"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN KATA DAN JANJI DI BISA KEMASAN
Langit di atas SMA Garuda Bangsa berangsur berubah warna menjadi jingga keemasan. Kebanyakan siswa sudah meninggalkan area sekolah, menandakan jam pembelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler telah selesai. Suasana koridor yang tadinya ramai kini perlahan sunyi, hanya menyisakan desir angin sore yang bertiup lembut menerpa dedaunan di halaman tengah.
Nayla masih berada di ruang perpustakaan di lantai dua. Ia duduk di sudut ruangan yang tenang, di dekat rak-rak buku tebal bertema sejarah dan literatur klasik. Di depannya, beberapa lembar kertas tugas dan laptop yang terbuka memperlihatkan naskah esai yang belum sepenuhnya rampung.
Nayla mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding yang berdetak konstan. Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan pengemudi pribadi keluarga Alveric pasti sudah menunggu di area parkir depan. Namun, ada satu hal yang menahannya untuk segera berkemas: sebuah buku referensi tua yang ia cari sejak kemarin sore belum juga ia temukan.
Ia berdiri dan berjalan menyusuri lorong-lorong rak kayu yang tinggi. Langkah kakinya yang terbalut sepatu pantofel hitam hampir tak bersuara di atas karpet tipis perpustakaan. Saat tangannya terulur ke rak bagian atas untuk menjangkau sebuah buku bersampul kulit cokelat, jemarinya tak cukup tinggi untuk menggapainya.
Nayla berjinjit pelan, mengulurkan jemarinya kembali. Namun sebelum ujung jarinya sempat menyentuh punggung buku tersebut, sebuah bayangan tubuh yang tinggi melangkah mendekat dari arah belakang. Sebuah lengan panjang terulur melintasi bahunya, meraih buku itu dengan sangat mudah dari rak.
Aroma citrus dan wood yang begitu familiar langsung menyergap indra penciuman Nayla, membuat napasnya tertahan seketika.
"Buku ini yang kamu cari?"
Suara berat dan bernada rendah itu terdengar begitu dekat di samping telinganya. Nayla menoleh pelan, dan matanya langsung berbenturan dengan tatapan mata Zavier yang teduh namun tajam. Pria itu berdiri amat dekat dengannya, hanya berjarak satu jengkal.
Nayla mundur setengah langkah secara refleks, berusaha menetralkan rasa gugup yang mendadak menguasai dirinya. "Zavier... kamu belum pulang?"
Zavier tidak langsung menjawab. Ia memandangi wajah Nayla sejenak sebelum menyodorkan buku di tangannya. "Tugas pak Rahardjo tidak perlu diselesaikan hari ini kalau membuatmu harus menahan lapar sampai sesore ini."
Nayla menerima buku itu dengan ragu-ragu, ujung jemari mereka sempat bersentuhan singkat, menyengat dada Nayla dengan sensasi hangat yang membingungkan. "Aku cuma ingin menyelesaikannya lebih cepat. Rumah terlalu bising untuk fokus membaca," gumam Nayla pelan, menyuarakan sedikit kejujuran yang jarang ia bagikan pada orang lain.
Zavier mengamati ekspresi gadis itu. Ia sangat paham apa yang dimaksud Nayla. Rumah keluarga Alveric, sama halnya dengan Istana Mahendra, bukanlah tempat yang dirancang untuk kedamaian, melainkan tempat berdirinya panggung ekspektasi.
"Ikut aku sebentar," ujar Zavier mendadak. Pria itu memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari lorong rak tanpa menunggu jawaban.
Nayla tertegun sejenak. Namun, seolah ada dorongan tak kasat mata yang menuntun kakinya, ia merapikan barang-barangnya dengan cepat, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu melangkah menyusul Zavier keluar dari perpustakaan.
Zavier membawa Nayla menuju area balkon belakang perpustakaan, sebuah tempat tersembunyi yang jarang dikunjungi murid lain. Dari sana, pemandangan matahari terbenam yang memancarkan warna jingga keperakan terlihat begitu jelas membingkai garis cakrawala kota.
Zavier merogoh saku blazernya dan mengeluarkan satu kotak susu rasa cokelat hangat yang ia beli dari mesin pembuat minuman otomatis di lantai bawah. Ia mengulurkannya pada Nayla.
"Minum ini. Wajahmu masih sepucat tadi siang," kata Zavier datar, namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah gadis di hadapannya.
