya beberapa jengkal dari kepalanya, buku harian yang penuh nama Arkan seolah ikut terjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!