NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BA. 19, Kenapa Memilih Menikah?

Empat hari berlalu sejak keputusan Anna dari rumah sakit. Waktu bergerak perlahan seperti perahu kecil yang mengikuti arus laut tanpa tergesa-gesa. Luka di dalam tubuhnya mulai mengering, tapi bekas-bekas yang tak terlihat masih diam-diam berdenyut di dalam dada. Hari itu, langit Jakarta diselimuti langit pucat. Matahari menggantung tinggi, tetapi sinarnya tertahan awan tipis sehingga cahaya yang jatuh ke balkon apartemen begitu lembut, seolah enggan mengusik ketenangan asing.

Jeevan sudah berangkat bekerja sejak pagi. Apartemen kembali dipenuhi kesunyian yang hanya diselingi suara pendingin ruangan dan sesekali deru kendaraan dari jalan raya di bawah sana. Anna sedang merapikan meja makan ketika bel pintu berbunyi.

Ting...

Ia berjalan pelan menuju pintu.

Begitu daun pintu terbuka, kedua matanya langsung membulat.

"Ibu..."

Di hadapannya berdiri perempuan berusia hampir enam puluh tahun dengan kulit yang mulai dipenuhi guratan usia. Rambutnya yang sebagian telah memutih di gelung sanggul rapi. Di tangan kanan tergenggam tas kain besar, sementara tangan kirinya membawa dua kantong plastik putih yang tampak cukup berat.

"Ibu lagi ada di Jakarta. Ada undangan nikahan saudara teman ibu. Sekalian mampir." Ucapnya menjelaskan.

Anna tersenyum tipis. "Masuk dulu, Bu."

Perempuan itu melangkah masuk sambil meletakan barang bawaannya di atas meja makan.

"Ibu bawain tumis ikan asin jambal pedas, cumi kering, kerupuk ikan, sama sambal roa. Kemarin tetangga baru pulang melaut. Katanya masih segar."

Aroma laut langsung memenuhi ruangan. Bau khas ikan asin bercampur sambal menguar perlahan, seketika menyeret ingatan Anna pulang ke kampung halaman di Kepulauan Seribu. Tempat masa kecilnya tumbuh bersama desir ombak, angin asin, dan langit yang setiap sore selalu memantulkan warna jingga.

Sesaat dadanya menghangat. "Terima kasih, Bu."

"Iya. Simpan saja nanti." Ujarnya.

Anna mengambil kantong-kantong itu dengan hati-hati lalu memasukkannya ke dalam kulkas.

Tak lama kemudian keduanya duduk berhadapan di meja makan.

Anna membuatkan teh hangat, sedangkan ibunya memandang sekeliling apartemen dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Bagus juga apartemennya." Sanggahnya kagum.

Anna hanya mengangguk pelan, karena ini adalah pertama kalinya ibunya datang ke tempat ia tinggal setelah menikah bersama Jeevan.

"Ayah nggak ikut, Bu?" tanya Anna seraya menyodorkan gelas ke hadapan ibunya.

"Enggak. Katanya ada rapat di desa." Jawabnya seraya meraih gelas.

"Capek, Bu? Dari pesta langsung ke sini?"

"Iya. Nikahannya tadi pagi." Ujarnya setelah menyeruput teh hangat.

"Gimana acaranya?"

Ibunya langsung bersandar. "Ramai sekali. Gedungnya besar. Dekorasinya bagus. Pengantinnya juga terlihat bahagia." Kenangannya seraya tersenyum kecil.

Anna tersenyum kecil. "Syukurlah."

"Makanannya juga banyak. Pokoknya aneh-aneh deh,"

Beberapa menit percakapan mereka masih mengalir ringan. Tentang perjalanan kapal menuju Jakarta, kemacetan, hingga cerita lucu saat salah satu tamu salah menyebut nama mempelai.

Namun seperti ombak yang perlahan berubah menjadi badai, pembicaraan mulai bergeser menuju arah yang tak pernah di sukai Anna.

Ibunya mengembuskan napas panjang. "Kalau lihat orang nikahan, ibu jadi ingat waktu kamu menikah."

Senyum Anna memudar.

"Kamu sama Jeevan bahkan nggak ada pemberkatan." Ucap ibunya santai.

Anna terdiam.

"Ibu kadang masih sedih kalau mengingatnya." Kayanya.

Ruangan yang tadi hangat mendadak terasa dingin.

"Ibu tadi lihat keluarga mempelai perempuan dihormati sekali. Duduk paling depan. Di salami semua orang."

Beliau berhenti sejenak. "Sedangkan keluarga suamimu dulu..." kalimat itu menggantung. "...terkesan congkak sama keluarga kita."

