Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Jendela
Pagi kedua di SMA Perbatasan disambut oleh kabut tipis yang merayap melintasi halaman utama sekolah. Angin dingin meniup pucuk-pucuk pohon besar yang berjejer di sepanjang jalan setapak, menciptakan gema bisikan daun yang samar. Bagi murid-murid baru lainnya, suasana ini hanyalah tanda dari perubahan cuaca yang wajar. Namun bagi ke-32 pahlawan Miracle, keheningan pagi itu terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.
Di dalam kelas X-1, Ayyasy duduk di dekat jendela, menopang dagunya sembari memperhatikan lalu lalang murid yang mulai memadati koridor. Di sampingnya, Night duduk bersedekap dengan mata setengah terpejam, menikmati ketenangan sebelum bel masuk berbunyi.
"Night," panggil Ayyasy pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari luar. "Lu ngerasa ada yang aneh gak sejak kemarin?"
Night membuka matanya perlahan. Iris hitamnya menatap Ayyasy datar. "Aneh gimana?"
"Gua juga gak tahu," Ayyasy menghela napas seraya menegakkan posisi duduknya. "Rasanya kayak... kita lagi diawasi. Bukan sama monster atau sisa-sisa pasukan Darking, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang gak memancarkan aura sihir sama sekali."
Night tidak langsung menjawab. Pengalaman bertarungnya selama ini mengajari satu hal: insting seorang ketua jarang sekali salah. Sejak sore kemarin, desiran dingin di tengkuknya pun belum sepenuhnya hilang.
"Tetap waspada," ujar Night singkat namun penuh penekanan. "Jangan lepas kendali, tapi jangan juga lengah. Kalau ada anomali sekecil apa pun, kita bahas di markas nanti sore."
Sementara itu, di laboratorium Sains dan Teknologi di lantai tiga, Dimas dan Arunnaqa sedang membantu guru mengarahkan peralatan simulasi kosmik yang baru dipasang. Jemari Arunnaqa menari lincah di atas panel layar sentuh, mengoreksi alur arus energi agar tidak mengalami korsleting.
"Koneksi jaringan di SMA Perbatasan ini beneran canggih," puji Arunnaqa seraya menyempurnakan enkripsi data laboratorium. "Integrasi antara teknologi Cyber dan Kosmik di sini hampir gak ada celah."
Dimas yang berdiri di samping server utama tertawa kecil. "Jelas dong, ini kan simbol perdamaian Empat Kota. Tapi... Naqa, coba lu lihat grafik ini sebentar."
Dimas mengetuk layarnya, menampilkan papan pemindai gelombang lokal yang terpasang di seluruh sudut gedung sekolah. Di antara garis-garis biru murni yang menandakan aliran listrik dan sihir domestik, terdapat sebuah garis tipis berwarna abu-abu yang terus melonjak secara tidak teratur.
"Ini sinyal apa?" tanya Arunnaqa, alisnya berkerut rapat. Ia mendekatkan wajahnya ke layar. "Bukan energi monster, bukan energi sihir elemen, dan jelas bukan frekuensi radio sekolah. Polanya kacau, tapi seolah-olah punya struktur."
"Gua udah coba lacak titik fokusnya sejak tadi pagi," kata Dimas dengan raut wajah mulai serius. "Sinyal ini melompat-lompat dari satu gedung ke gedung lain. Seolah-olah sumber pancarannya bergerak dalam kecepatan tinggi, atau... pancaran ini ada di banyak tempat dalam waktu bersamaan."
"Perlu kita kabari Ayyasy?"
"Nanti pas istirahat," jawab Dimas mantap seraya menyimpan log data tersebut. "Gua mau coba pasang pemindai sekunder dulu di area rooftop. Gua mau memastikan ini bukan cuma gangguan teknis biasa."
Saat bel istirahat pertama berbunyi, lorong-lorong sekolah langsung dipenuhi oleh riuh suara murid-murid. Abzari dan Arkan sudah lebih dulu berlari menuju kantin perbatasan demi mengamankan meja terbesar untuk anggota Miracle.
Namun, ketika Tasya dan Sintia berjalan melewati koridor sayap timur yang sepi—jalur pintas menuju area taman belakang—suhu udara di sekitar mereka mendadak drop beberapa derajat dalam hitungan detik.
Langkah Tasya terhenti secara mendadak.
"Tasya? Kenapa?" tanya Sintia ikut menghentikan langkahnya.
Tasya menoleh ke arah jendela kaca koridor yang mengarah ke lorong tangga darurat. Di atas kaca bersih itu, embun dingin merebak sangat cepat. Namun yang membuat jantung Tasya berdegup kencang bukanlah embunnya, melainkan bercak-bercak samar yang membentuk sebuah pola kata di atas kaca basah tersebut.
Tulisan itu terukir perlahan, seolah ditulis oleh jemari tak kasat mata dari arah luar jendela:
[BELUM SELESAI]
"S-Sintia... lu lihat itu?" bisik Tasya dengan suara gemetar, merapatkan diri ke dekat temannya.
Sintia membelalakkan mata. Ia refleks mengalirkan sihir pelindung tipis di ujung jarinya. "Siapa di sana?!" teriak Sintia menyapu pandangannya ke lorong tangga yang gelap dan kosong.
Tidak ada jawaban. Tidak ada suara langkah kaki. Tulisan berembun di kaca itu bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya luntur dan menghilang tersapu angin sore yang berhembus lewat celah jendela.
Tasya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa damai yang baru mereka nikmati selama dua hari ini mendadak retak. "Kita harus ke markas sekarang. Ini bukan sekadar ilusi."
Di puncak gedung utama SMA Perbatasan, angin berhembus kencang mengibarkan jubah hitam tak bermotif yang dikenakan oleh sosok misterius itu. Dari ketinggian tersebut, ia bisa melihat dengan jelas kepanikan kecil yang mulai merayap di tubuh Miracle Zenith.
Sosok itu memegang sebuah kristal kelam melayang yang tidak memancarkan cahaya sedikit pun. Kristal itu menyerap seluruh pendar matahari di sekitarnya, menciptakan area kegelapan kecil di sekitar genggamannya.
"Cahaya yang kalian bangun dengan darah dan air mata..." bisik sosok itu dengan nada dingin yang teramat sangat, matanya yang kelam menembus dinding gedung menuju markas Zenith di bawah tanah. "...hanya akan membuat bayangan yang kutinggalkan terasa jauh lebih pekat."
Dengan satu sentakan kecil, sosok itu melangkah mundur menjatuhkan diri dari tepi atap gedung yang sangat tinggi. Namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah, wujudnya melebur bersama angin dan memudar menjadi asap tipis, meninggalkan SMA Perbatasan dalam teka-teki besar yang baru saja dimulai.