NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: (FLASHBACK) BERHASIL!

Selesai menuntaskan ujian yang menguras tenaga dan pikiran, Dimas akhirnya melangkah masuk ke rumah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seulas senyum tipis yang tulus terbit di bibirnya—bukan senyum terpaksa atau topeng pencari perhatian.

​Sang kakak yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah sontak menoleh. Menyadari perubahan ekspresi adiknya, matanya langsung berbinar cerah.

​"Wih, adikku senyum nih! Sebagai hadiah karena udah kerja keras, nih cemilan buat lo!" ucap sang kakak sambil menyodorkan sebungkus camilan favorit Dimas.

​Dimas sempat melirik sekilas dengan gaya cueknya. Namun, melihat seberapa besar usaha kakaknya untuk mencairkan suasana, pertahanannya runtuh juga. Ia melangkah mendekat dan menerima pemberian itu.

​"Terima kasih," gumamnya pelan.

​"Sama-sama!" balas kakaknya dengan cengiran lebar.

​Tak ingin berlama-lama di ruang tengah, Dimas buru-buru masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung merebahkan diri telentang di atas kasur, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelegaan.

​Haa... Tak kusangka... perjuangan rasanya seperti ini.

​Matanya menatap langit-langit kamar, lalu beralih pada bingkai foto mendiang ayahnya di nakas.

​"Kamu benar, Ayah... perjuangan rasanya memang berbeda," bisiknya lirih di dalam hati. "Maaf kalau dulu Dimas sempat mengabaikannya. Dimas cuma mau semua orang memperhatikan Dimas... tapi ternyata cara Dimas salah. Dimas salah besar."

​Beberapa jam kemudian, matahari sudah meninggi saat Dimas bersiap berangkat ke sekolah. Kali ini, tidak ada lagi beban berat di pundaknya. Yang ada hanya rasa tidak sabar yang menggelitik dada untuk segera melihat hasil kerja kerasnya.

​Sepanjang melangkah di koridor sekolah menuju kelas privat, senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Ia bahkan sempat melempar sapaan ringan pada beberapa anak yang berpapasan dengannya.

​Wah, gak sabar banget lihat nilai gue! batinnya antusias. Gue gak berharap muluk-muluk jadi juara pertama sih, tapi yang penting ada peningkatan dan hasilnya jauh lebih baik daripada sebelumnya.

​Namun, langkah kaki Dimas mendadak terhenti tepat di depan pintu kelas privat. Alisnya berkerut heran. Pintu kelas tertutup rapat—pemandangan yang tidak biasa di jam-jam asik seperti ini.

​"Loh, kenapa ditutup ya?" gumamnya bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, mungkin hari ini jadwalnya diundur atau libur?"

​Ia sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengedikkan bahu. "Yaudah, mending gue buka dulu. Siapa tahu ada pengumuman atau barang ketinggalan di dalam."

​Dimas melangkah mendekat, menggenggam gagang pintu besi yang terasa dingin, lalu menekannya ke bawah dan mendorong daun pintu itu perlahan.

​Kriek...

​Begitu pintu terbuka lebar, napas Dimas mendadak tercekat. Belum sempat ia memproses situasi, suara letupan confetti bergemuruh di udara, disusul sorak-sorai hangat dan kue tart berukuran sedang yang dipegang erat oleh Pak Taryo di hadapannya.

​Kejutan ulang tahun!

​"Hah?" Dimas tertegun.

​"Selamat ulang tahun, Dimas. Ini kue dari Bapak, ayo ditiup," ucap Pak Taryo sambil tersenyum hangat.

​"Wih, serius, Pak? Gue aja lupa kalau hari ini ultah sendiri," balas Dimas dengan mata berbinar.

​"Ya, gak apa-apa, anggap saja sebagai perayaan kecil. Apalagi Bapak gak sengaja lihat data KK kamu di kantor, jadi sekalian aja biar heboh," kelakar Pak Taryo.

​"Gak nyangka Pak Taryo bakal bikinin kejutan kayak gini..."

​Tanpa bisa ditahan, pelupuk mata Dimas mendadak panas. Pertahanan runtuh, dan sebutir air mata lolos menuruni pipinya.

​Melihat muridnya menangis, Pak Taryo langsung terkaget-kaget. "Loh, kenapa, Nak? Kok malah nangis?"

​Dimas dengan cepat mengusap air matanya, lalu tersenyum tipis. "Gak apa-apa, Pak. Aku... aku merasa sangat bahagia, karena akhirnya aku bisa merasakan perasaan berharga ini lagi."

​Pak Taryo menghela napas lega, lalu tertawa kecil. "Iya-iya, jangan sedih gitu. Mending kuenya ditiup dulu."

​Dimas menarik napas, lalu meniup lilin di atas kue itu dalam sekali tiup.

​Shuuuu...

​"Udah, Pak!"

​"Nih buat kamu, Dimas," kata Pak Taryo sambil memotong sepotong kue dan menyerahkannya.

​"Makasih, Pak." Dimas menerimanya dengan antusias. "Ayo, Pak, dimakan juga."

​"Nyam, nyam, nyam..." Dimas langsung melahapnya. "Nanti aja Bapak makannya," balas Pak Taryo santai.

​"Yaudah kalau gitu. Oh iya, Pak, hari ini jadwal kita gimana? Libur atau tetap ada pelajaran?"

​Pak Taryo tersenyum penuh misteri. "Hmm... Bapak juga gak tahu. Mending sekarang kamu yang pegang kendali."

