Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Siapa Bocah Itu
"Jambreet....! Tolong! Tasku dijambret....!"
Hana memekik ketika tasnya disahut oleh seorang pria dan berlari dengan gesitnya. Dia yang baru pulang dari kantor Erlangga dan mampir di sebuah Alfamart menemui insiden yang tak mengenakkan. Ia pikir dengan membeli minuman dingin akan mengurangi rasa panas yang menyerangnya, tapi apa yang didapat, tasnya malah dibawa pergi oleh pencuri.
Mendengar pekikan seseorang yang meminta pertolongan, seorang bocah kecil bergerak cepat menghadang pelaku pencurian itu. Dia melemparkan tas ranselnya tepat mengenai muka si pencuri.
"Kena kau!"
Pria dewasa itu jatuh tersungkur. Tas yang dibawanya juga terlepas dari tangannya. Buru-buru anak itu mengambilnya dan menyerahkan pada kembarannya.
"Kenzie, amankan tas ini. Aku mau panggil orang-orang di sekitar sini untuk mengurusnya."
Kenzo langsung berlari cepat meminta pertolongan pada warga yang tengah ada di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat itu.
"Om! Bisa minta tolong nggak?"
Dengan nafas tersengal dia mendekati beberapa orang yang tengah duduk bersantai.
"Iya dek, minta tolong apa memangnya?" tanya mereka.
"Itu ada pencuri. Barusan aku lempar pakai tas. Bisa nggak amankan dia dan bawa ke kantor polisi?"
Beberapa orang itu menoleh pada pria yang mukanya sudah membiru akibat tersungkur di tanah.
"Serius dia itu pencuri? Kalau boleh tahu apa yang sudah dicurinya?" tanya mereka yang tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
"Dia ambil tas nenek-nenek. Aku lari dan melemparnya pakai tasku. Sekarang tas nenek itu diamankan oleh adikku. Ayo Om, bantu aku untuk mengamankannya."
Mereka saling bertatapan satu sama lain. Lalu mengangguk serempak. "Oke, ayo kita urus dia! Biar nggak bikin resah orang!"
Pria itu bangkit dan berniat untuk berlari namun dihadang oleh warga hingga membuatnya tak memiliki celah buat meloloskan diri.
"Ampun pak, ampun! Tolong lepaskan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Jangan membual! Kau pikir kami percaya dengan omonganmu," desis mereka dengan menatapnya tanpa ekspresi. "Pencuri tetaplah pencuri, dan jangan harap kami akan melepaskanmu! Ayo ikut bersama kami!"
Pada akhirnya pria itu hanya bisa pasrah saat warga menangkapnya untuk dibawa ke kantor polisi.
"Wah! Abang hebat, bisa nangkap pencuri." Kenzie tersenyum bangga melihat keberanian kembarannya.
"Ya tentu saja aku hebat, memangnya kamu yang suka nangisan," seloroh Kenzo sengaja mencibirnya.
Kenzie sudah terbiasa diejek, dia tak sakit hati karena pada dasarnya memang dirinya sering menangis.
"Ayo kita kembali tas ini pada pemiliknya."
Dua bocah itu berjalan ke arah wanita tua yang terduduk lemas di bawah pohon ditemani oleh sopirnya.
"Nenek! Apa ini tas milik anda?"
Wanita itu menoleh dan langsung mengangguk. "I—iya benar, ini tas saya." Hana terbengong tak kunjung bangkit dari tempat duduknya. Pandangannya fokus menatap dua bocah kembar yang begitu memiliki kemiripan dengan seseorang.
"Pak Usman..., kenapa wajah mereka begitu mirip dengan putraku sewaktu dia masih kecil?"
Sang sopir juga tak berhenti berkedip. Dia sudah mengabdi pada keluarga Kusuma lebih dari dua puluh lima tahun, tentu sudah sangat hafal dengan satu persatu keluarga Kusuma, bahkan masa kecil anak-anak Aditya Kusuma, dia cukup memahaminya.
"I—iya benar nyonya, kenapa bocah ini mirip sekali dengan Den Erlangga sewaktu beliau masih kecil. Apa mungkin mereka ~~
"Maksudnya?" Hana menoleh pada Usman yang menggantung penjelasan. Dia memiliki feeling yang sama seperti supirnya.
"Nenek! Ini kukembalikan tasnya."
Kenzo menyerahkan tas tersebut dan diterima oleh Hana.
