NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Kali Ini, Aku Akan Kembali Menari

Vivi tiba di rumah Gunawan menjelang sore dan langsung menyesali keputusan duduk satu mobil dengan Sebastian.

Bukan karena pria itu melakukan sesuatu. Justru sebaliknya. Selama perjalanan, Sebastian hanya memastikan ia minum, menyelimutinya saat tertidur, dan membiarkan bahunya dipakai sebagai bantal.

Masalahnya, setiap kali Vivi melihat bibirnya, ingatan tentang dua ciuman di Puncak muncul terlalu jelas.

Saat turun dari mobil, ia nyaris berjalan menabrak pot bunga.

“Hati-hati.” Sebastian menangkap sikunya.

Vivi langsung menarik diri. “Aku bisa jalan.”

Tangan pria itu berhenti, lalu turun tanpa memaksa. “Aku tahu.”

Rasa bersalah muncul. Vivi ingin menjelaskan bahwa ia bukan takut disentuh, hanya tidak tahu harus menaruh wajah setelah semalam memohon dicium.

Namun, Pak Yanto sudah datang menerima koper dan surat klinik.

“Kamar sudah disiapkan, Bu Vivian. Apakah makan malam disajikan di atas?”

“Di ruang makan saja,” jawab Sebastian sebelum Vivi sempat bicara. Tatapannya beralih kepadanya. “Kalau kamu sanggup.”

Ia memberi pilihan lagi.

“Aku sanggup,” kata Vivi.

***

Makan malam berlangsung lebih sunyi daripada biasanya. Bukan sunyi dingin seperti kehidupan pertama, melainkan sunyi yang penuh hal-hal belum diucapkan.

Sebastian duduk di samping Vivi. Tidak mengambilkan makanan tanpa bertanya. Tidak menyinggung ciuman. Ia menunggu sampai sup di mangkuk Vivi tinggal setengah sebelum membuka topik.

“Tentang telepon Regina.”

Sendok Vivi berhenti. “Aku akan kembali menari.”

Wajah Sebastian tidak berubah, tetapi jarinya mengencang pada gelas. “Kapan?”

“Penilaian medis lusa. Latihan mulai setelah dokter menyatakan aman. Festival enam minggu lagi.”

“Di mana studio?”

“Tangsel. Studio Miss Regina.”

“Berapa jam setiap hari?”

“Awalnya dua sampai tiga jam. Belum pasti.”

“Siapa saja yang ada di sana?”

Vivi meletakkan sendok. “Kamu sedang bertanya atau memeriksa?”

Sebastian menatapnya. “Keduanya.”

“Aku akan memberi jadwal karena kita tinggal bersama. Bukan karena aku perlu izin untuk menari.”

Rahangnya bergerak. Beberapa minggu lalu, kalimat seperti itu mungkin berakhir menjadi perintah. Malam ini Sebastian menarik napas, lalu mengangguk.

“Baik.”

“Baik apa?”

“Kamu tidak perlu izin.”

Jawaban itu melepaskan ketegangan di bahu Vivi.

Sebastian melanjutkan, “Tapi sopir mengantar dan menjemput. Satu kendaraan keamanan menunggu di luar studio.”

“Tidak ada pengawal masuk ruang latihan atau ruang ganti.”

“Kalau ada keadaan darurat?”

“Mereka masuk setelah aku atau Miss Regina memanggil.”

Ia mempertimbangkan beberapa detik. “Setuju.”

“Lokasiku tetap dibagikan ke Joce.”

“Dan kepadaku.”

Vivi hampir menolak, lalu mengingat Sebastian sudah menerima lokasi Joce tanpa protes. “Selama aku bisa mematikannya saat butuh privasi.”

“Beri tahu sebelum mematikan.”

“Aku bisa memberi tahu.”

Kesepakatan itu tidak sempurna, tetapi dibuat melalui percakapan, bukan aturan sepihak.

Pak Yanto masuk membawa buah. “Apakah saya perlu menyiapkan ruang latihan lama, Bu Vivian?”

Vivi tersentak. Rumah ini memang memiliki studio kecil yang tak pernah dipakainya sejak menikah.

“Tolong bersihkan lantainya, Pak Yanto. Tapi jangan gunakan pewangi kuat.”

“Baik. Saya akan meminta teknisi memeriksa barre dan cermin besok.”

Sebastian memandangnya. “Kamu bisa berlatih di rumah juga.”

“Tetap harus ke studio untuk koreografi kelompok.”

“Aku tahu.” Nada itu terdengar seperti orang yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Pak Yanto meninggalkan ruang makan. Sebastian menunggu sampai suara langkahnya menjauh, lalu bertanya, “Pulau Zamrud?”

Vivi mengerjap. “Kenapa dengan pulau itu?”

“Kamu bilang ingin pergi setelah kondisimu pulih.”

