Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10 - Satu Minggu
Dalam satu hari, kabar itu menyebar ke seluruh kampung.
Nadia tidak jadi menikah dengan Arman. Bella yang akan menikah dengan Arman. Nadia justru dilamar Raka, paman Arman yang jarang keluar rumah.
Setiap orang punya versi.
Di warung sayur, seorang ibu berkata Nadia pintar karena memilih laki-laki yang lebih dewasa. Di tukang bakso, orang lain bilang Nadia hanya dendam. Di depan masjid, dua bapak berbisik bahwa keluarga Pak Darto sedang kena ujian karena terlalu banyak menyimpan rahasia.
Nadia mendengar sebagian.
Ia tidak menjelaskan.
Fitnah yang tidak diberi makan kadang mati sendiri. Tapi fitnah yang bisa merusak nama harus dipukul tepat di kepala. Karena itu, sore harinya Pak Mahmud mengumumkan secara halus dalam pertemuan kecil RT bahwa masalah lamaran semalam sudah diselesaikan dengan kesepakatan tertulis, dan Nadia bukan pihak yang bersalah.
Nama Bella dan Arman tidak disebut terlalu jelas.
Tapi semua orang mengerti.
Bella marah besar.
Di rumah Pak Darto, ia menangis sampai matanya bengkak.
"Kenapa Pak RT harus bicara begitu? Orang-orang sekarang melihatku seperti perempuan murahan."
Bu Ratna mengusap punggungnya.
"Sabar, Nak. Setelah kamu akad dengan Arman, semua akan reda."
"Kapan? Bu Lilis tidak mau hari yang sama dengan Kak Nadia. Pak Hendra bilang harus tunggu urusan KUA. Mas Arman juga seperti tidak semangat."
Bu Ratna menahan napas.
Ia juga melihat itu.
Arman memang menyatakan cinta, tapi sejak Pak Hendra mengatakan biaya rumah tangga harus ia pikirkan sendiri, semangatnya turun. Laki-laki itu lebih sering diam, bahkan kadang menatap Bella seperti sedang menghitung kerugian.
"Laki-laki memang begitu kalau tertekan," kata Bu Ratna. "Kamu harus lembut. Jangan banyak menuntut."
Bella menatap ibunya.
"Bu, dulu Kak Nadia hidup enak dengan Mas Arman, kan?"
Bu Ratna terdiam.
Ia tidak tahu dari mana Bella mendapatkan keyakinan itu. Selama ini Bella sering berkata seolah ia tahu masa depan, tapi Bu Ratna menganggapnya ambisi anak muda. Namun sejak malam lamaran, Bella tampak goyah.
"Tentu akan enak kalau kamu pandai membawa diri."
"Kalau Pak Hendra tidak membantu?"
"Dia tetap cucunya."
"Tapi dia marah."
"Marah orang tua tidak lama."
Bella ingin percaya.
Ia harus percaya. Ia sudah membakar jembatan. Tidak mungkin mundur dan kembali pada Yusuf. Tidak mungkin membiarkan Nadia tertawa.
Di rumah Sari, suasana berbeda.
Nadia duduk di lantai, menghitung barang seserahan. Sari mencatat. Rani sesekali mencoba mencuri kue, lalu lari saat ibunya melotot. Raka datang dengan Tante Mira untuk membicarakan persiapan akad sederhana.
"KUA bisa pekan depan?" tanya Sari.
Raka mengangguk.
"Pak Hendra sudah bicara dengan penghulu. Karena dokumen saya lengkap dan wali Nadia ada, bisa. Tapi tetap perlu surat pengantar kelurahan."
Nadia menatap daftar.
"Wali."
Sari paham maksudnya.
"Bapak harus hadir."
"Aku tahu."
Tante Mira menatap Nadia.
"Kalau ayahmu menolak, proses bisa rumit. Tapi melihat tadi pagi, sepertinya dia tidak akan menolak."
"Bapak jarang menolak dengan mulut," kata Nadia. "Dia lebih sering diam sampai orang lain yang memutuskan."
Raka berkata pelan, "Besok saya dan Mas Hendra akan menemui Pak Darto khusus membicarakan wali."
Nadia mengangguk.
"Aku ikut."
"Tidak perlu kalau kamu lelah."
"Justru karena ini hidupku, aku perlu ada."
Raka tersenyum tipis.
"Baik."
Tante Mira memperhatikan keduanya. Ia tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya lembut.
Sari tiba-tiba bertanya, "Setelah akad, Nadia tinggal di mana?"
Pertanyaan itu membuat ruangan diam.
Nadia juga ingin tahu.
Raka menjawab, "Saya punya rumah kecil di dekat klinik lama. Selama ini jarang saya tempati karena Ibu lebih suka saya di rumah utama. Tapi rumah itu bersih. Kalau Nadia setuju, kami bisa tinggal di sana."
Nadia menatapnya.
"Bukan rumah keluarga Wiratmaja?"
"Bukan."
"Bu Lilis setuju?"
"Tidak."
Jawaban Raka terlalu cepat.
Sari hampir tertawa.
Raka melanjutkan, "Tapi saya yang akan menikah, bukan Ibu."
Nadia merasa dadanya hangat lagi.
Rumah sendiri.
Bukan rumah mertua.
Bukan rumah tempat Arman bisa keluar masuk sambil merasa paling berhak.
Bukan rumah Bu Lilis yang setiap sudutnya bisa berubah menjadi pengadilan.
