"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: PT Nusantara BioFarma
Tiga hari setelah nama Dokter Ajaib meledak di internet, Rangga duduk di depan meja notaris dengan mata yang masih kurang tidur.
Di sampingnya, Kevin Halim terlihat jauh lebih segar, tetapi jari-jarinya tidak berhenti mengetuk lutut. Di atas meja ada berkas tebal: akta pendirian, susunan pemegang saham, alamat kantor sementara, bidang usaha, rencana produksi awal, dan dokumen pendukung Trombosin Plus.
"Nama perusahaan," kata notaris itu sambil memeriksa halaman terakhir, "PT Nusantara BioFarma Indonesia."
Kevin langsung menoleh ke Rangga.
"Dengar itu? Kedengarannya seperti perusahaan beneran."
"Memang perusahaan beneran."
"Tiga hari lalu kita masih makan di warung tenda."
"Tiga hari lalu kamu juga hampir menolak."
Kevin mendengus. "Untung gue rakus penasaran."
Rangga menandatangani halaman yang ditunjuk.
Tinta hitam menyentuh kertas.
Satu garis tanda tangan yang terlihat biasa, tetapi sejak detik itu, formula yang dulu hanya ada di kepala Rangga memperoleh rumah di dunia nyata.
PT Nusantara BioFarma Indonesia resmi berdiri.
Kevin menatap stempel yang ditekan di atas berkas, lalu menghela napas panjang.
"Mulai sekarang, kalau obat ini bikin masalah, kita tidak bisa pura-pura cuma dua orang gila yang lembur di laboratorium."
"Karena itu kita jalan lewat aturan."
"Dan lewat produksi kecil dulu," kata Kevin cepat. "Jangan mimpi langsung jual ke seluruh Indonesia. Dengan fasilitas sementara, saya cuma berani sepuluh dosis per hari. Lebih dari itu, mutu bisa goyang."
Rangga mengangguk. "Sepuluh dosis yang aman lebih baik daripada seratus dosis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan."
Kevin menatapnya sebentar.
"Kadang lo terlalu tenang sampai bikin orang takut."
Ponsel Rangga bergetar.
Ia mengira itu pesan dari rumah sakit.
Ternyata notifikasi bank.
[Transfer masuk: Rp 2.000.000.000]
[Pengirim: Yayasan Dana Abadi Cakrawala]
[Keterangan: Penghargaan registrasi obat]
Rangga terdiam.
Angka itu berdiri di layar seperti gunung.
Dua miliar rupiah.
Ditambah saldo sebelumnya, total dananya menembus lebih dari Rp 2,4 miliar setelah semua pengeluaran awal.
Kevin melirik layar, lalu hampir tersedak air mineral.
"Rangga."
"Ya?"
"Itu dua miliar?"
"Sepertinya."
"Lo bilang punya dana awal. Lo tidak bilang dana awalnya bisa membeli beberapa rumah kecil."
Rangga mematikan layar ponsel.
Di dalam kepalanya, suara sistem muncul tenang.
[Registrasi obat berhasil.]
[Hadiah khusus: Rp 2.000.000.000.]
[Dana telah ditransfer melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]
Tidak ada sorak.
Tidak ada lampu berkedip.
Hanya angka yang membuat perjalanan dari saldo Rp 1.930.000 terasa seperti kehidupan orang lain.
Tetapi Rangga tidak memikirkan mobil.
Pikirannya tertuju pada sepuluh dosis pertama, Pak Karto, dan wajah Sri saat melihat ayahnya kembali bernapas dengan tenang.
Sore itu, rapat kecil di RSUD Harapan Bangsa berlangsung di ruang direktur.
Pak Hendra duduk di kepala meja. Pak Bambang berada di sampingnya, lengan bekas suntikan masih ditempeli plester kecil, seolah sengaja tidak ia tutupi. Bu Farah ikut melalui sambungan resmi untuk memastikan aspek pengawasan awal. Kevin membuka laptop dengan wajah orang yang siap berdebat.
Di depan mereka, satu halaman tertulis jelas:
Trombosin Plus: Rp 150.000.000 per dosis.
Ruangan hening beberapa detik.
Pak Hendra mengetuk meja pelan.
"Harga ini akan membuat orang bicara."
"Mereka sudah bicara," kata Kevin. "Masalahnya, produksi awal mahal. Bahan aktif, pemurnian, pengujian tiap batch, rantai dingin, semua butuh biaya. Kalau kita menurunkan harga sekarang, mutu yang jadi taruhan."
Pak Bambang menatap Rangga. "Kamu siap dihujat karena harga?"
Rangga membaca angka itu sekali lagi.
Rp 150 juta.
Bagi banyak keluarga, itu bukan harga obat. Itu harga tanah, rumah, atau tahun-tahun tabungan yang belum tentu pernah terkumpul.