Anna mengangkat wajahnya perlahan. "Bu..."

"Mereka datang, bicara seperlunya, selesai. Seolah-olah keluarga kita cuma pelengkap." Lanjut ibunya.

Anna menarik napas panjang sebelum menjawab dengan suara yang tetap lembut.

"Bu, zaman sekarang menikah itu bukan cuma soal pesta..."

Bu Liana menyela. "Tapi tetap saja..."

Anna ikut menyela. "Aku sama Mas Jeevan memang memilih tidak mengadakan pesta."

Ibunya mengernyit. "Kenapa? Jeevan anaknya udah mapan, punya kerjaan bagus. Rumah sudah punya, kenapa mengadakan pesta saja tidak bisa?"

Anna melengos. "Karena uangnya lebih baik di pakai buat kehidupan setelah menikah."

Anna berbicara tanpa nada membela diri. "Kami sama-sama sadar hidup setelah menikah jauh lebih panjang dibanding satu hari pesta."

Anna tersenyum tipis. "Kalau dulu kami memaksakan resepsi besar, mungkin sampai sekarang masih sibuk melunasi utang."

Ibunya masih diam, Anna melanjutkan seraya menyapu pandang apartemen yang di tempati suaminya sebelum menikah dengannya.

"Apartemen ini juga bisa kami tempati karena Mas Jeevan orangnya sangat hemat." Anna menatap ke arah ruang sebelahnya. "Dia lebih memilih menyicil tempat tinggal daripada menghabiskan uang untuk sesuatu yang selesai dalam beberapa jam."

Keheningan kembali turun. Namun rupanya percakapan belum selesai. Ibunya memandang putrinya cukup lama sebelum bertanya pelan.

"Karena itu..." ucapnya terpotong. "...kenapa dulu kamu malah memutuskan untuk tidak lagi menulis dan memilih untuk menikah?"

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dibanding yang sebelumnya. Anna menunduk kepala.

"Karena aku membutuhkannya." Jawab Anna pelan, bukan ucapan karena aku mencintainya atau karena dia takdirku.

Melainkan Anna mengatakan kalimat itu terlalu jujur. Anna dan Jeevan memang menikah karena sama-sama saling membutuhkan.

"Membutuhkannya?" ibunya mendengus pelan, lalu menggeleng perlahan seraya menatap Anna heran. "Menikah itu tidak semudah yang kamu bayangkan, Anna."

Pandangannya mulai tajam. "Kamu terlalu bodoh melepaskan impianmu." Katanya tanpa dosa.

Anna mengepalkan jemarinya di bawah meja. "Kamu dulu begitu keras memperjuangkan kuliah sastra sampai kamu tidak pulang selama tiga tahun dari Jakarta." Suara perempuan paruh baya itu semakin berat. "Giliran sudah lulus, malah berhenti menulis."

"Tapi Anna juga kerja, Bu. Membayar listrik, kuliah Nanda, dan membayar tagihan apartment yang sekarang di pakai Nanda. Gaji pertama Anna aja di beliin kulkas buat ngisi apartement, tapi apa...Anna yang membayar semua tagihan. Tapi tetap saja apartemen itu menjadi hak milik Nanda..."

Ibunya menghela napas kasar. "Jadi selama ini kamu perhitungan sama adik kamu, Na? Bukannya sudah seharusnya seorang kakak membantu adiknya? Apa perlu ibu membayar semua uang yang sudah kamu keluarkan untuk apartemen yang di berikan oleh ayah kalian? Nanda laki-laki, Anna. Dia berhak memiliki apartemen itu karena suatu hari nanti Nanda juga menikah."

"Bahkan beli pakaian bagus saja kamu dulu kesulitan. Malah memilih menikah." Ucapnya.

Apartemen itu hening, Anna hanya menunduk merasa bersalah karena telah berucap seperti itu.

"Ayah dan ibu membiayai kuliahmu itu dengan susah payah, Anna. Tidak sedikit ayahmu mengeluarkan uang supaya kamu bisa tinggal di kota besar, tapi apa? Kamu memilih menikah dan sampai sekarang pun kamu belum bisa mengembalikan biaya kuliahmu."

Nada itu terdengar begitu getir, Anna hanya mampu memejamkan matanya beberap detik.

Bel pintu kembali terdengar nyaring membuat ucapan ibunya terhenti, Anna gegas berjalan menuju pintu. Dan saat pintu terbuka, Anna mendapatkan pria tinggi dengan kulit putih, tampan.

...💞💞💞...

Siapakah dia?

Lanjut bab selanjutnya 🫶

...BERSAMBUNG...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!