Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Setelah hampir tiga hari menjalani perawatan intensif dan memastikan kondisi fisik serta luka tusuk Puja telah stabil, tim dokter resmi memberikan izin bagi mereka berdua untuk kembali pulang ke rumah.
Dengan bantuan Andy yang membawakan barang-barang bawaan, Jeffry dan Puja akhirnya meninggalkan rumah sakit.
"Terima kasih untuk semuanya, Andy." ucap Jeffry
"Iya, Pak. Sama-sama." ujar Andy yang kemudian meninggalkan mereka berdua.
Perjalanan pulang menuju pondok diwarnai rasa syukur yang mendalam.
Sesampainya di halaman pondok, udara sejuk menyambut kepulangan mereka, menghadirkan ketenangan setelah badai besar yang baru saja mereka lewati.
Tidak berselang lama setelah mereka merapikan diri di kamar, suara langkah kaki familiar terdengar mendekati teras.
Sosok Kyai Ali—ayah tercinta—muncul di ambang pintu sambil membawa kantong berisi oleh-oleh buah tangan dari perjalanannya luar kota.
Melihat kedatangan sang ayah, Jeffry langsung bergegas menyambutnya dengan senyuman hangat, mengambil alih bawaan dari tangan Kyai Ali.
Puja, meski gerakannya masih sedikit pelan, turut bangkit berdiri didampingi suaminya untuk menyambut mertua yang sangat mereka hormati itu.
Secara bergantian, Abah, Jeffry, dan Puja mencium punggung tangan Kyai Ali dengan takzim, memohon doa restu serta keberkahan setelah cobaan berat yang mereka hadapi.
Kyai Ali yang baru saja tiba tampak tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari kengerian, drama penculikan, hingga pertumpahan darah yang baru saja merenggut ketenangan anak dan menantunya beberapa hari lalu.
Beliau mengira Puja dan Jeffry hanya kelelahan biasa atau sempat sakit ringan selama ditinggal pergi.
"Alhamdulillah, Abah senang kalian sudah tampak lebih segar. Ini, Abah bawakan sedikit oleh-oleh buah kesukaan kalian dari perjalanan tadi," ujar Kyai Ali ramah sambil menyerahkan bungkusan tersebut, tanpa tahu bahwa di balik senyuman tenang Puja dan Jeffry, tersimpan sebuah rahasia besar tentang malam penuh teror yang sengaja ditutup rapat demi menjaga kedamaian hatinya.
Kyai Ali tersenyum ramah sambil membuka kantong oleh-oleh yang dibawanya, hendak meletakkan buah-buahan segar itu di atas meja ruang tamu pondok.
Namun, sebelum kantong itu berpindah tempat, suara ketukan pintu utama terdengar disusul oleh salam yang menggema di teras.
"Assalamu'alaikum,"
Belum sempat Jeffry menjawab, pintu yang tidak terkunci rapat itu terbuka lebar.
Sosok pria paruh baya berpeci putih dengan sorot mata tegas langsung melangkah masuk, didampingi oleh seorang wanita paruh baya berhijab rapi yang membawa tas jinjing cukup besar.
Abi Ahmad—ayah kandung Puja—bersama Umi Mina, ibu tiri Puja.
Melihat kedatangan orang tua kandungnya secara mendadak, mata Puja melebar seketika.
"Abi, Umi." lirihnya kaget, berusaha bangkit dari sofa namun segera ditahan lembut oleh Jeffry agar tidak terlalu banyak bergerak.
Di belakang mereka, terlihat dua orang kerabat membantu membawa karung beras ukuran sedang, beberapa ekor ayam potong segar dalam wadah tertutup, serta berbagai macam bahan sembako lainnya.
Kyai Ali yang berdiri di dekat meja langsung menghentikan aktivitasnya, menoleh dengan tatapan ramah menyambut kedatangan besannya.
"Eh, Pak Ahmad, Bu Mina! Silakan masuk, silakan." sapa Kyai Ali hangat, menyambut mereka dengan senyuman lebar.
Abi Ahmad menyambut uluran tangan Kyai Ali, bersalaman dengan takzim.
"Iya, Kyai. Maaf kami langsung datang ke sini tanpa mengabari dulu," ujar Abi Ahmad dengan nada cemas yang masih jelas tersisa di wajahnya.
Ia lalu menoleh tajam ke arah Puja dan Jeffry.
"Tadi, waktu kami ke rumah kalian di perumahan, rumahnya kosong melompong dan terkunci rapat. Kami sempat khawatir setengah mati, takut terjadi apa-apa. Makanya kami langsung menyusul ke pondok ini."
Jeffry mengangguk pelan, merespons penjelasan ayah mertuanya.
"Iya, Abi, Umi. Maaf bikin cemas. Kebetulan beberapa hari ini kami memang tinggal di pondok, membantu Abah dan mengurus beberapa keperluan di sini."
Kyai Ali tersenyum ramah sambil menunjuk sofa. "Mari duduk dulu, silakan. Biar barang-barangnya ditaruh di belakang." Kyai Ali lalu menoleh ke arah Jeffry dan Puja dengan pandangan penuh perhatian.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Wajah Puja kenapa kelihatan pucat begitu, dan Jeffry juga tumben kelihatan kurusan. Kalian sakit?"