Nayla menatap kotak minuman hangat itu, lalu perlahan mengambilnya. "Terima kasih," bisiknya pelan. Ia menggenggam kotak itu dengan kedua tangannya, membiarkan rasa hangatnya meresap ke telapak tangannya yang dingin.
Mereka berdua berdiri bersisian, bersandar pada pagar pembatas balkon sembari menatap langit sore yang perlahan menggelap. Keheningan melingkupi mereka, namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa kaku atau menekan seperti saat berada di ruang kelas tadi pagi.
"Zav," panggil Nayla pelan, memecah kesunyian.
"Hm?"
"Kenapa kamu selalu bersikap seolah-olah kamu tidak peduli di depan orang lain, tapi... selalu ada saat situasi seperti ini?" tanya Nayla. Suaranya terdengar jujur, polos, dan menyintir rasa penasaran yang terpendam sekian lama.
Zavier terkekeh tipis disebuah tawa kecil tanpa suara yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia menatap lurus ke depan, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang mulai menyalakan lampu-lampunya di kejauhan.
"Karena di depan orang lain, kita harus menjadi anak dari keluarga Alveric dan Mahendra," jawab Zavier tenang, namun ada nada kepahitan di balik tiap kata yang diucapkannya. "Tapi di sini... saat hanya ada kita berdua, aku tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun."
Nayla memandangi profil samping wajah Zavier. Cahaya senja yang temaram menerpa garis rahang tegas pria itu, membuatnya terlihat tampan sekaligus menyimpan rasa sepi yang mendalam. Nayla menyadari, di balik aura dingin dan tak tersentuh yang ditampilkan Zavier di sekolah, pria itu memikul beban yang sama beratnya dengan apa yang ia rasakan selama ini.
"Kadang aku berpikir," lanjut Zavier pelan, memutar tubuhnya hingga kini menghadap penuh ke arah Nayla. "Jarak di antara kita itu bukan diciptakan oleh kita sendiri, Nayla. Tapi oleh nama besar yang kita bawa dari lahir."
Nayla mengangguk pelan, menyetujui kalimat itu dalam hati. "Dan kita tidak punya kekuatan untuk mengubah nama itu, kan?"
"Mungkin belum sekarang," sahut Zavier cepat, tatapan matanya mendadak berubah menjadi lebih intens dan dalam. "Tapi suatu saat nanti, kalau waktunya sudah tepat, aku tidak akan membiarkan siapa pun menentukan seberapa jauh aku boleh berdiri di sampingmu."
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Zavier, namun maknanya bergetar hebat di dalam dada Nayla. Jantungnya berdegup tak beraturan. Kata-kata Zavier terasa bagaikan sebuah janji terselubung, sebuah ikrar yang diucapkan secara diam-diam di balik redupnya cahaya senja.
Nayla menunduk, menyembunyikan rona merah tipis yang muncul di pipinya. "Kamu selalu pintar bicara, Zavier."
"Aku hanya bicara kenyataan, Nayla," balas Zavier pelan. Pria itu mengulurkan tangannya, menyelipkan sehelai rambut Nayla yang tertiup angin ke balik telinganya dengan gerakan yang amat lembut. Sentuhan singkat jemarinya di kulit pipi Nayla membuat gadis itu menahan napas.
"Ayo pulang. Supirmu pasti sudah menunggu di bawah," kata Zavier seraya menarik kembali tangannya dan berbalik melangkah terlebih dahulu.
Nayla berdiri terpaku sejenak di tempatnya, menatap punggung tegap pria yang melangkah di depannya. Di balik semua kebingungan dan batas-batas kaku yang mengelilingi kehidupan mereka, satu hal terasa kian pasti: tak peduli seberapa tebal tembok yang memisahkan mereka, perasaan yang tumbuh di antara keduanya tak akan pernah bisa dihapuskan begitu saja.
Langkah kaki Nayla berbunyi canggung menuruni anak tangga utama perpustakaan, membuntuti siluet tegap Zavier yang berada dua langkah di depannya. Udara sore di luar gedung mulai mendingin, diiringi angin sepoi-sepoi yang memutar dedaunan kering di pelataran parkir. Di sudut dekat gerbang utama, dua mobil mewah berjenis sedan hitam mengkilap milik keluarga Alveric dan Mahendra sudah terparkir berjejer...menunggu masing-masing juru mudi menjemput "tuan muda" dan "nona muda" mereka.
Zavier menghentikan langkahnya tepat sebelum mencapai batas paving block parkiran, membuat Nayla yang berada di belakangnya ikut refleks berhenti. Pria itu berbalik pelan, menatap Nayla yang sedang sibuk memeluk erat buku referensi tebal di dadanya.
