NovelToon NovelToon
Untukmu, Anakku Yang Pertama

Untukmu, Anakku Yang Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Untukmu, Anakku Yang Pertama
​Penulis: Aksara Handini
Genre: Drama / Keluarga / Inspiratif
​Sinopsis / Deskripsi Cerita
​Menjadi seorang ibu muda bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika garis takdir menuntut Ibu Dini untuk berjuang sendirian demi buah hati tercintanya, Aidil. Bagi Dini, Aidil bukan sekadar anak pertama, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan alasan terbesarnya untuk terus berdiri di tengah badai kehidupan.
​"Janji yang tak pernah ia langgar, bahkan saat dunia meninggalkannya."
​Ketika dunia membelakangi mereka dan ujian datang bertubi-tubi, Dini tak pernah menyerah. Ia mengorbankan setiap impian pribadinya demi memastikan Aidil mendapatkan masa depan yang layak. Setiap detik perjuangannya kini bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang senyuman dan masa depan anak laki-laki kecilnya itu.
​"Untukmu, Anakku Yang Pertama" adalah sebuah kisah yang menguras emosi tentang ketulusan kasih sayang seorang ibu, besarnya pengorbanan yang tak terhitung,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Udangan dari Masa Lalu

​Kabar kenaikan posisi Dini menjadi asisten penyaji di Warung Makan Salma membawa angin segar yang dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-harinya. Senyum tipis kerap terukir di wajah Dini saat menghitung sisa tabungannya di dalam dompet. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia bisa bernapas sedikit lega. Ia bahkan sudah sanggup membelikan Aidil beberapa helai pakaian bayi yang baru serta membawa bahan makanan yang lebih bergizi untuk dirinya sendiri.

​Namun, seperti cuaca kota yang sulit ditebak, ketenangan Dini tak pernah bertahan terlalu lama.

​Hari itu, suasana Warung Makan Salma sedang ramai-ramainya oleh para pekerja kantoran dan warga lokal yang hendak makan siang. Dini berdiri lincah di balik etalase kaca, jemarinya dengan cekatan meracik piring demi piring: rendang, kuah gulai yang gurih, serta daun singkong segar. Di sudut ruangan tempat biasa, Aidil berbaring tenang di dalam stroller bekas namun bersih yang dibelikan Mak Salma beberapa hari lalu.

​Tiba-tiba, gemerincing bel di atas pintu depan warung berdenting kencang. Dua orang wanita masuk dengan gaya yang cukup mencolok dibanding pelanggan biasa. Yang satu mengenakan perhiasan emas tebal di pergelangan tangannya, sementara yang muda membawa tas merek terkenal dengan raut wajah penuh keangkuhan.

​Dini yang sedang menyendok kuah gulai mendadak membeku. Tangannya gemetar hebat hingga kuah panas itu hampir tumpah membasahi apronnya.

​Mata Dini menatap lurus ke arah wanita tua itu. Ia tidak mungkin salah mengenali wajah itu—wajah yang dulu selalu memandangnya dengan rasa jijik dan penuh hinaan. Dialah Ibu Mertuanya, ibu dari pria yang telah mencampakkan Dini saat hamil tua. Bersamanya adalah adik iparnya, wanita yang selalu memompa kebencian di dalam rumah tangga Dini dulu.

​"Dini?" suara adik iparnya memecah keheningan, bernada ejekan yang melengking. "Lho, Ibu... lihat deh! Ini bukannya si Dini, wanita miskin yang kabur dari rumah Mas Yudi itu?"

​Ibu mertuanya melangkah mendekati etalase dengan pandangan merendahkan. Ia menatap Dini dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur dan warung makan yang sibuk.

​"Ckckck... jadi di sini tempatmu bersembunyi?" cibir mantan ibu mertua Dini sambil mengetukkan kuku berhiasnya ke meja kaca. "Pantas saja dicari-cari tidak ketemu. Ternyata cuma jadi pelayan warung nasi Padang. Kasihan sekali..."

​Dini menggigit bibir bawahnya rapat-rapt. Jantungnya berdegup sangat kencang, menghantam dadanya hingga terasa menyakitkan. Bayangan-bayangan masa lalu—saat ia dimaki, dituduh membawa sial, dan diusir tanpa membawa sepeser pun uang—kembali menghantuinya bagai mimpi buruk.

​"Kenapa diam? Malu?" celetuk adik iparnya sambil tertawa kecil. "Dulu gaya sekali pakai kabur segala saat hamil. Sekarang hidupmu makin tragis ternyata."

​"Cukup," suara Dini keluar dari tenggorokannya, sangat pelan namun bergetar menahan gejolak emosi. "Kalau Mau makan, silakan pesan. Kalau hanya mau menghina, tolong keluar. Saya sedang bekerja."

​"Wah, berani kamu ya sekarang?!" bentak mantan ibu mertuanya, matanya membelalak marah. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Kamu itu cuma mantan menantu yang tak tahu diri!"

​Keributan itu seketika memancing perhatian para pelanggan warung. Suasana menjadi sangat tegang. Mak Salma yang mendengar kegaduhan itu langsung keluar dari dapur belakang dengan raut wajah tegas.

​"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Mak Salma keras, berdiri pas di sebelah Dini.