"Tidak ada harga yang terasa benar ketika nyawa dipertaruhkan," kata Rangga. "Tapi kalau produksi tidak bertahan, obat ini berhenti di sepuluh dosis pertama."
Pak Hendra mengangguk perlahan.
"Lalu distribusi?"
"Terbuka untuk rumah sakit yang memenuhi syarat penyimpanan dan pemantauan," jawab Rangga. "Tidak eksklusif. Tidak boleh ditahan satu pihak."
Kevin menambahkan, "Setiap dosis harus tercatat. Tidak dijual bebas. Untuk tahap awal, prioritas kasus kardiovaskular berat dengan rekomendasi dokter."
Pak Bambang tersenyum tipis.
"Kamu belajar cepat."
"Saya belajar dari orang yang hampir mati setiap hari di UGD, Pak."
Pak Hendra menandatangani notulen rapat.
"Baik. RSUD Harapan Bangsa mendukung penggunaan awal sesuai prosedur. Tetapi saya ingatkan, setelah harga ini keluar, orang kaya akan datang membawa uang, orang kuat akan datang membawa tekanan, dan orang licik akan datang membawa senyum."
Seolah kalimat itu memanggilnya, pintu diketuk.
Sekretaris masuk dengan wajah ragu.
"Pak Direktur, ada tamu dari PT Tirta Medika Jaya. Beliau bilang sudah membuat janji melalui jalur direksi."
Pak Hendra mengangkat alis.
"Namanya?"
"Pak Robert, Pak. Robert Tanuwijaya."
Kevin menutup laptop perlahan.
"Cepat juga hidung mereka."
Pak Bambang menyandarkan punggung ke kursi.
"Orang licik memang biasanya datang sebelum kopi dingin."
Pak Robert masuk dengan setelan rapi, jam tangan mahal, dan senyum yang terlalu halus untuk disebut ramah. Ia menjabat tangan Pak Hendra, lalu Pak Bambang, lalu berhenti di depan Rangga sedikit lebih lama.
"Dokter Rangga. Akhirnya bertemu langsung dengan bintang baru Kota Cakrawala."
"Selamat sore, Pak Robert."
"Saya tidak suka membuang waktu. PT Tirta Medika Jaya memiliki jaringan distribusi, gudang dingin, tenaga pemasaran, dan hubungan dengan banyak rumah sakit swasta. Trombosin Plus terlalu besar untuk ditangani perusahaan baru."
Kevin langsung duduk lebih tegak.
Rangga tetap diam.
Pak Robert membuka map kulit hitam.
"Kami menawarkan kerja sama eksklusif nasional. PT Tirta Medika Jaya menjadi pemegang tunggal distribusi Trombosin Plus. Kami bayar uang muka Rp 30 miliar, royalti per dosis, dan Anda tidak perlu pusing mengurus pasar."
Angka itu membuat sekretaris di belakang pintu hampir lupa bernapas.
Rp 30 miliar.
Bahkan Pak Hendra pun menatap dokumen itu sedikit lebih lama.
Kevin melirik Rangga.
Untuk perusahaan yang baru berdiri beberapa jam, tawaran itu bukan pintu. Itu seperti jalan tol emas.
Pak Robert tersenyum karena ia tahu efek angka.
"Dokter Rangga, Anda dokter. Fokus saja menyelamatkan pasien. Biarkan urusan bisnis kepada orang yang memang hidup di dalamnya."
Rangga akhirnya mengangkat mata.
"Kalau eksklusif nasional, berarti rumah sakit harus membeli lewat PT Tirta Medika Jaya?"
"Tentu. Itu membuat pasokan tertib."
"Dan harga?"
"Bisa disesuaikan dengan pasar."
"Disesuaikan naik?"
Senyum Pak Robert tidak berubah.
"Disesuaikan dengan nilai obat."
Pak Bambang menatap meja. Rahangnya mengeras.
Kevin membuka mulut, tetapi Rangga mengangkat tangan kecil.
"Pak Robert, berapa banyak pasien BPJS yang bisa membeli obat ini kalau harganya dinaikkan dua atau tiga kali?"
"Dokter, dengan hormat, obat revolusioner tidak bisa diperlakukan seperti obat generik."
"Saya tidak bilang ini obat generik."
"Maka izinkan pasar menghargainya."
Rangga menutup map itu dan mendorongnya kembali.
"Saya menolak."
Ruangan itu langsung dingin.
Pak Robert menatapnya, kali ini senyumnya menipis.
"Mungkin Dokter belum memahami besarnya tawaran kami."
"Saya memahami."
"Rp 30 miliar uang muka."
"Saya dengar."
"Dan Anda menolak?"
"Ya."
Pak Robert tertawa pelan.
"Idealisme sangat mahal, Dokter Rangga. Biasanya orang baru sadar setelah kehabisan uang."
Rangga tidak terpancing.
