Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Enam Bulan Kemudian
Sudah enam bulan berlalu sejak Vivienne Laurent kehilangan buah hatinya untuk kedua kalinya. Luka di tubuhnya memang perlahan pulih, tetapi luka di hatinya masih sering terasa perih.
Setiap minggu, Vivienne rutin menjalani terapi sesuai anjuran dokter. Ia belajar menerima kehilangan sedikit demi sedikit, meski tak jarang air matanya kembali jatuh ketika melihat seorang ibu menggendong bayinya di ruang tunggu rumah sakit.
Beberapa kali Vivienne diam-diam masuk ke kamar bayi yang sudah mereka siapkan sejak kehamilan sebelumnya. Kamar itu masih sama. Dindingnya berwarna krem lembut. Boks bayi putih berdiri rapi di sudut ruangan. Lemari kecil berisi pakaian bayi yang belum pernah dipakai masih tertutup rapat.
Vivienne mengusap salah satu baju bayi berukuran paling kecil. Senyum tipis sempat terukir di bibirnya, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum air mata kembali mengalir.
Dominic selalu menemukannya di sana. Tanpa banyak bicara, pria itu akan menghampiri, memeluknya dari belakang, lalu membiarkan Vivienne menangis hingga hatinya sedikit lebih lega.
"Aku masih ingin menjadi seorang ibu," bisik Vivienne suatu malam dengan suara bergetar.
Dominic mengusap rambut istrinya perlahan. "Dan kau akan menjadi ibu," jawabnya lembut. "Kita akan berjuang bersama."
Beberapa minggu kemudian, perjuangan itu benar-benar dimulai. Setiap hari, Vivienne harus menerima suntikan hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur. Jarum-jarum kecil meninggalkan bekas lebam di sekitar perutnya. Tubuhnya mudah lelah. Kepalanya sering pusing. Kadang ia mual tanpa sebab. Emosinya pun naik turun hingga membuatnya mudah menangis.
Suatu malam, setelah Dominic selesai menyuntikkan obat, Vivienne meringis pelan sambil memegang bagian perutnya.
"Sakit?" tanya Dominic dengan wajah penuh khawatir.
Vivienne mengangguk kecil. "Sedikit."
Dominic meniup pelan bekas suntikan itu, lalu mengecup kening istrinya. "Maaf. Aku tahu ini tidak mudah."
Vivienne tersenyum tipis. "Kalau semua rasa sakit ini bisa membawaku bertemu anak kita, aku akan menjalaninya."
Dominic menggenggam tangannya lebih erat. "Kau perempuan paling kuat yang pernah kutemui."
Mata Vivienne kembali memanas. "Aku hanya takut."
"Apa?"
"Takut semuanya berakhir sia-sia."
Dominic langsung menarik Vivienne ke dalam pelukannya.
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau gagal lagi?"
"Kalau gagal, kita bangkit."
Jawaban itu selalu sama. Dan entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati Vivienne terasa sedikit lebih tenang.
Hari pengambilan sel telur akhirnya tiba. Vivienne mengenakan pakaian pasien sambil duduk di atas ranjang tindakan. Telapak tangannya terasa dingin. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika seorang perawat datang menjelaskan prosedur yang akan dijalani.
Dominic duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan Vivienne dengan lembut. "Takut?" tanyanya.
Vivienne mengangguk pelan. "Sedikit."
Dominic tersenyum menenangkan. "Aku akan menunggumu di luar."
Vivienne menatap suaminya beberapa saat, lalu menarik napas panjang. "Jangan pergi."
Dominic mengusap pipinya. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Vivienne mengangguk pelan sebelum akhirnya dibawa masuk ke ruang tindakan.
Beberapa hari kemudian Dokter Malcolm menyampaikan bahwa embrio berkembang dengan baik dan siap dipindahkan ke dalam rahim.
Vivienne berbaring tenang di ruang tindakan. Lampu putih di langit-langit tampak begitu terang. Dominic berdiri di sampingnya sambil menggenggam tangannya.
Vivienne memejamkan mata. Di dalam hati, ia terus mengulang doa yang sama.
"Tuhan, tolong izinkan kali ini berhasil. Aku tidak meminta apa pun lagi. Aku hanya ingin menjadi seorang ibu." Tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut matanya.
Dominic mengusapnya pelan menggunakan ibu jarinya. "Kita pasti bisa," bisiknya.
Vivienne mengangguk pelan. Ia memilih mempercayai harapan itu sekali lagi.
Dua minggu berikutnya terasa seperti dua tahun. Setiap pagi, Vivienne bangun dengan perasaan cemas. Setiap malam, ia tidur sambil memeluk bantal dan berdoa agar embrio kecil itu tetap bertahan. Ia bahkan takut berharap terlalu tinggi. Takut kembali merasakan kehilangan.
Hingga akhirnya hari yang mereka tunggu tiba. Vivienne duduk di ruang konsultasi sambil menggenggam hasil pemeriksaan dengan kedua tangan yang gemetar. Ia menatap amplop putih itu cukup lama. Jantungnya berdetak begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri.
"Buka saja," ucap Dominic lembut sambil menggenggam tangannya.
Vivienne mengangguk pelan. Dengan napas tertahan, ia membuka hasil pemeriksaan. Matanya langsung terpaku pada satu kata.
Positif.
Tubuh Vivienne membeku. Beberapa detik kemudian, kedua tangannya menutup mulut. Air mata jatuh begitu saja.
Tangis bahagia yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. "A-ku ... ha-mil," bisiknya lirih, seolah takut semua itu hanyalah mimpi.
Dominic langsung memeluknya erat. "Kita berhasil, Vivi!"
Vivienne menangis di dada suaminya tanpa mampu berkata apa-apa. Seluruh perjuangan selama berbulan-bulan seolah terbayar dalam satu detik.
Beberapa saat kemudian, ia mendongakkan wajahnya. "Aku benar-benar hamil, Dominic."
Dominic mengangguk sambil tersenyum hangat. "Ya."
Tangan pria itu perlahan menyentuh perut Vivienne. "Kali ini kita akan menjaga si kecil bersama."
Sebulan berlalu. Ruang pemeriksaan dipenuhi suara detak jantung kecil yang terdengar dari alat USG.
Vivienne menutup mulutnya sambil menangis haru. "Itu detak jantung bayi kita?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter Malcolm tersenyum sambil mengangguk. "Ya. Kondisinya sangat baik."
Vivienne menoleh kepada Dominic. Keduanya saling tersenyum dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Vivienne kembali berani bermimpi. Ia mulai menyusun daftar nama bayi di buku kecil yang selalu dibawanya.
Setiap malam sebelum tidur, Vivienne mengusap perutnya sambil tersenyum. "Halo, Sayang."
Suara Vivienne terdengar begitu lembut. "Mama sudah tidak sabar bertemu denganmu."
Vivienne sama sekali tidak menyadari, bahwa di balik setiap doa, setiap air mata, dan setiap kebahagiaan yang kini memenuhi hidupnya, sebuah rahasia besar sedang menunggu. Rahasia yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh dunia yang susah payah ia bangun.
dan Grace adik satu ibu beda Ayah 😱
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