CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yicheng Menjaga Sepanjang Malam
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Su Wan akhirnya tertidur di kursi kecil di sisi lain tempat tidur, kepalanya bersandar di tepi kasur, tangan masih memegang ujung selimut Xiaoqi seakan takut kalau ia melepaskannya, anak itu akan menghilang. Ia kelelahan — fisik dan batin — setelah berjuang sendirian selama lima tahun, dan malam ini, meskipun Yicheng ada di sini, tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan yang sudah lama ia tahan.
Yicheng duduk di tepi tempat tidur, tidak beranjak sedikit pun. Ia memandang mereka berdua — istri dan anaknya — yang tidur dengan wajah lelah namun akhirnya tenang. Ia memandang wajah Xiaoqi yang masih sedikit pucat, napasnya naik turun secara perlahan, jarum infus masih menancap lembut di punggung tangan kecilnya, cairan bening menetes perlahan ke dalam pembuluh darahnya. Ia memandang Su Wan yang tidur dengan posisi yang tidak nyaman, rambutnya sedikit berantakan, ada garis kelelahan di wajahnya yang biasanya selalu berusaha terlihat kuat dan tenang.
Hening. Hanya suara detak jantung dari alat pemantau di samping tempat tidur, suara tetesan infus, dan napas lembut orang-orang yang paling ia cintai di dunia. Keheningan itu tidak terasa berat — justru terasa penuh, bermakna, menyadarkan Yicheng betapa berharganya dua nyawa ini, betapa rapuhnya mereka, dan betapa besar tanggung jawab yang ada di pundaknya untuk melindungi dan menjaga mereka.
Ia mengusap pelan rambut Xiaoqi, menyeka keringat tipis di dahinya dengan tisu basah yang sudah disiapkan, lalu memeriksa suhu tubuhnya dengan punggung tangan — masih terasa hangat, tapi tidak sepanas tadi malam. Demamnya mulai menurun, dan itu adalah kabar terbaik yang bisa ia harapkan malam ini.
Setiap kali Xiaoqi bergerak gelisah atau mengerunkan kening dalam tidurnya, Yicheng langsung mendekat, memegang tangan kecilnya, berbisik lembut di telinganya, "Ayah di sini, Xiaoqi. Ayah tidak pergi. Tidurlah, Nak. Ayah menjagamu." Dan setiap kali ia mendengar suara itu, tubuh Xiaoqi menjadi rileks kembali, tangannya menggenggam jari Yicheng sedikit lebih erat, seakan suara ayahnya adalah obat penenang paling ampuh di dunia.
Jam tiga pagi. Xiaoqi tiba-tiba membuka matanya, tampak bingung dan takut, matanya mencari-cari di ruangan yang remang. "Ayah? Ibu?" panggilnya dengan suara serak yang lemah.
Yicheng langsung mendekat, wajahnya sejajar dengan wajah anak itu. "Ayah di sini, Xiaoqi. Di sebelah kananmu. Ibu juga ada di sana, sedang beristirahat sebentar. Apa yang kau butuhkan? Mau minum? Atau merasa sakit di mana?"
Xiaoqi menatapnya, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya yang bebas dari infus, menyentuh wajah Yicheng dengan jari-jarinya yang kecil dan hangat, seakan ingin memastikan bahwa ayahnya benar-benar ada, bukan bayangan atau mimpi. "Ayah tidak pergi?"
"Tidak pernah," jawab Yicheng dengan suara bergetar karena haru, menempelkan pipinya ke telapak tangan anak itu. "Ayah akan tetap di sini sepanjang malam. Selama Xiaoqi butuhkan. Tidak akan ke mana-mana."
"Bagus," bisik Xiaoqi, tersenyum lemah namun lega, lalu menutup matanya kembali. "Kalau Ayah di sini, aku tidak takut."
