Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Salah satu tentara bayaran bertubuh besar dengan julukan Rhino melangkah maju, membuang senapan laras panjangnya dan mencabut sebilah pisau tempur. Ia meremehkan Clarissa yang terlihat rapuh dalam balutan pakaian olahraganya.
"Biar aku yang mengurus wanita ini, Kapten," geram Rhino, melesat maju dengan ayunan pisau yang mematikan ke arah leher Clarissa.
Di sudut ruangan yang gelap, mata Devan menyipit, namun ia tidak beranjak.
Fokus, Clarissa. Ingat atur napasnya, batin Devan.
Waktu seakan berjalan lebih lambat di mata Clarissa. Ia mengambil napas panjang, menahannya di perut bagian bawah, lalu menghembuskannya perlahan. Energi hangat dari Teknik Naga Kuno mengalir deras ke sistem sarafnya, membuat refleks matanya meningkat drastis.
Ayunan pisau Rhino yang seharusnya tidak bisa dihindari oleh manusia biasa, kini terlihat penuh celah.
Sret!
Clarissa memiringkan tubuhnya dengan sangat elegan, membiarkan mata pisau itu lewat hanya beberapa milimeter dari wajahnya. Di saat yang bersamaan, tangan kanan Clarissa melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan Rhino yang terbuka, dan memelintirnya menggunakan momentum tubuh pria itu sendiri.
Krak!
"Aaaargh!" Rhino menjerit kesakitan saat tulang pergelangannya bergeser. Belum sempat ia mundur, Clarissa memutar pinggulnya dan mendaratkan serangan telapak tangan yang dipenuhi tenaga dalam tepat ke ulu hati Rhino.
Bugh!
Pria bertubuh raksasa itu terbatuk darah, matanya melotot, dan tubuhnya ambruk ke lantai kayu tanpa bisa bangkit lagi.
Tiga tentara bayaran lainnya segera mundur. Vindicator, sang pemimpin, menatap tak percaya. Bagaimana mungkin seorang CEO wanita yang manja bisa menumbangkan petarung elitnya hanya dalam satu gerakan mematikan?
"Luar biasa," Vindicator menggeram marah, mencabut dua bilah pisau dari pinggangnya. Matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Tapi permainan berakhiran di sini, Nona."
Vindicator melesat dengan kecepatan penuh. Berbeda dengan Rhino, Vindicator adalah veteran perang. Pergerakannya sangat cepat, tak bersuara, dan mematikan. Bilah pisau nya berayun mengincar leher dan jantung Clarissa secara bersamaan.
Clarissa berusaha menangkis, namun kecepatan Vindicator sudah berada di luar batas kemampuannya saat ini. Pisau melengkung itu tinggal beberapa meter dari kulit putihnya.
Tiba-tiba, udara di dalam ruangan itu terasa membeku.
Trang!
Bilah tajam pisau yang diayunkan dengan tenaga penuh itu terhenti di udara, bergetar hebat. Vindicator melebarkan matanya karena syok.
Devan berdiri di depan Clarissa, menahan bilah baja itu hanya dengan jepitan dua jarinya.
"Kerja bagus, Bos," bisik Devan lembut tanpa menoleh ke belakang, membiarkan tubuh Clarissa yang sedikit gemetar bersandar pada punggung lebarnya yang kokoh. "Kau sudah membuktikan dirimu. Sekarang, biarkan suamimu yang membersihkan sampah-sampah ini."
Ting!
[Kondisi Terpenuhi: Keamanan Target Utama terjamin oleh partisipasi aktif.]
[Misi Utama Arc 1 Diperbarui: Eksekusi ancaman tingkat tinggi.]
[Membuka Segel Kekuatan ke 35%. Teknik Pernapasan Naga Kuno Tahap Dua (Otot dan Jaringan Saraf) Diaktifkan Penuh.]
Suara retakan pelan terdengar dari tubuh Devan, seolah belenggu tak kasat mata baru saja dihancurkan. Otot-ototnya sedikit mengembang, dan urat-urat di leher serta lengannya menonjol, memancarkan panas yang bisa dirasakan oleh Clarissa dari belakang.
"K-kau... Dewa Perang!" Vindicator mencoba menarik pisaunya, namun jari-jari Devan menjepitnya.
Prak!
Dengan satu putaran santai, Devan mematahkan bilah pisua berbahan baja karbon tinggi itu menjadi dua.
Sebelum serpihan baja itu jatuh ke lantai, sosok Devan menghilang dari pandangan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tiga suara hantaman berturut-turut bergema dalam waktu kurang dari satu detik. Clarissa bahkan tidak bisa melihat pergerakan suaminya. Saat matanya kembali fokus, tiga tentara bayaran lainnya sudah terpental menabrak dinding dan pilar rumah hingga temboknya retak, tewas seketika dengan dada yang penyok ke dalam.
Vindicator gemetar hebat. Ia adalah mesin pembunuh, namun di hadapan monster ini, ia merasa seperti balita yang tak berdaya. Ia berbalik dan mencoba melarikan diri melalui jendela yang pecah.
"Mau kemana?"
Suara iblis itu berbisik tepat di telinga Vindicator. Sebuah tangan sekeras baja mencengkeram wajah tentara bayaran itu dari belakang, mengangkatnya ke udara, lalu membantingnya dengan keras ke lantai marmer.