"Biar kutebak, kamu pasti disuruh langsung pulang oleh Ayahmu," suara Zavier memecah kesunyian, datar namun menyimpan nada getir yang halus.
Nayla mengangguk tipis, pandangannya agak menunduk menghindari tatapan mata Zavier yang terlalu mengintimidasi. "Pak Mamat, supir rumah, sudah kirim pesan dari setengah jam yang lalu. Ayah minta aku ada di rumah sebelum jam enam sore untuk makan malam dengan kolega."
Zavier mengembuskan napas panjang lewat hidungnya. Senyum miring yang penuh nada sarkasme terukir tipis di bibirnya. "Makan malam formal lagi. Membosankan."
"Memangnya kamu tidak ada agenda keluarga malam ini, Zav?" tanya Nayla pelan, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa canggung yang mendadak hinggap.
"Papi mengajak makan malam di restoran hotel bersama beberapa jajaran direksi. Tapi aku menolaknya," jawab Zavier santai, seolah menolak perintah seorang pimpinan konglomerat raksasa seperti Kael Mahendra adalah hal biasa.
Nayla mendongak cepat, matanya membulat terkejut. "Kamu membolos acara Papi Kael? Apa tidak dimarahi nanti di rumah?"
Zavier menatap ekspresi khawatir di wajah Nayla, dan untuk sekilas, sudut bibirnya terangkat lebih tinggi, sebuah senyuman tulus yang sangat langka. "Abang Ethan dan Abang Raka bisa menggantikanku. Lagipula, aku tidak suka berada di ruangan ber-AC yang penuh dengan orang-orang berjas rapi tapi sibuk membicarakan nominal uang."
"Tapi kamu tetap bagian dari Mahendra, Zavier. Suatu saat kamu juga harus berada di posisi itu," gumam Nayla lirih. Kalimat itu lebih ditujukan untuk menasihati dirinya sendiri, memperingatkan betapa kenyataan hidup mereka telah dipola secara kaku sejak lahir.
"Suatu saat nanti, mungkin," sahut Zavier pelan, melangkah mendekat satu tapak hingga bayangannya menutupi tubuh Nayla dari sorot lampu taman yang baru saja menyala. "Tapi untuk hari ini, aku cuma mau menikmati sisa sore tanpa harus berpura-pura."
Nayla menahan napasnya. Kehadiran Zavier yang amat dekat di bawah remang lampu jalanan membuat suasana mendadak emosional. Di sekeliling mereka, lalu lalang beberapa siswa yang tersisa sama sekali tidak berani mengusik keberadaan dua sejoli dari klan tersohor itu.
"Nayla, Nona!" suara Pak Mamat memanggil dari arah mobil sedan Alveric, memotong momen hening di antara mereka berdua. Pria paruh baya ber-seragam supir itu melambaikan tangan dengan sopan, memberi isyarat bahwa pintu kendaraan sudah dibukakan.
Nayla meremas sampul bukunya pelan, merasa ada keraguan besar untuk mengayunkan kaki pergi dari sana. Namun, nama Alveric yang melekat padanya seolah menariknya kembali ke dalam realita.
"Aku... aku harus pergi sekarang, Zav," bisik Nayla halus.
Zavier mengangguk pelan, tidak berusaha menahan atau menarik tangan gadis itu. Pria itu mundur satu langkah, memberikan ruang yang cukup bagi Nayla untuk bernapas lega sekaligus merutuki jarak yang kembali tercipta di antara mereka.
"Masuklah. Hati-hati di jalan, Nayla," ujar Zavier datar, mengembalikan topeng dinginnya begitu menyadari supir keluarga Alveric makin mendekat.
Nayla membalikkan badan dan melangkah menuju mobil, merasakan tatapan tajam Zavier terus menempel pada punggungnya hingga ia melangkah masuk ke dalam kabin penumpang yang dingin. Saat pintu mobil ditutup rapat dan kendaraan perlahan melaju membelah jalanan sore kota Jakarta, Nayla menoleh ke kaca belakang.
Di sana, di bawah pijar lampu taman yang mulai memerah, Zavier masih berdiri tegap sendirian menatap kepergiaannya tanpa bergeming sedikit pun. Begitu dekat saat mereka bertukar kata beberapa detik lalu, namun kini kembali terpisah oleh laju roda dan takdir yang belum mau memihak.
kekny zavier ini tipe aku 🤭