"Aku setuju," kata Nadia.
Tante Mira mengangguk puas.
"Itu keputusan bagus. Pengantin baru perlu ruang sendiri. Apalagi situasinya panas."
Raka mengambil kertas dari map.
"Saya juga ingin membicarakan mahar."
Sari menegakkan badan. Rani yang sedang mengintip ikut diam, seolah paham ini penting.
Raka menatap Nadia.
"Saya tidak ingin menentukan sendiri. Kamu ingin apa?"
Nadia bingung sesaat.
Dulu, Arman dan keluarganya menentukan semua. Mahar berupa seperangkat alat salat dan uang kecil yang langsung disimpan Bu Lilis. Nadia bahkan tidak memegangnya lama.
"Aku boleh minta?"
Raka menatapnya serius.
"Mahar itu hakmu."
Nadia menunduk melihat jari-jarinya.
Ia bisa meminta uang. Ia bisa meminta emas. Ia bisa meminta sesuatu yang membuat Eyang Marni dan Bella menggigit jari. Tapi tiba-tiba yang ia inginkan bukan pamer.
"Seperangkat alat salat," katanya.
Tante Mira mengangguk, seolah sudah menduga.
Nadia melanjutkan, "Dan uang tunai atas namaku. Jumlahnya tidak perlu berlebihan, tapi jelas disebut saat akad."
Raka bertanya, "Berapa?"
Nadia menyebut angka yang cukup besar untuk ukuran keluarga kampung, tapi masih pantas bagi keluarga Wiratmaja.
Sari menahan napas.
Raka tidak terkejut.
"Baik."
"Tidak ditawar?"
"Kamu sedang minta hak, bukan jual beli."
Nadia menatapnya lama.
Tante Mira tersenyum.
Sari tiba-tiba berdiri.
"Aku buat teh lagi."
Ia pergi ke dapur terlalu cepat. Nadia tahu kakaknya menyembunyikan tangis.
Tidak semua air mata buruk. Ada air mata yang keluar karena seseorang akhirnya diperlakukan sebagai manusia.
Malamnya, setelah Raka dan Tante Mira pulang, Nadia membantu Sari mencuci piring. Joko duduk di ruang depan memperbaiki kipas rusak, Rani tertidur.
Sari berkata pelan, "Raka baik."
"Iya."
"Kamu suka?"
Nadia menggosok piring lebih lama dari perlu.
"Aku menghormatinya."
"Bukan itu yang kutanya."
Nadia diam.
Sari tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa. Suka bisa datang setelah aman."
Nadia menatap kakaknya.
Kalimat itu sederhana, tapi benar.
Dulu ia mengira cinta harus membuat jantung berdebar dan pipi panas. Arman memberinya itu sebentar, lalu menggantinya dengan takut. Raka tidak membuatnya mabuk. Raka membuatnya bisa bernapas.
Mungkin itu awal yang lebih baik.
Keesokan paginya, mereka pergi ke rumah Pak Darto.
Pak Hendra, Raka, Tante Mira, Nadia, dan Sari datang bersama. Di ruang tengah, Pak Darto sudah menunggu. Eyang Marni dan Bu Ratna juga ada. Bella duduk di samping Bu Ratna dengan wajah masam.
Arman tidak terlihat.
Pak Hendra menjelaskan tujuan mereka: memastikan Pak Darto bersedia menjadi wali nikah Nadia.
Pak Darto menatap Nadia.
"Kamu yakin?"
Nadia menjawab, "Yakin."
"Bukan karena marah?"
"Aku marah, Pak. Tapi aku juga sadar."
Pak Darto menunduk.
"Bapak akan jadi wali."
Bu Ratna menggenggam tangan Bella lebih erat.
Eyang Marni mendengus.
"Kalau begitu, jangan minta biaya dari rumah. Kami sudah habis untuk acara semalam."
Pak Hendra menjawab sebelum Nadia.
"Biaya akad Nadia dan Raka kami tanggung. Sesuai kemampuan dan tanpa berlebihan."
Eyang Marni tampak kecewa karena tidak ada celah uang.
Bella tiba-tiba berkata, "Kalau Kak Nadia akad pekan depan, aku dan Mas Arman juga harus segera. Pak Hendra, kapan keluarga Bapak datang melamarku secara resmi?"
Ruang tengah kembali tegang.
Pak Hendra menatap Bella.
"Setelah Arman siap bertanggung jawab."
Bella pucat.
"Tapi dia sudah..."
"Saya tahu apa yang dia lakukan," potong Pak Hendra. "Justru karena itu saya tidak akan lagi membiarkan dia bersembunyi di balik uang orang tua."
Bu Ratna berkata hati-hati, "Pak Hendra, nama baik Bella..."
"Nama baik Nadia juga nama baik," jawab Pak Hendra.
Bu Ratna terdiam.
Nadia menunduk agar senyumnya tidak terlalu terlihat.
Satu minggu.
Hanya satu minggu sampai akadnya dengan Raka.
Dan satu minggu cukup bagi Bella untuk mulai menyadari bahwa merebut Arman tidak sama dengan merebut masa depan.
Di sisi lain, Nadia juga tahu satu minggu cukup bagi keluarganya untuk mencari celah baru. Karena itu, ketika keluar dari rumah Pak Darto, ia tidak langsung merasa menang. Ia hanya merasa lebih siap.
🤣🤣🤣