Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Adik...? kata itu menghantam dada stela seketika, amarahnya mulai meredam tapi tak sepenuhnya hilang. "Setidaknya dia tak akan merebut Raynor dari genggamanku, tapi tetap saja, aku tak suka mereka sedekat itu"
Ia mempertimbangkan lagi rencananya, tak menyerang secara terbuka karena di balik gadis itu, berdiri Raynor sebagai tameng yang tak bisa di sentuh sembarangan.
Belum sempat Stela menyusun kata, pintu kamar mandi terdengar berderit hendak terbuka. Seketika wajahnya berubah lembut. Ia melangkah cepat mendekat, melingkarkan lengannya di lengan Raynor dengan senyum manja yang dipaksakan.
"Maafkan aku, sayang... aku tidak tahu. Aku hanya terlalu mencintaimu, dan takut kehilanganmu."
Ia menyandarkan kepala di bahu Raynor, sengaja mempererat pelukan saat Vivian muncul, seakan menegaskan "akulah kekasihnya"
Namun Raynor hanya diam. Tubuhnya kaku, dingin, seakan tak tersentuh. Ia tak membalas maupun menepis. Vivian berdiri terpaku di ambang pintu, menunduk malu.
"Minta maaflah pada Vivian."
Stela melepaskan pelukan, melangkah mendekat pada Vivian yang hanya diam di ambang pintu. Ia menyunggingkan senyum yang tampak lembut namun penuh kepalsuan.
"Vivian, maafkan aku. Aku tak tahu jika kamu adik Raynor. Oh iya, perkenalkan... aku Stela, kekasih kakakmu..."
Ia menekan dua kata terakhir itu dengan sengaja, menegaskan dengan jelas siapa dirinya dan posisi yang ia miliki adalah bukan orang sembarangan.
Vivian menatap tangan yang terulur menggantung di udara. Matanya menangkap setiap kepura-puraan yang terlukis di wajah Stela. Maka ia pun tersenyum, ikut memainkan peran dengan tenang.
"Tak apa, Stela. Kak Raynor memang sangat tampan dan memesona. Jadi wajar saja jika kamu merasa khawatir ada yang berusaha merebutnya."
Vivian menyambut uluran tangan itu dengan senyum yang tampak polos dan tulus. Namun di balik senyumnya yang tenang, sepasang matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang tak perlu diucapkan agar Stela paham sepenuhnya.
"Sebagai penebus kesalahanku... bagaimana kalau kita pergi belanja bersama? kamu belum pernah berbelanja di mall besar kan? Di kampung pasti tak ada mall" ucapnya lembut, namun nada bicaranya menyiratkan sindiran tersembunyi, seakan ingin menegaskan latar belakang Vivian yang berbeda jauh darinya.
Lalu ia menoleh ke arah Raynor, menyandarkan kepala kembali sambil tersenyum manja. "Sayang... tolong traktir kami ya..."
Raynor mengangguk pelan, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
"Bersiaplah," ucapnya singkat, tegas, lalu berbalik berjalan mendahului mereka berdua keluar ruangan.
...****************...
Mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat megah. Ini adalah pengalaman pertama Vivian berbelanja di tempat semewah ini. Dalam hatinya ia tak bisa tidak kagum, namun sengaja ia tahan agar tak terlihat kampungan, demi menjaga harga dirinya.
"Sayang, kita langsung ke toko langganan saja ya," ajak Stela manja.
Raynor mengangguk singkat.
Mereka melangkah masuk ke sebuah butik pakaian bermerk terkenal. Kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh para petugas.
Vivian memperhatikan sekeliling dengan tenang. Bukan memandang deretan pakaian mewahnya, melainkan memperhatikan konsep tata ruang, penataan barang, hingga cara pelayanan mereka. Semua itu ia catat rapi dalam ingatannya.
"Mungkin suatu hari nanti, aku pun bisa mendirikan tempat seperti ini... sekadar butik sederhana pun tak apa" batinnya.
"Ayo!"
Raynor tiba-tiba meraih tangan Vivian yang sedari tadi terlipat diam. Ia menuntun gadis itu ke arah deretan gaun-gaun cantik yang anggun, lalu memilihkan beberapa model yang sangat pas untuknya. Beberapa staf tak sengaja saling pandang, tampak tercengang melihat perhatian tamu VVIP mereka.
"Siapa gadis itu, sampai bisa merebut perhatian tuan Raynor. Bahkan kekasihnya sendiri sampai diacuhkan" bisik salah satu staf yang pura-pura merapikan barang tak jauh dari Stela.
Stela yang semula sibuk memilih pakaian seketika berhenti bergerak. Darahnya mendidih melihat pemandangan itu. Ia segera melangkah mendekat dengan senyum yang dipaksakan.
"Aduh sayang... kamu tidak mengerti selera wanita. Sini, biar aku yang pilihkan untuk Vivian."
Tanpa menunggu izin, Stela menarik paksa tangan Vivian menuju area pakaian yang modelnya terbuka dan seksi. Bibirnya menyungging senyum miring penuh rencana. "Kalau dia memakai pakaian semacam ini, Raynor pasti akan marah dan menganggapnya wanita tak tahu diri"
Ia mengambil beberapa helai pakaian secara asal-asalan, tak mempedulikan ukuran maupun kesesuaiannya dengan tubuh Vivian.
"Stela..." Vivian berusaha protes, namun wanita itu tak membiarkannya bersuara. Semua pakaian itu langsung diserahkan ke kasir tanpa memberi kesempatan Vivian untuk mencoba atau sekadar melihatnya.
"Tiga ratus tujuh puluh enam juta rupiah, Tuan," ucap kasir sopan namun tegas.
Mata Vivian membelalak tak percaya. Angka itu bagai petir di siang bolong, membuatnya terpaku di tempat.
Vivian mematung, napasnya tertahan. Angka itu terasa mustahil baginya. Namun Raynor hanya tenang mengeluarkan kartu pembayaran, seolah angka besar itu tak lebih dari selembar kertas biasa.
Vivian menatapnya lekat. Hatinya berdebar tak menentu, antara takjub, merasa tak pantas, dan sekelebat hangat yang tak sengaja merambat di dadanya.