Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Sore itu, rumah sederhana yang ditempati Karina terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya matahari yang mulai condong ke ufuk barat masuk melalui celah jendela, menerangi ruang tengah yang sederhana. Karina duduk bersandar di pundak ibunya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menceritakan banyak hal tentang kehidupannya selama bekerja di rumah keluarga Mahardika.
Tentang hari pertama ketika dirinya datang ke rumah besar itu, tentang perasaan canggung saat pertama kali melihat kemewahan yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan, tentang pria paru baya yang awalnya terlihat begitu dingin, tetapi kini justru menjadi orang yang mulai membelanya.
Karina tersenyum kecil ketika mengingat semua itu.
"Awalnya aku takut sekali, Bu. Rumahnya besar, orang-orangnya juga berbeda dengan kita. Aku sampai bingung harus bersikap bagaimana."
Bu Rini tersenyum. Kali ini Karina mulai teringat dengan sosok Adrian, senyum di wajahnya berubah menjadi senyum yang berbeda sang ibu langsung menyadarinya.
"Ada apa?"
Karina tertawa kecil.
"Enggak."
"Kamu baru saja tersenyum aneh."
Karina menundukkan kepala.
"Sebenarnya, di sana ada Adrian Bu, sejak hari itu aku bertemu denganya aku merasa dirinya ada sesuatu yang berbeda."
Bu Rini memperhatikan wajah putrinya yang tiba-tiba terlihat lebih cerah.
"Apa dia pria yang baik?"
Karina menggeleng.
"Tidak Bu"
Jawabannya justru membuat Bu Rini bingung.
"Tapi aku yakin suatu hari nanti aku bisa mengambil hatinya."
"Karina..." sahut Ibu nya
"Aku tahu, Bu." Karina buru-buru menyela.
"Aku tahu dia jauh di atas aku. Aku tahu mungkin dia tidak akan pernah melihatku seperti aku melihatnya."
Ia tersenyum tipis.
"Tapi aku yakin bisa mendapatkan hati nya."
Sang Ibu belum sempat menjawab ketika tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
Keduanya terdiam.
Bu Rini kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban, Ia membuka pintu.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat seseorang berdiri di depan rumah.
"Dimas?"
Dimas berdiri dengan pakaian yang sedikit lebih rapi dari biasanya. Di tangannya terdapat sebuah bingkisan kecil
"Karina ada, Bu?"
Bu Rini memandangnya sejenak, sambil menyuruhnya masuk kedalam, namun baru saja Dimas melangkah, Karina sudah berdiri
"Dimas."
Karina kemudian berjalan mendekat.
"Kita bicara di luar saja."
Mereka kemudian duduk di kursi panjang yang berada di luar rumah, beberapa saat keduanya hanya diam, Dimas lalu memandang kaki Karina yang masih dibalut.
"Bagaimana kakimu?" tanya Dimas
"Sudah tidak apa-apa."
Dimas mengangguk, Kemudian ia menyodorkan bingkisan yang sejak tadi dibawanya.
"Karina, ini untukmu."
Karina mengerutkan kening.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Karina membuka perlahan, matanya langsung tertuju pada sebuah kalung emas yang tersimpan rapi di dalam kotak, Namun tidak nampak senyum kebahagiaan di wajahnya, berbeda dengan Dimas yang tersirat tersenyum bahagia diwajahnya
"Aku melihatnya beberapa hari lalu. Aku pikir kamu pasti menyukainya."
Karina menatap kalung itu cukup lama, dan Dimas menatap ke arah Karina penuh harap.
"Aku ingin kita menikah Karin."
Karina membeku sambil tatapanya melihat ke arah Dimas
"Apa?"
"Iya Karin, aku ingin kita segera menikah."
"Tidak, Dimas." jawaban Karina terdengar begitu cepat, namun tatapanya kali ini menuju bingkisan yang dipegang nya
"Aku tidak ingin menikah." sahut karina lagi
Senyum Dimas langsung menghilang.
"Apa?"
"Aku belum ingin menikah."
Dari dalam rumah, Bu Rini yang mendengar percakapan mereka juga terkejut.
Dimas menatap Karina dengan wajah tidak percaya.
"Tapi kenapa?"
Karina terdiam.
