Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
Mendengar nada mengejek dari bibir Clara, aku sama sekali tidak terpancing emosi. Sebaliknya, aku sengaja menyunggingkan senyum datar, membetulkan letak galon yang kualas dengan kain tebal di atas bahu, lalu menatapnya santai.
"Galon airnya mau ditaruh di mana, Mbak?" ujarku sengaja memancing emosinya.
Mata Clara mendadak memelotot tajam. Senyum ejekan di wajah cantiknya luntur seketika, berganti dengan raut wajah yang sangat tak terima.
"Enak aja panggil aku 'Mbak'!" sahut Clara dengan nada melengking penuh protes. "Aku punya nama ya, Kak Arkan!"
"Terus, saya harus panggil apa lagi?" kataku santai, tetap mempertahankan panggilan formal. "Kan tidak mungkin saya panggil nama langsung di rumah orang tua Kamu. Kita kan tidak seakrab itu."
Clara melipat kedua tangannya di dada, membuang muka dengan ekspresi gengsi tingkat tinggi. "Emang kita enggak akrab!" balasnya dengan suara datar yang dibuat-buat.
"Nah, ya sudah. Intinya, saya harus taruh galon air ini di mana?" tanyaku lagi, enggan membuang-buang waktu karena masih ada belasan galon lain yang menanti di atas bak mobil.
Tiba-tiba, sudut bibir Clara terangkat sedikit. Sebuah kilatan licik memancar dari matanya—sebuah rencana kotor baru saja melintas di pikiran gadis cantik tapi bodoh ini.
"Oh... begitu," ujar Clara berpura-pura kooperatif. "Ya sudah, Kamu ikut aku saja. Bawa galonnya ke dalam."
Dengan terpaksa dan tanpa rasa curiga sedikit pun, aku melangkah mengikutinya masuk melintasi pintu samping rumah megah milik Pak Frans Sanjaya tersebut. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkan jalur yang kami lewati. Namun, setelah berjalan mengitari lorong demi lorong, melintasi taman dalam, hingga melewati beberapa pintu koridor yang membingungkan, rasanya kok jauh sekali?
Puncak kesadaranku akhirnya datang ketika aku berpapasan dengan Egi di salah satu persimpangan lorong. Sahabatku itu tampak bersimbah keringat, sudah bolak-balik membawa galon kelimanya langsung menuju area pantry tengah lewat jalur lurus pintu dapur belakang yang disediakan bibik pelayan.
Melihat Egi yang santai bolak-balik, mataku mendadak menyipit. Pada titik itulah aku baru sadar penuh kalau aku sedang dikerjai habis-habisan oleh si gadis cantik tapi bodoh bernama Clara Adelin ini! Dia sengaja membawaku berputar-putar mengelilingi rumahnya yang seluas lapangan bola hanya untuk membuat bahuku pegal menggendong galon.
"Ayo, ikut ke sini! Cepat dong!" sahut Clara dari depan, menengok ke belakang dengan nada memerintah yang sangat menyebalkan.
Aku menghela napas panjang, menahan gemas, tapi tetap memilih mengikutinya sampai di sudut koridor utama.
"Cepat, lama banget sih jalannya!" tegurnya pura-pura tidak sabar, padahal kakinya sendiri melangkah sangat pelan.
"Ingat ya, dari sini Kamu tinggal lurus terus saja ke arah belakang. Terus belok kiri, lalu lurus lagi, terus belok kanan, nah... habis itu lurus lagi. Sampai deh! Aku enggak bisa mengantar Kamu sampai ke dapur belakang, soalnya aku malas kalau harus ke area servis."
Aku menatap wajah polosnya yang menyimpan kejahilan tingkat dewa itu, lalu mengangguk singkat. "Baik, terima kasih atas petunjuk jalannya, Nona."
Tanpa membantah, aku langsung melangkah sesuai arah berbelit-belit yang Clara sebutkan, berpura-pura polos menuruti permainannya demi menjaga profesionalitas kerjaku di rumah orang.
Sementara itu, Clara yang melihatku berjalan menjauh sambil membawa galon berat langsung menutup mulutnya, menahan tawa kemenangan yang hampir meledak di koridor sepi itu.
"Emang enak aku kerjain!" gumam Clara puas dalam hati, matanya berbinar-binar gembira. "Siapa suruh waktu di sekolah suka banget menghukum aku dan bikin aku malu!"
Dengan perasaan puas luar biasa, Clara bergegas melangkah kembali ke kamarnya di lantai dua. Dia melompat ke atas kasur empuknya, mengambil ponsel berlogo apel tergigit milik dasarnya, lalu dengan cepat mengetik pesan singkat untuk sahabat karibnya.
Clara: "Din, aku baru aja ngerjain si Ketos jahat itu! Aku suruh dia muterin rumahku sambil bawa galon berat, padahal dapur tinggal lurus dari pintu belakang! Bikin puas banget! 🤣🤣🤣"
Tak butuh waktu semenit, balasan dari Diana langsung masuk.
Diana: "SERIAN, RA?! WAKAKAKAKA MANTAP! Bikin dia pegal sekalian! Biar kapok tuh OSIS sok killer! 💥🔥"
Clara tertawa renyah membaca balasan sahabatnya, tanpa menyadari bahwa di dapur belakang, aku justru sudah selesai menurunkan galon dengan santai setelah sengaja memotong jalur lewat lorong pelayan yang ditunjukkan oleh Bibi Dapur.