Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Kembalinya Bayangan Masa Lalu
Gerbang lapas terbuka pukul sembilan lewat sedikit.
Rudi Yu keluar dengan satu tas kain lusuh di tangan kanan dan jaket pudar di bahu. Rambutnya lebih tipis dari terakhir kali Yuni melihatnya bertahun-tahun lalu di foto lama, pipinya cekung, tetapi matanya tetap sama: kecil, tajam, dan tidak pernah puas.
Ia berhenti di trotoar, menghirup udara Jakarta seperti orang yang baru menerima kembali sesuatu yang dicuri darinya.
Di seberang jalan, warung kopi sudah ramai oleh sopir ojek online dan keluarga napi yang menunggu jemputan. Tidak ada siapa pun menunggu Rudi.
Ia tertawa sendiri.
"Tidak apa-apa," gumamnya. "Nanti juga ada yang datang kalau dipanggil."
Ponsel murah yang ia beli dari seorang kenalan penjaga bergetar setelah SIM card baru masuk. Nomor lama yang ia hafal di kepala selama bertahun-tahun masih aktif. Ia mengetik pesan pertama tanpa salam.
Yuni. Aku keluar.
Balasan datang hampir dua menit kemudian.
Siapa ini?
Rudi tersenyum, memperlihatkan gigi yang menguning.
Masa lupa sama bapak anakmu sendiri?
Di Apartemen Golden Crown, Yuni yang sedang mencoba gaun pesta langsung menjatuhkan ponsel ke lantai.
Penjahit yang sedang menahan jarum di pinggangnya terkejut. "Bu Yuni?"
"Tidak apa-apa." Yuni memaksa senyum. "Jarumnya kena kulit sedikit."
Padahal bukan jarum yang membuat darahnya dingin.
Rudi.
Nama itu seharusnya tetap terkubur bersama masa lalu. Laki-laki kasar yang dulu datang saat Albert terlalu sibuk, terlalu hati-hati, terlalu pelit janji. Rudi dulu memberi Yuni rasa diperhatikan, lalu meninggalkan utang, masalah, dan satu rahasia yang sekarang bernama Jayden.
Jayden yang selama ini memanggil Albert Papa.
Yuni mengambil ponsel dengan tangan gemetar. Pesan berikutnya masuk.
Malam ini. Aku kasih lokasi. Datang sendiri. Kalau tidak, aku cari Albert.
Yuni menutup mata.
Kalau Rudi muncul sekarang, semua yang ia kejar sebelas tahun bisa hancur sebelum sempat resmi ia genggam. Status calon istri Albert, pesta yang sedang ia atur, rumah Phua yang sebentar lagi bisa ia masuki tanpa sembunyi, semuanya tergantung pada satu kebohongan yang tidak boleh retak.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini bukan dari Rudi.
Jayden mengirim voice note dari rumah les.
"Mama, nanti Papa Albert datang ke fitting jas aku nggak? Kata Mama nanti aku juga pakai jas kecil waktu acara."
Suara anak itu masih ringan, tidak tahu bahwa satu kata "Papa" sedang ditarik dari dua arah oleh dua laki-laki yang sama-sama bisa menghancurkan hidupnya. Yuni menekan ponsel ke dada. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa takutnya bukan hanya soal status dan pesta.
Kalau Rudi membuka mulut, Jayden juga akan hancur.
Dan Yuni tidak akan membiarkan siapa pun mengambil anak itu darinya.
Malam itu, hujan tipis turun di Jakarta Timur.
Yuni memarkir mobilnya di belakang sebuah hotel melati yang lampu neonnya berkedip. Ia memakai masker, kacamata, dan jaket longgar, jauh dari gaya manis yang biasa ia pakai di depan Albert. Setiap langkah ke lorong sempit hotel itu membuat perutnya mual.
Rudi menunggu di kamar lantai dua.
Begitu pintu tertutup, ia tertawa pendek. "Masih wangi mahal ya. Cocok jadi istri profesor."
"Jangan keras-keras," desis Yuni.
"Takut?"
"Aku jijik."
Rudi mendekat setengah langkah. Bau rokok lama dan sabun murah menempel di tubuhnya. "Dulu kamu tidak jijik waktu butuh orang yang bisa dengar tangisanmu."
Yuni menahan diri untuk tidak menamparnya. "Mau apa?"