"Apa ada laki-laki lain?"
"Bukan itu."
"Lalu kenapa?"
Karina menarik napas panjang.
Ia tidak mampu mengatakan alasan sebenarnya.
Ia tidak mungkin berkata bahwa ada seorang laki-laki lain yang kini memenuhi pikirannya.
"Aku sudah menunggumu begitu lama, Karina."
"Aku tahu Dimas."
"Lalu?"
Dimas menatapnya dengan penuh harap.
Karina hanya mampu menundukkan kepala nya, sebenarnyabdia merasa tidak enak harus menolak Dimas yang selama ini menyukainya, namun dia harus berkata jujur
"Kamu tahu, kan, Dimas... aku baru saja mendapatkan pekerjaan."
Dimas mengerutkan kening.
"Karina, menikah denganku bukan berarti kamu tidak boleh bekerja."
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu apa?"
Karina menarik napas dalam-dalam.
"Aku ingin mengubah hidupku."
Dimas terdiam.
"Aku ingin hidup yang lebih baik."
Karina menatapnya.
"Selangkah lagi, Dimas."
"Menuju kehidupan yang selama ini aku impikan."
Karina melanjutkan.
"Aku tidak ingin terus-menerus tinggal di rumah orang yang selalu merendahkanku."
"Aku tidak ingin terus meminta bantuanmu."
"Aku juga tidak ingin selamanya bergantung kepada keluargamu."
Suara Karina mulai bergetar.
"Aku ingin membelikan rumah mewah untuk ibu ku, dan aku akan mencapai itu bila aku bekerja dirumah itu, Dimas."
Dimas menatapnya tanpa berkata-kata.
"Aku mohon, mengertilah." lanjut karina
Dimas menunduk.
Kalimat-kalimat Karina perlahan membuatnya sadar bahwa selama ini ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Karina tidak hanya sedang menolak pernikahan.
Karina sedang mengejar kehidupan yang selama ini tidak pernah dimilikinya, namun bagi Dimas, semua itu terasa menyakitkan.
"Kalau begitu, kejar impianmu."
Ia tersenyum tipis.
"Aku hanya berharap suatu hari nanti kamu tidak menyesal karena memilih sesuatu yang bahkan belum tentu menjadi milikmu."
Karina terdiam.
Kalimat itu terasa menusuk hatinya.
"Aku minta maaf, Dimas." kata kata itu keluar dari mulut Karina sambil dirinya pergi meninggalkan Dimas, sementara itu dari dalam rumah, Bu Rini yang sejak tadi mendengar percakapan mereka segera keluar, Ia melihat Dimas tertunduk lemah dikursi panjang sambil menghampirinya, dia sadar bagaimana perasaan Anak itu saat putrinya menolak menikah dengan nya, tapi dirinya tidak bisa berbuat banyak, bagaimana pun keputusan menikah berada ditangan Karina sendiri. Dimas yang tidak ingin kesedihan nya terlalu berlarut dihadapan ibu Karina, kemudian ia berjalan meninggalkan rumah rumah Karin.
Di balik pintu rumahnya, Karina juga merasakan kesedihan karna telah menolak Dimas, ia tahu bagaimana Dulu Dimas selalu menolong dan menjaganya, namun kali ini ia telah membuat hati nya terluka, matanya mulai berkaca-kaca.
Untuk sesaat, ia merasa bersalah.
Namun ketika bayangan Adrian kembali muncul dalam pikirannya, ia kembali menguatkan hati.
"Tidak, ini memang harus aku lakukan"
Karina mengepalkan tangannya.
"Aku harus mengubah hidup Ibu."
Ia tidak tahu bahwa jalan yang sedang dipilihnya bukanlah jalan yang mudah. Karena semakin dekat Karina dengan keluarga Mahardika, semakin besar pula kemungkinan kehancuran bagi dirinya sendiri, yang tidak pernah dia bayangkan, namun kemewahan tetap menjadi tujuan utama dalam hidup nya saat ini.
Dan tanpa Karina sadari, keputusan sang pemilik perusahaan besar Surya Mahardika akan terus membuat jalan bagi Karina untuk tetap ada dikeluarga Mahardika agar Karina bisa menjadi bagian di keluarga Mahardika.