Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Aduh... wajahmu ternyata setebal itu ya? Sampai telapak tanganku terasa panas begini," keluh Clark seraya mengusap telapak tangannya yang memerah setelah menampar keras Elena.
Perempuan itu jatuh terduduk sambil memegangi pipinya yang kini tampak merah menyala, bekas cap tangan Clark tercetak jelas di sana.
"Hei kau! Kemari!" Clark memanggil salah satu pengawal yang berjaga di dekat pintu. "Seret wanita ini dan buang keluar pagar! Jika dia masih berisik, bungkam mulutnya dengan cara apa pun yang kau anggap perlu, mengerti?!"
"Siap, Nyonya!" Elena pun diseret paksa keluar meraung-raung, meronta namun tak berdaya melawan kekuatan pengawal itu.
Setelah berhasil menyingkirkan sumber masalahnya, perut Clark tiba-tiba terasa lapar. Pagi ini ia sudah menghabiskan banyak tenaga hanya untuk mengurus wanita licik itu, tapi ia tak menyesal. Daripada membiarkan ular berbisa itu terus meracuni suasana rumah, lebih baik ia singkirkan sekarang juga.
Clark berjalan tertatih menuju ruang makan, berniat duduk tenang sambil menunggu suaminya. Namun tiba-tiba tubuhnya terangkat melayang begitu saja. Ia hendak memaki karena kaget, namun ia segera tahu siapa pelakunya tanpa perlu menoleh lagi.
"Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak sembarangan," suara berat Dante terdengar pelan namun tegas.
"Benarkah begitu?"
"Ya." Dante menggendongnya perlahan hingga ke ruang makan, lalu mendudukkannya dengan sangat hati-hati di kursi sebelah miliknya. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk mengambilkan es batu.
"Untuk apa? Minum es pagi-pagi tidak baik lho," bingung Clark.
Dante hanya menggeleng. Saat es batu sudah tersedia, ia membungkusnya dengan sapu tangan bersih, lalu perlahan menempelkannya pada telapak tangan Clark yang memerah.
"Lain kali jangan lakukan itu lagi," perintahnya lembut sambil terus mengompres tangan itu. Sebenarnya Dante sudah melihat semua kejadian dari kejauhan.
Saat mendengar ucapan kasar Elena, ia hampir saja memerintahkan pengawal untuk melenyapkannya, namun ia memilih diam dan melihat bagaimana istrinya menyelesaikan masalah itu sendiri.
"Kamu tidak suka?" wajah Clark seketika berubah masam.
Dante mengangguk.
"Maaf..." bisiknya lirih, "Apakah aku terlalu keterlaluan?" Rasa takut tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia baru saja mendapatkan kesempatan kedua, baru saja merasakan dicintai dengan begitu tulus. Jika Dante membencinya karena sikapnya yang tegas, ia tak tahu harus berbuat apa.
"Aku tidak suka melihat kau menyakiti dirimu sendiri. Lihatlah tanganmu jadi merah begini. Aku tidak ingin kau terluka hanya karena orang lain," ucap Dante lembut sambil menatap lekat wajah istrinya.
Hati Clark seketika meleleh mendengarnya. Pria yang ditakuti seantero kota ini ternyata begitu lembut padanya.
"Aku janji takkan melakukannya lagi," ucapnya mantap sambil tersenyum lebar.
Dante mengusap lembut ubun-ubunnya. Keduanya pun menikmati sarapan dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan hangat.
"Kamu mau pergi?"
"Ya. Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin izin untuk sebentar kembali ke rumah orang tuaku, mengambil ponselku yang tertinggal di sana."
Dante terdiam sejenak, lalu pandangannya jatuh pada kaki Clark yang masih terlihat lecet dan bengkak.
Clark paham maksud tatapan itu. "Baiklah, aku akan pergi nanti saja setelah kakiku benar-benar sembuh."
"Jika kau butuh sesuatu, suruh saja orang lain mengambilkannya."
"Sebenarnya aku juga ingin melihat kamarku sekali lagi. Hanya ingin bernostalgia sedikit," jelasnya pelan. Ada alasan tersembunyi di balik keinginan itu.
Dulu, selama enam tahun pernikahan mereka, ia tak pernah berani kembali ke kamar masa kecilnya yang penuh kenangan bersama mendiang ibunya. Dan saat ia terbangun kembali, ia justru ada di gudang yang dingin. Ia ingin melihat kembali tempat di mana ia pernah merasa paling dicintai.
"Nanti jika kakimu sudah sembuh total, aku yang akan mengantarmu sendiri. Aku berangkat dulu." Sekali lagi Dante mengusap kepalanya sebelum beranjak.
Clark mendengus kesal dalam hati. 'Aku bukan anak kecil yang harus terus dielus kepalanya! Seharusnya dicium, setidaknya di pipi atau kening!'
"Kenapa?" Dante menyadari perubahan raut wajah istrinya.
"Sini dulu!" Clark memintanya menunduk. Karena tak sabar, ia menarik dasi pria itu hingga wajah mereka sejajar, lalu mengecup lembut pipi keras suaminya.
"Begitu. Lain kali kamu yang harus melakukannya padaku," cemberutnya sambil mendengus manja. "Dasar suami yang pemalu, semuanya harus aku duluan. Tapi tak apa, setidaknya kali ini aku sudah tahu betapa besarnya perasaanmu padaku."
Wajah Dante seketika memerah padam, jantungnya berpacu liar seolah hendak melompat keluar. Ia benar-benar tak siap dengan serangan tiba-tiba itu.
"Sudah sana pergi, nanti terlambat!" Clark mengguncang pelan lengannya.
"Hah... ah... iya," Dante terbata-bata, lalu melangkah pergi dengan kaku seolah baru pertama kali berjalan.
Clark tak kuasa menahan tawa melihat tingkah suaminya yang begitu menggemaskan. Dalam hati ia pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin pria sedingin dan sekuat itu bisa mencintainya sedalam ini?
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