Baru saat itu ia memahami kekakuan di wajah pria tersebut. Sebastian rupanya mengira rencana festival akan membatalkan perjalanan mereka. Entah mengapa, penemuan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

“Bukan batal. Ditunda sampai setelah festival.” Vivi menahan senyum. “Pulau itu tidak akan lari, kan?”

“Tidak.” Ketegangan pada jemarinya menghilang. “Pulau itu milikmu.”

“Aku tahu. Kamu mengingatkanku setiap kali ada kesempatan.”

“Supaya kamu tidak lupa.”

Sebastian mengucapkannya dengan wajah serius, seolah kepemilikan sebuah pulau memang perkara yang mudah terlupakan. Vivi akhirnya tertawa kecil. Pria itu tidak ikut tertawa, tetapi sorot matanya melembut sepersekian detik.

Sesudah makan, mereka memeriksa studio lama di sayap belakang rumah. Debu tipis menutupi barre kayu. Cermin besar di dinding memantulkan dua sosok yang berdiri dengan jarak satu langkah.

Vivi menguji lantai dengan ujung kaki, lalu menekuk lutut perlahan. Pergelangan kakinya stabil. Tubuhnya belum kehilangan seluruh ingatan tentang latihan bertahun-tahun, tetapi napasnya sudah lebih pendek dan kekuatan pahanya menurun.

“Jangan mulai malam ini,” kata Sebastian.

“Aku cuma memeriksa lantai.”

“Kamu baru pulih.”

Vivi berbalik. “Besok hanya pemeriksaan awal dan gerakan dasar. Aku tidak akan memaksa tubuhku.”

Sebastian menatap kaki telanjangnya, kemudian lantai, seperti sedang menilai semua benda yang mungkin melukainya. “Aku minta Pak Yanto mengganti papan yang longgar dan membersihkan ruangan tanpa bahan beraroma.”

“Terima kasih.”

Ia hendak pergi, tetapi Vivi memanggilnya. “Sebas.”

Pria itu berhenti.

“Aku benar-benar akan pergi ke Pulau Zamrud bersamamu. Hanya bukan minggu ini.”

Sebastian tidak menjawab cukup lama. Lalu ia mengangguk sekali. “Aku akan menunggu.”

***

Malamnya, Vivi melakukan video call dengan Jocelyn yang sudah kembali ke apartemennya di Kemang.

“Jadi gunung es mengizinkan?” tanya Jocelyn.

“Aku tidak meminta izin.”

“Bagus.”

“Tapi dia menanyakan alamat, durasi, siapa saja, kendaraan, dan prosedur darurat.”

“Itu bukan suami. Itu formulir imigrasi.”

Vivi tertawa, lalu suaranya pelan. “Dia setuju pengawal tetap di luar.”

“Kemajuan. Minggu lalu mungkin dia membeli studio dan memindahkannya ke rumah.”

“Jangan memberinya ide.”

Jocelyn bersandar ke sofa. “Kamu sendiri yakin mau kembali?”

Pertanyaan itu membuat Vivi terdiam.

Dalam kehidupan pertama, Regina juga pernah menghubunginya. Waktu itu Vivi menolak sebelum mencoba. Ruam, rasa malu, dan Celine yang terus mengusik membuatnya merasa panggung bukan lagi miliknya. Setelah itu kesempatan tersebut tidak pernah datang kembali.

Ia meninggal tanpa menari sekali pun.

“Aku takut,” Vivi mengaku. “Nadya akan melakukan sesuatu. Aku tidak ingat semuanya, hanya tahu jalur ini berakhir buruk.”

“Kalau begitu kita jangan masuk tanpa persiapan.”

“Aku juga takut alerginya kambuh.”

“Mulai dari pemeriksaan. Bawa pakaianmu sendiri. Catat semua reaksi. Jangan menerima minuman, kostum, atau obat dari orang yang tidak dikenal.”

Vivi mengangguk. Joce mengubah firasat menjadi daftar tindakan nyata, persis yang ia butuhkan.

“Dan satu lagi,” kata Jocelyn. “Kalau kamu ingin menari, menarilah. Kalau langit jatuh, aku bantu menahannya. Tapi keputusan tetap milikmu.”

Setelah panggilan berakhir, sebuah pesan WA dari Regina masuk. Jadwal penilaian medis, alamat studio, dan daftar orang yang memiliki akses sudah terlampir.

Vivi menyimpannya ke folder khusus. Ia duduk di ranjang sambil memeluk boneka beruang, lalu memandang sepatu balet lama di rak paling bawah.

Di dalam ingatannya, wajah Nadya masih kabur, tetapi senyumnya terasa tajam.

Kali ini Vivi tidak akan menunggu serangan itu datang.

Ia meraih sepatu balet dan menggenggam talinya.

“Kali ini,” bisiknya, “aku akan kembali menari. Dan aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!