"Terimakasih banyak ya sayang. Kalian anak baik, masih kecil tapi sudah pintar bantu orang."
Hana mengulas senyuman manis memuji mereka dengan mengambil tas dari tangan Kenzo.
"Coba dicek lagi isinya, barang kali ada yang hilang," cicitnya. "Tadi pencurinya sudah dibawa ke kantor polisi."
"Tunggu sebentar sayang, nenek mau cek dulu isinya."
Hana membuka dompet kecil di dalamnya, dan mengeluarkan empat lembar uang nominal seratus ribuan.
"Syukurlah isinya tidak kurang sedikitpun. Ini buat jajan kalian ya?"
"Wah, terimakasih nenek." Kenzie mengulurkan tangannya hendak mengambil uang pemberian Hana, namun Kenzo segera menepis tangannya.
"Jangan Kenzie! Menolong orang itu harus iklas, nggak boleh minta imbalan."
"Tapi bang! Kita kan nggak minta, nenek yang kasih," jawab Kenzie.
"Tetap saja tidak boleh! Ayo kita pergi!"
Kenzo meraih tangan Kenzie dan diajaknya pergi, namun Hana langsung menghadangnya.
"Tunggu nak, jangan pergi dulu. Nenek iklas kasih uang jajan buat kalian, tolong jangan ditolak!"
Kenzo menarik nafasnya. "Nenek, kami masih punya uang buat jajan. Mami bilang jika menolong orang yang membutuhkan kita nggak boleh ngarepin pamrih. Sebaiknya uang itu buat nenek saja. Maaf..., kami nggak bisa menerimanya. Ayo Kenzie!"
"Nak! Tunggu..!"
Kenzo dan Kenzie berlari kembali ke gerbang sekolah untuk menunggu jemputan ibunya. Di situ Kenzie agak kesal karena kembarannya tidak mau menerima uang pemberian Hana.
"Pak Usman, kenapa mereka pergi? Padahal saya ingin memberinya uang jajan. Saya juga ingin mengenal mereka."
"Sepertinya mereka menolak uang pemberian nyonya. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi jika itu terjadi pada anak lain mungkin tidak akan menolaknya," cicit Usman.
Hana gelisah. Dia yang sudah tua malah kalah dengan bocah kecil yang pantas dijadikan cucunya. Rasa keingintahuannya juga sangat kuat, tapi dengan cara apa bisa menemukan tempat tinggal bocah itu.
"Pak Usman, tolong cari tahu di mana alamat bocah itu. Saya ingin datang untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan tas saya. Saya juga ingin tahu siapa orang tuanya. Kenapa dia begitu mirip dengan putra saya."
"Baik nyonya, nanti saya akan coba mencari tahu di mana alamatnya. Sekarang lebih baik kita pulang nyonya. Nyonya terlihat begitu lelah, nyonya butuh istirahat."
Hana pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya meskipun perasaannya masih belum bisa tenang.
****
"Abang! Uang yang dikasih nenek itu lumayan banyak. Kita bisa membeli makanan enak dengan uang itu. Kenapa Abang tolak sih?"
Kenzo menajamkan matanya dan menegur. "Harus diulang berapa kali lagi Abang ngomong Kenzie!"
"Tapi bang! Kita butuh uang buat jajan, atau seenggaknya buat bantu mami. Kita kan dikasih bang! Bukan nyuri!"
"Iya, aku tahu kita tidak nyuri! Tapi menerima pemberian orang karena sudah membantu itu sama halnya mengharapkan pamrih. Kalau kita niat mau nolong orang jangan pernah mengharapkan imbalan. Kalau kita ingin mendapatkan uang ya harus bekerja!"
Cukup geram Kenzo langsung memberikan teguran keras pada kembarannya. Memang usianya masih sangat dini, tapi cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, dan Ayuna menyadari ketika Kenzo berusia tiga tahun.
"Kalian ngapain di sini?" Tiba-tiba Ayuna datang dan membuat mereka terkejut.
"Mami!" Kenzie langsung menghambur pada ibunya.
Kenzo mendengus dengan tatapan sengit. "Mau ngadu! Kebiasaan!"
Ayuna mengerutkan keningnya. " Ada apa? Kalian lagi berantem?"
"Tidak mam! Kami hanya ~~
"Mami harus bilang berapa kali agar kalian mengerti," omel Ayuna. "Kalian ini saudara! Kalau berantem terus mau jadi apa?! Atau mungkin kalian sudah nggak sayang sama mami?"