Mendengar pertanyaan polos dari Kyai Ali, suasana di ruang tamu mendadak berubah sunyi.
Jeffry dan Puja saling berpandangan sejenak. Mereka tadinya sepakat untuk menutupi insiden mengerikan ini rapat-rapat demi menjaga ketenangan Abah dan orang tua mereka.
Namun, melihat tatapan mendesak dari Abi Ahmad dan Umi Mina yang tampaknya mendengar selentingan kabar dari tetangga rumah, serta kebingungan di wajah Kyai Ali yang tidak tahu apa-apa, rahasia itu akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.
Kyai Ali yang melihat perubahan ekspresi di wajah anak dan menantunya, mengerutkan kening kebingungan.
"Lho, kalian ini kenapa? Ada apa sebenarnya? Kenapa pada diam?" tanya Kyai Ali penasaran, merasa ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan dari dirinya.
Akhirnya, dengan tarikan napas berat dan rasa berat hati yang teramat sangat, mau tidak mau Jeffry dan Puja membuka suara.
Perlahan tapi pasti, mereka menceritakan seluruh kejadian mencekam itu—mulai dari teror obsesi gila Ningrum, insiden penyanderaan di vila tua di hutan pinus, perkelahian sengit, hingga penusukan yang hampir merenggut nyawa Puja, serta bagaimana Ningrum kini telah resmi dijebloskan ke rumah sakit jiwa.
"Astaghfirullahal'azim..."
Ucapan istighfar langsung meluncur serentak dari bibir Kyai Ali, Abi Ahmad, dan Umi Mina begitu mendengar cerita lengkap mengenai teror mencekam dan insiden penusukan yang baru saja merenggut keselamatan Puja.
Umi Mina bahkan langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca menatap anak tirinya dengan perasaan ngeri bercampur iba.
Abi Ahmad mengepalkan tangannya di atas lutut, napasnya memburu menahan amarah yang meluap-luap membayangkan putri kesayangannya nyaris kehilangan nyawa di tangan perempuan gila tersebut.
Kyai Ali menatap Jeffry dan Puja bergantian dengan pandangan tak percaya, sebelum akhirnya helaan napas berat lolos dari dadanya.
Wajah sepuh beliau mendadak tampak sangat lelah dan menyimpan kekecewaan yang mendalam.
"Astaghfirullah. Kenapa kalian tega merahasiakan musibah sebesar ini dari kami, Nak?" suara Kyai Ali bergetar, sarat akan rasa bersalah karena merasa kecolongan dan tidak tahu menahu penderitaan anak-anaknya.
"Kalian menanggung semuanya sendirian."
Jeffry menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya menatap sang ayah dengan tatapan penuh permohonan maaf.
"Maafkan kami, Abi, Abah, Umi." jawab Jeffry lirih namun tulus.
"Kami sengaja tidak memberi tahu karena tidak mau membuat kalian cemas. Apalagi Abah yang sedang beristirahat memulihkan kesehatan di Kediri. Kami ingin semuanya selesai dulu dan Puja selamat sebelum kalian tahu."
Abi Ahmad mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meredakan emosinya, sementara Umi Mina langsung bergeser mendekati Puja, memeluk pundak anak tirinya itu dengan penuh kasih sayang dan air mata yang hampir tumpah.
"Kamu ini ada-ada saja, Puja. Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana, Nak? Ya Allah." bisik Umi Mina cemas, memeriksa wajah pucat Puja.
Di tengah keheningan yang menyelimuti ruang tamu, Abi Ahmad kembali teringat pada sosok pelaku yang telah menghancurkan kedamaian keluarga mereka.
Dengan rahang mengeras, ia menoleh tajam ke arah menantunya.
"Sekarang, di mana perempuan tidak tahu diuntung itu? Di mana Ningrum?!" tanya Abi Ahmad dengan nada penuh geram.
Jeffry menjawab dengan tenang namun tegas. "Dia sudah di rumah sakit jiwa, Bi. Kondisi kejiwaannya runtuh total setelah kejadian itu. Dan kemarin lusa Bibi Ningsih datang ke rumah sakit, Jeffry juga sudah memberikan sejumlah uang kepada beliau dengan syarat agar Ningsih dan keluarganya segera mengosongkan rumah di pondok belakang dan pergi dari lingkungan keluarga besar kita selamanya."
Mendengar nama Ningsih disebut, pundak Kyai Ali seketika merosot jatuh.
Ia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, sementara sorot matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam.
Ningsih bukanlah orang lain bagi Kyai Ali; wanita paruh baya itu adalah adik kandung kandungnya sendiri—bibi kandung dari Jeffry.
Kenyataan pahit bahwa darah daging keluarganya sendiri, melalui perangai dan didikan yang salah pada Ningrum, justru menjadi sumber malapetaka dan hampir merenggut nyawa menantunya membuat hati Kyai Ali terasa sangat teriris.
Kyai Ali memejamkan matanya sejenak, meresapi kepahitan takdir keluarga tersebut.
Meski terasa berat karena menyangkut hubungan darah, Kyai Ali tahu persis keputusan yang diambil Jeffry sudah sangat tepat demi keselamatan, kedamaian, dan masa depan rumah tangga anak serta menantunya.
semangat slalu