"Trombosin Plus akan terbuka untuk semua rumah sakit yang memenuhi syarat. Tidak ada monopoli. Tidak ada satu perusahaan yang boleh menahan pasokan untuk menaikkan harga."
"Anda sedang menolak perusahaan yang bisa membuat obat Anda dikenal nasional."
"Kalau obat ini benar-benar dibutuhkan, ia akan dikenal karena pasien hidup. Bukan karena satu perusahaan menguncinya."
Pak Hendra memandang Rangga dalam diam.
Di mata direktur itu, dokter muda yang dulu datang dengan berkas sederhana dan sepatu murah tiba-tiba terlihat jauh lebih besar daripada ruang rapat ini.
Pak Robert berdiri.
"Saya harap Anda tidak menyesal."
"Saya juga berharap begitu, Pak."
"Dunia bisnis tidak sebersih ruang operasi."
Rangga menatapnya lurus.
"UGD juga tidak bersih. Tapi kami tetap menyelamatkan orang di sana."
Untuk pertama kalinya, wajah Pak Robert benar-benar kehilangan senyum.
Ia mengambil mapnya, memberi salam pendek kepada Pak Hendra, lalu keluar.
Pintu tertutup.
Kevin langsung mengusap wajah.
"Lo baru saja menolak Rp 30 miliar."
"Aku tahu."
"Gue butuh duduk."
"Kamu sudah duduk."
"Maksud gue secara batin."
Pak Bambang tertawa pendek, tetapi Pak Hendra tetap serius.
"Rangga, kamu sadar setelah ini mereka bisa menjadi lawan?"
"Saya sadar, Pak Direktur."
"Kenapa tetap menolak?"
Rangga melihat kertas harga di meja.
"Karena obat ini lahir dari Pak Karto yang hampir mati berkali-kali. Kalau dari awal saya serahkan ke monopoli, saya tidak berhak menatap keluarganya."
Pak Hendra tidak langsung bicara.
Lalu ia berdiri dan mengulurkan tangan.
"RSUD Harapan Bangsa akan mendukung jalur terbuka ini."
Rangga menyambut tangan itu.
Sore menjelang malam, Kevin sudah berada di ruang kerja sementara PT Nusantara BioFarma Indonesia. Tempat itu belum pantas disebut pabrik. Hanya ruangan bersih kecil, lemari pendingin, meja kerja, alat pemurnian, dan papan tulis penuh angka.
Tetapi di dalam lemari pendingin pertama, sepuluh dosis Trombosin Plus tersusun rapi.
Labelnya sederhana.
Nomor batch.
Tanggal produksi.
Tanda pengawasan.
Kevin berdiri di depan lemari itu seperti ayah baru melihat anak pertamanya tidur.
"Sepuluh dosis," katanya. "Sepuluh nyawa mungkin."
"Sepuluh tanggung jawab," jawab Rangga.
"Lo benar-benar tidak bisa romantis sedikit?"
"Ini obat."
"Justru itu romantisnya versi kita."
Rangga tertawa kecil.
Malam itu, setelah semua berkas masuk ke map, Rangga duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit. Nama Dokter Ajaib masih muncul di layar ponselnya. Pesan dari orang asing tidak berhenti masuk. Ada doa, ada permintaan tolong, ada tawaran wawancara, ada juga hinaan soal harga.
Ia membuka aplikasi bank.
Jari tangannya berhenti di kontak Bu Suryani.
Beberapa hari lalu, ia mengirim Rp 10 juta dan ibunya sudah hampir menangis.
Kali ini, ia mengetik angka yang membuatnya sendiri terdiam.
Rp 50.000.000.
Keterangan: Untuk Ibu dan Bapak. Jangan hemat untuk kesehatan.
Ia menekan kirim.
Beberapa detik kemudian, telepon masuk.
"Nak!"
Suara Bu Suryani terdengar pecah antara panik dan menangis.
"Ibu, pelan-pelan."
"Kamu kirim apa ini? Lima puluh juta? Rangga, ini uang beneran? Kamu tidak macam-macam, kan?"
Rangga menatap langit-langit koridor.
"Uang halal, Bu. Dari pekerjaan dan perusahaan obat."
"Perusahaan apa? Kamu baru kerja beberapa hari!"
Di belakang suara ibunya, terdengar Pak Slamet bertanya, "Ada apa, Bu?"
Bu Suryani menjawab dengan napas tersendat, "Bapak, Rangga kirim lima puluh juta!"
Ada hening setengah detik.
Lalu terdengar suara kursi terseret.
Bruk.
"Pak!"
Rangga langsung berdiri.
"Bu? Ibu? Bapak kenapa?"
Suara Bu Suryani menjauh dari ponsel.
"Pak Slamet jatuh! Aduh, Bapak ini, baru dengar transfer saja sudah jatuh dari kursi!"