Kata-kata sederhana itu menghantam hati Yicheng lebih kuat dari apa pun. Anak ini, yang begitu kecil dan rapuh, merasa aman hanya karena ia ada di sana. Ia adalah tempat berlindungnya. Ia adalah dunianya. Dan selama lima tahun, dunia kecil ini harus bertahan tanpa dirinya. Rasa bersalah kembali menyeruak, namun kali ini disertai tekad yang lebih kuat — ia tidak akan pernah lagi membiarkan anaknya merasa tidak aman atau sendirian. Ia akan menjadi tempat berlindung yang selalu ada, selalu siap, tidak pernah tertinggal.
Jam empat pagi. Su Wan masih tertidur. Yicheng menyelimuti bahunya dengan lembut, memastikan ia tidak kedinginan, lalu kembali menatap Xiaoqi. Ia teringat semua hal yang pernah ia lewatkan — hari pertama Xiaoqi bisa berjalan, hari pertama ia masuk sekolah, hari ulang tahunnya, hari-hari saat ia sakit, hari-hari biasa di mana anak itu hanya ingin bermain atau bercerita. Semua momen itu sudah berlalu, tidak bisa ia kembalikan. Tapi momen-momen di masa depan masih ada. Dan ia berjanji, tidak akan melewatkan satu pun lagi. Ia akan ada di sana untuk setiap langkah pertama, setiap ulang tahun, setiap hari sakit, setiap cerita sebelum tidur. Ia akan menjadi ayah yang hadir — bukan hanya secara fisik, tapi sepenuhnya, dengan hati dan jiwanya.
Ia mulai memikirkan perubahan yang harus ia lakukan. Ia akan berbicara dengan rekan kerjanya, mengatur jadwal agar tidak lagi bekerja sampai larut malam. Ia akan membagi tugas di rumah — memasak, membersihkan, merawat Xiaoqi — agar Su Wan tidak lagi memikul beban sendirian. Ia akan mengambil alih tugas-tugas kecil yang selama ini menjadi beban Su Wan, sehingga wanita itu bisa beristirahat, bisa bernapas, bisa kembali menjadi dirinya sendiri di samping peran sebagai ibu dan istri. Ia tahu perubahan ini tidak mudah, dan Su Wan mungkin butuh waktu untuk terbiasa — tapi ia akan membuktikan dengan tindakan, bukan kata-kata, bahwa ia serius. Bahwa ia berubah. Bahwa ia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi orang asing di rumahnya sendiri.
Jam lima pagi. Cahaya abu-abu mulai menyelinap masuk dari balik tirai, menandakan fajar akan tiba. Xiaoqi tidur lebih tenang sekarang, napasnya lebih dalam dan teratur, tangannya masih menggenggam jari Yicheng dengan lembut namun tidak lagi sekuat tadi malam — tanda bahwa ia merasa aman. Yicheng tidak bergerak, kakinya sudah kesemutan, punggungnya terasa pegal, tapi ia tidak peduli. Rasa lelah fisik ini tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa sakit yang ia bayangkan jika sesuatu terjadi pada mereka. Ia akan duduk di sini seharipun, seminggu, sebulan — apa pun yang dibutuhkan, ia akan melakukannya.
Ia menoleh ke arah Su Wan. Wanita itu masih tertidur, namun wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya, seakan menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian, bahwa ada seseorang yang menjaga sementara ia beristirahat. Yicheng ingin sekali mengusap wajahnya, memeluknya, memberitahunya bahwa ia sudah tidak perlu kuat sendirian lagi — tapi ia tidak ingin membangunkannya. Ia membiarkannya beristirahat, membiarkannya merasakan bagaimana rasanya ditopang oleh orang lain untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Matahari akhirnya terbit, cahaya keemasan yang lembut menyebar di langit pagi, masuk ke dalam ruangan dan menyentuh wajah Xiaoqi. Anak itu mengerjap pelan, membuka matanya, melihat Yicheng masih duduk di sana, di tempat yang sama, dengan wajah yang sedikit lelah namun penuh kasih sayang.
"Ayah… kau belum tidur?" tanyanya dengan suara yang sudah terdengar sedikit lebih kuat dari semalam.
Yicheng tersenyum, mencium punggung tangan anak itu. "Ayah belum mau tidur. Ayah ingin memastikan Xiaoqi tidur nyenyak. Bagaimana perasaanmu sekarang? Lebih baik?"