​"SERIUS, Pak?" Mata Dimas langsung membelalak lebar.

​"Iya."

​"Yaudah, kalau gitu kita ke fun fair aja, Pak!" ajak Dimas bersemangat.

​"Sekarang?"

​"Ya sekaranglah, kapan lagi!"

​Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun bergegas mengurus izin sebentar kepada pihak sekolah, lalu meluncur membelah jalanan menggunakan mobil Pak Taryo.

​Di sepanjang perjalanan, obrolan mereka mengalir begitu cair. Dimas akhirnya bisa terbuka sepenuhnya pada Pak Taryo, menyadari bahwa guru matematika yang selama ini dicap killer itu ternyata sama sekali tidak menyeramkan. Sisi galak Pak Taryo selama ini ternyata hanyalah cara beliau mendisiplinkan murid agar lebih fokus belajar, karena bagaimanapun juga, sekolah adalah tempat menuntut ilmu, bukan arena bermain.

​Setibanya di area fun fair...

​Dimas langsung disuguhkan pemandangan bianglala yang berputar megah dan komidi putar penuh warna-warni lampu. Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan cepat menuju salah satu stan permainan.

​"Ayo, Pak! Cepetan!" panggil Dimas tak sabar.

​"Bentar dulu, Dimas! Jangan lari-lari!"

​Pak Taryo menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap punggung muridnya dari kejauhan dengan seulas senyum nostalgia tersungging di bibirnya.

​Hmm, rasanya jadi teringat waktu dulu ya... batin Pak Taryo hangat.

​Ia pun kembali mempercepat langkah dan menyusul Dimas. Begitu sampai di dekat stan, Pak Taryo melihat Dimas sedang asyik mencoba permainan pancing-pancingan ikan berhadiah.

​Sayangnya, kailnya terus meleset. Dimas tampak kesal karena gagal melulu.

​Melihat kegagalan itu, jiwa usil Pak Taryo mendadak keluar. Ia mendekat dan nyeletuk dengan nada meremehkan, "Gitu doang aja gak bisa."

​Dimas langsung mendengus kesal, siap melontarkan protes pada orang yang berani mengejeknya. Namun, begitu ia mendongakkan kepala ke atas... nyatanya itu adalah Pak Taryo, guru killer kesayangannya yang berdiri sambil melipat tangan di dada dengan senyum penuh kemenangan.

"Dih, apaan sih, Pak! Malah ngejek!" protes Dimas dengan wajah cemberut, tapi matanya berbinar geli.

Pak Taryo malah terkekeh pelan. "Makanya, kalau main itu pakai strategi, bukan pakai emosi. Nih, lihat Bapak."

Dengan gerakan santai tapi pasti, Pak Taryo mengambil alih alat pancing mainan itu. Dalam sekali coba, pluk! Seekor ikan mainan berduri langsung terangkat mulus.

Dimas melongo takjub. "Wah, curang! Bapak pasti sering ke sini waktu muda, ya?"

"Sembarangan! Ini namanya pengalaman hidup," balas Pak Taryo bangga, lalu menyerahkan hadiah kecil hasil tangkapannya ke Dimas.

Sore itu, di tengah ramainya suara musik riang dan gelak tawa pengunjung fun fair, Dimas merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya: rasa memiliki tempat di dunia ini. Tanpa sadar, senyum lebarnya terus terkembang, menghapus sisa-sisa beban masa lalu yang sempat menghimpit dadanya.

Perjuangan hari ini bukan cuma soal angka di atas kertas ujian, tapi tentang bagaimana ia akhirnya menemukan jalan untuk kembali merajut hari esok—bersama orang-orang tulus yang kini berdiri di sisinya.

1
Myz Pena
dek dimas dek dimas... 😮‍💨
Myz Pena
giliran begini nomor satu 🤧, pelajaran aja nomor -00000
Myz Pena
beginilah kalau nilai ipanya hanya 30.. tong kosong nyaring bunyinya 🤭
Myz Pena
baru juga masuk sekolah sudah di suruh bentuk kelompok kerja.. apa nggak pusing itu kepala 😭
Myz Pena: nggak apa2 , namanya jga dunia novel.. bebas kan 😉
total 2 replies
Myz Pena
ya Allah, IpA mu nilainya hanya 30.... dek dimas dek dimas 🤧
Myz Pena
aduuuuh degdegan gua bacanya padahal udah bukan remaja lagi 🤣
Myz Pena: bagusss.. lebih baik janga tanya umurku 🤭🤣
total 2 replies
Myz Pena
banyak alasan aja itu 🤧
Myz Pena
ada2 aja... bermacam macam suasana sekolah jadi ingat masa SMA.. putih abu2 aduh indahnya masa remaja 😍
Myz Pena: oke kalau begitu smngaaaaattt 💪💪💪
total 4 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana,, perasaan biasa aja deh .🤧
Myz Pena: kirain bakal terjadi sesuatu yang keramat 🤣
total 2 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana ?🤧
Siti Mujaroh
❤️
Fleuriaa
Namanya Raka udah kek nama mantan ku aja 😒
Hamzah: ada nih yang baru siapa tahu minat, cek profilku
total 6 replies
Fleuriaa
🔥👍
Tio Buki
Ikut meramaikan ya🙏🙏🙏
Tio Buki
Lanjut Thor💪👍👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Hadiah untukmu thor👍👍👍🙏🙏🙏
Tio Buki
Alasan
Tio Buki
Emm. Pagi
Tio Buki
Terus yang mesinnya siapa dong???
Hamzah: wkwkwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!