​"Ibu pemilik warung ya?" cecar mantan ibu mertua Dini. "Saya sarankan Ibu hati-hati pakai pelayan seperti dia! Wanita ini pembawa sial, dulu kabur dari anak saya dan—"

​"Cukup, Bu!" Dini akhirnya berteriak. Air matanya menetes, namun matanya menatap lurus ke arah wanita tua itu tanpa rasa takut. "Saya tidak kabur! Anak Ibu yang mengusir saya saat saya hamil tua! Anak Ibu yang lebih memilih lepas tanggung jawab daripada membesarkan darah dagingnya sendiri!"

​Pernyataan Dini membuat beberapa pelanggan di warung berbisik-bisik. Wajah mantan ibu mertuanya mendadak merah padam karena malu.

​Saat itulah, suara tangis bayi memecah ketegangan di ruangan tersebut. Aidil yang terbangun karena bentakan keras tadi mulai menangis dari dalam stroller.

​Mata mantan ibu mertua Dini seketika teralih ke arah stroller. Ia melangkah mendekati bayi itu, menyibak sedikit kelambu tipis penutupnya. Begitu melihat wajah Aidil yang tampan dengan hidung mancung dan mata bulat—sangat mirip dengan putranya, Yudi—mata wanita tua itu berbinar kaget.

​"Anak... anak laki-laki?" gumam wanita itu kaget.

​Ia tahu betul bahwa di keluarganya, anak laki-laki pertama sangat diagungkan. Dini melihat perubahan raut wajah wanita itu dari hinaan menjadi keserakahan yang tersembunyi.

​Mantan ibu mertuanya mencoba mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Aidil. "Ini... ini cucu pertamaku? Anak si Yudi?"

​"Jangan sentuh anak saya!"

​Sebelum tangan wanita itu menyentuh Aidil, Dini dengan cepat berdiri memagari stroller-nya. Ia mendekap Aidil rapat-rapat di dadanya, menatap mantan ibu mertuanya dengan pandangan seolah-olah wanita itu adalah ancaman paling berbahaya di dunia.

​"Dia bukan cucumu! Dia anakku!" napas Dini berhembus naik turun dengan kencang. "Di mana kalian saat dia hampir lahir di kamar kontrakan bocor? Di mana kalian saat dia sakit dan saya tidak punya uang untuk beli obat? Kalian tidak ada! Kalian membuang kami!"

​"Dini, jangan kurang ajar ya! Itu darah daging Yudi!" bentak adik iparnya membelanya. "Keluarga kami berhak atas anak itu!"

​"Anak ini tidak butuh keluarga yang membuang ibunya!" tegas Dini, suaranya menggelegar dipenuhi kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Mak Salma melangkah maju, memotong jalan kedua wanita asing itu dengan tubuhnya yang tegap. "Maaf, Ibu-ibu yang terhormat. Kalau Ibu tidak berniat makan dan hanya ingin membuat keributan di tempat usaha saya, silakan keluar sekarang juga. Sebelum saya panggilkan warga dan polisi di depan!"

​Mantan ibu mertua Dini menatap Mak Salma dengan marah, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Aidil yang ada di pelukan Dini. Ada kilat kepemilikan yang berbahaya di matanya.

​"Ini belum selesai, Dini," bisik wanita tua itu penuh ancaman. "Saya akan cerita pada Yudi kalau kamu melahirkan anak laki-laki. Kamu tidak akan bisa menyembunyikan darah daging keluarga kami selamanya!"

​Dengan kibasan tas mewahnya, kedua wanita itu akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari warung dengan wajah sengit.

​Setelah pintu berdenting dan suasana warung kembali hening, tubuh Dini seketika gemetar hebat. Lututnya lemas hingga ia nyaris jatuh terduduk jika tidak segera ditahan oleh Mak Salma.

​"Dini! Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Mak Salma cemas, merangkul bahu Dini.

​Dini memeluk Aidil makin erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher bayinya yang wangi minyak telon. Air matanya tumpah tak terbendung lagi—bukan karena rasa sakit oleh hinaan tadi, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat. Ia takut masa lalu itu kembali untuk merenggut Aidil dari tangannya.

​"Mak... mereka mau ambil Aidil..." isak Dini dengan suara patah-patah. "Saya tidak mau kehilangan Aidil, Mak..."

​Mak Salma mengelus lembut punggung Dini, menyalurkan kehangatan seorang ibu. "Dengarkan Mak, Dini. Selama Mak masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengambil anak ini dari tanganmu. Kamu yang melahirkannya, kamu yang berjuang menyusuinya dengan air mata dan keringat. Hukum dan Tuhan ada di pihakmu."

​Aidil di pelukan Dini mendongak pelan, tangan mungilnya terangkat dan menyentuh pipi ibunya yang basah oleh air mata. Bayi kecil itu menatap Dini dengan mata bulatnya yang jernih, seolah ingin berkata bahwa ia akan selalu berada di samping ibunya.

​Dini mengusap air matanya dengan napas yang makin mantap. Bayang-bayang masa lalu mungkin telah menemukan jejaknya, dan badai yang lebih besar mungkin sedang mengintai di depan mata. Namun menatap Aidil, Dini tahu satu hal pasti: ia tidak akan pernah lari lagi. Ia akan bertarung demi mempertahankan hak anak pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!