"Uang."
"Aku sudah duga."
"Kalau sudah duga, harusnya bawa."
Yuni membuka tas kecilnya dan mengeluarkan amplop. "Lima puluh juta. Ambil, lalu pergi dari Jakarta."
Rudi melihat amplop itu, lalu tertawa lebih keras.
"Kamu kira aku baru keluar dari lapas lalu langsung jadi bodoh? Lima puluh juta untuk rahasia sebesar Jayden?"
Wajah Yuni memucat.
"Jangan sebut namanya."
"Kenapa? Anak itu darahku juga."
"Dia bukan anakmu."
Rudi menatapnya dengan senyum miring. "Kalau begitu, kenapa kamu gemetar?"
Yuni menelan ludah. "Albert percaya Jayden anaknya. Selama ini tidak ada masalah. Jangan datang merusak."
"Justru karena Albert percaya, harga rahasianya lebih tinggi." Rudi duduk di tepi ranjang, santai seperti kamar sempit itu miliknya. "Aku mau lima ratus juta dulu."
"Gila kamu."
"Belum selesai." Ia mengangkat satu jari. "Setelah kamu resmi jadi istri profesor itu, aku mau bagian bulanan. Kamu dapat rumah, mobil, uang keluarga Phua. Masa bapak asli anakmu cuma dikasih uang parkir?"
Yuni menatapnya dengan jijik dan takut bercampur. "Kamu tidak pernah jadi bapak. Kamu masuk penjara, aku yang membesarkan Jayden."
"Kamu membesarkan dia pakai uang Albert." Rudi mencondongkan tubuh. "Jadi kita sama-sama pintar memanfaatkan orang."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada tangan.
Yuni ingin berteriak, tetapi lorong hotel tipis. Satu suara keras bisa membuat orang menoleh. Ia meremas amplop di tangannya sampai sudut kertasnya lecek.
"Aku tidak punya lima ratus juta sekarang."
"Cari."
"Aku sedang menyiapkan pesta. Semua pengeluaran diawasi."
"Pesta." Mata Rudi berkilat. "Nah, itu. Hari pernikahanmu nanti banyak orang kaya, kan? Teman kampus, keluarga Phua, kolega. Kalau aku datang, pasti ramai."
"Kamu tidak boleh datang."
"Maka bayar aku."
Yuni menarik napas pendek. "Aku bisa siapkan dua ratus juta dalam beberapa hari. Sisanya setelah acara."
"Tiga ratus dulu."
"Dua ratus lima puluh."
Rudi menatapnya lama, lalu tersenyum. "Kamu masih jago tawar-menawar."
"Aku serius, Rudi. Kalau kamu ganggu pernikahanku, kamu tidak dapat apa-apa."
"Kalau aku diam, aku dapat lebih banyak." Ia berdiri, berjalan mendekat sampai Yuni harus mundur. "Tapi ingat, aku bukan anjing yang bisa kamu usir setelah diberi tulang."
Yuni membuka pintu dengan tangan kaku.
Sebelum ia keluar, Rudi berkata lagi, "Salam buat Jayden. Bilang bapaknya sudah pulang."
Yuni menoleh, matanya menyala.
"Sekali lagi kamu dekati anakku, aku buat kamu menyesal keluar hidup-hidup dari lapas."
Rudi tertawa, tetapi kali ini ada sedikit waspada di matanya.
Yuni turun dari tangga hotel seperti orang dikejar. Begitu masuk mobil, ia mengunci pintu dan menekan dahinya ke setir. Hujan membasahi kaca depan, membuat lampu jalan pecah menjadi garis-garis kabur.
Ia harus menyingkirkan Rudi.
Bukan menenangkan. Bukan membayar. Menyingkirkan.
Ponselnya bergetar.
Yuni mengangkat wajah. Nama Boonwen muncul di layar chat.
Liana Liem sepertinya diundang ke pernikahanmu... oleh calon suamimu sendiri.
Untuk beberapa detik, Yuni hanya menatap pesan itu.
Lalu tangannya mencengkeram setir begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Rudi dari masa lalu.
Liana dari masa sekarang.
Dua-duanya berdiri di ambang pintu yang sama, siap merobohkan hidup yang hampir ia menangkan.
Yuni menyalakan mesin, matanya dingin di balik kaca basah.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/