Xiaoqi mengangguk pelan, menyentuh dahinya sendiri. "Tidak terlalu panas lagi. Badan tidak terlalu sakit." Ia menatap Yicheng lekat-lekat, lalu tersenyum — senyum yang cerah, yang membuat seluruh kelelahan Yicheng hilang seketika. "Terima kasih sudah menjagaku sepanjang malam, Ayah. Aku senang Ayah ada di sini."
"Ayah juga senang ada di sini," jawab Yicheng, matanya berkaca-kaca namun hatinya penuh kebahagiaan yang tak terlukiskan. "Selama Xiaoqi butuh, Ayah akan selalu menjagamu. Setiap malam, setiap hari. Tidak akan pernah pergi lagi."
Su Wan terbangun karena suara percakapan mereka, menguap pelan, lalu melihat ke arah jendela — matahari sudah tinggi. Ia melihat Yicheng yang masih duduk di tepi tempat tidur, matanya sedikit merah dan lelah namun tatapannya jernih dan tenang. Ia melihat Xiaoqi yang tersenyum, wajahnya terlihat jauh lebih baik dari semalam.
"Sudah pagi…" bisik Su Wan, menyadari bahwa Yicheng tidak tidur semalaman. "Kau tidak tidur sama sekali, Yicheng? Sejak kemarin malam kau belum beranjak dari sana."
Yicheng menoleh, menatapnya dengan senyum lembut yang penuh keteguhan. "Aku tidak ingin meninggalkan Xiaoqi sendirian. Dan aku ingin kau bisa beristirahat tanpa khawatir. Sekarang Xiaoqi sudah lebih baik. Kau juga perlu makan dan istirahat, Su Wan. Mulai sekarang, kita berbagi tugas. Tidak ada lagi yang berjuang sendirian. Kita bersama."
Su Wan menatapnya, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis. Ia melihat perubahan itu — bukan hanya kata-kata, tapi tatapan, sikap, dan tindakan. Ia melihat bahwa Yicheng benar-benar mengerti. Bahwa ia akhirnya paham bahwa keluarga bukanlah beban yang dibawa sendirian, melainkan beban yang dibagi bersama, sehingga menjadi ringan. Bahwa ia tidak perlu lagi kuat sendirian. Bahwa ada seseorang yang siap memikul separuh, bahkan lebih, selama sisa hidup mereka.
"Terima kasih," bisiknya, air mata jatuh di pipinya — bukan karena kesedihan, tapi karena kelegaan yang begitu besar. "Terima kasih, Yicheng. Terima kasih sudah ada."
Yicheng berdiri, berjalan ke arahnya, menyeka air matanya dengan lembut, tangannya hangat dan stabil di pipinya. "Terima kasih sudah menunggu. Terima kasih sudah bertahan. Mulai sekarang, aku di sini. Untuk Xiaoqi. Untukmu. Untuk kita. Tidak ada lagi yang sendirian."
Pagi itu, di ruang rawat rumah sakit, di bawah cahaya matahari yang masuk hangat lewat jendela, tiga hati akhirnya menemukan keseimbangan baru. Xiaoqi sembuh perlahan, dikelilingi oleh kasih sayang dua orang yang paling ia cintai. Su Wan akhirnya merasa tidak lagi sendirian, tahu bahwa ada seseorang yang siap memegang tangannya saat ia lelah. Dan Yicheng — ia akhirnya pulang, bukan hanya ke rumah, tapi ke hati keluarganya, memahami bahwa kekayaan terbesar bukanlah yang ada di rekening bank, melainkan yang ada di pelukanmu saat pagi tiba.
Malam menjaga Xiaoqi itu bukan sekadar merawat anak yang sakit — itu adalah malam di mana Yicheng belajar menjadi ayah yang sesungguhnya, malam di mana ia menebus waktu yang hilang dengan kehadiran yang tak tergantikan, dan malam di mana keluarga ini akhirnya benar-benar menjadi satu — utuh, saling menjaga, dan tidak akan pernah terpisah lagi.